
Tiga tahun telah berlalu, dan empat tahun pula semenjak Jovi ditinggal pergi oleh Aurel.
Kini Jovi benar benar seperti Raja, dalam waktu tiga tahun mampu membuat ADN GROUP berkembang semakin pesat, tidak ada yang mampu menyaingi perusahaan yang dia kendalikan.
Segalanya telah dimiliki oleh Jovi, terkecuali cinta, mungkin semua orang memandangnya sebagai orang yang tidak kekurangan cinta, begitu banyak wanita yang setiap hari datang padanya, dan mengajaknya untuk bersenang senang.
Begitu banyak berita yang mengabarkan tentang skandalnya bersama wanita yang berbeda beda, namun dia tidak benar benar melakukan itu, sebab karena cintanya terhadap Aurel begitu melekat dihatinya.
Terkadang dia sering merasa rindu pada Aurel, tetapi dia juga tidak suka jika ada yang menyebut nama Aurel dihadapannya, hingga dia sendiri tidak bisa mengartikan tentang perasaannya pada Aurel, entah apakah itu cinta ataukah benci, perasaan itu benar benar sulit untuk dia ungkapkan.
Dia sendiri juga sangat malas untuk mencari keberadaan Aurel ataupun mencari tahu penyebab Aurel meninggalkannya, bukan karena dia tidak mampu, dia bisa, sangat bisa jika dia menginginkannya, namun dari keputusan Aurel, disana dia mengerti, bahwa Aurel tidak mempercayainya sama sekali, alasan apapun yang menyebabkan Aurel meninggalkannya, menurut Jovi, tetaplah salah jika Aurel tak ingin menceritakan padanya, Jovi menganggap jika Aurel benar benar menganggap remeh dirinya, sekalipun Aurel hanya mengetahui bahwa Jovi miskin, tetapikan bukan berarti Jovi tidak bisa melakukan apapun.
Dari situ Jovi benar benar merasa kesal, dan sama sekali tak berniat untuk mencari Aurel.
didalam ruangannya, Jovi termenung, tiba tiba dia teringat, masa masa dia saat bersama Aurel, dipasar malam, Aurel yang meminta dia untuk balas dendam pada jagung bakar, Aurel yang sangat senang bermain dengan ikan, semua itu benar benar membuat hatinya seakan teriris. Sangat perih, hingga ia merasa tidak ingin lagi berada dimuka bumi ini.
Terkadang jika sifat lembut Jovi keluar, dia pasti akan selalu mengingat Aurel yang dulu bersamanya, mengingat masa indah bersama Aurel, tetapi jika sifat kejam telah menguasainya, jangankan mengingat Aurel, bahkan jika nama Aurel disebut mungkin dia akan mengamuk dengan ganasnya.
"Jim. Apa kau memiliki pasangan?" tanya Jovi tiba tiba.
Jimmy seketika menoleh kearah Jovi, "Ada apa Tuan? Kenapa anda bertanya seperti itu?" tanya Jimmy heran.
"Jawab saja, tidak perlu bertanya," ujar Jovi datar.
"Hmm ... T-Tidak Tuan," ucap Jimmy tergagap.
"Bagus. Setidaknya kau tidak perlu takut untuk ditinggalkan." Jovi tersenyum ringan, dan Jimmy menggaruk kepala kebingungan, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Tuan mudanya.
Jovi kembali meratapi langit dari kejauhan, dia kembali tersenyum getir mengingat dirinya yang begitu menyedihkan.
Dia selalu berusaha untuk bisa melupakan semua kenangan tentang Aurel, namun itu membuatnya semakin sakit, Jovi tidak percaya, dia yang memiliki segalanya, tetapi benar benar tidak bisa mendapatkan cinta sejati yang dia inginkan.
Jovi meraih ponselnya dengan sigap menelpon Adit.
"Temani aku minum!" ucap Jovi tanpa basa basi saat telepon tersambung.
"Ada apa lagi?" Adit tahu betul dengan sikap Jovi yang sekarang, jika Jovi mengajaknya untuk minum, pasti dia sedang ada masalah, atau pikirannya sedang tidak jernih.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya ingin saja," jawab Jovi datar.
"Baiklah, kita ketemu ditempat Roni saja," Adit menutup telepon dan bersiap untuk pergi.
Jovi kembali menyimpan ponselnya dan melangkah keluar sambil berkata pada Jimmy, "Aku keluar dulu, kau uruslah perusahaan selama aku tidak ada."
"Baik Tuan." Jimmy seketika berdiri saat Jovi melewatinya.
Kini mobil mewah Jovi kembali memecah jalanan yang penuh dengan kendaraan.
Mereka tiba disana bersamaan. "Cepat Juga kau sampainya," ujar Jovi saat bertemu dengan Adit.
"Itu harus, jika tidak, maka orang itu akan mengamuk," sindir Adit, dan Jovi hanya diam saja.
Mereka berdua masuk keruang pribadi Roni, karena mereka hanya suka minum disana.
"Datang lagi kalian," ucap Roni saat melihat mereka masuk.
"Iya. Ada seseorang yang moodnya lagi tidak bagus, jadi menarikku kesini juga," lagi lagi Adit menyindir Jovi.
