
Mawar mulai memetik senar gitar dengan tangan lentiknya, gerakan tangannya terlihat sudah sangat profesional.
Suara gitarnya terdengar begitu indah, menghanyutkan pikiran semua orang yang mendengarnya.
Mawar bermain sambil memejamkan matanya, menghayati setiap petikan. Dia seakan sedang bernostalgia, dimana dia tampil dengan percaya diri dihadapan banyak orang.
Mawar mulai membuka bibirnya bersiap untuk bernyanyi, semua orang dibuat deg degan olehnya, karena begitu penasaran ingin mendengar suaranya, melihat dari raut wajahnya yang terlihat seperti seorang penyanyi yang berbakat.
Mawar mulai bernyanyi, suaranya begitu indah dan merdu, lembut bagaikan sutra, jernih bagaikan air yang baru saja turun dari langit.
Semua orang ternganga mendengar suara Mawar yang begitu menggelora, benar benar nyaman saat mendengarnya, seakan semua beban tersapu oleh kelembutan suaranya.
Mawar membawakan sebuah lagu yang berjudul 'Angin lembut' dimana lagu itu adalah lagu yang dia ciptakan sendiri, dia begitu senang menciptakan lagu, entah sudah berapa banyak lagu yang dia rangkai dengan tangannya sendiri.
Semua orang terbawa suasana dari kelembutan lagu yang dibawakan oleh Mawar.
Adit dan Roni tidak ingin melanjutkan pertunjukkan mereka karena ingin fokus mendengarkan suara indah Mawar.
Setelah Mawar selesai membawakan sebuah lagu, semua orang bertepuk tangan dan bersorak dengan girang, bahkan ada yang meminta Mawar untuk lanjut bernyanyi, namun Mawar menolaknya, karena dia sedikit malu pada Jovi.
Wajah Alex saat ini benar benar tidak enak dipandang, dia begitu kesal dan juga malu.
Sial, kenapa bisa dia memiliki suara yang begitu bagus, tau begini aku tidak akan membantahnya barusan, membuat diri sendiri malu saja. Batin Alex.
***
Hari berikutnya, adalah hari dimana mereka akan menjelajah alam.
Semuanya telah bersiap siap. Mereka pun berangkat bersama, tidak ada pembagian kelompok karena yang ikut berkemah tidak banyak.
Mereka menyusuri hutan yang lebat akan pohon pohon, itu tampak mengerikan, sebagian wanita ada yang tampak takut saat berada didalam hutan itu.
"Hutan apa ini? mengerikan sekali. Apa disini tidak akan muncul hewan buas?" tanya seorang wanita.
__ADS_1
"Tenanglah. Disini tidak akan ada hewan buas," jawab senior.
beberapa saat kemudian, seekor ular kobra keluar dari balik semak semak, awalnya tidak ada yang menyadari, tetapi setelah salah satu dari mereka tergigit, semua orang seketika terkejut saat mendengar teriakannya.
"Ada apa?" Tanya senior dengan panik.
"Kakiku. Kakiku digigit oleh ular," teriak si pria sambil memegangi kakinya dengan sangat kencang karena merasakan sakit yang teramat.
Kini kakinya berubah warna dengan cepat menjadi biru seperti memar.
"Bagaimana ini? Lebih baik kita pulang saja, tidak ada pilihan lain, dari pada nyawanya terancam, racunnya tidak akan butuh waktu lama untuk menyebar keseluruh tubuh," ucap salah satu senior kepada temannya yang juga ikut membimbing mereka dalam berkemah.
"Bagaimana Pak?" tanya senior pada Dosen mereka.
"Tidak ada pilihan, tetapi kita harus membawa dia kerumah sakit yang paling dekat dari sini, karena kalau harus menempuh perjalanan kerumah sakit kota akan sangat memakan waktu, bisa bisa dia tidak tertolong," ujar Dosen.
"Baiklah," Senior mengangguk dengan cepat.
Jovi dan kedua temannya ikut membopong yang terluka untuk keluar ke jalan raya mencari kendaraan.
Tidak membutuhkan waktu lama, setelah mereka keluar dijalan raya, sudah ada orang berkendara bersedia untuk membantu.
