ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Adit disekap


__ADS_3

Hari demi hari terus barjalan, perusahaan Jovi semakin berkembang dengan pesat, namun tidak ada yang tahu, dibalik seorang bos yang begitu kokoh dan gagah, menyimpan rasa sakit yang mendalam.


Siapa yang akan percaya bahwa CEO ADN GROUP akan merasa kekurangan kasih sayang dari seorang wanita, padahal jika dia mau, dia bisa saja menarik semua wanita untuk melayaninya setiap waktu kapan pun ia mau.


Jovi tak melakukan itu, dia bukanlah lelaki yang suka bermain dengan wanita sembarangan, dia lebih suka menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


Disisi lain.


Aurel yang saat ini tinggal disebuah vila bersama Deny dan para pelayan wanita, tiba tiba menerima telepon dari Lani.


"Hallo Aurel. Bisakah kamu membantuku, katakan pada Jovi kalau Adit dibawa oleh orang orang tak dikenal, dia dikeroyok oleh banyak orang dan dibawa begitu saja. Aku mohon katakan pada Jovi ya!" Nada bicara Lani terdengar begitu panik, ia sama sekali tak mengetahui kalau Aurel dan Jovi sedang berseteru, makanya ia meminta pertolongan pada Aurel untuk memberitahu Jovi, karena menurutnya hanya Jovi yang mampu menolongnya.


"Baiklah aku akan mengatakannya." Aurel juga dibuat panik, Adit adalah sahabatnya, tidak mungkin dia bisa diam begitu saja.


Aurel menelepon Roni untuk memberitahukan pada Jovi tentang Adit.


Roni juga tak kalah panik setelah mendengar kabar itu, ia segera menelepon Jovi.


"Jov. Gawat! Adit. Dia dibawa oleh orang tak dikenal setelah dikeroyok." dengan paniknya Roni mondar mandir diruang kerjanya.


"Apa? Siapa yang berani mengeroyok dia di tanah kekuasaanku?" Jovi memukul meja dengan sangat kuat, membuat Jimmy terkejut mendengarnya.


"Baiklah. Aku akan kerumahmu untuk membicarakan hal ini." Jovi segera menutup teleponnya.


"Jim. Selidiki secepat mungkin. Siapa orang yang telah membawa Adit? kabari aku sesegera mungkin setelah kau mendapatkan informasinya, kau bisa menyusulku kerumah Roni setelahnya!" Jovi bergegas pergi membawa kunci mobilnya.


Semua karyawan dibuat heran sekaligus takut melihat bos mereka yang berjalan dengan tergesa gesa sembari memasang wajah mengerikan seperti itu. Semua tidak ada yang berani menegurnya dalam keadaan seperti itu.


Jovi melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi, terlambat sedikit saja, Adit bisa saja dalam bahaya.

__ADS_1


Di tengah perjalanan, Jovi mendapatkan pesan masuk di ponselnya, pesan itu dari Jimmy, mengenai informasi yang dia dapatkan, Adit dibawa oleh anggota geng mafia yang bernama Naga Merah.


"Naga Merah sialan." Jovi memukul stir dengan sangat kuat.


"Sudah bosan hidup rupanya kalian."


Setibanya dirumah Roni, Roni telah menyambutnya dengan wajah panik.


"Katakan detail kejadiannya seperti apa!?" Jovi duduk disofa berhadapan dengan Roni.


"Menurut dari apa yang dikatakan Lani, mereka berdua saat itu sedang bertengkar, dan Adit tidak sengaja menyinggung seseorang hingga akhirnya dia tidak terima, dan menelepon teman temannya agar membawa Adit dan memberinya pelajaran. Sampai sekarang aku belum mengetahui keberadaannya." Roni tampak depresi mengkhawatirkan Adit.


"Adit saat ini disekap oleh komplotan Naga Merah, mereka membawanya ke markas mereka." Tatap Jovi dengan serius.


"Apa? Naga merah? Kamu tidak sedang bercanda kan? Bagaimana mungkin Adit sampai berani melakukan kesalahan pada mereka? Semua orang di kota ini juga tahu kalau Naga Merah bukanlah gang mafia abal abal, mereka itu sangat bengis, tidak ada yang berani mencari masalah dengan mereka, bahkan pemerintah dan juga polisi tidak akan berani mencampuri urusan mereka, mereka bergerak sesuai dengan apa yang mereka mau, tidak ada yang berani menentangnya. Adit menyinggungnya sama saja sedang mencari mati." Tangan Roni terkepal kuat begitu kesal, namun juga merasa cemas terhadap keselamatan Adit.


