ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Pasar malam


__ADS_3

Setelah lama mengantri, akhirnya mereka mendapatkan tiketnya dan masuk kedalam.


Disana benar benar ramai oleh para pengunjung, tetapi karena tempatnya begitu luas, mereka tidak harus berdesak desakan seperti diluar sana.


Disana pengunjungnya kebanyakan anak muda yang berpasang pasangan, karena memang tempatnya cocok untuk mereka yang sedang memadu kasih.


"Aku ingin memberi makan ikan ikan itu, aku sudah lama sekali tidak menikmati momen saat memberikan makanan pada banyak ikan, itu sangat menyenangkan." Aurel berkata dengan girangnya.


Jovi tersenyum melihat tingkah Aurel yang terlihat kekanakan, dia tidak menyangka bahwa Aurel juga memiliki sifat yang ceria seperti itu, sebelumnya dia yang disebut sebagai wanita kasar dan galak, ternyata menyimpan sifat aslinya.


Setelah cukup lama mereka duduk santai sambil memberi makan ikan, Jovi berkata pada Aurel.


"Apakah belum cukup memberi makannya? Ikan ikannya sudah kenyang, lebih baik kita pergi minum disana sambil menikmati pemandangan yang ada disini," ajak Jovi pada Aurel.


"Tapi aku masih mau disini!" Aurel memasang wajah cemberutnya yang terlihat imut.


Jovi tersenyum lembut pada Aurel.


"Ikannya akan mati kekenyangan jika diberi makan terus menerus, apa kamu ingin melihat para ikan ikan yang cantik ini mati?" bujuk Jovi.


Aurel dengan malasnya melepaskan makanan ikan dari tangannya.


Jovi menarik tangan Aurel dengan lembut agar Aurel mau berdiri.


Saat dia mendapati Aurel yang berwajah masam, dia lantas tersenyum menatap Aurel.


"Sudah, jangan cemberut begitu! orang orang akan takut jika kamu selalu memasang wajah seperti ini," ujar Jovi sambil mencubit pipi Aurel yang begitu menggemaskan.


"Duh, jangan dicubit! sakit." Aurel semakin memasang wajah masamnya.


Jovi tertawa dan melepaskan cubitannya.


"Iya. Maafkan aku, sudah jangan marah lagi," Jovi berkata sambil mengelus rambut Aurel, Aurel tersenyum manis diperlakukan begitu lembut oleh Jovi.


"Sekarang apakah sudah mau pergi?" tanya Jovi dan dibalas anggukan oleh Aurel.


Jovi lantas merangkul pundak Aurel dan berjalan meninggalkan kolam ikan, sedangkan Aurel, dia bergelayut dengan manjanya dibahu Jovi.


Mereka menikmati suasana sore ditempat wisata kolam ikan sambil meminum jus buah.


"Habis ini mau kemana?" tanya Jovi.


"Aku ingin ke pasar malam, apakah boleh?" ucap Aurel penuh harap.

__ADS_1


"Boleh, setelah minum kita akan segera berangkat kesana." Jovi menganggukkan kepala setuju.


Setelah dirasa cukup menikmati tempat wisata, mereka pun berangkat untuk pergi ke pasar malam, jaraknya cukup jauh dari sana, hingga mereka sampai di pasar malam pukul tujuh.


Disana juga begitu banyak orang, tetapi yang kebanyakan datang kesana adalah anak anak yang ditemani orang tuanya.


Jovi pertama kalinya pergi dan merasakan suasana pasar malam, sejak ia kecil dia tidak pernah pergi berlibur ke pasar malam, karena orang tuanya yang begitu kaya, sudah pasti mereka tidak akan membawa anaknya ketempat seperti itu, tempat yang dipenuhi banyak orang dikalangan bawah, belum lagi disana harus berdesak desakkan jika sedang ramai.


Disaat pertama kalinya dia menginjakkan kaki dipasar malam, dia merasakan suasana malam yang begitu ceria, dengan barbagai jualan makanan, tempat permainan yang sudah pasti sangat disukai oleh anak anak, jika waktu kecil dia mengetahui ada tempat yang seperti ini, mungkin dia akan merengek pada orang tuanya agar orang tuanya mau membawanya kepasar malam.


Suasana seperti ini benar benar membuat hatiku terasa nyaman, beban pikiran terasa hilang saat melihat keceriaan dari wajah orang orang yang ada disini. Batin Jovi.


Jovi melirik kearah Aurel, terlihat sangat jelas bahwa Aurel tampak begitu senangnya, Aurel tersenyum selebar lebarnya memandangi tempat itu.


