ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Berhati batu


__ADS_3

"Siapa Mah?" Suara lemah terdengar dari dalam kamar. Rosi seketika melepaskan pelukannya pada Adit dan mengusap air matanya


"Ini Adit Pah," jawab Rosi kegirangan


"Benarkah? Lalu kenapa masih didepan pintu?" tanyanya lirih


"Oh, iya. Mah, kenalin, ini teman Adit, namanya Jovi," kata Adit sambil menarik lengan Jovi


"Lho. Kamu ... " Belum sempat Rosi selesai bicara, tiba-tiba Jovi memberi kode dengan mengedipkan matanya


"E-ng ... Hallo Tante, Saya Jovi temannya Adit. Tante, saya boleh minta tolong?" ujar Jovi dengan senyum pura-puranya.


Rosi kebingungan dengan tingkah Jovi, mau tak mau akhirnya dia menjawab " "Mau minta tolong apa?"


"Anu Tante. Hmm- Boleh tidak tante tunjukkan jalan untuk pergi ke toilet, saya kebelet ini," ujar Jovi malu, tapi dia tak ada pilihan lain selain berbohong


Rosi mengangkat alisnya semakin bingung, tapi dia tetap saja menurut apa yang dikatan Jovi, dirinya seperti habis dihipnotis


"Oh. Ayo, Tante antar!" Rosi berjalan mendahului Jovi


Aurel mencibir, menggelengkan kepalanya. Anak ini, apa dia tidak tau, orang yang dia mintai tolong adalah orang yang terhormat, bisa-bisanya dia meminta tolong untuk mengntarkannya ke toilet. Batin Aurel


Saat Jovi dan Rosi menuju ke toilet, tiba tiba Jovi memanggil Rosi dengan suara pelan, "Tante. Sini dulu, Jovi mau ngomong!"

__ADS_1


Rosi menoleh kearah Jovi "Ada apa Nak Jovi?" tanya Rosi


"Tante, nanti didepan Adit dan Aurel, tante dan Om jangan kasih tau identitas aku ya!"


"Lho. Memangnya Adit gak tau identitas kamu? Dan juga kenapa mau dirahasiakan? Jangan bilang, kamu juga kabur dari rumah," ujar Rosi dengan seribu pertanyaannya


"Udah, intinya nanti Tante bilangin ke Om, agar pura-pura tak mengenal Jovi ya!" pinta Jovi


Rosi hanya mengangguk. "Baiklah, kalau begitu Tante naik duluan, beberapa saat baru kamu menyusul," ujar Riana dan dibalas anggukkan oleh Jovi


Sesampainya Rosi dikamarnya, dia membisikkan masalah Jovi pada Suaminya, dan Johan pun mengangguk setuju. beberapa saat Jovi pun kembali


"Pah, mungkin papa sudah tau kedatangan Adit kembali kerumah. Adit cuma mau bilang, kalau Adit dan Raisa sama-sama tak menyetujui perjodohan ini, kami sama sekali tidak memiliki perasaan apapun satu sama lain, jadi Adit mohon, agar Papa bisa mengerti tentang perasaan kami, kami sudah dewasa dan bisa mencari pasangan sendiri, tidak perlu harus pihak keluarga yang menentukan," jelas Adit panjang kali lebar


"Apa benar begitu Aurel?" Johan mengalihkan pandangannya pada Aurel.


"Lagian, Adit bukanlah tipe Aurel, dia sangat kekanak kanakkan, Aurel bisa mencari pasangan yang bersikap dewasa, tidak seperti Adit," ujar Aurel pada Johan tanpa segan


Adit melototi Aurel kesal, Aurel menjulurkan lidahnya mengejek, sedangkan Jovi, dia berusaha mati matian untuk tidak tertawa, dengan sikap jujur Aurel, bahkan dia tidak segan pada Johan untuk menjelekkan Adit


Johan bukannya marah dia malah tersenyum menggelengkan kepala, dia sudah tidak heran dengan dua orang ini, jika mereka bertemu sudah tidak ada kata perdamaian, mereka selalu saling mengejek, tapi entah kenapa, mereka selalu saja mengerjakan sesuatu dengan bersama sama, walaupun ujung ujungnya tetap saja beradu mulut.


"Baiklah. Jika memang itu yang kalian inginkan, Papa akan mendiskusikannya lagi dengan Ayahnya Aurel," ujar Johan dengan suara yang lemah, karena memang dia sedang tidak sehat.

__ADS_1


Aurel dan Adit mengangguk bersamaan.


"Tapi Adit akan tetap tinggal diluar bersama Jovi, Adit akan usahakan untuk sering pulang mengunjungi kalian," ujar Adit datar


Johan mengangguk setuju, dia juga percaya pada Jovi, Jovi anak yang cerdas tidak ada salahnya jika anaknya selalu bersama dengan Jovi, alih alih bisa menularkan kecerdasan Jovi ke Adit


Setelah itu, mereka bertiga pamit untuk pergi. Saat Adit dan Jovi ingin masuk ke mobil Aurel, segera Aurel menghentikan mereka


"Hey-hey. Kalian mau ngapain?" teriak Aurel


"Ya mau masuklah, mau ngapain lagi?" jawab Adit


"Siapa yang mengizinkan kalian masuk? Apa kalian pikir aku ingin mengantar kalian lagi? Jangan mimpi," ujar Aurel dengan santainya


"Lalu kau ingin kami pulang dengan jalan kaki? Yang benar saja, apa kau masih waras?" bantah Adit


"Apa peduliku, mau kalian jalan kaki atau apalah itu, itu bukan urusanku, urusanku sudah selesai sampai disini," ujar Aurel acuh tak acuh


Aurel masuk kedalam mobil meninggalkan rumah Adit, sedangkan Jovi dan Adit masih mematung tak habis pikir dengan isi otak Aurel


Apa didunia ini masih ada wanita berhati batu selain dia? ingin sekali rasanya aku membedah hatinya, dan melihat isinya, apa masih ada sedikit perasaan lemah lembut yang terdapat pada wanita umumnya? Benak Jovi


"Apa sekarang kita benar benar akan jalan kaki menuju kampus untuk mengambil kembali motorku?" ujar Jovi yang menurutnya pertanyaannya itu sedikit bodoh, tapi dia tetap tidak peduli

__ADS_1


"Tentu tidak, siapa yang sanggup berjalan kaki, kembali kekampus dengan jarak puluhan kilo,? jawab Adit


Adit pun menyuruh supir Ayahnya untuk mengantar mereka berdua kembali kekampus.


__ADS_2