ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Putus hubungan


__ADS_3

Dokter terdiam sejenak, lalu mengangkat kepalanya menatap Aurel.


"Begini, dari hasil laporan, menyatakan bahwa kamu mengidap penyakit kanker otak stadium akhir, ini sangat sulit untuk disembuhkan, bisa dibilang obatnya masih belum ditemukan, dan kalaupun bisa sembuh, itu adalah sebuah keajaiban." dokter berhenti sejenak.


perkataan dokter bagaikan halilintar yang menyambar hati Aurel, semua firasat buruknya terungkap detik itu juga.


"Sepertinya ini disebabkan karena trauma pada jaringan otak, karena terlambat menyadarinya, akhirnya sudah sangat parah sampai ke stadium akhir," dokter terdiam lagi memandangi Aurel, yang tampaknya sangat shock, tetapi dia masih menahannya.


"Apakah sebelumnya kepala Aurel pernah terbentur dengan keras?" dokter menoleh kearah kedua orang tua Aurel.


"Ya. Pernah, tapi itu sudah sangat lama, dan itu pun gumpalan darah dikepalanya telah diangkat, kenapa sekarang malah menjadi kanker?" ayahnya membantah perkataan dokter.


"Bisa jadi karena gumpalan darahnya tak terangkat habis, sehingga tumbuh menjadi sel kanker, dan semakin berkembang sampai sekarang, dan itu dapat memperpendek usia si penderitanya," jelas dokter.


"Stop. Tolong jangan bercanda Dok, aku tidak suka mendengar candaan yang seperti ini, ini benar benar tidak lucu." Aurel menggeleng sambil tersenyum tak percaya, antara sedih, takut, dan tak terima dengan apa yang dia dengar dari dokter.


"Meski begitu, kami juga tidak akan tinggal diam, kami akan melakukan yang- "


"Stop ... Aku bilang stop, stop." Aurel langsung memotong kata kata dokter, tak ingin mempercayai apapun yang dikatakan oleh dokter.


"Dokter, katakan bahwa ini bohong! ini tidak benar benar serius kan?" tanya Aurel tak percaya.


"Maafkan saya, tetapi inilah kenyataannya," dokter menggeleng pelan, cukup mengerti apa yang dirasakan oleh Aurel.


"Tidak, ini tidak mungkin, aku sehat, aku tidak sakit, siapa yang berani mengatakan bahwa aku sakit hah?" bentak Aurel, dia begitu frustasi dengan dengan apa yang menimpa dirinya, hingga tidak mampu untuk mengontrol emosinya.


"Saya harap kamu bisa tabah, dan tetap kuat," ujar dokter menenangkan.


"Tidak. Keluar ... Aku bilang keluar sekarang juga, aku tidak ingin mendengar apapun darimu. Keluar .... " teriak Aurel dengan marahnya.


Setelah kepergian dokter, Aurel menangis histeris, dia menutup kedua belah telinganya tak mampu menerima kenyataan.


Ibunya segera menghampiri Aurel dan memeluknya dengan begitu erat.


"Mah. Dokter itu bohong kan? Katakan pada Aurel bahwa ini cuma mimpi, sekarang Aurel sedang tertidur kan? Nanti setelah Aurel bangun, semua akan balik seperti semula lagi kan?" Aurel mendongak menatap ibunya, sambil memaksakan diri untuk tersenyum, walaupun senyumnya begitu banyak mengandung luka.


Ibunya benar benar tidak tahan mendengar perkataan putrinya, dia tidak mampu untuk menjawab walau hanya sepatah kata saja, dia hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara.


"Mah ... Jawab Aurel, jangan hanya diam seperti ini, tolong jawab pertanyaan Aurel." Aurel menangis sambil menggoyang tubuh ibunya agar ibunya mau bicara, namun ibunya tetap menutup rapat mulutnya tak ingin mengatakan apapun.


