ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Mati untukmu


__ADS_3

Tiba di Australia, sudah ada mobil yang disiapkan untuk mereka.


"Kita akan mencari nyonya ke mana Tuan muda?" tanya Jimmy saat mereka telah dalam perjalanan mengendarai mobil.


Jovi tampak membuka layar ponselnya, "Ikuti petujuk arah di sini, itu lokasi tempat Aurel berada sekarang." Sembari memberikan ponselnya pada Jimmy.


Jimmy segera melajukan mobil dengan mengikuti petunjuk yang tertera di layar ponsel.


"Tuan muda. Bagaimana cara Anda mengetahui tentang lokasi keberadaan nyonya?" Jimmy tidak tahan memendam rasa penasarannya, dan pada akhirnya ia tetap memberanikan diri untuk bertanya.


Dan lebih tidak percayanya, Jovi benar-benar memberitahukannya, "Aku memasang sistem GPS di kalungnya."


Tidak menyangka ternyata Jovi telah menyiapkannya dari hari sebelumnya, ia selalu siap siaga pada suatu kemungkinan yang akan terjadi, terbukti sistem GPS yang dipasangnya benar-benar berguna.


Setelah menempuh perjalanan yang lumaya jauh, akhirnya mereka tiba di sebuah pabrik minyak yang tampaknya sudah begitu lama tidak terpakai.


"Kita sudah sampai Tuan." Jimmy pun segera keluar untuk membantu Jovi turun dari mobil, mengingat kondisi Jovi yang saat ini masih belum pulih.


Jovi diam menyelidiki tempat itu, tempatnya begitu besar, ia takut akan ada banyak orang yang berjaga di sana, jika benar begitu, maka kemungkinan menyelamatkan Aurel akan sangat tipis. Namun demi Aurel, Jovi rela mempertaruhkan segalanya demi keselamatan Aurel, meskipun nantinya Aurel akan tetap tidak menghargai itu, dia sudah siap menerimanya.


"Mari Tuan muda. Berhati hatilah!" Jimmy bersiap untuk memapah Jovi, namun Jovi mengibaskan tangannya tak ingin, dia bisa berjalan tanpa dibantu.


Akhirnya Jimmy sedikit menjauh, dan tetap berdiri untuk berjaga-jaga, jangan sampai Jovi kehilangan keseimbangan.


Mereka masuk dengan berhati-hati, namun baru melangkah beberapa kali di dalam pabrik, mereka mendengar suara jeritan wanita.


Jantung Jovi seketika berdebar kencang, dadanya terasa ditekan oleh sesuatu.


Wajahnya kini memerah dengan tangan yang terkepal kuat.


Baru merasakan auranya saja, Jimmy sudah merinding, ia sendiri juga tak berani membayangkan apa yang terjadi di dalam.


Jovi mempercepat langkahnya hingga Jimmy tertinggal jauh di belakang.


Jovi membeku setelah melihat pemandangan di depan matanya, matanya memerah melihat Aurel yang disiksa oleh Deny dengan menggunakan cambuk.


Aurel menjerit histeris setiap kali cambuk mendarat di punggungnya.


tubuh Jovi bergetar hebat menyaksikan semua itu, jiwanya seakan terbang entah kemana.


Jovi mulai sulit mengatur nafasnya, dengan segera ia meraih besi yang kebetulan berada tidak jauh darinya, tidak lupa pula dia menelan pil pemberian Paman Ghani.

__ADS_1


Jovi menggeram sangar berlari kearah Deny dengan besi yang sudah tergenggam kuat, siap untuk dilayangkan di kepala Deny.


Buukkk


Seketika kepala Deny pecah mengalirkan darah di tengkuknya.


Seketika Aurel terkejut mendapati Jovi yang memukuli Deny hingga sampai seperti itu.


Deny berlutut menahan sakit di kepalanya, ia sekuat tenaga mendongakkan kepalanya menatap Jovi, ia benar-benar tidak sempat untuk mengelak.