"Apa kamu pernah kesini sebelumnya?" tanya Jovi penasaran, Aurel mengangguk senang tanpa menoleh kearah Jovi.


"Waah ... ada jagung bakar! apa aku boleh membelinya?" ujar Aurel dengan gembira.


"Pergilah," jawab jovi.


Aurel berlari kecil untuk membeli jagung bakar, Jovi mengikutinya dari belakang.


"Sayang .... " teriak Aurel pada Jovi yang berdiri tidak jauh darinya. Jovi menolah kearah Aurel yang memanggilnya.


"Ada apa?" tanya Jovi lembut.


"Apa kamu juga ingin jagung bakar ini?" tanya Aurel sambil menunjuk kearah jagung yang sedang dibakar itu.


"Tidak, kamu saja," ujar Jovi sembari menggelengkan kepalanya, Aurel mengangguk pelan.


Setelah Aurel mendapatkan jagungnya, dia menghampiri Jovi.


"Sudah?" tanya Jovi dan Aurel mengangguk.


Karena sudah tidak sabar ingin memakan jagungnya Aurel langsung menggigit jagung itu, dia lupa bahwa jagungnya masih sangat panas.


"Akkhh panas." Aurel segera melepas gigitannya dan mengipas ngipas mulutnya menggunakan tangannya sendiri.


"Hati hati, itu masih sangat panas, kenapa langsung digigit?" ujar Jovi khawatir.


Jovi segera meraih jagung yang ditangan Aurel, dia mengeluarkan sapu tangan dikantong bajunya, dan mengelap pinggiran bibir Aurel yang dipenuhi dengan saus jagung.


"Apakah baik baik saja?" tanya Jovi panik.

__ADS_1


"Tidak apa apa," jawab Aurel dan menggelengkan kepalanya.


"Tunggu disini ya! aku ingin membeli minuman sebentar," ujar Aurel pada Jovi.


"Tidak. Kamu duduklah disini, biar aku saja," Jovi segera pergi untuk membelikan Aurel minuman.


Aurel terharu melihat kepedulian Jovi terhadapnya, hingga ia tidak mengalihkan pandangannya menatap punggung Jovi yang berlalu pergi.


Jovi kembali dengan sebotol air minum dan memberikannya pada Aurel.


"Ini, minumlah!" ujar Jovi, dan Aurel meraih botol minuman dari tangan Jovi.


"Bagaimana? Apa sudah mendingan?" tanya Jovi sambil menatap wajah Aurel. Aurel kembali menatap wajah Jovi dengan hangat sambil tersenyum tipis.


"Jovi. Terimakasih ya, sudah mau peduli padaku," ujar Aurel, dan Jovi tersenyum.


"Sudah seharusnya," jawab Jovi sambil membelai lembut rambut Aurel.


"Apa mau lanjut makan jagungnya?" tanya Jovi sambil menyodorkan jagung pada Aurel.


"Tidak, aku sedang marah pada jagung itu, dia menolak untuk aku makan," jawab Aurel dengan kesal. Jovi tertawa merasa lucu dengan perkataan Aurel.


"Lalu mau diapakan jika tidak dimakan?" ucap Jovi.


"Kamu saja yang makan, anggap saja kamu sedang balas dendam untukku," kata Aurel.


"Aku? Balas dendam?" tanya Jovi sambil menunjuk kearah dirinya sendiri. Aurel mengangguk sambil tersenyum.


"Ada ada saja, mana ada orang yang balas dendam pada makanan." Jovi menggelengkan kepala merasa lucu.


"Ayolah sayang! Please!" mohon Aurel.


Dia ini jika sedang kesal, bahkan makanan pun diajak berkelahi, benar benar tidak boleh membuat dia kesal. Batin Jovi dan dia pun tersenyum menatap jagung ditangannya.


"Baiklah, akan aku makan demi kamu, untuk membalaskan dendammu padanya," ujar Jovi dan menoleh kearah Aurel, Aurel tersenyum senang.


Jovi memakan jagungnya hingga habis, meskipun dia tidak pernah memakan makanan seperti itu, tetapi dia tetap memakannya untuk Aurel.


"sudah puaskan?" ujar Jovi.


"Terimakasih sayang," Aurel memeluk Jovi dengan erat, dan Jovi hanya berdiam saja tanpa bergerak.


Benar benar aneh. Batin Jovi dan berbalik memeluk Aurel dengan lembut.

__ADS_1


Sebenarnya Aurel hanya berpura pura saja, tetapi karena sifatnya yang jahil, dia ingin sekali melihat ketulusan Jovi, tidak disangka Jovi benar benar menurutinya.


__ADS_2