
Kini Jovi mulai melepaskan tembakannya, satu lawannya berhasil tumbang dengan satu tarikan pelatuknya.
"Kalian yang tidak memiliki senjata, carilah kesempatan untuk menyerang secara diam-diam pada mereka yang juga tidak memiliki senjata, aku dan Jimmy akan fokus pada lawan yang menyerang lewat tembakan." bisik Jovi. Mereka semua mengangguk mengerti.
Adit saat ini mulai tersadar mendengar suara dentuman keras yang berasal dari senjata api yang terus meraung raung di telinganya.
Mata Adit menyelidiki satu persatu dari mereka, tanpa sengaja Adit melihat Jovi yang sesekali menampakkan kepalanya saat melepaskan tembakan.
Jovi saat ini benar benar terlihat seperti panglima tempur yang menyerang tanpa ampun, dia tampak terlatih bermain dengan pistolnya, semua tembakannya selalu tepat pada sasaran.
Adit tampak tersenyum kecil melihat perjuangan teman-temannya, namun ia juga sedikit cemas, lawan mereka terlalu banyak, kemungkinan untuk menang sangatlah tipis.
Ia begitu menyesal karena ulahnya yang harus menyeret semua temannya untuk masuk dalam bahaya.
"Pergilah. Jangan perdulikan aku! Aku tidak ingin nyawa kalian terancam hanya kerena ingin menyelamatkan aku." Adit berseru dengan lirih, ia terlalu lemah untuk bisa berteriak, matanya kini sudah nampak sayu, terlihat jelas bahwa dia benar-benar menderita.
Doorrr
Satu kotak kayu yang dipakai untuk berlindung oleh Lani tertembak dari arah lawan, itu membuat Lani berteriak keras hingga terjatuh di lantai.
"Akkhhh." Lani merintih memegangi perutnya, ia merasa hentakan itu membuat perutnya begitu sakit.
Roni segera menghampiri Lani di tengah pertarungan dahsyat yang terjadi antara Jovi, Jimmy, dan para kelompok naga merah.
Jovi saat ini sama sekali tak memperdulikan situasi di sekitarnya, bahkan Lani terjatuh tepat di belakangnya ia masih tak menoleh, ia hanya terfokus pada tembakannya yang membabi buta menumbangkan lawan. Markas naga merah kini dipenuhi dengan kebisingan dari suara dentuman pistol yang bersahut sahutan.
"Lani. Apa kamu tidak apa-apa?" Roni berjongkok di hadapan Lani.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Jangan perdulikan aku! Lanjutkanlah pertarunganmu agar Adit bisa segera kita bawa pulang." Lani saat ini hanya perduli dengan keselamatan Adit.
Roni mengangguk pelan dan kembali menghajar lawannya semampu yang dia bisa.
Lani pelan pelan mencoba bangun di tengah rasa sakit di perutnya.
Sssrrr
Tiba-tiba Lani merasa ada yang keluar dari organ intimnya, namun ia tak memperdulikan itu. Ia kembali menatap ke sekeliling, terlihat Adit saat ini sudah tidak lagi dalam pantauan orang-orang naga merah, semuanya sibuk menyerang teman-temannya.
Lani mengendap endap sambil bersembunyi agar tidak ketahuan bahwa dia sedang mencoba mendekati Adit.
Lani akhirnya berhasil mendekati Adit, "Adit. Apa kamu baik-baik saja?"
"Lani? Apa yang kamu lakukan di sini? Ini terlalu berbahaya, ini bukanlah tempat yang harus kamu datangi." Adit membulatkan matanya terkejut mendapati Lani yang ternyata ikut dalam aksi penyerangan naga merah.
"Ayo. Kita harus cepat bergabung dengan Jovi agar kita bisa keluar dari sini secepatnya!" Lani mencoba memapah Adit, namun tiba tiba, "Aakhh." Perutnya kembali terasa sakit.
Ada apa ini? Kenapa perutku terasa begitu sakit? Lagi-lagi Lani merasakan kembali sesuatu yang keluar dari organ bawahnya.