"Tiba-tiba aku menyesal kenapa pada saat pertama kali aku bertemu denganmu tidak langsung membunuhmu." Jovi masih menggenggam kuat besi ditangannya menatap Deny dengan amarah yang bergejolak.


"Hng. Silahkan bunuh aku, tetapi kau juga harus ikut denganku ke neraka." Deny menyeringai sembari merogoh sesuatu dari balik bajunya.


Doorrr


tembakan itu begitu tepat mengenai luka di dada Jovi yang masih belum kering.


"Jovi ...."


Aurel memekik dengan sangat histeris, ia sekuat tenaga ingin melepas ikatan di tangannya, namun ikatan itu tetap tidak bisa ia lepas.


Jovi kembali memuntahkan darah begitu banyak, alisnya berkerut menahan sakit, kini ia berlutut dengan tangan yang memegang dadanya.


Doorrr


Tembakan itu berasal dari Jimmy, ia saat itu di tinggalkan Jovi begitu saja, hingga pada akhirnya dia tersesat.


"Tuan muda." Jimmy berlari sekencang mungkin menghampiri Jovi, sebelumnya ia membuka ikatan di tangan Aurel terlebih dulu.


"Jovi. Sayang, bertahanlah. Kita akan membawamu ke rumah sakit." Aurel segera menghampiri Jovi yang saat ini sudah terbaring di lantai, begitu lemah.


"Aurel. Aku senang melihatmu yang masih peduli padaku. Maaf, sepertinya aku tidak bisa lagi melindungimu dari sekarang." Jovi meraih wajah Aurel, berusaha tersenyum meski itu terasa menyakitkan.


"Tidak. Jangan katakan itu! Kamu akan baik-baik saja, aku dan Jimmy akan membawamu ke rumah sakit. Jim, apa yang kau tunggu, cepat bawa Jovi!" Aurel begitu panik, ia sendiri tidak tahu harus bagaimana, pikirannya kini benar benar kacau.


"Tidak Jim, tetaplah di tempatmu." Jovi menghentikan Jimmy yang berusaha untuk menggendongnya.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu harus segera diobati, kita tidak boleh menunda waktu lebih lama lagi!"


"Percuma. Karena waktuku juga tidak lama lagi." Suara Jovi kini terdengar parau, begitu sulit baginya untuk mengucapkan sebuah kalimat.

__ADS_1


"Tidak. Kamu tidak boleh pergi, setelah kamu sembuh kita akan kembali hidup bahagia seperti dulu. Jangan pergi!" Aurel mendekap kepala Jovi dengan air mata yang terus menghujani wajahnya.


"Aku sangat senang mendengarnya, aku sangat berharap bisa benar benar hidup bahagia lagi bersamamu, tetapi sepertinya Tuhan tidak lagi memberiku kesempatan untuk itu. Maaf, aku harus mengecewakanmu lagi kali ini." Tampak satu bulir air mata mengalir di sudut mata Jovi, meski dia berusaha tersenyum, tapi itu tetap tak bisa menutupi kesedihan dan kesakitannya.


Jovi kembali terbatuk, darah pun juga ikut menyusul keluar dari mulutnya, Aurel semakin dibuat panik melihat keadaannya.


"Aurel, mungkin ini pertama kalinya aku mengucapkan hal ini padamu, dan juga mungkin akan menjadi untuk yang terakhir kalinya. Aku mencintaimu, lebih dari diriku sendiri, biarkan nyawaku menjadi saksi akan cintaku terhadapmu. Aku berharap, kita akan dipertemukan kembali di kehidupan selanjutnya, dan menjadi pasangan yang paling bahagia di masa itu." Seiring kata demi kata yang diucapkan Jovi, itu semakin membuat Aurel begitu terpukul, nafasnya seakan ingin terhenti melihat kesakitan yang dialami Jovi, bahkan satu katapun tak mampu lagi untuk ia ucapkan, hanya isak tangis yang terdengar darinya.


