
Disaat mereka sedang asyik mengobrol, Adit tiba tiba teringat suatu hal.
"Eh, Rel. Besok kampus kita ngadain Reunian, semua angkatan kita diundang hadir, kamu mau datang tidak? Acaranya diadakan malam hari," tanya Adit.
"Jovi pergi?" tanya Aurel langsung.
"Katanya dia mau pergi, tapi tidak tahu juga, Jovi kan selalu sibuk, tidak tahu dia bisa hadir atau tidak diacara yang seperti ini," jawab Adit mengangkat bahu.
"Pergi sajalah, ada Jovi juga kan tidak ada salahnya, mungkin kalian bisa kembali menjalin hubungan yang baik, ya kalaupun tidak bisa menjadi sepasang kekasih lagi, menjadi teman baik juga tidak apa apa," ucap Lani terus terang, dia tidak tahu bahwa kata katanya benar benar menusuk hati Aurel hingga kebagian terdalam.
Sebatas teman. Itu hal yang paling tidak diinginkan oleh Aurel, dia lebih memilih untuk tidak berhubungan sedikitpun, daripada harus berteman, lalu ia akan bertambah sakit menahan gejolak cintanya pada Jovi.
"Kenapa diam saja? Apakah kamu akan pergi?" Lani memiringkan kepalanya menatap Aurel yang sedari tadi hanya diam saja saat ditanya tentang Jovi.
"Hmm ... I-Itu, aku juga tidak tahu harus datang atau tidak," ucap Aurel tergagap.
"Kenapa kamu gugup begitu? Ayolah, datang ya! Nanti aku tidak memiliki teman disana, Mawar juga tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang." Lani membujuk sembari memegangi tangan Aurel.
"Baiklah, baiklah. Aku akan datang, tapi kamu janji, jangan acuhkan aku nanti!" ucap Aurel pasrah.
"Yay ... Terimakasih Aurel!" Lani berjingkrak jingkrak senang.
Aurel hanya bisa menggelengkan kepala saja melihat tingkah Lani yang kekanakan.
Setelah dirasa cukup, mereka pun pulang, Adit mengantarkan Aurel terlebih dahulu, karena Aurel kini tidak memiliki mobil lagi.
"Sepertinya Aurel sekarang berubah menjadi wanita yang pendiam, berbicara pun saat sedang ditanya saja, aku tiba tiba jadi kasihan sama dia," Lani menatapi punggung Aurel yang berjalan masuk kerumahnya.
__ADS_1
"Ya. Dulu dia wanita yang galak, tadi aku sudah membayangkan saat bertemu dia, pasti aku akan mengalami cacat fisik, tetapi ternyata tidak, dia benar benar berubah, jika bukan karena dia mengenal aku, mungkin aku mengira bahwa dia bukan Aurel." Adit melajukan mobilnya untuk mengantar Lani pulang.
"Berlebihan sekali," ujar Lani yang mencebikkan bibirnya.
"Iya, aku tidak berbohong, sifatnya denganmu diwaktu dulu tidak berbeda, sama sama kasar pada lelaki," ledek Adit.
"Kamu .... " Lani mencubit pinggang Adit kesal.
"Eh. Besok kamu jemput Aurel juga ya, kasihan dia, sekarang dia tidak memiliki mobil lagi," pinta Lani, dan Adit hanya mengangguk saja.
Dimalam hari, Aurel yang sedang rebahan menatap foto Jovi, tiba tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Masuk," teriak Aurel, dan ternyata yang mengetuk pintu ayahnya.
"Kenapa Pah?" tanya Aurel penasaran.
"Hmm ... Bagaimana ya ngomongnya." Ayahnya kelihatan bingung saat ingin mengatakan maksudnya.
"Begini Aurel, Perusahaan kita saat ini benar benar diambang kehancuran, Papa memerlukan bos yang bersedia berinvestasi diperusahaan Papa, Papa ingin minta tolong padamu, mau tidak, kamu meminta bantuan pada Jovi, hanya dia satu satunya harapan Papa," pinta ayahnya dengan sedikit keraguan.
Aurel sangat terkejut mendengar permintaan ayahnya, tidak menyangka ayahnya benar benar akan meminta bantuan pada Jovi, dia sendiri sangat malu jika bertemu dengan Jovi, apalagi harus meminta bantuan padanya.
