ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Berangkat ke vila


__ADS_3

Keesokan harinya, disaat hari masih sangat pagi, klakson mobil terdengar, pertanda Jimmy telah datang untuk menjemput Aurel.


Aurel segera keluar dari kamarnya, membawa satu koper besar menuruni anak tangga.


"Mah, Pah, Fina. Aku pergi dulu ya," pamit Aurel pada keluarganya.


"Hati hati. Sering seringlah berkunjung jika ada waktu!" ujar ibunya sembari memeluk Aurel.


"Pasti Mah."


Aurel pun melangkahkan kaki dengan berat menuju kemobil. Aurel selalu menoleh kebelakang melihat wajah mereka yang tersenyum, membuat Aurel semakin merasa tidak tega telah membohongi keluarganya.


Jimmy membukakan pintu mobil untuk Aurel. Saat mobil perlahan bergerak maju, Aurel melambaikan tangan pada keluarganya merasa sedih meninggalkan mereka.


Saat mereka sudah tidak terlihat, Aurel diam diam menangis, hatinya benar benar merasa hancur melihat senyum mereka yang diatas kebohongannya sendiri.


"Apa anda baik baik saja Nona?" tanya Jimmy saat menyadari Aurel menangis.


"Tidak. Aku tidak apa apa. Fokuslah menyetir!" jawab Aurel menggelengkan kepala.


Jimmy mengangguk dan tidak lagi bertanya apapun.


Setelah satu jam diperjalanan, akhirnya mereka tiba disebuah vila yang tampak begitu mewah.


"Apa ini vila yang ditinggali Jovi?" tanya Aurel.


"Iya Nona," jawab Jimmy sopan.


"Mari Nona, kita masuk!" ujar Jimmy mempersilahkan, Aurel mengangguk mengikuti Jimmy.


"Apa Jovi sudah berangkat ke kantor?" tanya Aurel saat tidak mendengar suara apapun dirumah.


"Belum Nona. Tuan muda ada dikamarnya, mari saya antar!" Jimmy membawa koper Aurel menuju kamar Jovi, dan Aurel mengikutinya dari belakang.


Jimmy hanya mengantar sampai didepan kamar, setelahnya dia pergi.


Aurel ragu ragu untuk mengetuk pintu, dia takut akan mengganggu Jovi.

__ADS_1


Setelah lama mematung didepan pintu, akhirnya Aurel memberanikan diri untuk mengetuknya.


Ketukan pertama tidak ada jawaban.


Ketukan kedua juga tidak ada jawaban, pikir Aurel mungkin Jovi tidak mendengarnya, dia lantas mencoba lagi.


Dan ketukan ketiga, sama saja, tetap tidak ada jawaban, Aurel menggaruk kepalanya bingung harus berbuat apa.


Akhirnya Aurel lagi lagi mencoba untuk membuka pintu, kalau kalau pintunya tidak dikunci, dan benar saja, pintunya memang tidak dikunci, Aurel lantas masuk dengan sangat pelan, takut ketahuan kalau dia masuk tanpa izin.


Aurel pikir Jovi masih tidur, jadi dia tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun.


Saat dia masuk, kamar terlihat kosong, tidak ada Jovi disana, lantas kemana dia?


Aurel celingak celinguk melihat apakah Jovi bersembunyi darinya.


Ah. Bodoh sekali aku, kenapa juga Jovi harus sembunyi? Benar benar. Aurel menepuk keningnya merasa dirinya bodoh.


Aurel pelan pelan melangkah kearah jendela, melihat pemandangan dari ketinggian, benar benar indah.


Jovi bisa main gitar? Apa dia juga bisa bernyanyi? Ah. Rasanya tidak mungkin, jika dia bisa, kenapa dia tidak pernah menunjukkannya padaku waktu kita masih pacaran? Aurel menggeleng sambil terus menatap foto Jovi.


"Apa yang kau lihat?" tiba tiba Jovi bersuara, dan membuat Aurel terkejut setengah mati, dia segera menyembunyikan foto Jovi dibelakangnya, takut Jovi akan marah.


Aurel menoleh kearah Jovi, terlihat Jovi yang bertelanjang dada dengan dibalut handuk dibagian bawahnya. Bulir bulir air masih terlihat didadanya yang sangat menggiurkan, rambutnya yang basah tanpa disisir membuatnya semakin terlihat seperti lelaki sejati. Benar benar tidak ada duanya.


Aurel menelan ludahnya sembari memalingkan wajah dengan cepat karena malu, jujur dia tidak pernah melihat lelaki yang tidak memakai baju seperti itu.


"Apa kau tuli? Aku tanya apa yang sedang kau lihat?" Jovi sedikit mengeraskan suaranya membuat Aurel takut.