Tiba tiba Sekretaris Jimmy dan Lani datang secara bersamaan.


"Tenanglah. Aku masih memikirkan solusinya." Jovi memijit alisnya, sulit berpikir dengan jernih.


Tidak lama Mawar keluar menghampiri mereka dengan membawa minuman.


"Lani. Kamu disini juga?"


"Mawar." Lani menangis, berhambur memeluk Mawar.


"Kamu yang tenang ya! Serahkan pada para lelaki. Mereka pasti bisa mendapatkan solusi dan menyelamatkan Adit." Mawar mengelus punggung Lani menenangkan.


"Tapi aku tidak bisa tenang dalam keadaan seperti ini."

__ADS_1


"Iya aku mengerti. Jika kamu terlalu panik seperti ini maka mereka akan semakin sulit memikirkan solusi untuk menyelamatkan Adit. Duduklah dulu!" Lani pun menurut duduk, masih dalam pikiran yang berkecamuk tak karuan.


"Ini. minumlah!" Mawar menyerahkan segelas air untuk Lani.


"Ron. Apakah kamu bersedia untuk bertarung?" Jovi tiba tiba buka suara.


"Apa kau berencana untuk menyerang markas mereka?" Roni menatap lekat pada netra Jovi. Jovi mengangguk yakin.


"Apakah ini satu satunya cara? Kita tidak tahu ada berapa banyak anggota mereka dalam markas itu, kita tidak memiliki cukup kekuatan jika semua anggota mereka bergabung menyerang kita." Roni tidak berani mengambil langkah yang gegabah, satu kesalahan saja yang dilakukan, maka nanti bisa saja memakan korban salah satu rekannya.


"Lantas jika tidak begini apa kau memiliki cara lain?" Jovi tidak bisa menunggu lebih lama lagi sementara Adit berada dalam bahaya. Roni menggeleng pelan, yang artinya dia juga tak memiliki cara lain.


"Apa kau merasa takut untuk ikut bertarung? Jika kau merasa ragu lebih baik kau diam saja di sini."


"Tidak. Aku akan ikut bersamamu, aku akan berusaha sampai ke titik darah penghabisan demi Adit. Demi persahabatan ini." Roni menjawab dengan cepat tanpa ragu.


Mata Lani tampak berkaca kaca merasa tersentuh melihat kepedulian mereka terhadap Adit.


"Aku juga akan ikut bersama kalian, aku tidak bisa tinggal diam disini tanpa ada kepastian apapun tentang Adit. Aku mohon ya. Aku berjanji tidak akan menyusahkan kalian." Wajah Lani tampak begitu menyedihkan.


Roni menatap Jovi, namun Jovi juga tidak tahu harus berkata apa. Mereka akhirnya kembali membisu tanpa bicara sedikit pun.


"Tidak apa jika kalian tidak mau membawaku, aku juga akan pergi sendiri menyusul kalian." Lani tetap berkeras hati agar mereka mau membawanya.


"Baiklah. Tapi kau harus tahu satu hal, jika kau pergi, kami tak bisa sepenuhnya melindungimu, kami tidak bisa menjamin keselamatanmu nantinya." Jovi menjawab dengan tegas. Lani pun mengangguk yakin tanpa ragu.


"Apa aku juga perlu ikut membantu?" Mawar pelan pelan juga buka suara.


"Apa kau masih waras atau kau memang bodoh? Kau tidak memikirkan tentang keselamatan anak di perutmu? Apa kau pikir kami pergi untuk bermain? Kamu pergi hanya akan menyusahkan kami!" bentak Jovi, seketika hati Mawar menciut. Ia menundukkan kepala tak berani menjawab apapun.

__ADS_1


"Sayang. Menurutlah ya! Biar kami saja yang pergi, kamu doakan saja yang terbaik untuk kami semua, semoga bisa pulang dengan selamat tanpa cacat apapun." Roni mencoba untuk memberi pengertian pada Mawar, walau bagaimana pun juga, Jovi berkata seperti itu hanya demi menjaga keselamatan Mawar dan anak di perutnya.


__ADS_2