"Pah. Apa tidak ada jalan lain lagi, selain meminta bantuan pada Jovi?" Aurel berharap masih ada jalan keluar, agar dia masih bisa menghindar dari Jovi.
Dia bukan tidak ingin bertemu Jovi, dia hanya merasa malu, mengingat dia yang dulu mengatakan pada Jovi agar jangan mencarinya, dan segera melupakannya, Jovi sama sekali tidak mengetahui alasannya.
"Tidak ada, disini hanya Jovi yang mampu menarik kembali perusahaan kita dari kebangkrutan, dan Papa rasa mungkin dia akan membantu kita karena hubunganmu yang dulu sebagai sepasang kekasih," ujar ayahnya yang terlihat putus asa.
__ADS_1
Aurel hanya menunduk diam tanpa mengeluarkan suara apapun, hatinya benar benar menolak keinginannya yang mau membantu ayahnya.
Ayahnya yang melihat Aurel hanya diam saja dengan wajah yang terlihat sedih, dia jadi tidak tega, merasa menyesal telah memberitahukan itu pada Aurel, karena itu hanya menambah beban bagi anaknya sendiri.
"Maafkan Papa Aurel, Papa tidak bermaksud membuat kamu jadi sedih seperti ini, jika kamu tidak bisa, Papa juga tidak akan memaksamu, Papa akan mencoba sekali lagi mencari Investor yang mau menyuntikkan dana diperusahaan Papa," ujar ayahnya sambil mengelus rambut putrinya.
"Jika tidak ada yang bersedia bagaimana?" Aurel tiba tiba mengangkat kepalanya bertanya.
Ayahnya terlihat ragu ragu untuk mengatakannya.
"Pah .... " panggil Aurel lirih.
"Dengan terpaksa Papa akan menutup perusahaan kita, dan menyisakan banyak hutang pada Bank," ucap ayahnya yang pasrah dengan nasib mereka.
Aurel menjadi tidak tega, tetapi dia juga tidak berani menjamin, apakah dia bisa membantu atau tidak, hingga Aurel hanya bisa diam saja.
"Ya sudah, Papa keluar dulu, maaf telah mengganggu waktu istirahatmu, sekarang tidurlah, sudah malam, tidak baik jika terus bergadang," ayahnya menepuk pundak Aurel dengan lembut, lalu melangkah pergi.
Aurel menatap punggung ayahnya dengan kasihan, dia kasihan melihat ayahnya yang sudah tua masih harus direpotkan dengan masalah perusahaannya yang hampir bangkrut, yang sangat membuat Aurel sakit, sampai saat di keputus asaan ayahnya, dia masih saja tidak bisa membantu untuk meringankan beban ayahnya.
Aurel kembali merebahkan badannya kekasur, terlihat lagi foto Jovi yang tersenyum manis, Aurel menatapnya dengan sangat lama.
Jovi. Apa kamu masih mencintai aku seperti aku yang masih mencintai kamu? Apa kamu masih mengingat aku? Gumam Aurel dalam hati, tetapi tiba tiba dia tertawa tak karuan.
"Aurel, Aurel. Bodoh sekali kau ini, setelah apa yang kau lakukan padanya, sekarang kau masih berharap bahwa dia akan mencintaimu sampai sekarang? Sadar Aurel, sadar. Dia yang sekarang, tidak lagi kekurangan wanita, semua wanita berbondong bondong ingin mendapatkan hatinya, dan kau sendiri siapa? Berani sekali mengharap dicintai untuk kedua kalinya." Aurel berbicara sendiri sambil menatap lekat foto Jovi.
Aurel tiba tiba teringat kembali dengan nasib keluarganya, terlebih pada adiknya yang kini masih kuliah, masih membutuhkan begitu banyak uang untuk biaya kuliahnya, jika perusahaan ayahnya benar benar bangkrut, lalu bagaimana dengan nasib adiknya, tidak mungkin adiknya harus berhenti menuntut ilmu, Aurel sangat menyayangi adiknya, ia benar benar tidak rela membuat adiknya bersedih, namun dia juga tidak tahu harus mengambil sikap seperti apa menghadapi masalah seperti ini.
__ADS_1
Malam itu, Aurel benar benar tidak bisa tertidur, hatinya benar benar dilema, memilih untuk menemui Jovi atau tidak.
Saat Aurel lelah berpikir, akhirnya dia bisa tertidur juga, dan masuk kealam mimpinya.