Roni membawakan begitu banyak bir dihadapan Jovi, karena dia tahu persis, hanya itu yang menjadi tujuan utama Jovi saat dia datang.
"Kau sudah memahami aku rupanya," ujar Jovi ringan
"Terlalu mudah untuk ditebak," balas Roni pula.
Jovi meraih botol bir dan menuangkannya kedalam gelas, Jovi meminumnya dalam satu kali teguk.
Roni yang diam diam memberi kode pada Adit, ingin menanyakan apa yang terjadi, namun Adit hanya mengangkat bahu, dia sendiri tidak mengerti apalagi alasan Jovi hingga mengajaknya untuk minum.
Hari sudah begitu malam, namun Jovi tidak juga berhenti minum, Adit sedikit khawatir dengan kesehatan Jovi, walau bagaimana pun, tidak baik minum bir terlalu banyak.
"Sudah. ini sudah malam, aku mau pulang, Roni juga mau istirahat, mau sampai kapan kamu minum seperti ini?" Adit merebut botol bir dari tangan Jovi.
"Dit. Apa Aurel pernah menghubungimu?" Roni tiba tiba bertanya tentang Aurel.
"Ssstt. Jovi masih ada disini," Adit sedikit berbisik pada Roni, takut Jovi akan mendengarnya.
__ADS_1
"Kau tenang saja, dia tidak akan menyadarinya, kau lihat dia sekarang, mabuknya sangat parah, dia tidak akan menyadari apapun," ucap Roni santai, dan Adit menoleh kearah Jovi, dan benar saja, Jovi sama sekali tak menyadari jika mereka sedang membicarakan Aurel.
"Pernah, dia sering menanyakan tentang kabar Jovi. Ya, aku katakan saja yang sebenarnya," jawab Adit datar.
"Lalu apa kau tidak bertanya, kenapa dia meninggalkan Jovi?"
"sudah, bahkan setiap dia menghubungiku, aku selalu menanyakannya, tetapi sepertinya dia benar benar menutup rapat mulutnya. Pernah aku mencoba untuk menyelidikinya, namun sialnya aku ketahuan oleh Jovi, dan kau tahu apa yang terjadi? Alhasil aku dimarah habis habisan olehnya, sempat dia ingin memukuliku, tapi untungnya dia segera sadar, jika tidak mungkin wajahku sudah tidak setampan ini lagi," Adit sedikit ketakutan jika mengingat bagaimana marahnya Jovi waktu itu.
Sedangkan Jovi adalah orang yang benar benar tidak boleh dilawan, jika kau berani, maka habislah kau sampai ketulang tulang.
"Sebenarnya aku cukup kasihan pada Jovi, dia dulunya begitu mencintai Aurel, dia selalu memperlakukan Aurel dengan sangat lembut, bahkan memarahi Aurel saja tidak pernah, itu bukti kasih sayangnya pada Aurel. Dia pasti begitu sakit, saat mendengar Aurel yang ingin berpisah darinya. Dan aku lihat, sampai sekarang dia belum bisa terlepas dari belenggu cintanya pada Aurel, dia datang kesini juga pasti karena teringat kembali pada Aurel." Roni menatap Jovi merasa kasihan pada sahabatnya itu, lelaki yang memiliki wajah tampan, uang yang begitu banyak, status yang begitu tinggi, namun tidak beruntung dalam percintaan.
"Ya. Aku juga sebenarnya benar benar merasa kasihan padanya, namun jika dia mendengar ini, dia pasti akan sangat marah, dia paling tidak suka dikasihani oleh siapapun," ucap Adit yang masih tidak berani menyinggung Jovi.
"Ya sudahlah, ini sudah sangat malam, aku mau pulang," Adit meraih ponselnya bersiap untuk pulang.
"Lalu mau kau apakan Jovi?" ucap Roni datar.
"Sebentar, aku telepon dulu asistennya yang setia itu," Adit benar benar malas jika dia yang harus memapah Jovi, mengingat bahwa Jovi yang begitu berat.
"Jim. Kau jemputlah Tuan mudamu ini, kami ditempat Roni sekarang, cepatlah! Dia sudah sangat mabuk," ujar Adit saat telepon tersambung dengan Jimmy.
"Baiklah. Aku akan segera kesana." Jimmy segera pergi untuk menjemput Jovi.
Hai para pembaca setiaku yang cantik dan ganteng, sambil menunggu eps berikutnya tayang kembali hehe
pembaca: Emang film pake tayang segala?
Author: Ya barangkali emang bakal jadi film ya kan? Bermimpi aja dulu, hehe
Pembaca: Mau ngomong apa sih thor?
Author: Ini. Aku mau kasih kalian sesuatu, mumpung lagi nungguin eps Jovi berikutnya, mending coba coba baca novel yang judulnya [MY ENEMY IS MY LOVE] nama pena nya (seizy kurniawan) awas ketagihan. hehe
Tapii..... Kalau kalian udah kepincut sama tu novel, tolong jangan lupain Jovi ya! hehe.. Oh iya. ngomong ngomong aku suka kalo kalian komen banyak banyak, apalagi nanyain tentang Aurel. Hayoo penasaran kan sama keadaan Aurel?
Kuy mampir kenovel sebelah, hehe 😁
__ADS_1