
Dokter meminta orang tua Aurel datang keruangannya untuk memberitahukan kondisi Aurel karena terdapat gumpalan darah pada otaknya.
"Apa? Gumpalan darah? Lalu apa yang harus dilakukan untuk kesembuhannya?" tanya Bu Dina dengan panik
"Kami akan melakukan operasi, dan jika Tuan Dan Nyonya setuju, kami akan melakukan operasi malam ini juga," ujar Dokter
"Lakukan. Lakukan apapun yang terbaik untuk dia, berapapun biayanya kami tidak perduli, yang penting kami bisa melihatnya sehat kembali," ujar Bu Dina menganggukkan kepala dengan antusias.
****
Malam tiba. Operasi Aurel berjalan dengan lancar. Adit dan Jovi tidak mengetahui jika Aurel dioperasi sehingga mereka tidak ikut hadir malam itu.
Hari berikutnya mereka datang untuk menjenguk Aurel, sedangkan Adit tidak memberi tahu Jovi tentang kejadian semalam yang mengikut sertakan Jovi dalam kebohongan Aurel, dia sengaja tidak memberi tahu karena ingin sekali menjahili temannya itu. Begitulah cara Adit dalam bersahabat, sangat usil.
Saat mereka tiba dalam ruangan, Bu Dina dengan girangnya menyambut Jovi.
"Calon menantuku akhirnya kamu datang menjenguk pacarmu, dia sudah dari tadi menunggumu sampai tidak mau memakan sarapannya," ujar Bu Dina dengan senyum lebarnya.
"Hah ... Calon menantu? Pacar?" ujar Jovi bingung sambil memandang kearah Aurel bermaksud meminta penjelasan, sedangkan Aurel malah melototi Jovi agar tak macam macam. Jovi mengerutkan keningnya berbalik memandangi Adit, terlihat Adit yang berusaha menahan tawanya agar tidak meledak, Jovi semakin bingung dan akhirnya dia mengerti.
__ADS_1
Pasti ini ulah mereka berdua. Dasar, ingin berbohong kenapa harus menyeretku masuk kedalam, tunggu saja kalian, kalian pikir aku kucing yang penurut, tunggu saja pembalasanku. Batin Jovi
"Oh, Aurel sayang kenapa gak mau sarapan? Nanti sakitnya gak mau sembuh lho," ujar Jovi menatap Aurel dengan senyum liciknya.
Aurel merasa ada yang tidak beres dengan anak ini, dia sedikit waspada saat Jovi mendekatinya.
"Aku tau, kamu tidak ingin makan jika bukan aku yang menyuapimu kan? Sini, biar aku suapi pacarku yang manja ini!!" ujar Jovi sambil meraih mangkuk yang berisi bubur dan bersiap menyuapi Aurel.
Apalagi yang dilakukan anak ini, awas saja kalau kau berbuat hal aneh. Batin Aurel
"Ayo sayang buka mulutmu yang lebar," pinta Jovi dengan senyum pura puranya.
Saat Aurel membuka mulut, Jovi dengan kasarnya menyuapi Aurel, membuat Aurel hampir terbatuk. Aurel melototi Jovi merasa sangat kesal, jika bukan karena Ibu dan Ayahnya masih disana mungkin Jovi akan ditelannya bulat bulat.
Jovi tersenyum puas karena bisa menjahili Aurel.
Siapa suruh kau main main denganku, rasakanlah akibatnya. Batin Jovi sembari tersenyum licik pada Aurel
Belum sempat Aurel menghabiskan bubur didalam mulutnya Jovi kembali menyuapi bubur kemulut Aurel hingga membuat mulut kecil Aurel dipenuhi dengan bubur, membuat dia sulit untuk menelan. Amarah aurel serasa ingin meledak tapi tetap ia tahan, sedangkan Jovi terus saja memperlihatkan senyum lebarnya itu.
__ADS_1
"Sudah. Aku sudah kenyang, ambilkan aku air!!" ujar Aurel dengan cemberut. Dia sudah tidak tahan lagi jika harus disuapi seperti **** oleh Jovi. Belum lagi dia sedang sakit, Jovi benar benar memanfaatkan situasi dimana dia sedang tak berdaya.
"Ini buburnya masih banyak lho sayang, kamu baru makan beberapa sendok saja, perutmu itu akan cepat lapar nantinya, kamu tidak akan sembuh dengan cepat jika makan sedikit sedikit begini," ujar Jovi dengan senyum menggoda.
Sebaliknya aku tak akan sembuh jika kau terus menyuapiku dengan cara seperti ini. Benak Aurel
"Jovi kamu sangat romantis dan perhatian. Aurel, kamu beruntung punya pacar seperti dia," ujar Bu Dina tersenyum lebar.
Ayolah Mama, anakmu ini bukan sedang diromantisi, melainkan sedang ditindas. Aku sungguh sangat menyesal telah melibatkan dia dalam sandiwara ku ini, dia malah dapat keuntungan dengan menindasku semaunya. Aurel menggerutu didalam hati.
Begitulah seterusnya, Jovi menyuapi Aurel dengan kasar hingga bubur habis, dan lebih parahnya lagi, selama Aurel memakan buburnya Jovi tak memberi kesempatan untuk Aurel meminum air walau seteguk pun. Benar benar kejam
Aurel tak berhenti melototi Jovi, dan sesekali melototi Adit juga karena Adit terus saja tertawa cekikikan melihat dia sedang ditindas.
Teman macam apa dia ini? senang diatas penderitaanku. Sangat menyebalkan, tunggu sampai aku keluar dari rumah sakit, kau akan terima pembalasanku. Gerutu Aurel dalam hati dengan wajah masamnya
"Baiklah. Makananmu sudah habis, aku akan pulang, aku masih ada urusan lain, jaga dirimu ya! nanti jika kau memerlukanku untuk menyuapimu lagi, jangan sungkan untuk menghubungiku," ujar Jovi tersenyum jahil dan Aurel melototinya seperti seekor Elang ganas
Jovi dan Adit akhirnya meninggalkan rumah sakit, Aurel menghela nafas lega, dia yakin jika Jovi sedikit lebih lama lagi berada didekatnya, penyakitnya pasti berubah menjadi stroke.
__ADS_1