ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Mati untuk Jovi


__ADS_3

Jovi tidak menyangka, Aurel berani melawannya didepan orang lain.


"Aku ingin bicara padamu!" ucap Jovi sembari menarik paksa lengan Aurel menuju kekamar.


Rasya yang melihat itu, seketika berlonjak kegirangan saat Jovi tidak lagi terlihat dimatanya.


Rasakan itu, siapa yang menyuruhmu untuk melawanku? nikmatilah akibatnya. Rasya tertawa sembari berlari santai menuju kamarnya.


"Lepaskan Jovi! Kamu menyakitiku!" ucap Aurel saat berada didalam kamar.


Jovi melepaskan tangan Aurel dengan kasar, Aurel memegangi lengannya, sakit akibat Jovi yang menariknya begitu kuat.


"Hari ini kau cukup berani ya!?" ucap Jovi menyeringai.


"Aku melakukan ini demi kebaikan kita berdua. Jika aku tidak melawan dia, sudah pasti rumah tangga kita yang akan jadi korbannya," ucap Aurel lirih.


Jovi kembali menyeringai mendengar ucapan Aurel.


"Ck. Sejak kapan kau perduli pada kebaikan kita berdua? Kau hanya tau mementingkan dirimu sendiri. Kau itu wanita egois," ucap Jovi sinis.


"Aku tidak egois, aku selalu memikirkan tentang kebaikanmu. Semua tentang kamu, aku tidak pernah melakukan suatu hal untuk diriku sendiri," ujar Aurel gemetar dan berkaca kaca.


"Kapan kau pernah memikirkan aku? Lima tahun yang lalu kau memutuskan hubungan tanpa alasan, kau tak memikirkan bagaimana perasaanku saat itu, kau pergi begitu saja. Lalu saat kau kembali, kalimat pertama yang aku dengar hanyalah dirimu yang ingin meminta bantuan padaku. Apa kau pikir itu yang kau sebut untuk kebaikanku?" suara Jovi terdengar sangat pelan, begitu sulit baginya untuk mengucapkan tentang kejadian dimasa lalu. Sangat pahit.


"Itu semua hanya kau lakukan untuk dirimu sendiri, saat kau tahu aku miskin, kau tidak punya hati meninggalkan aku begitu saja, dan disaat kau tahu aku telah memiliki segalanya, tanpa menunggu waktu lama, kau datang padaku meminta bantuan, bukankah kau terlihat begitu munafik?" Jovi menatap lekat pada Aurel.


"Bukan seperti itu Jovi," jawab Aurel lirih.


"Lalu apa?" bentak Jovi dengan suara yang sangat lantang.


"A-Aku .... " Aurel tergagap. tak mampu untuk mengatakan yang sebenarnya.


Katakan Aurel! Penjelasan darimu sendirilah yang aku harapkan, aku tidak ingin mendengar dari orang lain, aku selalu menunggu dimana kamu siap untuk mengatakannya padaku. Aku sudah terlalu lama menunggu. Jovi sangat berharap mendengar langsung penjelasan dari mulut Aurel.


"Kenapa kau diam?" ucap Jovi dingin.

__ADS_1


"Jovi ... Aku terpaksa melakukan itu, keadaan saat itu memaksaku untuk meninggalkanmu, aku tidak punya pilihan lain. Maaf .... " Aurel membiarkan air matanya terjun bebas dikedua belah pipinya.


"Kata maafmu itu tidak berguna untukku," Jovi menatap lekat pada Aurel.


"Jovi ... Saat itu aku sakit." Aurel merasa ada yang menekan suaranya untuk keluar, hingga dia tidak mampu melanjutkan ucapannya.


Jovi yang tadinya berjalan kearah kasur, tiba tiba menghentikan langkahnya menoleh kearah Aurel.


"Sakit?" Jovi menaikkan alisnya tak percaya.


"I-Iya," Jawab Aurel tergagap.


Jovi menyeringai mendengar pernyataan Aurel. Bisa bisanya Aurel meninggalkannya hanya karena suatu penyakit.


"Hanya itu alasanmu meninggalkanku?" Jovi masih saja tak percaya dengan apa yang dia dengar. Jika saja Aurel mengatakan terlebih dulu padanya, Itu sama sekali bukan suatu masalah baginya.


"Sakit yang aku derita bukan penyakit biasa, aku terkena kanker otak, dan itu sudah sampai ke stadium Empat," jawab Aurel sungguh sungguh.


"Lalu? Kenapa tidak bicara padaku?" ucap Jovi sinis.