"Pah ... Papa tahu kalau Dokter tadi hanya berbohong pada Aurel kan? Aurel- Aurel sehat kok, Aurel tidak merasakan sakit apapun," Aurel mencoba untuk menolak kenyataan yang ada, dia tidak mampu menerima takdir pahit yang menimpanya.


Malihat ayahnya yang menunduk dan hanya berdiam saja, Aurel lantas menangis pilu, sakit ... Sangat sakit, mendengar bahwa dia harus hidup bertemankan dengan kanker otak, yang tidak tahu apakah bisa disembuhkan atau justru malah menemani dia hingga ajal menjemputnya.


Tiba tiba Aurel merasa lelah, dia memutuskan untuk tidur saja, agar dia tidak perlu pusing memikirkan penyakitnya dan kehidupannya dimasa depan akan seperti apa, karena semakin dia memikirkannya, maka semakin sakit pula yang dia rasakan.


***


Kini Jovi sudah berada di apartemen, dia meraih ponselnya, dan terlihat nama Aurel yang sudah menghubunginya entah berapa kali.


Jovi benar benar lupa membawa ponsel bersamanya saat berangkat ke universitas, ditambah kegiatannya di universitas begitu padat, hingga ia tidak sempat untuk kembali pulang mengambil ponselnya.


Jovi mencoba untuk balik menghubungi Aurel, namun kini giliran Aurel yang tidak mengangkat panggilan darinya, karena memang ponsel Aurel tertinggal dirumah, dan Aurel pun sama sekali tidak mengingat akan ponselnya, pikirannya benar benar kacau saat mengingat penyakit yang dideritanya.


Entah sudah berapa kali Jovi menghubungi Aurel, namun tidak juga mendapat jawaban dari sana.


Pikirnya, mungkin Aurel sudah tertidur, berhubung hari juga sudah malam, Jovi menghentikan untuk menghubungi Aurel, dan bersiap untuk mandi, karena badannya sudah terasa lengket karena aktifitas padatnya seharian.


***


Aurel terjaga ditengah malam, seketika ia teringat akan Jovi.


"Ya Tuhan ... Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin menjadi beban untuknya, tetapi aku juga sangat mencintai dia, umurku mungkin tidak lama lagi, aku tidak begitu yakin, apakah aku bisa sembuh atau tidak, aku pasti hanya akan membuat dia susah," Aurel bergumam sendiri disaat kedua orang tua dan adiknya tengah tertidur.


"Tidak, aku tidak boleh memberitahukannya, dia juga harus hidup bahagia, aku tidak bisa membiarkan dia untuk tetap bersamaku, sedangkan aku yang sekarang ini bukanlah Aurel yang sehat dulu, aku sekarang sudah sakit sakitan, aku tidak bisa membiarkan sisa hidupnya hanya merawatku sepanjang waktu," Aurel menggeleng pelan, mengingat Jovi yang jauh di London sana.


"Mungkin aku harus pergi dari kehidupannya, aku tidak boleh egois, dia berhak mendapatkan kebahagiaannya bersama wanita yang sehat pula, agar kelak ada yang mengurusnya, jika dia bersamaku, aku takut sepanjang waktunya hanya bisa mengurus aku, dan tidak ada yang mengurus dirinya," mata Aurel berkaca kaca, mengingat hubungannya dengan Jovi harus berakhir sampai disini.


"Jovi ... Aku mencintaimu, tapi keadaan memaksaku untuk memilih, antara tetap bertahan bersamamu dan kamu akan tidak bahagia, atau melepaskanmu dan membiarkan dirimu bahagia bersama wanita lain," ujar Aurel sambil menatap lurus kedepan.


Tidak dia sadari sebulir air mata meluncur bebas dikedua pipi mulusnya, hatinya begitu berat jika harus berpisah dengan orang yang sangat dia cintai.


***

__ADS_1


Keesokan hari, Aurel terbangun, tubuhnya sangat lemah, wajahnya begitu pucat, bibirnya terlihat pecah karena begitu kering.


