
"Lani. Malam ini kamu dan Adit ada waktu tidak?" tanya Aurel saat telepon tersambung pada Lani.
"Memangnya kenapa?" tanya Lani dari seberang telepon.
"Aku ingin mengajak kelian berdua untuk minum di barnya Roni. Apa kalian mau?" ucap Aurel.
"Oh. Boleh boleh saja, nanti akan aku kasih tahu pada Adit," jawab Lani, dan mereka pun mengakhiri pembicaraan mereka.
Kenapa Aurel tiba tiba ingin mengajak kami minum? Apakah dia sedang dalam masalah atau terlalu banyak beban pikiran? Pertanyaan itu terlintas dipikiran Lani karena dia sama sekali belum mengetahui tentang hubungan mereka yang sudah akur.
***
Suara pintu diketuk terdengar dari ruangan Adit, Adit mempersilahkan masuk, dan ternyata yang mengetuk adalah Lani.
Lani sekarang bekerja di perusahaan Adit sebagai sekretarisnya.
"Ada apa Sayang?" tanya Adit saat Lani menampakkan diri diambang pintu.
"Ssstt ... Aku sudah bilang padamu, jika dikantor kamu jangan panggil aku Sayang, nanti ketahuan oleh orang lain," ucap Lani yang segera menghentika Adit agar tidak sembarangan menyebutnya.
Adit berjalan dan mengunci pintunya, lalu berjalan mendekati Lani.
"Sayang. Disini sudah tidak ada orang lain, berarti sudah boleh panggil sayang kan?" ucap Adit yang semakin mendekati Lani.
"Kamu ... Kamu mau apa?" Lani heran melihat Adit yang tersenyum aneh.
"Aku tidak mau apa apa. Hanya ingin sedikit menikmatimu," ucap Adit tersenyum.
"Menikmati?" Lani kebingungan dengan ucapan Adit.
Tanpa menunggu lama, Adit segera menddekap tubuh Lani dan mendaratkan ciumannya dibibir Lani.
Lani sedikit memberontak karena Adit terlalu tiba tiba.
Setelah puas dengan bibirnya, Adit menuruni leher jenjang Lani yang membuat Lani sedikit bergetar.
Saat tangan Adit meraba bukit kembar milik Lani, Lani segera menghentikan Adit dengan cepat.
"Adit stop!" Lani mendorong tubuh Adit lalu berjalan ke sofa dengan sedikit panik.
"Sayang. Lagi lagi kamu menolak keinginanku," ujar Adit dengan nada kecewa.
__ADS_1
"Aku belum siap, dan lagi kita belum menikah," kata Lani mencoba memberi penjelasan.
"Lalu kenapa kita tidak menikah secepatnya saja? Aku lelah jika harus menahannya seperti ini." Adit berjalan menghampiri Lani.
Lani sama sekali tidak menjawab ucapan Adit, dia merasa belum siap untuk berumah tangga.
"Apa kamu serius menjalin hubungan denganku?" Adit menatap lekat pada Lani.
"Apa yang kamu katakan? Tentu saja aku serius, aku hanya belum siap saja," ucap Lani yang mengerutkan keningnya.
"Dari dulu kamu hanya mengatakan kalau kamu belum siap. Lalu kapan kamu baru akan siap?" Adit mulai kesal pada Lani yang selalu menolak jika diajak menikah.
"A-Aku butuh waktu," ucap Lani tergagap.
"Berapa lama lagi waktu yang kamu butuhkan? Aku sudah menunggu sampai detik ini. Apa kamu ingin aku menunggu hingga aku tua?" nada bicara Adit menjadi lantang membuat Lani sedikit takut dan menundukkan kepala tak berani menatap Adit.
Diam diam Lani menangis. Lani memang sangat sensitif, jika ia dibentak sedikit saja, maka air matanya akan mudah untuk keluar.
"Kamu menangis?" Adit memelankan suaranya bertanya.
Lani hanya menggeleng dan tetap menunduk tak ingin memperlihatkan pada Adit bahwa dia sedang menangis.
"Sayang. Maafkan aku! Aku tadi sedikit tidak bisa mengontrol emosiku," ucap Adit sembari mengelus rambut Lani yang.masih menunduk.
Lani tak menjawab apapun dengan ucapan Adit, itu membuat Adit semakin merasa bersalah.
