ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Merelakan


__ADS_3

"Apa maksud dari ucapanmu itu? kau pikir hal menjijikkan apa yang bisa aku lakukan?" Jovi mengernyit menatap lekat pada Aurel.


"Hng. Kau pikirlah sendiri, lelaki dan wanita berada dalam satu kamar semalaman, tidak mungkin tidak ada yang terjadi diantara kalian." Aurel menyeringai tajam pada Jovi.


"Tuduhanmu itu benar benar tidak berdasar, aku tidak melakukan apapun, jangan mencoba menutupi kesalahanmu dengan cara menuduhku." wajah Jovi nampak kesal pada Aurel.


"Kenapa? Tidak mau mengaku? Dasar lelaki buaya, kenapa tidak sekalian saja semua wanita kau ajak bermalam bersama." Aurel tak hentinya melawan perkataan Jovi, membuat Jovi semakin geram.


"Jaga ucapanmu! Kau lupa bahwa aku adalah suamimu? Kau tidak pantas mencemooh suamimu sendiri." Jovi menggertakkan gigi menggeram.


"Lalu apa aku harus diam saja menyaksikan perselingkuhan kalian?" Aurel menyunggingkan bibirnya dengan sinis sembari menoleh kearah Resta.


"Terserah padamu saja mau mengatakan apapun padaku, aku menjelaskannya pun akan percuma." Jovi terlalu malas meladeni Aurel untuk berdebat, karena itu hanya akan memperpanjang masalahnya.


"Apakah ini artinya kau mengakui perselingkuhanmu?" kini Aurel memelankan suaranya menatap lekat pada Jovi, ia tak percaya bahwa Jovi benar benar bermain belakang dengan wanita lain, disatu sisi dia juga ingin Jovi menjelaskannya dan membujuk dia, namun setiap kali Jovi berkata tidak, dia terus saja melawan, membuat Jovi juga malas untuk menjelaskannya.


Mungkin dia termasuk wanita yang juga keras kepala, selalu ingin dipujuk dan diperlakukan dengan lembut, namun selalu berlaku jual mahal saat pasangannya berusaha untuk menjelaskan.


"Terserah padamu, jika memang pandanganmu padaku seperti itu, maka biarlah selamanya seperti itu, aku sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik padamu, tetapi sepertinya aku selalu gagal akan hal itu, jika memang kau merasa tak bahagia bersamaku, kau bisa melepas ikatan kita, dan pergi bersama lelaki yang lebih bisa membuatmu bahagia." suara Jovi terdengar mengandung sejuta keputus asaan, ia benar benar pasrah dengan segala kemungkinan yang akan terjadi pada rumah tangganya.

__ADS_1


"Apa maksudnya kamu berkata seperti itu? Apa kamu menyerah pada hubungan kita?" kelopak mata Aurel mulai membendung air mata yang sewaktu waktu siap meluncur dengan bebas dikedua belah pipinya.


"Aku tidak menyerah, dan tak akan pernah menyerah mempertahankan kamu, tetapi kamu sepertinya tidak bahagia bersamaku, aku tidak akan pernah memaksamu untu terus menjadi istriku jika itu hanya menyakiti perasaanmu lagi, dan lagi." pandangan mata Jovi kini mulai tenggelam, tidak dapat ditebak bagaimana gambaran hatinya saat ini.


"Aku tidak menyangka kau akan berkata seperti itu, ucapanmu barusan sudah mewakili hatimu yang sebenarnya, kau memang tak pernah mencintai aku kan? Kau hanya menjadikan aku pelampiasan, dan setelah kekasih masa kecilmu telah kembali, kau tidak lagi memperdulikan aku, dan dengan mudahnya melepaskan aku untuk bersama dengan lelaki lain. Aku kecewa padamu!" Aurel berlari meninggalkan Jovi begitu saja, dengan ditemani isak tangis kesedihan, ia mencoba untuk tegar, agar tetap mampu menapaki jalan yang begitu penuh dengan rintangan itu.


Jovi hanya menunduk, tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran Aurel, bisa bisanya dia berpikir bahwa dia selama ini hanya memanfaatkannya sebagai pelampiasan, padahal cintanya itu benar benar tulus untuknya.


