
Setelah Siska pergi, Adit bertanya kembali pada Jovi. "Jov, kau serius pernah bertarung dengan seekor harimau?" Adit memandangi Jovi tanpa berkedip.
"Ekspresi macam apa yang kau perlihatkan ini, sungguh membuatku geli," ujar Jovi.
"Sudahlah kau tak perlu menghiraukan ekspresi mukaku, kau tinggal jawab saja apa yang kutanyakan tadi," ujar Adit yang tenpa mengalihkan pandangannya pada Jovi.
"Aku tak ingin menjawabnya, kau pikir saja sendiri." Jovi tak menghiraukan Adit sama sekali.
"Ah. Kau ini, kenapa aku memiliki teman yang sangat menyebalkan sepertimu? Dunia benar benar tak mendukungku." Adit memukul meja pelan dengan wajah kecewa.
"Ya sudah jika tak ingin beritahu, aku juga tak perduli dengan kehidupanmu," kata Adit lagi.
"Hng, memangnya barusan siapa yang selalu bertanya? Sekarang tiba tiba bilang tak perduli, perubahan sikapmu cepat juga," ujar Jovi tanpa melihat kearah Adit, sibuk menatap layar handphone nya.
"Terserah kau sajalah, aku sudah mau pergi, kau mau tetap tinggal disini?" ujar Adit cuek.
"Aku mau pergi, sebentar lagi kelas ku dimulai," ujar Jovi sambil berdiri dan mereka pun meninggalkan kantin.
__ADS_1
"Saat berada di kelas, Dosen memberikan bimbingan kepada semua mahasiswa, semua mahasiswa menyimak apa yang dijelaskan oleh Dosen, terkecuali satu wanita yang terus terusan memandangi Jovi, dia seperti orang yang sedang mendapat harta karun saat melihat Jovi.
Jovi yang begitu tampan dan sempurna, salah satu tipe wajah yang diminati banyak wanita, namun sebagian wanita menganggap tampang bukanlah prioritas melainkan adalah uang, seberapa banyak uang yang kau miliki maka akan semakin banyak wanita yang ingin menempel denganmu.
Namun tidak dengan Mawar Prasetyo. Dia yang diam diam terus menatap Jovi tanpa berkedip dengan wajah tersenyum. Mawar wanita yang ceria dan juga sangat cantik namun kecantikannya tertutupi dengan penampilan culunnya.
Dosen melihat Mawar yang sedang cengar cengir memandangi Jovi, dia segera memanggil Mawar, namun Mawar masih tidak menyadari namanya dipanggil, bahkan semua orang telah memandang kearahnya, tetapi dia tetap berada dalam dunia khayalannya.
Disaat Jovi menoleh kearahnya dibarengi dengan suara teriakan sang Dosen, Mawar tiba tiba tersentak kaget, saat menyadari semua mata tertuju padanya, Mawar benar benar merasa malu, belum lagi dia tertangkap basah oleh Jovi saat memandangi pria itu tanpa berkedip.
Rasanya dia ingin sekali bersembunyi disebuah lubang terdalam dimana tidak ada orang yang akan melihat wajah merahnya karena malu, jika hanya orang lain yang melihat tingkahnya barusan mungkin dia tak akan merasa begitu malu, tetapi Jovi, orang yang dia taksir pun melihatnya, wajahnya benar benar seperti udang yang habis direbus saking malunya.
"Tidak begitu kok Pak, saya bukannya merasa pintar, tetapi ada sebuah hal yang mengganggu pikiran saya, saya minta maaf Pak, saya janji akan mendengarkan dengan serius kali ini," ujar Mawar tersenyum, sambil menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal.
Tentu saja pikiranku terganggu melihat sang pangeran sempurna itu. Ya Tuhan, dia benar benar tampan, boleh tidak, dia jadi jodohku!! Batin Mawar.
Lagi lagi dia melamun sembari tersenyum seperti orang gila, membuat dosen semakin geram dengan kelakuannya.
__ADS_1
"Mawar, maju kedepan sekarang juga!!" perintah dosen pada Mawar
Mawar kembali sadar, dia pun berjalan maju dengan salah tingkah dan terus menunduk, tentu saja dia sangat malu pada Jovi.
"Angkat kakimu sebelah dan pegang telingamu, jangan berhenti sampai aku menyuruhmu untuk berhenti!!" ujar dosen dengan wajah serius.
"Pak. Bapak serius menghukum saya dengan cara seperti ini? Apa tidak ada hukuman yang lebih layak lagi buat saya? Ini sangat kekanakan, hukuman ini seharusnya hanya ditujukan untuk anak SD," ujar Mawar membantah.
"Oh, kau mau hukuman yang lain? Kalau begitu kau pilih, antara hormat dilapangan sampai sore atau bersihkan toilet selama tiga hari berturut turut," ujar dosen tanpa menampakkan ekspresi apapun.
"Haa?" Mawar melongo dengan membuka mulutnya lebar lebar. Semua orang tertawa kecil melihat ekspresi Mawar.
"Pak. Apa tidak ada hukuman yang berprikemanusiaan sedikit? Dua hukuman itu sangat kejam, bagaimana mungkin Bapak setega itu pada saya," ujar Mawar dengan memasang wajah kasihan.
"Ya sudah, kalau begitu kembali saja pada hukuman awal, Bapak rasa itu sudah sangat berprikemanusiaan," ujar dosen dengan menatap lekat kearah Mawar.
"Atau Bapak jangan hukum saya deh, kasih saya satu kali kesempatan lagi, saya tidak akan mengulanginya," ujar Mawar memelas.
__ADS_1
"Tidak ada negosiasi lagi, cepat lakukan atau Bapak tambah lagi hukuman kamu," bentak dosen
Mawar tidak berani lagi untuk membantah, dia pun dengan malas menjalani hukumannya.