
"Katakan, apa yang membuatmu sangat berani menentangku? Kau pikir aku takut denganmu hah? Kau sungguh tak layak menjadi lawanku, aku tak ingin dianggap sebagai tuan muda yang menindas orang lemah sepertimu," ujar Alex dengan nada sombong.
Jovi tertawa cekikikan merasa lucu dengan ucapan Alex.
"Hng. Jadi kau menganggap diriku ini lemah? Aku rasa yang lemah itu adalah dirimu sendiri. Katakan saja terus terang jika kau takut berurusan denganku," Jovi tersenyum sinis menatap Alex, Alex merasa dihina dengan tatapan Jovi, hingga ia ingin sekali memukul orang.
Alex memukul meja dengan keras hingga membuat semua orang yang berada di cafe menoleh kearahnya.
"Bukankah dia tuan muda Alex, dengar dengar bisnis ayahnya akhir akhir ini sungguh sangat sukses," ujar salah satu orang yang mengenal Alex.
Alex mendengar ucapan mereka, karena mereka bicara dengan suara yang agak keras, tentu saja itu membuat Alex menjadi semakin sombong
"Ya. Bisnis keluarga Bimo Akhir akhir ini memang maju dengan sangat pesat. Itu wajar, karena semua bisnisnya dibawah kendali ADN GROUP, kau tau sendiri kan seperti apa ADN GROUP dalam berbisnis, semua bisnis yang berada dibawah kendalinya pasti mengalami kemajuan yang besar," ujar seorang temannya
Bimo adalah nama kakeknya Alex yang sudah pensiun, dan bisnisnya diteruskan pada anaknya yaitu ayahnya Alex. Meskipun dia sudah pensiun bukan berarti dia sepenuhnya tidak perlu peduli dengan perkembangan bisnisnya, dia masih sering mengajukan saran pada anaknya untuk kemajuan bisnisnya.
"Itulah sebabnya kenapa sangat banyak orang yang memimpikan bisa bekerja sama dengan ADN GROUP, karena jika keluarga Adiguna yang bekerja sama dengan mereka, mereka tak perlu mengkhawatirkan hidup mereka selama tujuh turunan, tapi sebaliknya jika sampai ada yang berani cari masalah dengan keluarga Adiguna, hari itu juga keluarga Adiguna pasti melenyapkan mereka," ujarnya lagi
Bahkan bisnis keluargamu saja berada dibawah kendali keluargaku, dan kau sekarang sangat berani menyombongkan diri dihadapanku. Sungguh naif. Batin Jovi.
__ADS_1
"Haih, jika aku mendengar tentang keluarga Adiguna, jiwa miskinku meronta ronta, kekayaan mereka bahkan untuk aku bayangkan saja sungguh sangat sulit, entah seberapa banyak harta yang mereka miliki," ujar seseorang lagi
"Lebih baik kau tidak usah membayangkan seberapa banyak harta mereka, karena semakin kau membayangkannya, kau akan semakin iri dibuatnya," ujar temannya.
"Iya juga. Keluarga Adiguna selamanya akan membuat orang lain iri dengan kekuasaannya, makanya aku selalu berjaga jaga, jangan sampai aku menyinggung anggota keluarga itu, jika tidak, bisa bisa riwayatku akan tamat," ujarnya lagi
"Jangankan menyinggung anggota keluarga, bahkan menyinggung pelayannya saja aku tidak berani, terkadang aku sangat memimpikan bisa bekerja didalam rumah asli mereka, sekalipun hanya menjadi tukang kebun aku juga rela asal bisa hidup disekitar orang orang hebat itu," ujar seorang pria.
"Rumah asli apa yang kau maksudkan itu?" tanya salah satu wanita yang juga duduk dimeja bersebelahan dengan mereka.
"Kau tidak tau tentang berita yang menyiarkan rumah asli mereka? Rumahnya begitu megah, semua barang dan perabot perabot yang ada didalam rumah itu terdiri dari emas, batu giok murni, kristal asli dan masih banyak lagi barang mewah lainnya yang ada didalam rumah itu, stasiun televisi baru baru saja menyiarkan penampakan rumah asli mereka dan itu pun hanya terlihat sepertiga dari yang utuhnya, karena mereka tidak mengizinkan para media untuk menampakkan seluruh bangunan rumahnya, dan sepertiga itu saja menurutku sudah sangat sangat mewah dan menakjubkan, siapa yang tidak akan iri jika melihatnya?" ujar pemuda itu lagi, tak terlepas dengan tatapan kagumnya.
