ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Berangkat berlibur


__ADS_3

Disaat mereka sedang asyik berjalan, Aurel melihat penjual gula kapas, dia sangat ingin membelinya, Aurel menarik tangan Jovi dan Jovi hanya menurut saja kemana pun Aurel pergi, karena dia sendiri juga tidak mengerti tentang pasar malam.


"Itu bukannya makanan anak anak, untuk apa kamu membelinya?" tanya Jovi.


"Siapa bilang ini hanya bisa dimakan oleh anak anak, ini bahkan bisa dimakan oleh kakek kakek," ujar Aurel sambil membuka plastik gula kapas.


"Ini, cobalah!" Aurel ingin menyuapi Jovi, namun Jovi menolaknya.


"Tidak, aku tidak ingin, kamu saja yang makan!" tolak Jovi sambil memegangi tangan Aurel yang sedang memegang gula kapas.


"Ayolah, sedikit saja!" paksa Aurel.


"Tidak, aku sudah sangat kenyang memakan jagung yang kamu beli tadi, aku tidak ingin makan lagi," Jovi mencoba untuk mencari alasan, Jovi sama sekali tidak pernah memakan gula kapas, itu sebabnya dia menolak, dia takut rasanya akan aneh jika masuk dimulutnya.


"Kamu berani menolakku? Tidak takut dipukul?" Aurel melototkan matanya pada Jovi.


"Memangnya kamu tega memukul kekasih tersayangmu ini?" goda Jovi.


"Jika tidak menurut, kenapa harus sungkan untuk memukul?" ledek Aurel.


"Baik. Baiklah, aku makan," ujar Jovi pasrah, Aurel memasukkan gula kapas kemulut Jovi, Jovi tidak percaya bahwa gula kapas juga terasa enak dimulutnya.


"Bagaimana? Enak bukan?" ujar Aurel sambil menatap wajah Jovi yang sedang memakan gula kapas.


"Biasa saja," ucap Jovi datar, tidak mau mengakui bahwa dia menyukainya.


"Dasar." Aurel mencubit perut Jovi dan berlalu pergi dengan wajah cemberut.


Jovi lantas mengejar Aurel dan merangkul bahunya, berusaha membujuk Aurel agar tidak marah lagi.


Setelah lama berjalan jalan dipasar malam, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang, berhubung waktu sudah tengah malam, belum lagi besok pagi mereka akan berangkat untuk berlibur bersama sahabat sahabatnya.


***


Keesokan pagi, Jovi, Aurel, Roni dan Mawar telah menunggu Adit begitu lama, Aurel lantas mengetuk pintu rumah Adit dengan begitu keras, Adit memang begitu lambat, selalu saja membuat semua orang menunggu.

__ADS_1


"Adit ... Cepat sedikit, apa kau mau ditinggal hah?" teriak Mawar.


"Iya, iya. Aku datang!" terdengar suara Adit yang akan membuka pintu rumahnya.


"Ayo berangkat, nanti terlambat!" ujar Adit saat keluar dari rumah.


"Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau ucapkan? Kau yang terlalu lambat hingga membuat kita menunggu lama, kita semua terlambat karena kamu," bentak Aurel.


"Iya, iya. Maaf," ucap Adit santai tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Jovi sudah tidak heran lagi dengan kebiasaan Adit yang selalu terlambat jika ingin pergi, dia sudah mengalaminya setiap hari, dimana dia harus menunggu lama, terkadang ingin sekali dia meninggalkan Adit, tetapi dia juga tidak tega.


"Ya sudah. Ayo berangkat!" ajak Jovi, dan mereka pun berangkat ke tempat tujuan.


Mereka akan berlibur ke vila, vila itu disewa oleh Adit, karena yang mereka tahu hanya Adit yang paling kaya diantara mereka, itupun sangat susah membujuknya agar mau mengeluarkan uang, Adit yang begitu pelit dan perhitungan, mana mungkin dengan mudahnya mengeluarkan biaya untuk pergi berlibur.


Ditengah perjalanan, Aditlah yang paling heboh dan berisik, dia bernyanyi sesuka hati tanpa menghiraukan sahabatnya yang ada dimobil.


"Kau ini berisik sekali, bisa tidak diam sebentar?" bentak Aurel.


Padahal sebenarnya suaranya tidak sebagus yang dia katakan, suaranya sangat jelek, itu yang membuat Aurel sangat kesal.


