
Untungnya saat tiba dikampus, Aurel tidak terlambat.
***
Saat waktu telah menunjukkan pukul 12.00 siang, cacing di perut Aurel telah meronta ronta meminta jatah, dia memutuskan pergi kekantin untuk mengisi perutnya yang sedari pagi dibiarkan kosong.
Aurel memesan makanan, lalu duduk dimeja yang terletak dipojokkan, beberapa menit kemudian, Adit dan Roni juga datang dan langsung menghampiri Aurel.
"Sepertinya riasan matamu hari ini cukup unik, tetapi kau terlihat lebih menyeramkan jika memasang riasan seperti itu," ujar Adit tertawa dan duduk didepan Aurel.
Tentu saja yang dimaksud oleh Adit adalah lingkaran hitam pada bagian mata Aurel yang disebabkan karena kurangnya tidur.
"Biar saja, agar kau tidak berani untuk menggangguku," jawab Aurel ketus.
"Tapi aku lihat, sepertinya itu bukan riasan, itu tampak nyata bukan karena dibuat buat, apa itu disebabkan karena kau kurang tidur?" timpal Roni.
"Terserah kau sajalah mau menyebutnya seperti apa," ujar Aurel malas.
"Kau ini, tidak seru sekali, dimana Aurel yang biasanya sangat galak dan suka memukul orang, kenapa hari ini berbeda?" ujar Roni.
Aurel yang mendengar perkataan Roni seketika melayangkan pukulannya dibahu Roni dengan keras, hingga Roni mengaduh kesakitan.
"Puas? Itu yang kau inginkan bukan?" ujar Aurel. Adit yang melihat itu sampai tertawa terbahak bahak.
"Rasakan itu, siapa yang menyuruhmu untuk memancingnya, kau rasakanlah akibatnya," ledek Jovi sambil tertawa.
Aurel mendengar Adit yang sangat berisik, ia kembali memukul Adit, membuat Adit terdiam tak berani melanjutkan tawanya.
"Masih mau tertawa?" ujar Aurel dengan galaknya.
Adit dengan nurutnya menggelengkan kepala memasang wajah yang kasihan seperti anak kecil yang ingin dibelikan permen, sedangkan Roni tertawa kecil melihat Adit juga menjadi korban atas kekesalan Aurel, Roni tidak berani untuk mengeluarkan suara, karena takut akan disiksa lagi oleh Aurel.
"Kenapa kalian hanya berdua saja? Kemana teman kalian yang satunya?" tanya Aurel.
Entah kenapa, dia rasanya ingin sekali bertemu dengan Jovi.
"Ada apa? Tumben sekali kau menanyakan tentang Jovi? Apa kau merindukannya?" ledek Adit.
Aurel seketika menjadi malu, dia memalingkan wajahnya, tidak berani menunjukkan ekspresinya yang sedang salah tingkah.
"Siapa yang merindukannya? Aku hanya bertanya saja?" ujar Aurel malu.
Adit tidak menyangka bahwa Aurel menjadi salah tingkah saat membahas tentang Jovi. Adit memiringkan kepalanya untuk melihat ekspresi wajah Aurel.
"Lalu jika kau tidak merindukannya, kenapa mukamu jadi merah begitu?" Ledek Adit.
"Merah apanya? Wajahku memang seperti ini," ujar Aurel yang salah tingkah.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Adit sambil mengangguk anggukkan kepalanya sembari tersenyum meledek. Roni hanya berdiam saja tidak berani untuk memancing Aurel.
Beberapa saat kemudian Mawar menghampiri mereka bertiga untuk menanyakan keberadaan Jovi.
"Hallo Adit. Apa kamu tahu Jovi ada dimana? Biasanya dia selalu berangkat kuliah bersamamu, tapi kenapa hari ini aku tidak melihatnya?" tanya Mawar pada Adit. Adit mengangkat alisnya dan memandang kearah Roni dan Aurel secara bergantian, lalu kembali menatap Mawar.
"Kau setiap hari memperhatikan Jovi?" tanya Adit.
Mawar menggaruk pipinya yang tidak gatal, dan tersenyum malu.
Terlihat sangat jelas bahwa Aurel sangat tidak senang saat melihat Mawar yang selalu memperhatikan Jovi.