Namun diperjalanan kerumah sakit, korbannya sudah pingsan duluan, Jovi mencari kesempatan untuk mengoleskan penawar racun ke bekas gigitan pada kaki pria itu saat orang lain sedang panik, karena pesan Paman Ghani, obat kuno itu harus dirahasiakan, kalaupun ingin menolong orang, harus menolongnya tanpa diketahui siapapun.
Beberapa menit kemudian, tibalah mereka disebuah rumah sakit kecil, semuanya turun dan membopongnya masuk kerumah sakit.
Saat diperiksa oleh dokter, dokternya malah kebingungan, melihat kekiri dan kekanan pada kaki pria itu, namun tidak ada bekas apapun disana. Tetapi setelah diperiksanya, si pria memang benar benar pingsan
Dokter pun keluar dari ruangan untuk bertanya.
"Kalian yakin dia terkena gigitan ular?" tanya Dokter.
"Iya, kami tadi melihatnya dengan jelas. Kenapa Dokter? Apakah begitu sulit untuk diobati?" tanya senior dengan panik.
__ADS_1
"Bukan, Melainkan dikakinya tidak ada bekas gigitan apapun, semuanya terlihat normal, tetapi dia masih pingsan didalam." Dokter menggeleng dengan heran.
Semuanya pun kebingungan dengan penuturan Dokter, jelas jelas mereka melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri, bahwa bekas gigitan itu benar benar ada, tetapi kenapa Dokter malah mengatakan bahwa dia baik baik saja?
Terkecuali Jovi, dia yang lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena ini memang ulahnya, yang memberikan obat penawar secara diam diam.
Tidak lama kemudian, pria itu keluar.
"Nah ini orangnya sudah sadar," kata Dokter sambil menoleh kearah pria itu.
"Ada apa? Oh, iya. Dokter, terimakasih banyak telah menolongku dengan cepat, kakiku sudah tidak sakit lagi, bagaimana caranya anda mengobatinya? Bahkan kakiku tidak butuh diperban lagi," ujar si pria yang masih belum sadar bahwa kakinya tidak memiliki bekas apapun.
"Menolong apanya? Kau mau menipuku atau bagaimana? Jelas jelas kakimu itu baik baik saja," bentak Dokter.
Pria itu mengangkat alisnya kebingungan.
"Maksudnya? Aku tidak mengerti dengan apa yang Dokter katakan," ujar pria itu dengan heran.
"Kau lihat sendiri kakimu, apakah disana ada bekas gigitan ular?" Dokter berkata dengan melotot kearah pria itu.
Pria itu segera memeriksa kakinya, dan benar saja, dia tidak melihat bekas apapun disana, lantas dia sendiri menggaruk kepalanya heran.
Ada apa ini? Kenapa tidak ada bekasnya? Dan aku juga tidak merasakan sakit apapun, apakah aku yang salah? tapi tidak mungkin, aku sendiri melihat dan merasakannya saat ular itu menggigitku. Batin pria itu, dan dia pun kembali menoleh kearah Dokter.
"Dokter, aku sama sekali tidak berbohong, tadi aku memang digigit oleh ular, mataku ini masih normal, aku masih bisa melihat dengan jelas apakah itu ular atau bukan, dan aku lihat yang menggigitku itu benar benar seekor ular," jelas pria itu dengan serius.
"Lalu, apakah menurutmu lukamu sembuh dengan sendirinya? Jangan bercanda, racun ular kobra itu bukanlah sesuatu yang bisa kau anggap enteng sampai bisa sembuh sendiri." Dokter terlihat semakin kesal.
"Aku juga tidak mengerti, kenapa bisa jadi seperti ini? Begini saja, aku minta maaf, dan terimalah ini sebagai permintaan maafku," ujar si pria sambil memberikan uang pada Dokter.
"Tidak perlu, lupakan saja, kau bisa pergi dari sini, sebelum aku berubah pikiran lagi," ujar Dokter dengan ketus.
"Baiklah, kami permisi dulu Dokter, maaf telah mengganggu waktumu," pamit pria itu dengan sopan.
__ADS_1