"Lani .... " Adit sedikit memiringkan kepalanya ingin melihat wajah Lani yang tertutup oleh rambutnya.
"Hey. Sini lihat aku!" Adit meraih kedua belah pipi Lani, dan benar saja, ia melihat bulir air mata dipipi kekasihnya itu.
"Hey. Kenapa kamu menangis? Oke, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membentakmu tadi. Jangan menangis ya! Aku tidak bisa melihatmu menangis, hatiku juga ikut hancur jika air matamu keluar," ujar Adit yang mengamati wajah Lani sembari membantu mengusap air mata yang membasahi pipi Lani.
"Maafkan aku ya! Aku janji tidak akan memaksamu lagi, hingga kamu sendiri yang benar benar siap untuk menikah denganku," ucap Adit yang masih merasa tidak enak terhadap Lani.
Maafkan aku Dit. Aku benar benar belum siap untuk memberitahu yang sebenarnya padamu, aku masih butuh waktu untuk mengumpulkan niat itu. batin Lani hingga membuat dirinya semakin sedih, Adit jadi semakin panik, ia kira Lani masih begitu sedih karena dia membentaknya tadi, Adit jadi salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa?
"Kamu kenapa semakin menangis, kan aku sudah minta maaf, dan aku juga sudah berjanji tidak akan memaksamu untuk menikah denganku, jadi jangan menangis lagi ya! Melihatmu menangis aku jadi tidak tahu harus berbuat apa?" ucap Adit panik.
"Tidak. Ini bukan karenamu," Lani menggeleng sembari mengusap air matanya.
"Lalu?" tanya Adit bingung.
__ADS_1
"Bukan apa apa," Lani mengalihkan pandangannya tak berani menatap Adit.
"Kamu yakin tidak apa apa?" tanya Adit.
"Oh, iya. Aku kesini untuk mengatakan padamu kalau Aurel mengajak kita untuk bertemu malam ini," ucap Lani mengalihkan topik pembicaraan.
"Dimana?"
"Di barnya Roni," jawab Lani singkat.
"Tumben sekali dia mengajak bertemu disana?" Adit mengerutkan alisnya tak percaya.
"Tidak tahu. Aku juga heran saat dia meneleponku, aku kira dia akan mengajak bertemu di cafe, tidak menyangka dia mengajak kita bertemu dibar. Apa dia sedang punya masalah?" Lani balik bertanya.
"Tidak tahu. Ya sudahlah, ikuti saja kemauannya, dan karena sekarang sudah sore, lebih baik kita berangkat sekarang saja, sekalian kita ngobrol dengan Roni, sudah sangat lama aku tidak bertemu dengannya," ucap Adit sembari bangkit dari tempatnya.
"Itu. Apakah aku boleh mengajak Mawar untuk ikut serta? Aku juga sangat merindukannya," ujar Lani seakan sedang memohon.
"Boleh saja, aku rasa Aurel juga tidak akan keberatan," jawab Adit tanpa menoleh.
"Akhirnya ketemu juga. Ayo kita berangkat!" ujar Adit saat ia baru saja menemukan kunci mobilnya.
"Sebentar, aku telepon Mawar dulu."
"Nanti saja dimobil," teriak Adit yang sudah keluar dari ruangan.
"Ck. Tidak sabaran sekali dia ini, tidak bisakah dia menunggu sebentar, aku ditinggal begitu saja," gerutu Lani yang sedang sibuk menyimpan kembali ponselnya.
"Hallo Mawar," ucap Lani saat telepon tersambung.
"Iya Lani. Ada apa?" terdengar suara Mawar dari seberang telepon.
"Apa kamu ada waktu malam ini? Aku ingin mengajakmu bertemu di barnya Roni, bisa tidak?" tanya Lani.
"Oh, bisa. Kebetulan aku tidak sibuk malam ini," ucap Mawar yang terdengar sangat senang.
"Baiklah, nanti aku kirim alamatnya, jangan sampai telat. Bye." ucap Lani sembari menutup sambungan telepon.
Tidak lama kemudian, mereka pun tiba di tempat tujuan.
Maaf ya Guys, masih belum bisa up yang panjang, semoga kalian bisa tetap sabar dengan kelemotan Author. hehe 😊
__ADS_1