Adit menganggukkan kepalanya mengerti melihat Mawar yang terlihat malu saat menanyakan tentang Jovi.
belum sempat Adit menjawab pertanyaan Mawar, tiba tiba ponselnya berdering. dan yang menelponnya adalah Jovi.
"Ada apa?" tanya Adit.
"Kau kenapa memakai motorku? Bagaimana aku bisa berangkat kekampus siang ini?" ujar Jovi diseberang telepon.
"Kau naik taksi sajalah," kata Adit.
"Sialan kau ini, aku tidak mau tahu, kau harus menjemputku tepat pukul 01.00 nanti," ujar Jovi dan langsung memutuskan panggilannya.
"Ada apa?" tanya Roni.
"Itu salahmu sendiri," ujar Roni tertawa.
"Biar aku saja yang menjemputnya," ujar Aurel dan Mawar serentak.
Adit dan Roni memandangi mereka berdua secara bergantian.
"Kompak sekali ingin menjemput Jovi," ujar Roni.
"Aurel, biasanya kau dan Jovi selalu berantem jika bertemu, tapi kenapa tiba tiba hari ini mau menjemputnya?" tanya Adit heran.
"Tidak, bukan begitu, aku mau menjemputnya karena dia sudah menolongku kemarin, anggap saja aku membalas budi padanya," ujar Aurel malu.
"Tidak, biar aku saja yang menjemputnya, katakan saja alamatnya," Mawar kembali angkat bicara.
"Tidak. Biar aku saja," ujar Aurel ketus.
"Tidak apa apa, aku saja," Mawar tak mau kalah.
"Ya sudah kita jemput berdua saja," kata Aurel.
"Yang mau dijemput hanya Jovi, kenapa harus kalian berdua yang harus pergi?" ujar Adit.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu biar aku saja yang menjemputnya," kata Aurel.
"Tidak, aku saja," timpal Mawar yang tak mau kalah.
Adit dan Roni dibuat bingung oleh mereka berdua.
"Stop, stop. Kalian berdua tidak perlu repot repot untuk pergi, karena aku yang akan pergi untuk menjemputnya," ujar Adit tegas.
Aurel dan Mawar merasa kecewa dan hanya bisa berdiam saja, Mawar juga langsung pergi saat mendengar perkataan Adit.
Akhirnya Adit dan Roni kembali lega tidak mendengar suara keributan lagi karena berebut ingin menjemput Jovi.
Mereka pun kembali menyantap makanan mereka masing masing.
Setelah selesai Adit pergi untuk menjemput Jovi.
Tiba dikontrakkan, terlihat Jovi yang sudah duduk diteras rumah menunggu Adit.
"Lama sekali kau ini," ujar Jovi.
"Lama apanya? Ini pas pukul satu siang, tidak kurang dan tidak lebih.
"Tetap saja itu terasa lama," kata Jovi lagi.
"Mending aku menjemputmu, kau tau, saat dikampus Aurel dan Mawar berebut ingin menjemputmu," ujar Adit.
"Kenapa harus berebut? Aku hanya memintamu untuk menjemputku, bukan meminta pada mereka," kata Jovi ketus
"Tidak tau, sepetinya mereka berdua menyukaimu," kata Adit lagi.
"Kalau Mawar sih mungkin aku percaya, tapi kalau untuk Aurel, sepertinya tidak," ujar Jovi.
"Kenapa kau tidak yakin?" tanya Adit.
"Kau lebih mengetahui wataknya dibandingkan denganku, dia itu wanita yang keras, tidak akan mudah untuk jatuh cinta," ujar Jovi.
"Iya juga sih, tetapi sekeras kerasnya wanita, jika sedang jatuh cinta dia akan lunak juga," ujar Adit tersenyum.
"Iya, tapi masalahnya dia tidak akan mau jatuh cinta, jadi apa yang akan membuatnya lunak?" balas Jovi, mereka pun saling memandang lalu tertawa geli.
"Ayo berangkat, aku tidak ingin terlambat!" ajak Jovi. Adit mengangguk dan berjalan menuju kemotor.
"Kau kenapa belum membawa motormu ini ke bengkel, suaranya berisik sekali, sangat mengganggu.
"Mau diperbaiki seperti apapun akan selalu seperti ini, tidak akan ada yang berubah," ujar Jovi seadanya.
Adit hanya berdiam saja, tak ingin melanjutkannya lagi.
__ADS_1