
Setelah beberapa saat, akhirnya Aurel terbangun.
"Kamu bangun sayang?" Bu Dina segera menghampiri anaknya.
"Jovi ... Jovi Ma. Dia masih hidup, dia masih hidup Ma!" Saat bangun itulah kalimat pertama yang diucapkan Aurel. Bu Dina hanya bisa diam saja, dia tahu, anaknya itu pasti sangat terpukul karena kehilangan Jovi, wajar jika Aurel sampai terbawa mimpi.
"Sayang. Sadarlah! Mama tahu kamu masih tidak rela dengan kepergian Jovi, tapi kamu tidak boleh terpuruk dan berlarut dalam kesedihan yang panjang seperti ini. Cobalah untuk menerima kenyataan," ucap Bu Dina dengan lirih, sembari mengelus bahu Aurel.
Aurel tertunduk, menangis sesenggukan, ia sadar bahwa barusan dia hanya benar-benar bermimpi.
"Cobalah untuk tetap kuat demi anak yang ada di dalam perutmu."
Aurel segera menoleh menatap ibunya dengan terkejut.
Ibunya mengangguk, "Iya. Kamu hamil!"
Seketika Aurel merasa semakin sedih, tangisnya semakin terdengar pilu, sungguh itu tidaklah mudah baginya menjalani kehidupan ganda tanpa seorang suami, ia tidak rela jika anaknya harus lahir tanpa seorang ayah, tapi dia harus apa? Selain menerima kenyataan.
Tuhan. Beginikah caramu membahagiakan aku? Di saat aku kehilangan, kau tanamkan janin di dalam rahimku sebagai pengganti kesepian, aku berterimakasih padamu karena tidak membiarkan aku sendirian, tapi ... Bolehkah aku berharap dua-duanya tetap ada? Aku tahu. Permintaanku ini sungguh serakah, tapi aku benar-benar menginginkan sebuah keluarga yang sempurna, bukan harus bergantian seperti ini.
Semakin Aurel membayangkannya, maka perasaannya semakin hancur pula.
"Ma. Antar Aurel ke makamnya Jovi!" Aurel kembali menoleh ke ibunya.
Mereka pun kembali ke makamnya Jovi, di sana sudah sepi, mungkin semuanya telah pulang.
"Ma. Bisa tinggalkan kami berdua?" Meski Jovi telah mati, tapi Aurel masih menganggapnya ada.
Bu Dina pun mengerti, ia menjauh dari Aurel, memberikan kesempatan untuk anaknya mencurahkan isi hati di makam suaminya itu.
__ADS_1
Pelan-pelan Aurel duduk bersimpuh di tepi makam Jovi, tangisnya semakin pecah melihat gundukan tanah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk suaminya.
"Sayang ... Maaf. Maafkan aku yang terlalu egois, ini semua salahku, kamu harus pergi di saat kamu belum mendapatkan kebahagiaan yang kamu inginkan. Kamu lihat, aku sedang mengandung anakmu, andaikan kamu ada, pasti kamu sangat senang kan? Ini adalah harapan besarmu saat itu, sekarang Tuhan telah mewujudkan impianmu, tapi kenapa kamu pergi? Harusnya kamu bisa bertahan dan bisa melihat anak kita lahir." Meski bagaimanapun Aurel berbicara, Jovi tak akan menyahut ucapannya, itu membuat Aurel semakin sedih. Rasanya dia juga ingin menyusul Jovi, tetapi saat mengingat anak di dalam perutnya, dia kembali memiliki harapan hidup, meski hidupnya kelak bersama anaknya tidak akan pernah sempurna tanpa kehadiran Jovi.
***
Tiga bulan kemudian
Akhirnya Adit dan Lani melangsungkan resepesi pernikahan.
"Kamu benar-benar cantik Lani," ujar Aurel saat Lani telah siap memakai gaunnya.
"Memang benar kata orang, gaun pengantin bisa membuat aura kecantikan wanita meningkat 99%, itulah kenapa, setiap wanita mengharapkan sebuah resepsi pernikahan dalam hidup mereka." ucap Mawar dengan tersenyum, dia sama sekali tidak sadar, dengan dia mengatakan itu, ada hati yang terluka.
Lani segera mencubit lengan Mawar, dan seketika Mawar tersadar bahwa ucapannya barusan bisa membuat Aurel kembali terluka.
"Tidak apa-apa. Yang kamu ucapkan tidaklah salah, itu memang benar, semua wanita memang mengharapkan sebuah resepsi pernikahan, dan aku termasuk dari sebagian wanita itu, tetapi dibandingkan dengan resepsi pernikahan, aku lebih memilih Jovi tetap berada di sampingku, tidak perduli jika aku tak bisa melangsungkan resepsi, yang penting aku bisa berada dengannya selalu." Mata Aurel mulai berkaca-kaca, luka yang begitu sulit untuk ia usahakan menguburnya, kini harus digali kembali, dan sekarang tidak tahu, berapa lama lagi luka itu bisa kembali ia kubur.
