
Adit seketika terbungkam melihat penampilan Jovi, tidak berani lagi memarahinya seperti ditelepon.
"Kenapa hanya diam saja?" tanya Jovi menatap Adit, Adit menggaruk kepalanya bingung harus berkata apa.
"Semua kata kataku yang ingin memarahimu seketika lenyap begitu saja, aku sampai tidak mengingat apapun lagi kata kata yang aku susun untuk memarahimu," Adit kembali terbengong, mencoba sekali lagi menatap Jovi yang kini benar benar sulit untuk diungkapkan, benar benar sempurna.
Tidak akan ada wanita yang mau menolaknya, dia yang sekarang telah memiliki segalanya.
"Apa kau jatuh cinta padaku?" ujar Jovi datar.
Adit mengerutkan keningnya mendengar ucapan Jovi.
"Sembarangan, aku masih normal," ucap Adit kesal.
"Lalu kenapa kau tidak mau mengalihkan pandanganmu dariku?" ujar Jovi tanpa ekspresi.
"Kau ini kenapa dingin sekali sih?" Adit agak risih karena Jovi sama sekali tidak ingin tersenyum padanya.
"Apa karena ditinggal Aurel?" ledek Adit.
Seketika Aura Jovi menjadi sangat mengerikan, dia benar benar malas mendengar nama itu lagi, dia menatap tajam Adit, Adit menjadi sedikit takut.
"Jika kau masih ingin ku anggap teman, berhenti menyebut nama itu dihadapanku," ucap Jovi yang masih mencoba menahan amarahnya.
"Sebegitu bencinya kah kamu pada dia?" tanya Adit pelan, walau bagaimana pun, Aurel juga sahabatnya.
"Tanpa aku jawab kamu pun tahu jawabannya," ucap Jovi yang masih kesal.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan mengungkit tentang dia lagi" Adit mengangkat tangannya menyerah.
"Jovi. Aku serius bertanya padamu, kenapa kamu selama ini berbohong pada kami semua? memilih untuk tidak memberitahukan identitasmu. Apa alasannya?" tatap Adit dengan serius.
"Tidak ada alasan," jawab Jovi santai.
"Kamu ... " Adit mengerutkan keningnya kesal.
"Memangnya alasan apa yang ingin kau dengar? Aku dulu memang tidak suka jika ada yang mengetahui identitasku, aku senang dengan kehidupan yang biasa saja, karena aku juga sudah memiliki kalian yang tulus padaku, sampai tiba saatnya orang yang aku anggap tulus malah pergi meninggalkan aku, lalu alasan apa yang bisa membuat aku tetap menutupinya, lebih baik membuka semuanya, agar orang orang munafik itu semakin merajalela," ucap Jovi geram sambil mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
"Kau sendiri? Darimana kau bisa mendapatkan nomorku?" tanya Jovi datar.
__ADS_1
"Kamu lupa, bahwa orang tua kita itu bersahabat? Tidak sulit jika ingin mendapatkan nomormu," Adit tersenyum jahil, dan Jovi hanya diam saja membuat Adit menarik kembali senyumannya.
"Hey. Apa kamu mau aku carikan wanita lain?" bisik Adit sembari tersenyum licik, dan Jovi membalasnya dengan senyum sinis.
"Tidak perlu, karena aku yang sekarang tidak akan kekurangan wanita, aku bisa menikmati wanita yang berbeda setiap malam," ujar Jovi sinis.
"Astaga ... Kenapa kau sekarang berubah menjadi begitu menakutkan?" ucap Adit.
"Aku ingin merasakan dunia baru," ujar Jovi tanpa sungkan.
"Sialan." Adit tertawa cekikikan.
"Kenapa? Mau mencoba juga?" ujar Jovi dengan liciknya.
"Aah ... Kau sangat terlambat mengajakku, jika aku belum memiliki Lani, aku pasti akan mengikuti jejakmu, satu ranjang dengan wanita yang berbeda setiap malam, pasti sangat menyenangkan," Adit sedikit berbisik didekat Jovi, setelahnya dia tertawa lepas, Jovi menggelengkan kepala melihat sikap Adit yang masih saja terlihat genit saat membicarakan wanita.
"Kau bisa diam diam, tanpa sepengetahuan pacarmu," ucap Jovi datar.
"Ah ... Jangan coba coba memancingku, aku bisa saja terjebak kedalam, bisa bisa nanti aku dicakar cakar oleh Lani." Adit cemberut mengatakan hal itu, membayangkan bagaimana marahnya Lani jika dia sampai ketahuan bermain wanita dibelakangnya.
