ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Jalan berdua


__ADS_3

Disaat Aurel tengah menyuapi Jovi, Tiba tiba Mawar datang menghampiri mereka.


"Hai semuanya, apa kabar? Apa aku boleh bergabung dengan kalian?" sapa Aurel.


Aurel sedikit tidak enak melihat kedatangan Mawar, tetapi dia berusaha untuk tetap tersenyum.


Meskipun Mawar merasa patah hati karena hubungan Jovi dan Aurel, tetapi bukan berarti dia harus membenci Aurel, malah Mawar ingin menjalin hubungan baik pada Aurel dan mendukung hubungan mereka meskipun itu sangat bertolak dengan hati kecilnya.


"Hai. Kabar kami semua baik, kau sendiri apa kabar? Ayo sini duduk disebelahku!" Roni dengan segera membalas sapaan Mawar, agar dia juga tidak terlalu canggung melihat kemesraan pasangan baru itu.


"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Mawar tidak enak hati.


"Tidak, tidak. siapa yang bilang mengganggu? Justru semakin ramai akan semakin baik," ujar Roni dengan ramahnya. Mawar menampakkan senyumnya pada mereka semua.


"Kalian semua termasuk Aurel, apakah kalian ingin berteman denganku, aku sangat merasa kesepian, selama aku masuk kuliah dikampus ini, tidak ada satupun orang yang mau berteman denganku, sampai aku melihat persahabatan kalian yang begitu hangat, dan kalian semua terlihat baik, makanya baru berani datang pada kalian," Mawar menunjukkan wajah berharapnya pada mereka.


Mereka berempat saling memandang satu sama lain, mereka juga merasa kasihan pada Mawar.


"Kau tenang saja, kau bisa menjadi bagian dari kami, kami akan senang jika persahabatan ini menjadi ramai, akan sangat menyenangkan nantinya," ujar Aurel pada Mawar.


"Benarkah? Terimakasih Aurel, kau yang terbaik." Mawar menggenggam tangan Aurel karena begitu senang.


Baginya, meskipun dia tidak bisa memiliki Jovi, tapi asalkan dia bisa dekat dan melihatnya setiap hari, itu sudah sangat cukup baginya.


Aurel membalasnya dengan senyuman, dan menepuk nepuk punggung tangan Mawar dengan pelan.


"Kedepannya jika kau membutuhkan bantuanku, jangan sungkan untuk menghubungiku, aku akan membantumu sebisaku," ujar Mawar sembari tersenyum pada Aurel dan Aurel ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Kalian lanjutlah untuk makan, aku akan pergi, kelasku tidak lama lagi akan dimulai," ucap Aurel sembari melihat kearah jam tangannya.


"Aku ikut bersamamu," Mawar berdiri dan mengikuti Aurel.

__ADS_1


****


mereka akhirnya mengadakan liburan bersama untuk pertama kalinya sejak mereka masuk kuliah, mereka berlima telah menentukan tempat mereka untuk berlibur.


Jovi sedang bersiap siap untuk pergi bersama Aurel, sehari sebelum mereka pergi berlibur bersama ketiga sahabatnya itu, Aurel ingin mengadakan kencan pertamanya dengan Jovi, dia ingin jalan jalan dengan Jovi sebagai sepasang kekasih tanpa ada gangguan dari sahabat sahabatnya.


Sekitar pukul tiga sore, Jovi telah berada dirumah Aurel untuk menjemputnya, dan saat itu Aurel sedang bersiap siap didalam kamarnya.


"Nak Jovi duduk dulu saja sambil menunggu Aurel, Tante akan naik dulu untuk memanggilnya," ujar Ibunya Aurel.


"Terimakasih Tante," jawab Jovi sembari duduk disofa.


Tidak berapa lama setelah Jovi duduk, pelayan rumah menyuguhkan segelas teh hangat kepada Jovi.


"Aurel ... Jovi sudah datang, cepatlah! jangan membuat dia menunggu lama!" teriak ibunya sembari mengetuk pintu kamar Aurel.


"Iya Mah, Aurel datang." Aurel bergegas keluar untuk menemui Jovi.


Aurel turun dan diikuti oleh ibunya dari belakang.


Aurel kini sudah tidak sungkan lagi untuk memanggil Jovi dengan sebutan sayang, karena setiap kali dia mengirim pesan pada Jovi, selalu mengikut sertakan panggilan sayangnya kepada Jovi.