"Di kehidupan selanjutnya, jika kita berjodoh, aku mohon satu hal padamu, tolong jangan kabur-kaburan lagi, itu sedikit membuatku lelah memikirkanmu yang jauh dari sisiku, dan jika kamu tidak berada di dekatku, aku sulit untuk melindungimu seperti yang terjadi saat ini, aku tidak menyalahkanmu tentang ini, aku juga tidak menyesal mati untukmu, hanya saja ... rasanya hidupku terlalu singkat, aku sangat ingin hidup bahagia bersamamu lebih lama lagi, tetapi takdirku berkata lain. Maafkan aku." Jovi menggenggam tangan Aurel begitu kuat, merasa tidak rela berpisah dari Aurel.


"Aku mohon, berhentilah bicara seperti itu, kita pasti akan bahagia setelah ini, aku minta bertahanlah demi masa depan kita." Aurel menggeleng berusaha meyakinkan Jovi.


Sementara Jimmy yang melihat mereka, terus berusaha menahan air matanya meski ia sendiri tidak kuat untuk menahannya, terkadang air matanya jatuh sesekali, tetapi dengan segera ia usap dengan cepat.


"Aku sangat ingin bertahan untukmu, tetapi rasa sakit ini benar-benar sulit untuk aku tahan." Bibir Jovi sudah mulai bergetar menahan sakit.


Jovi mengelap darah di bibirnya, "Bolehkah aku meminta satu kecupan terakhir darimu? Anggap saja ini salam perpisahan untuk kita." Jovi tersenyum kecil menatap hangat pada Aurel.


"Aku tidak mengizinkamu untuk pergi." Aurel menggeleng dengan cepat tak terima jika Jovi harus benar-benar pergi.


"Tolong. Kabulkan permintaan terakhirku ini!" Suara Jovi terdengar semakin lemah. Sementara Aurel, ia berperang hebat dengan hatinya, tetapi pada akhirnya ia menuruti kemauan Jovi.


Aurel memberi kecupan hangat pada bibir Jovi, bau darah bahkan masih tercium dari mulutnya, namun Aurel tak perduli akan hal itu, bahkan jika ia disuruh untuk meminum sekantong darah Jovi, ia pasti akan melakukannya. Aurel melekatkan bibirnya begitu lama dengan Jovi, hingga pada akhirnya gerakan mulut Jovi terhenti, saat Aurel melihat, ternyata Jovi sudah memejamkan mata tidak sadarkan diri lagi.


Aurel seketika menangis pilu, bahkan suaranya tak mampu keluar, merasa begitu sakit melihat orang yang dia cintai terbaring tak berdaya di hadapannya, ia hanya bisa memeluk tubuh Jovi begitu erat. Semua kesalahan yang pernah ia perbuat, bahkan percuma jika harus disesali, semuanya telah terlanjur terjadi, dan percintaannya bahkan memakan korban, yaitu orang yang begitu ia cintai.


Jimmy bahkan ikut terhanyut dalam kesedihan, ia termasuk orang yang menjadi saksi bagaimana pengorbanan Jovi dalam mempertahankan cintanya, bahkan sampai ke titik darah penghabisan.


Huaaaaa... Hiks.. Hiks..


Kenapa jadi begini? 🤧


Siapa yang naro bawang di sini???


Mataku jadi perih 😭


Kalian kalau mau marah sama Aurel aja ya, jangan ke aku, Aku juga kesel ini 😤


Hai Guys terimakasih bagi kalian yang udah baca sampai sini, kisah Aurel dan Jovi kini sedang berjalan ke detik akhir.


Nantikan kelajutannya besok lagi ya, Author cuma mau kasih bocoran, kalau ceritanya hampir tamat Guys. Hehe 😁

__ADS_1


Silahkan coment sebanyak banyaknya, keluarkan semua unek-unek kalian.


__ADS_2