ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Burung bertelur


__ADS_3

Mendengar Jovi yang tertawa diujung telepon, ayahnya berkata.


"Kenapa kau tertawa? Memangnya sekarang kau mau semua orang mengetahui identitasmu? Bukannya dari dulu kau sangat tidak mau jika Papa mengekspos tentang siapa kamu yang sebenarnya?" ujar Bram.


"Bukan. Bukan itu maksudku, aku hanya tidak menyangka saja, kalau Papa sangat mengerti tentang kemauanku," ujar Jovi tersenyum.


Alasan kenapa Bram tidak mengekspos tentang anaknya, itu karena Jovi yang tidak menginginkan identitasnya diketahui orang luar, entah karena sebab apa? Dia merasa belum siap untuk memberitahukan identitasnya, karena menurutnya pasti tidak akan bisa bebas berada di dunia luar, akan ada banyak wanita yang mencoba menarik perhatiannya, untuk mendapatkan apa yang mereka mau, dan juga pasti akan banyak yang akan mencoba menjilatnya untuk kepentingan mereka sendiri, itu membuatnya sangat malas jika dihadapkan pada orang orang munafik yang sangat tidak menguntungkan bagi dirinya.


Apalagi untuk saat ini dia masih kuliah dan masih akan mengalami banyak pengalaman dimasa mendatang, ia merasa keputusannya saat ini sudah tepat.


Dengan cara menyamar menjadi orang biasa, dia akan bisa melihat siapa saja yang akan tulus bergaul dengannya, dan bukan semata mata karena uang.


Beda halnya jika memang dia sudah akan menggantikan ayahnya, untuk memimpin keluarga dan mengurus ADN GROUP, dimana hari itu tiba, ia juga tidak punya pilihan lain, semua orang harus tau siapa dirinya, sekaligus memberi pelajaran untuk orang yang selalu mencari masalah dengannya.


"Kau punya alasan sendiri mengapa tidak mau mengekspos dirimu, dan Papa tidak punya alasan untuk tidak mendukungmu, Papa juga merasa dengan menutupi identitasmu juga ada baiknya, untuk mencegah agar tidak ada yang mencoba menekan Papa dengan cara mencelakaimu, tunggu kau sudah memiliki kekuatan sendiri untuk melawan para musuh, saat ini kau belum cukup kuat untuk menaklukkan mereka, jadi keputusan ini sudah sangat tepat bagi kita," ujar ayahnya dengan serius.


"Apa Papa memiliki musuh?" tanya Jovi penasaran, bagaimana mungkin orang kuat dan berkuasa seperti ayahnya bisa memiliki musuh, memangnya siapa yang berani?


"Untuk saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memberitahumu, sekarang ini jika kau tau lebih banyak tentang kehidupan Papa, itu akan membahayakan dirimu sendiri, tunggu kau sudah cukup kuat nantinya, kau akan tahu dengan sendirinya, untuk saat ini Papa masih bisa mengatasinya sendiri, kau baik baiklah dalam belajar, Papa hanya memilikimu, semoga kau tidak mengecewakan Papa," ujar Bram yang menaruh harapan pada Jovi.


"Baiklah. Percaya padaku, aku tidak akan mengecewakan Papa, tiba waktunya aku yang mengambil alih semuanya, Papa tidak perlu bekerja keras lagi, Papa hanya tinggal duduk santai meminum teh menikmati masa tua dengan tenang, aku tidak akan membiarkan mereka mengganggu pikiran Papa," ujar Jovi mantap dan tegas.


"Baiklah, Papa percaya padamu," ujar Bram tersenyum kecil mendengar perkataan Jovi yang begitu tegas dan berani.


Kau benar benar anakku, memiliki ambisi yang tak berujung, memiliki keyakinan yang pasti, dan tegas dalam menghadapi masalah, ini adalah modalmu dalam meraih kesuksesanmu. Batin Bram.


"Baiklah Pah, Sampai disini dulu pembicaraannya, sampaikan salamku pada Mama," ujar Jovi

__ADS_1


"Baiklah, jaga dirimu diluar sana!" ujar Bram sembari menutup telepon.


"Benar kata orang, 'Buah jatuh tak jauh dari pohonnya' begitulah dengan dirimu, yang memiliki banyak kesamaan dengan diriku." Bram bergumam sendiri dalam ruang kerjanya.


***


Tiba dikontrakkan Jovi sulit untuk memejamkan mata, dipikirannya terngiang ucapan ayahnya tadi.