"Aku tidak ingin membebanimu dengan penyakitku, aku takut jika kamu akan semakin terluka jika sampai aku tidak bisa bertahan melawan penyakit yang menggerogoti tubuhku, aku takut Jovi. Semuanya aku lakukan untukmu. Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri. Maafkan aku!" Aurel semakin membanjiri kedua belah pipinya dengan air mata.


"Kau yakin mencintaiku?" ucap Jovi sinis.


"Apa kamu tidak percaya?" Aurel kembali menatap Jovi penuh harapan.


"Apa kau mau melakukan apapun demi aku?" Jovi kembali bertanya dengan sinisnya, dan Aurel pun mengangguk pelan.


Jovi tersenyum kecil dan melangkah meraih pisau yang memang selalu ada didalam laci meja.


"Termasuk mati didepanku?" ujar Jovi sembari memainkan pisau ditangannya.


Aurel tidak berani menatap Jovi, ia tertunduk lemas memandangi kakinya, dan entah kenapa, ia tanpa sadar menganggukkan kepala setuju dengan apa yang dikatakan Jovi.


Jovi seketika melempar pisau itu kelantai, dan pisau itu berhenti tepat didepan kaki Aurel, membuat Aurel sedikit terkejut, tidak mengerti dengan maksud Jovi yang melempar pisau kearahnya.

__ADS_1


"Lakukanlah!" ucap Jovi datar sembari menyilangkan kedua belah tangannya.


"Apa yang akan aku lakukan dengan pisau itu?" tanya Aurel bingung.


"Bukankah kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku melebihi dirimu sendiri? Kau sendiri tau dengan maksudku memberimu pisau itu, tidak perlu aku jelaskan secara rinci," jawab Jovi dingin.


"Apa kamu menginginkan aku mati didepanmu sekarang juga?" Aurel tak percaya bahwa Jovi benar benar ingin melihatnya mati.


Jovi tak menjawab apapun, ia hanya diam mengamati Aurel sembari menyenderkan badan di dinding kamar.


"Baiklah." Aurel mengangguk pelan dan perlahan membungkuk meraih pisau dengan tangan yang gemetar.


Apa yang dia lakukan? Apa dia benar benar akan melakukan apa yang aku katakan? Apa dia benar benar percaya dengan ucapanku yang menginginkan dia mati? Jovi tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Jovi ... Lihatlah baik baik, aku tak ingin kamu menyesal karena tak melihat kematianku demi mengabdikan cintaku padamu, kuharap setelah kematianku, kamu tidak melupakan, bahwa ada satu wanita yang rela mati demi cintanya padamu." Air mata keputus asaan terus mengalir tanpa henti dari pelupuk mata Aurel.


Dengan tangan yang masih gematar, ia mencoba dengan perlahan mengangkat pisau dan mengarahkannya tepat di dadanya.


Aurel perlahan menutup matanya untuk mengucapkan selamat tinggal pada jiwa yang selalu menemaninya.


Aurel semakin menggenggam kuat pisau ditangannya. Jovi semakin mengerutkan keningnya, tak percaya bahwa Aurel benar benar berani melakukan itu semua.


Dan disaat pisau hampir menembus jantungnya, Jovi dengan cekatan melompat untuk meraih pisau dari tangan Aurel.


Jovi berhasil menghentikan aksi Aurel, ia menggenggam pisau dengan sangat kuat hingga darah segar mengalir dengan deras dari tangannya.


Jovi melempar pisau itu sejauh mungkin, Aurel cukup terkejut melihat pemandangan itu, ia tak menyangka bahwa Jovi akan dengan cepat menghentikan dirinya.


Apa aku gila? Membiarkan orang yang aku cintai mati dihadapanku sendiri? Dia yang selalu berkorban banyak untukku, tetapi aku terus saja melukai perasaannya. Jovi mengangkat kepalanya menatap Aurel yang kini masih menangis karena ulahnya.


Pelan pelan Jovi mendekati Aurel, dan tanpa berbicara apapun, langsung memeluk Aurel dengan sangat erat. Jovi mendekap tubuh Aurel dalam pelukannya, tangis Aurel semakin pecah di dada Jovi.


Darah segar bercucuran dilantai yang berasal dari tangan Jovi, rasa sakitnya sama sekali tak dirasakan oleh Jovi, ia hanya memeluk Aurel tanpa berbicara sepatah kata pun.


Sampai sini dulu ya, lanjut besok lagi.

__ADS_1


Semoga selalu setia menunggu ceritanya. Maaf ya, saat ini Author belum bisa kasih Up yang panjang. 😥✌


Eh ... Jangan lupa like dong pastinya Hehe 😊


__ADS_2