Mawar jadi tidak enak pada Aurel, sungguh ia tidak berniat untuk mengingatkan Aurel pada Jovi, tapi kenapa ucapannya bisa keluar begitu saja tanpa memikirkan terlebih dahulu?Apalagi mereka sama-sama sedang hamil, ia tahu persis kalau wanita hamil itu hatinya sangat sensitif pada hal-hal kecil sekalipun.
"Aurel, maafkan aku." Mawar benar-benar tidak enak hati melihat wajah sedih Aurel.
"Tidak apa-apa. Ayo kita keluar, ini sudah waktunya untuk Lani keluar bersama Adit." Aurel berusaha menampakkan senyum bahagianya walau itu hanya terpaksa.
Mereka pun mengangguk dan keluar.
***
Kini Lani dan Adit mengikrarkan sebuah janji pernikahan di hadapan banyak orang, mereka saling bertukar cincin, dan bercumbu satu sama lain.
__ADS_1
Semua bertepuk tangan dengan meriah dan bahagia, tak terkecuali Mawar dan Roni.
Aurel melirik kearah mereka sekilas, hatinya semakin hancur melihat kedua sahabatnya itu memiliki pasangan masing-masing, sementara dia, dia kembali melirik bangku kosong yang ada di sampingnya, andai Jovi masih hidup, pasti saat ini Jovi sedang duduk di sampingnya dan memeluknya.
Kini dia hanya sendiri, bahkan mungkin hanya dia yang tidak memiliki pasangan di antara semua para tamu undangan, sejauh mana Aurel memandang, hanya ada orang yang duduk berpasang-pasang, hatinya seketika kembali menciut. Begitu rapuh.
Jovi ... Andai kamu tahu, hatiku begitu dalam berbicara, di antara kisah cinta yang pernah kita punya, aku tersiksa dengan sekat batas waktu dan tempat yang harus membuatku meneguk tuba kerinduan. Bisakah kamu kembali hadir dalam mimpiku? Aku terlalu merindukanmu. Itulah kata hati Aurel saat ini, begitu tersiksa dengan kerinduan yang mendalam pada suaminya.
Aurel mengelus perutnya, membayangkan entah bagaimana nasib anaknya kelak tanpa kasih sayang dari seorang ayah? Apakah dia mampu membesarkan anaknya sendiri? Saat ini dia hanya bisa berharap bahwa anaknya bisa kuat menjalani hidup yang keras tanpa bimbingan ayahnya.
Setelah acara pernikahan Adit dan Lani selesai, Aurel pergi menghampiri mereka.
"Adit dan Lani. Selamat untuk kalian berdua, semoga momongan kalian segera menyusul. Aku turut bahagia untuk kalian." Aurel memeluk Adit dan Lani bergantian.
"Kamu juga yang tabah ya, kita semua juga merasa kehilangan atas kepergiannya, semoga kelak kamu bisa menjalani hidup yang lebih baik lagi." Adit menepuk pundak Aurel, menguatkan. Aurel hanya tersenyum kecut, walau seperti apapun ungkapan mereka yang berniat menyemangatinya, dia tetap tak bisa lari dari bayang-bayang Jovi.
"Aurel. Terimakasih ya, jika kamu merasa kesepian, kamu bisa datang berkunjung ke rumah kami, pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu." Lani kembali memeluk Aurel merasa kasihan. Aurel mengangguk dan tersenyum, meski itu hanyalah pemanis belaka, agar mereka juga tidak terbebani oleh kesedihannya itu.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya. Bye." Aurel melambaikan tangannya pada mereka.
"Hati-hati ya. Jaga keponakanku itu," teriak Adit, Aurel hanya menoleh dan tersenyum.
"Hallo, Jim. Aku ingin bertanya, apakah aku boleh berkunjung ke vila Jovi di mana kami tinggal dulu?" Aurel menelepon Jimmy, ia merasa ingin sekali mengulang sejarahnya bersama Jovi.
"Tentu Nyonya, bahkan jika Anda ingin tinggal di sana juga tidak apa-apa. Rumah Tuan muda adalah rumah anda juga. Bagaimana jika saya menjemput Nyonya untuk pergi ke sana?" tanya Jimmy, dan Aurel pun setuju.
Tiba di vila, Aurel mengutarakan pandangannya ke halaman depan, masih seperti yang dulu, tidak ada yang berubah, hanya saja vila itu terlihat sangat sepi, tidak ada penghuni walau satu orang pun.
Tiga bulan lamanya vila itu dibiarkan kosong, Aurel berniat untuk tinggal di sana, agar dia juga bisa merawat vila itu bersama kenangannya dengan Jovi, dia juga berharap anaknya bisa melewati tumbuh kembangnya di sana.
__ADS_1