Sebenarnya siapa musuh Papa? Pastinya bukanlah orang sembarangan. Apa masih ada orang yang lebih kuat dan berkuasa dari Papa? Tapi siapa? Kenapa aku tidak pernah mendengar tentang mereka? tapi saat ini tidak ada yang terjadi pada keluarga, pastinya mereka belum mampu bersaing dengan Papa. Batin Jovi.


Tunggu sampai aku yang akan memimpin keluarga, aku pastikan tidak akan ada yang berani mengganggu keluarga Adiguna. Tunggu saja kalian! Harimau yang sesungguhnya belum keluar dari sarangnya, nikmati saja dulu kehidupan kalian dengan bahagia. lagi lagi Jovi bergumam dalam hati, sembari tersenyum kecut.


Setelah lama berguling guling ditempat tidur, akhirnya Jovi terlelap, masuk dalam dunia mimpinya.


****


Keesokan pagi seperti biasa, Jovi selalu mendatangi Adit dirumahnya, karena jika ia tidak datang maka pasti dia akan menunggu lama, karena kebiasaan Adit yang selalu terlambat bangun.


Buukk


Adit jatuh terduduk, dia meringis sambil memegang pantatnya. Saat menyadari bagian depannya tidak tertutupi hanya memakai celana dalam, Adit secepat kilat menggapai celana yang didekatnya lalu menutupi bagian depannya.


Jovi yang melihat itu tertawa terbahak bahak. Adit mengerut tidak senang.


"Apa yang kau tertawakan? ini tidak lucu," ujar Adit yang berwajah masam.


"Kau ini sedang apa sih?" ujar Jovi yang masih tertawa geli.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang bertanya, Kau ini sedang apa? masuk tanpa permisi, dan membuka pintu kamar secara tiba-tiba," ujar Adit sembari bangkit dan meringis kesakitan dengan memegang pantatnya.


"Bukannya setiap pagi ini menjadi rutinitasku? datang kesini hanya untuk membangunkanmu, dan sebelumnya kau tidak mempermasalahkan jika aku masuk, bahkan kau memberikan aku kunci rumah candanganmu, lalu sekarang kenapa marah marah?"


"Bukan salahku jika aku tidak sengaja melihat burung yang bertelur, melainkan itu salahmu sendiri yang begitu teledor, tubuh sedang telanjang, tapi pintu dibiarkan terbuka dan tidak dikunci. Seharusnya aku yang marah, kau sudah menodai mata polosku ini," ujar Jovi mengejek.


"Mata polos apanya, yang aku lihat matamu itu sangat liar, bahkan kau menyebutnya dengan burung bertelur, memalukan sekali, pergi sana, aku mau memakai pakaian dulu," ujar Jovi sembari menutup pintu.


Jovi tertawa geli melihat sahabatnya itu yang sok malu.


"Satu menit. Aku beri waktu satu menit untuk kau segera bersiap siap, aku malas menunggu terlalu lama," teriak Jovi yang melangkah keluar dari rumah.


***


Tiga menit kemudian, Adit keluar dari dalam rumah.


"Kau terlambat dua men-," belum selesai Jovi menyelesaikan omongannya, Adit segera menutup mulutnya.


"Kau ini kenapa cerewet sekali seperti ibuku? Sudahlah, ayo jalan! nanti terlambat," ujar Adit sambil melangkah pergi meninggalkan Jovi.


"Kalau terlambat itu salahmu yang begitu lemot, malah mengatakan aku cerewet, apa otaknya masih waras?" gerutu Jovi,


"Kau ini kenapa tidak pakai mobil saja sih? Kau itu kan kaya, kenapa harus ikut bersamaku setiap hari?" Jovi lagi lagi protes pada Adit.


"Kau ini pelit sekali, seharusnya kau bersyukur, tuan muda ini mau menaiki motor bututmu ini, semua orang banyak yang menginginkan agar bisa menjalin hubungan baik denganku," ujar Adit sombong.


"Kau ini, malah menghina motorku, besok besok aku tak akan mengantarmu lagi," Jovi memukul pundak Adit kesal.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda, kau ini sensitif sekali," ujar Adit tersenyum.


Begitulah mereka berdua, saat bertemu selalu beradu mulut, bercanda dengan saling menyindir,tetapi itu yang membuat ikatan mereka menjadi semakin dekat.


__ADS_2