Jovi tersenyum hangat melihat Aurel yang begitu senang saat menuruni anak tangga. Aurel terlihat sangat cantik dengan gaya barunya, rambut coklat bergelombang yang diurai, riasan tipis diwajahnya membuat aura kewanitaannya memancar keluar.


Tidak seperti biasanya saat dikampus, rambutnya yang selalu diikat, bahkan sekedar mengoleskan bedak diwajahnya pun tidak sama sekali.


"Tidak, aku baru saja sampai disini," jawab Jovi lembut.


"Minumlah terlebih dahulu, kita masih punya banyak waktu," ucap Aurel saat melihat segelas teh dihadapan Jovi.


"Aku sudah meminumnya, kita berangkat sekarang saja!" ujar Jovi sembari bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Mereka pun pergi mengendarai sepeda motor.


"Mah. Apa kamu yakin pada hubungan Aurel dengan pemuda itu? Kulihat dia hanya pemuda biasa saja, bahkan dia mengajak jalan anak kita dengan memakai sepeda motor saja," ujar Ayahnya Aurel yang sedang menghampiri istrinya.


"Memangnya kenapa? Bukankah dulu kau juga begitu, kau tidak memiliki apapun saat aku menjadi kekasihmu, bahkan memiliki sepeda motor pun tidak, saat ingin jalan jalan kita harus berdesak desakkan didalam angkutan umum, apa kau lupa itu?" bantah Bu Dina, ibunya Aurel.


Pak Doni menggaruk kepalanya sembari tersenyum malu.


"Masih diingat saja, itu sudah sangat lama," ujar Pak Doni malu malu.


Bu Dina hanya diam saja dan tersenyum, lalu kembali masuk kedalam rumahnya.


***


"Apa kamu tidak lagi protes dengan suara motorku, seperti saat pertama kali kamu menaikinya," goda Jovi pada Aurel saat mereka dalam perjalanan.


Aurel tersenyum malu dan berkata. "Kamu bicara apa? Sudah pasti tidak akan protes, karena pemilik motor ini sudah mengendalikan seluruh emosiku, lalu aku bisa apa?" jawab Aurel, dan mereka pun tertawa.


"Kita mau kemana?" tanya Jovi.


"aku ingin ketempat kolam ikan yang baru baru ini sangat ramai dikunjungi orang orang," jawab Aurel dan Jovi pun mengangguk setuju.


Setibanya mereka disana, tempat itu sudah sangat ramai dipenuhi oleh pengunjung, hingga mereka harus berdesak desakkan saat akan masuk.


Tiba tiba ada seseorang yang dengan tidak sabarnya ingin memasuki tempat itu hingga ia mendorong Aurel dengan sangat kuat, untungnya Jovi sangat sigap, dia memeluk Aurel dengan erat, agar Aurel tidak sampai jatuh akibat dorongan dari orang itu.


Pria yang sudah mendorong Aurel bukannya meminta maaf tetapi malah kabur dengan perasaan tidak bersalah sama sekali.


Aurel masih berada dipelukan Jovi, kepalanya terbenam didada Jovi yang bidang, sungguh pelukan yang begitu hangat dirasakan oleh Aurel, Aurel belum pernah merasakan kenyamanan seperti itu sebelumnya, hingga rasanya dia tidak ingin Jovi melepaskan pelukan itu.


"Apa kamu baik baik saja?" tanya Jovi yang terlihat khawatir.

__ADS_1


Aurel mendongak memandang Jovi, kini mereka bertatapan muka dengan sangat dekat, Jovi menatapnya dengan begitu hangat, membuat Aurel semakin tidak ingin terlepas dari pelukannya, tetapi disana begitu banyak orang, tidak mungkin dia akan berpelukan terus menerus pada Jovi.


Akhirnya Aurel dengan tidak rela melepaskan pelukan dari Jovi, saat Aurel melepaskan diri, tiba tiba Jovi meraih tangannya dan menggenggamya dengan sangat kuat, Jovi berusaha untuk melindungi Aurel dari desakan desakan orang yang sangat ramai mengantri ingin masuk ketempat wisata kolam ikan, disana orang orang memang harus membeli tiket agar bisa memasukinya.


__ADS_2