"Jov, kamu yakin dengan semua itu? Kamu benar benar akan bermain wanita setiap malam?" Adit masih saja penasaran dengan semua itu.
"Tidak juga, tergantung pada mood ku, jika mood ku bagus, aku pasti melakukannya tiap malam." Jovi tersenyum sinis mengatakannya.
"Lebih baik begini, setidaknya kau tidak akan tersakiti, kau hanya tinggal menyiapkan uang, setelahnya kau bisa melakukan apapun yang kau mau, menyenangkan bukan?" ujar Jovi datar.
"Jika kau memang ingin, kau bisa mencari wanita ditempat Roni, dia sekarang membuka sebuah Bar, dan disana begitu banyak makhluk bening, segala macam wanita ada disana, kau bisa menggilir mereka satu persatu." Adit terbahak mengatakan ucapannya.
"Masih liar juga isi otakmu itu," ucap Jovi sinis.
"Kau tidak tahu saja, dulu aku adalah rajanya dalam memainkan wanita, jika kau tidak mengerti bagaimana caranya, kau bisa bertanya langsung padaku, aku dengan senang hati akan mengajarkanmu," ucap Adit penuh maksud liar.
"Mungkin aku akan lebih mahir darimu," balas Jovi. Adit semakin tertawa terbahak bahak.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba sekelompok wanita datang pada mereka.
"Tuan Jovi, benarkah ini anda? Wah ... Mimpi apa aku semalam? Benar benar begitu tampan, terimalah ini Tuan!" ucap gadis itu dengan memberikan sebuket bunga pada Jovi plus dengan nomor handphone nya.
"Jangan lupa hubungi aku ya!" ucapnya genit, Jovi diam tanpa menoleh kearah gadis itu, sungguh malas melihat wanita yang seperti itu.
__ADS_1
Begitu lama mereka mengantri memberikan hadiah pada Jovi, setumpuk hadiah menggunung dihadapan Jovi dan Adit.
"Apa ini? Banyak sekali," Adit melotot melihat tumpukan hadiah diatas meja.
"Kau bisa membawanya pulang, dan berikan pada Lani, daripada ini semua berakhir ditempat sampah," ucap Jovi datar.
"Hah? Yang benar saja? Hadiah ini semua diberikan untukmu, untuk apa aku membawanya?" ujar Adit.
"Aku hanya akan membuangnya," jawab Jovi ketus.
"Baiklah, aku akan bawa pulang, sayang jika dibuang kan?" Adit tersenyum senang.
Setelah mereka selasai, mereka pun pulang mengendarai mobil masing masing.
Jovi masuk keperusahaan, semua karyawan sibuk berdiri dan menyapa Jovi.
"Selamat sore Presdir," sapa para karyawan yang dilewati oleh Jovi.
Jovi sama sekali tak merespon mereka, dia tetap saja berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
"Bagaimana Jim? Kau masih belum lelah bermain dengan mereka?" tanya Jovi datar saat masuk keruangannya.
Disana Andika dan Boby telah terkulai lemas, wajah mereka bonyok akibat pukulan dari Jimmy.
"Jarang sekali aku bisa memukuli orang sampai sepuas ini Tuan, rasanya tidak rela ingin memberikan mereka pada polisi," jawab Jimmy tersenyum.
"Kau tidak boleh seperti itu, kau lihat mereka, mereka sudah tidak sanggup menerima satu babak lagi," Jovi tersenyum sinis pada mereka berdua.
Mereka berdua benar benar ketakutan, benar benar tidak sanggup jika harus dipukuli lagi.
Jovi mendekati mereka berdua, dan berjongkok didepan mereka yang kini telah terbaring lemah.
"Apa sekarang sudah tau salah?" ujar Jovi datar yang tanpa ekspresi.
"Tau Tuan, tolong perintahkan Tuan Jimmy agar tidak memukuli kami lagi, kami sudah tidak sanggup lagi," ujar Boby yang kini menahan sakit.
Jovi tersenyum menoleh kearah Jimmy.
"Beri peringatan pada seluruh karyawan ADN GROUP, agar tidak macam macam padaku, atau mereka akan bernasib sama seperti mereka berdua," perintah Jovi pada Jimmy.
__ADS_1
Jimmy mengambil foto mereka berdua untuk dijadikan peringatan pada semua karyawan ADN GROUP.
Semua karyawan yang melihat itu, seketika terkejut, dan benar benar tidak berani untuk menyelipkan niat menghianati perusahaan.