"Sayang, kamu sudah bangun? Sarapan dulu yuk," ujar Bu Dina yang segera menghampiri Aurel.


Aurel menatap ibunya dengan mata yang sangat redup, terlihat jelas bahwa dirinya benar benar tak berdaya.


Ibunya menyuapkan sedikit bubur kemulut Aurel, namun yang dirasakan Aurel begitu hambar saat menyentuh lidahnya, setiap makanan yang masuk kemulutnya, hanya rasa tawar yang dia rasakan, itu benar benar sulit baginya.


"Mah .... " ucap Aurel lirih.


"Iya sayang." Ibunya segera meletekkan mangkuk bubur dari tangannya.


"Aku mau melakukan perawatan di luar negeri saja, aku mau pindah dari sini, aku tidak ingin tinggal disini lagi." keputusan Aurel sudah sangat mantap untuk pergi meninggalkan Jovi.


"Mama juga setuju, kamu akan mendapatkan perawatan yang bagus disana, kamu pasti bisa sembuh." Bu Dina mencoba menghibur Aurel, Aurel hanya tersenyum kecut, meskipun dia tidak yakin dengan hal itu, setidaknya itu bisa menenangkan pikirannya.


"Tolong jangan beritahukan tentang kondisi Aurel pada Jovi ya!" ujar Aurel.


"Kenapa?" tanya Ibunya.


"Tidak, aku tidak ingin menjadi beban untuknya, biarlah hubungan kami berakhir sampai disini saja." Aurel menggeleng pelan, matanya kembali berkaca kaca.


"Apapun keputusan kamu, Mama akan selalu mendukungmu," ujar Bu Dina sambil mengelus bahu Aurel.


Aurel hanya bisa tersenyum pahit mengingat kenangan indah bersama Jovi, dan kini dia harus melepaskan Jovi karena takdir tak memilih dirinya untuk memiliki Jovi seutuhnya.


Aurel melanjutkan sarapannya lalu kembali beristirahat.


***


Waktu berlalu begitu cepat, dikeesokan harinya, adalah hari keberangkatan Aurel untuk meninggalkan Indonesia.


"Ayo Mah, Aurel, pesawatnya setengah jam lagi akan berangkat," panggil Pak Doni saat masuk keruangan dimana Aurel dirawat.


"Iya, ayo!" jawab ibunya yang memapah Aurel untuk keluar dari rumah sakit.


Diperjalanan menuju Airport, Aurel mencoba untuk menelepon Jovi.


"Aurel, maafkan aku yang tidak mengangkat panggilan darimu, ponselku ketinggalan," jawab Jovi dari seberang telepon, saat mendengar suara Aurel.


"Tidak apa apa," jawab Aurel singkat.


"Kamu sedang apa? Bagaimana kabarmu disana?" tanya Jovi.


"Kabarku baik baik saja," jawab Aurel berbohong.


"Jovi .... " ucap Aurel lirih.


"Ya .... " Jovi menunggu dari seberang telepon.


"Ada sesuatu yang ingin aku beritahukan padamu, tapi aku harap kamu jangan bertanya tentang alasannya," Aurel sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Katakanlah!" jawab Jovi datar.


Aurel menarik nafas dengan sangat panjang, dia merasa kesulitan untuk mengucapkan kata katanya.


"Aurel .... " panggil Jovi saat tidak mendengar suara Aurel diseberang telepon.


"Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini, hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi, aku harap kamu bisa mengerti, dan mulai dari sekarang lupakan aku," Aurel sungguh tersiksa saat mengatakan ucapan yang paling tidak ingin dia ucapkan seumur hidupnya, namun keadaan memaksanya untuk tetap mengatakan itu.


Seketika Jovi terdiam seribu bahasa, jantungnya berdegup sangat kencang, hatinya seakan sedang disayat sayat dengan belati, sangat sakit mendengar ucapan dari Aurel.