"T-Tidak. Tidak ada yang aku lihat," Aurel segera menjawab dengan berbohong.


"Kau yakin tidak melihat apapun?" Jovi tersenyum sinis, Aurel sama sekali tak menjawab apapun, dan Jovi perlahan mendekatinya, Aurel yang menyadarinya seketika merasa takut, ia mundur beberapa langkah tak ingin Jovi menemukan fotonya.


"Mengapa kau mundur?" Jovi semakin mendekat membuat Aurel semakin panik.


Aurel terus mundur hingga menabrak dinding, kini dia semakin panik lagi, tidak tahu harus kabur kemana.

__ADS_1


"Tidak ada jalan lagi kan?" Jovi masih mendekati Aurel dengan tersenyum sinis.


Jovi sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya kewajah Aurel, Aurel memejamkan matanya, mengira Jovi akan menciumnya.


Dan tiba tiba Jovi merampas foto yang disembunyikan Aurel ditangannya, Aurel seketika membuka matanya terkejut.


Jovi melihat fotonya didalam bingkai kecil, lalu tersenyum sinis.


"Kenapa? Apa kau masih mencintai aku sampai sekarang?" Jovi menatap Aurel penuh hina.


Jantung Aurel berdegup kencang, tidak tahu harus berkata apa, ia hanya bisa menunduk tidak berani menatap Jovi.


"Kenapa? Sudah ada yang lain?" lagi lagi Jovi berkata sinis pada Aurel. Aurel tetap diam tak ingin mengatakan apapun.


"Jawab aku!" Jovi menggeram dengan mencengkram dagu Aurel, membuat Aurel mendongak menatap Jovi yang terlihat marah.


Aurel meringis kesakitan, namun Jovi sama sekali tak menghiraukannya.


Jovi terus saja menatap Aurel dengan sangat tajam, membuat Aurel merinding sampai ketulang.


"S-Sakit Jovi." Aurel tidak tahan lagi menahan rasa sakit oleh cengkraman Jovi yang sangat kuat.


"Sekarang kau baru tahu sakit? Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana rasa sakitku saat kau pergi begitu saja? Apa kau perduli pada perasaanku saat itu? Apa yang harus membuat aku peduli dengan rasa sakitmu saat ini? Tidakkah kau merasa malu setelah mencampakkan aku lalu memohon bantuan dikemudian hari? Hina sekali kau ini." Jovi kembali melepaskan amarahnya yang tempo hari tidak terselesaikan.


Aurel sungguh tidak mampu lagi menahan air matanya mendengar perkataan Jovi, Sebulir demi sebulir, air mata bening itu jatuh membasahi wajah mulusnya.


"Mengapa kau menangis? Kemana dirimu yang dulu begitu kejam? Seingatku kau adalah wanita yang selalu membalas perbuatan kasar orang lain kepadamu, lalu kenapa sekarang kau tidak melawan? Lawan aku? Bukankah kau ini wanita kasar dulunya? Ayo cepat! Lawan aku!" Jovi dengan sinisnya menantang Aurel untuk melawannya.


Tetapi bukannya melawan, Aurel semakin kuat menjatuhkan air matanya, entah neraka apa yang dia masuki saat ini? Itu terasa sangat menyakitkan baginya.


"Jovi. Bisakah kamu melepaskan cengkramanmu ini? Ini benar benar sakit," ucap Aurel dengan lirih, daging pipinya seakan ingin hancur oleh tangan Jovi.


Bukannya melepaskan, Jovi semakin menambahkan tenaganya, membuat Aurel kembali menangis karena kesakitan.


Ya Tuhan. Sejak kapan kau merubah kepribadian Jovi jadi seperti ini? Kenapa dia yang sekarang begitu kasar? Aku sekarang sudah menjadi istrinya, tetapi dia semakin membuatku menderita, sudah cukup penderitaan yang selama bertahun tahun ini aku tahan, dan sekarang Jovi semakin membawaku masuk kelubang kehancuran dengan sikap kasarnya, apa hidupku akan selamanya begini? Akankah ini akan berakhir suatu saat nanti? Aurel benar benar tidak tahan lagi menahan rasa sakitnya.


Jovi. Andai kamu tahu, aku meninggalkanmu bukan tanpa alasan, saat itu aku benar benar tidak tahu dengan nasibku kedepannya, aku tidak tahu, apakah aku bisa bertahan atau tidak, jika aku bisa melihat nasibku kedepannya akan seperti apa, aku juga tidak akan meninggalkanmu. Aku ingin sekali mengatakan dan menjelaskan semuanya padamu, tetapi aku takut kamu tidak bisa menerima itu, dan membuatmu semakin marah padaku. Aurel sudah sangat pasrah dengan nasibnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2