"Hng, iya. Suaramu bagus sekali sampai aku ingin melemparmu keluar dari sini." Aurel berkata sambil menggertakkan giginya, geram melihat tingkah Adit yang tidak mau diam.


Adit tidak memperdulikan perkataan Aurel, dia semakin mengeraskan suaranya bernyanyi tanpa henti.


Sedangkan Jovi, Roni, dan Mawar hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat mereka berdua yang beradu mulut.


Disaat Adit sedang asyik bernyanyi, Aurel menyumpal mulutnya dengan tissue, Adit seketika terbatuk, semua orang didalam mobil tertawa terbahak bahak.


"Rasakan itu!" ledek Aurel.


Adit kini berwajah masam, setelah lama bernyanyi, Adit akhirnya tertidur, mungkin dia kelelahan karena terlalu banyak menggunakan tenaga saat bernyanyi dan berjoget didalam mobil.


Seketika didalam mobil terasa hening, tidak ada satupun yang berbicara, membuat Aurel juga mengantuk, Aurel ikut tertidur dalam perjalanan, Jovi meraih kepala Aurel dan menyandarkan dibahunya dengan sangat pelan, ia takut akan membangunkan Aurel dari tidurnya.

__ADS_1


Mawar yang kebetulan menoleh kebelakang, tanpa sengaja melihat perlakuan lembut Jovi pada Aurel, seketika hatinya terasa sedih, dia segera berbalik menatap lurus kedepan tanpa berbicara apapun, dia seakan teringat kembali kepedihan hatinya saat mereka jadian.


Matanya kini berkaca kaca, tetapi dia berusaha agar air matanya tidak sampai jatuh, dia mengalihkan pandangannya kesamping agar tidak ada yang mengetahui bahwa dia hampir menangis.


"Ada apa Mawar? Kenapa kau tidak ikut tidur juga? Perjalanan kita masih jauh, lebih baik tidur untuk menambah tenaga," ujar Roni sambil menoleh kearah Mawar.


"Kau sendiri apa tidak lelah? Apa mau aku ganti menyetir?" Mawar balik bertanya.


"Tidak perlu, aku sudah terbiasa dengan perjalanan jauh seperti ini, jadi kau lebih baik tidur saja!" ujar Roni.


"Baiklah, jika kau lelah, jangan sungkan untuk membangunkan aku, aku akan menggantikanmu menyetir," ucap Mawar sambil tersenyum, Tidak butuh waktu lama, Mawar pun terlelap, karena memang dia sedang lelah.


Disaat Roni dengan santainya menyetir, tiba tiba segerombol lelaki memakai pakaian serba hitam menghadang jalan, membuat Roni terpaksa menghentikan mobil, kira kira ada sepuluh orang dan mereka masing masing membawa senjata.


Saat Roni menghentikan mobil, segerombolan pria kekar itu menghampiri mobil mereka, dan dengan kasarnya mengetuk jendela mobil, meminta Roni untuk turun.


Roni lantas membangunkan Jovi dan Adit.


"Jov, bangun. Adit bangun!" ucap Roni yang sedikit panik.


Jovi samar samar mendengar namanya dipanggil, dia lantas membuka matanya dan terlihat sekelompok pria mengerumuni mobil mereka.


"Ada apa?" tanya Jovi bingung.


"Aku tidak tahu, mereka tiba tiba menghadang jalan dan memaksa kita untuk keluar," jawab Roni panik.


Jovi mengitari pandangannya pada semua pria yang diluar mobil sambil menyipitkan matanya.


Jovi segera memindahkan kepala Aurel dari bahunya, saat dia melihat Adit yang masih tidur, dia lantas menggoyang goyang badan Adit, agar adit terbangun.


Adit mengerutkan keningnya saat badannya digoyang goyang, dia pelan pelan membuka matanya.


"Ada apa?" tanyanya dengan kesal, dia belum menyadari bahwa ada banyak orang yang mengelilingi mobil.


"Buka matamu lebar lebar, kau lihat diluar sana, mereka mau membunuhmu," jawab Jovi sembarangan, dia sendiri tidak tahu apa maksud dari sekelompok pria itu.

__ADS_1


"Hah? Membunuhku?" Adit kebingungan sambil memelototi Jovi dengan panik.


__ADS_2