"Kenapa?" tanya Jovi datar dengan suara yang sedikit bergetar.


Aurel tak kuasa menahan air matanya, air matanya membanjiri kedua pipinya, dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya agar suara tangisnya tidak didengar oleh Jovi.


"Aku sudah bilang jangan tanyakan alasannya," Aurel tetap mempertahankan suara dinginnya agar dirinya tidak ketahuan bahwa sedang menangis.


"Ck ... Karena aku miskin?" Jovi tersenyum sinis, tak percaya jika Aurel benar benar akan meninggalkannya.


"Kamu anggap saja seperti itu," jawab Aurel datar.


"Kenapa kamu harus memilihku jika kamu tidak bisa menerima kekuranganku? Kamu lupa dengan apa yang telah kamu janjikan dulu?" ucap Jovi dengan serius. Aurel tak mampu untuk menjawab lagi.

__ADS_1


"Jawab aku, jangan diam saja," Jovi masih berkata lembut pada Aurel, membuat Aurel semakin tidak tega meninggalkannya.


"Tunggu aku disana, aku akan pulang sekarang juga, kita bicarakan baik baik," Jovi dengan cepat berjalan kearah lemarinya, bersiap siap untuk pulang, namun saat dia baru mau membuka pintu lemari, tiba tiba Aurel berkata.


"Percuma saja kamu pulang, kamu tidak akan menemukanku, karena aku sudah pergi, dan satu hal lagi, jangan pernah cari aku." Aurel langsung menutup teleponnya.


"Tunggu! jangan ditutup dulu! Aurel .... " Jovi berteriak, namun tetap saja Aurel menutup sambungannya.


Jovi mencoba untuk kembali menghubungi Aurel, namun tidak dapat tersambung lagi, Aurel sudah menonaktifkan ponselnya.


"Sial .... " teriak Jovi sembari membanting ponselnya kedinding, hingga ponsel itu berubah menjadi berkeping keping.


Jovi terduduk dilantai dengan bersandar ditepi kasur, mengacak rambutnya frustasi.


Jovi melihat pantulan dirinya dari kaca lemari, dia lantas memukul kaca dengan sangat kuat hingga tangannya sampai berdarah terkena pecahan kaca, darah segar mengalir ditangannya.


"Apa didunia ini benar benar tidak ada wanita yang tulus? Kenapa semuanya menjadi sangat palsu, tidak ada cinta yang benar benar nyata." Jovi bergumam sendiri.


"Ck ... Apa itu cinta? Cinta itu hanya lelucon, jangan pernah percaya dengan cinta, didunia ini tidak ada yang namanya cinta, hanya cinta palsu yang ada." Jovi berteriak tidak karuan didalam apartemen.


"Wanita benar benar bodoh, semuanya gila, apa dia pikir hanya dialah yang berkuasa didunia ini, hingga dia selalu bisa mempermainkan perasaan seorang lelaki," Jovi tidak bisa lagi berpikir jernih, semua isi otaknya hanya ada pikiran yang menyalahkan semua wanita.


"Wanita bodoh, wanita tidak punya otak, tidak waras, tunggu saja kalian wahai para wanita, aku pastikan kalian semua akan bertekuk lutut dihadapanku, aku pastikan kalian akan dengan gilanya mengejar aku, tunggu saja pembalasanku." Jovi tertawa lepas, namun semua itu mengandung sejuta kegetiran didalam hatinya.


***


Sedangkan Aurel, kini dia benar benar menangis sekuat mungkin, hatinya terasa begitu sakit hingga ke kepalanya, namun untungnya dia mampu bertahan dengan sakit kepala yang menyerangnya.


"Sudah Aurel, jangan menangis lagi, kamu sudah menetapkan keputusanmu, dan itu tidak akan lagi berubah, kalian sudah tidak lagi memiliki hubungan apapun, relakanlah! mungkin ini yang terbaik untuk kalian, mulailah kehidupan barumu walau tanpa ada Jovi," Bu Dina memeluk putri sulungnya dengan mencoba untuk menenangkannya.