"Ada apa?" tanya Adit, Lani hanya menggeleng pelan lalu kembali memapah Adit sesekali matanya menyelidiki, jangan sampai pihak lawan melihatnya membebaskan tawanan mereka.
Tiba-tiba Lani melihat seseorang yang menodongkan pistolnya kearah mereka, siap untuk membidik Adit.
Doorrr
Percikan cairan kental berwarna merah mengenai wajah Adit. Adit seketika membeku mendapati Lani yang berada di pelukannya sudah terkulai lemas akibat tembakan yang tepat mengenai punggung, saat itu jika Lani tidak mmenghadang tembakan itu, sudah pasti pelurunya menancap di jantung Adit.
__ADS_1
Mata Adit kini tampak berkaca kaca, tubuhnya seakan tak memiliki nyawa lagi. Lani tak lagi mampu berdiri akibat sakit yang dirasakannya, Adit berusaha membaringkan Lani dalam dekapannya.
"Lani. Sadarlah! Ini aku, komohon sayang, sadarlah!" Adit menggoyang kepala Lani yang saat ini mulai memejam.
Lani sekuat tenaga berusaha untuk tetap sadar, bibirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu yang dirasa sangat sulit untuk keluar.
"A-Adit. S-Sayang, a-aku tidak t-tahan lagi." Tatapan mata Lani kini tampak begitu sayu, nyaris terpejam.
"Tidak. Kumohon bertahanlah, kita akan segera ke rumah sakit. Jangan tidur dulu, kumohon!" Adit menggeleng berat sambil menggenggam kuat tangan Lani yang terasa dingin.
"A-Adit. A-Aku akan memberimu s-satu rahasia tentang k-keperawananku, dulu aku, aku s-sempat di, dilecehkan o-oleh lelaki bre**sek yang t-tidak memiliki tanggung jawab s-sama sekali. M-Maafkan aku!" Kata demi kata yang begitu sulit untuk dikeluarkan, namun Lani masih berusaha untuk mengatakannya.
"Tidak, jangan bahas soal itu, aku tidak perduli dengan masalalumu, yang penting kamu bisa tetap bertahan untukku!" Adit mengusap air matanya yang kini perlahan membasahi kelopak matanya.
"A-Aku lega jika kamu b-bisa menerimanya, setidaknya jika aku m-mati, a-aku tidak akan mati d-dengan rasa penyesalan." Lani tampak tersenyum kecil ingin meraih wajah Adit namun tak mampu karena begitu lemah.
"Tidak. Kumohon jangan pergi, aku tidak memberimu izin untuk meninggalkanku, tetaplah bertahan agar kita bisa menikah dan memiliki anak secantik kamu." Adit mengelus wajah Lani dengan tangan yang sudah gemetar tak karuan.
Namun Lani merasa tidak bisa mempertahankan kesadarannya lebih lama lagi, pandangannya mulai kabur, wajah Adit kini dirasa begitu jauh, perlahan, mata sayu itu mulai terpejam, tangannya yang tadi masih menggenggam jari-jari Adit, kini terkulai lemas tanpa daya.
Adit merasa nafasnya begitu sesak, ia ingin mengatakan sesuatu namun tertahan kuat di kerongkongannya, air mata yang tadinya malu-malu untuk keluar, kini dengan mudahnya meluncur dikedua belah pipi Adit.
Adit berteriak histeris sembari mendekap kepala Lani dengan begitu kuat, tak terima dan tak percaya, wanita yang selama ini selalu ceria, kini memejamkan mata tanpa daya.
Suara teriakan Adit berhasil membuat Jovi berhenti melakukan tembakannya, ia menoleh mencari asal suara, melihat Lani yang terkulai lemas akibat tembakan, tangan Jovi terkepal kuat, begitu geram melihat wanita yang ikut jadi sasaran mereka.
Jovi seketika mengamuk dengan buasnya, ia menampakkan diri dan menembak tanpa ampun.
__ADS_1
"Tuan muda. Itu sangat berbahaya!" Jimmy berteriak cemas melihat Jovi yang melawan tanpa ada perlindungan sedikit pun. namun bukannya mendengarkan Jovi semakin membabi buta melayangkan pelurunya tepat pada kepala lawan.