Kenapa pikiranmu itu terlalu sempit? Tidakkah kau merasakan rasa cintaku selama ini dengan semua perlakuanku padamu? Kenapa kau malah menuduhku tanpa dasar seperti itu? Kau tahu? Ucapanmu itu benar benar menyakiti perasaanku, setelah apa yang aku lakukan untukmu, aku mencoba menerimamu kembali, setelah bertahun tahun kau pergi tanpa kabar, karena aku tahu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Tapi kenapa? Kenapa semua hal yang aku lakukan hanya kau anggap seperti ini? Jovi merasa lelah dengan segala hal rumit antara dia dan Aurel.


Dia mengira, setelah ia kembali bersatu selama lima tahu terpisah, maka kedepannya akan baik baik saja, tetapi tidak menyangka, bahwa itu hanya permulaan untuk menyambut segala kesulitan.


Jovi merasa masih harus meluruskan masalahnya, ia tak bisa membiarkan Aurel pergi begitu saja tanpa mengetahui perasaannya.


"Jovi kamu mau kemana?" teriak Resta.


Disaat Jovi menyusul, ternyata Aurel telah lebih dulu memasuki lift, bahkan mungkin telah tiba dilantai paling bawah.


Tiba dilantai paling bawah, Jovi berlari sembari menoleh kiri dan kanan, mencari keberadaan Aurel.

__ADS_1


Saat ia keluar dari hotel itu, tiba tiba tubuhnya merasa lemas melihat Aurel yang dipeluk oleh lelaki itu lagi.


Tampak Aurel sama sekali tak menolak pelukan itu.


Aurel saat ini merasa begitu hancur, ia yang tak sengaja berpapasan dengan temannya dalam keadaan menangis, Deny temannya itu bersedia meminjamkan sandaran untuk Aurel dengan memeluk Aurel, dan Aurel yang pikirannya sedang kacau sama sekali tak perduli akan hal itu, saat ini dia hanya ingin menenangkan pikirannya.


Jovi merasa ada bongkahan batu besar yang menekan dadanya hingga terasa begitu sesak, melihat wanitanya disentuh dan dipeluk oleh lelaki lain selain dia, itu membuat dia merasa benar benar gagal menjadi suami terbaik untuk Aurel, dia sendirilah yang telah memberi kesempatan pada lelaki lain untuk merebut perhatian Aurel, dan memenangkan hatinya.


Jovi tak dapat mengelak akan hal itu, ia mencoba untuk menguatkan hatinya sebagai lelaki, ia harus bisa menerima segala kenyataan yang ada, bahwa dia bukan lelaki yang mampu memberikan apa yang diinginkan Aurel.


Jovi mematung ditempatnya menatap mereka berdua, ia tak dapat menyalahkan Aurel karena semua ini, sebab dialah yang sudah memulainya.


Dia mencintai Aurel, dia tak suka jika ada lelaki lain yang tak dikenal berani menyetuh wanitanya, dia yang dalam keadaan hati yang begitu buruk, lantas lepas kendali dengan memukuli orang saat itu, wajar jika Aurel juga menamparnya.


Ditambah dengan dia tidak pulang kerumah, dan malah tidak sengaja tertidur hingga pagi dikamar yang sama bersama wanita lain, semua itu kesalahannya, wajar jika Aurel marah padanya, semua akar permasalahan ada pada dirinya.


Dengan penyesalan yang begitu mendalam, Jovi berbalik membelakangi mereka, berharap Aurel akan bahagia meskipun bukan bersamanya.


Tetapi saat Jovi kembali menoleh, mereka tampak menjauh dari sana, dan Aurel memasuki sebuah mobil bersama lelaki yang memeluknya tadi.

__ADS_1


Jovi segera merogoh ponselnya. "Jim. Utus orang bayaran untuk memantau Nyonya, jika ada pergerakan aneh disekitarnya, hubungi aku segera! Aku akan segera kekantor pagi ini." meskipun Jovi telah berusaha merelakan Aurel, hatinya tetap tidak tenang jika Aurel pergi dengan orang yang belum ia ketahui hatinya, bisa saja orang yang bersama Aurel memiliki maksud buruk.


Jovi berbelok menuju parkiran mobil dimana mobilnya berada, beberapa hari ini, perusahaannya tidak pernah lagi ia pantau, takutnya akan ada saja yang menjatuhkan perusahaannya.


__ADS_2