"Iya Kak, tolong jangan menangis lagi ya! Kakak masih sakit, tidak baik jika kakak terus menangis seperti ini," Fina ikut prihatin melihat kakaknya yang harus menerima kenyataan pahit itu.


"Semoga setelah kita pindah ke luar negeri, kamu bisa cepat melupakan Jovi ya, agar kamu tidak terus terpuruk seperti ini." ayahnya ikut menimpali.


Saat mereka tiba di Airport, pesawat pun akan segera berangkat.


Selamat tinggal negara kelahiranku, selamat tinggal sahabat sahabatku, selamat tinggal Jovi, dan selamat tinggal semua kenanganku dinegara ini, aku akan pergi, sampai jumpa kembali jika aku masih bisa bertahan dengan penyakitku ini, semua sahabatku, aku menyayangi kalian, jaga diri kalian semua, aku pasti akan sangat merindukan suasana indah saat bersama kalian. Batin Aurel, lagi lagi dia menitikkan air mata menatap negaranya dari ketinggian, dia benar benar akan meninggalkan semua kenangan yang ada disana.


Jovi. Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu, percayalah, ini demi kebaikan kita bersama, aku tidak ingin kamu hidup menderita, semoga kamu bisa mendapatkan penggantiku secepat mungkin, agar kamu bisa segera melupakan aku. Batin Aurel, sambil memandangi foto Jovi yang terlihat begitu tampan dilayar ponselnya.


"Kak. Kakak tidak apa apakan?" tanya Fina khawatir.


"Kakak baik baik saja," jawab Aurel sembari tersenyum lembut pada adiknya.


***


Sementara Adit yang saat ini berada di universitas, mencoba menghubungi Jovi sedari pagi, namun tetap tidak bisa terhubung sampai disore hari.


"Bagaimana sayang? Masih belum nyambung?" tanya Lani.


"Belum, anak itu tidak biasanya seperti ini, biasanya dia selalu datang tepat waktu, dia tidak pernah bolos kuliah, aku sangat mengenal wataknya itu, apalagi sekarang sudah sore, sedangkan seharusnya dia masuk kuliah dipagi hari, firasatku jadi tidak enak begini," ujar Adit yang sedikit mengkhawatirkan Jovi.


"Mungkin dia memang sedang malas untuk berangkat kuliah," ucap Lani.


"Kalaupun dia sedang malas, dia pasti memberitahukan aku, ponselnya tidak pernah mati, sampai tidak bisa dihubungi sampai sekarang," Adit menggaruk keningnya heran.


"Kenapa kita tidak ke apartemennya saja? Kita lihat apakah dia ada disana atau tidak," ujar Lani memberikan solusi


"Ya, cuma bisa seperti itu. Ayo!" Adit melangkah pergi dengan diikuti oleh Lani.


Tiba di Apartemen Jovi, mereka masuk, karena pintunya tidak terkunci, mungkin karena begitu kesal sampai Jovi lupa mengunci pintu.


"Astaga ... Apa ini? Apa anak itu habis berperang disini? Kenapa semua barang barang berserakan dilantai? Lalu kemana dia? Jovi .... " teriak Adit memanggil Jovi, namun tidak ada jawaban apapun.


"Coba kamu kekamarnya!" ujar Lani.


Adit pun pergi kekamar Jovi, namun disana lebih berserakan lagi, pecahan kaca ada dimana mana, ponselnya juga sudah berubah menjadi kepingan, barang barang yang lain juga tata letaknya tidak menentu.


"Ada apa ini? Apa yang sudah terjadi? Kemana anak itu?" semua pertanyaan terlintas dipikiran Adit, Adit keluar dari kamar.


"Bagaimana?" tanya Lani.


"Tidak ada, anak itu entah kemana perginya," Adit menggaruk kepalanya bingung.

__ADS_1


__ADS_2