"Bukan itu saja, bahkan gelas para pelayan untuk dipakai minum saja terbuat dari kristal yang sangat murni, itu saja sudah bernilai ratusan juta bahkan miliaran, aku pernah mendengar jika ada seorang pelayan yang tidak sengaja memecahkan satu gelas kristal murni, dan pelayan itu sudah sangat ketakutan saat memecahkannya, tidak disangka reaksi pemilik rumah malah biasa saja bahkan tidak peduli sama sekali," timpal seorang pemuda lagi yang juga ikut bergabung dengan mereka dalam membicarakan keluarga Adiguna.
"Dan bahkan saat mengetahui jika gelas senilai miliaran itu dipecahkan oleh seorang pelayan saja, pemilik rumah masih tidak peduli, bukankah sedikit berlebihan?" timpal salah satu teman wanitanya.
"Bukan berlebihan, begitulah kekayaan mereka, uang miliaran bukan apa apa bagi mereka, tidak seperti kita ini, bahkan uang ratusan juta saja sudah sangat bernilai," ujar pemuda itu lagi, mereka semua berdecak kagum dengan kekuasaan keluarga Adiguna.
Semua orang mendengar pembicaraan mereka, karena mereka sangat bersemangat saat membicarakan keluarga Adiguna.
__ADS_1
Tak terkecuali Alex, saat dia mendengar itu, dia semakin mendongak dengan sombongnya, tidak tahu saja orang yang dia rendahkan adalah pewaris dari keluarga yang mengendalikan bisnis ayahnya.
"Kau dengar sendiri seberapa kaya dan berkuasanya keluargaku, mereka semua telah mengakui kehebatan keluargaku," ujar Alex dengan sombong
"Sepanjang yang aku dengar mereka hanya meninggikan keluarga Adiguna, bukan keluargamu, jadi kenapa kau harus memperlihatkan wajah sombongmu yang sangat jelek itu?" ujar Jovi dengan sinis
"Hng. Kau tau seberapa kayanya keluarga Adiguna, siapapun menginginkan untuk bisa bekerjasama dengannya, dan keluargaku bisa bekerjasama dengan mereka tentu saja keluargaku juga termasuk sangat hebat," ujar Alex masih dengan gaya sombongnya.
"Mulutmu itu apa tidak pernah kau bersihkan? Sangat bau, aku tidak sanggup menciumnya," ujar Jovi mengejek sambil menutup hidungnya.
Tentu saja itu tidak benar, Jovi hanya ingin mempermainkan Alex sekaligus membuatnya malu, mumpung sedang banyak orang yang menonton pertunjukkan mereka.
Semua orang tidak bisa menahan untuk tidak tertawa, mereka tertawa dengan suara kecil, tapi tetap saja Alex bisa mendengar itu, Jovi sangat puas melihat Alex ditertawakan oleh banyak orang
Dan Alex jangan ditanya lagi, dia kembali bangkit memukul meja dengan kerasnya membuat semua orang terdiam tak berani bersuara, sedangkan Jovi tidak terpengaruh apapun melihat kemarahan Alex, melainkan dia sangat tenang duduk manis dikursinya.
"Kau ... Cepat panggil manager mu keluar sekarang!" perintah Alex pada Jovi dengan sangat marah.
"Hng. Tamatlah riwayatmu," ujar Andre yang sedari tadi hanya berdiam.
__ADS_1
"Kenapa? Kalian berempat masih tidak berani menghadapiku yang hanya seorang diri, sampai mau memanggil satu orang lagi untuk membantu kalian. Sungguh pengecut," ujar Jovi santai
Jovi memang orang yang rendah hati, tapi dia tidak akan pernah tinggal diam jika ada orang yang mencari masalah dengannya, jika ada orang yang baik padanya maka dia akan lebih baik lagi, sebaliknya jika ada orang yang suka menyinggungnya maka dia akan lebih kejam lagi.