
Dua hari berlalu, Kini tiba saatnya Aurel akan kembali meninggalkan negara kelahirannya.
"Nak ... Kamu yakin akan pergi meninggalkan kami semua? Apa tidak ada jalan keluar lagi bagi kalian? Rumah tangga itu ibarat sebuah kapal yang sedang berlayar jauh menuju kesatu tujuan, pasti selalu ada ombak yang akan menerjang, semua itu tergantung pada sang nahkoda, jika mereka kehilangan kendali dan menyerah, maka kapal mereka akan tenggelam, cobalah untuk tetap berusaha dan terus bersemangat, mungkin kalian akan sampai ketempat itu." Bu Dina selalu berusaha untuk membujuk anaknya agar tidak pergi begitu saja.
"Tapi sayang Bu. Aku sepertinya memang sudah kehilangan kendali pada kapalnya, kapalnya juga tak mampu membawa beban yang begitu berat, jadi terpaksa aku yang harus terjun kelaut meski aku tidak tahu, apakah yang akan terjadi pada diriku setelahnya?" Aurel terus mengemas barangnya, ia tidak ingin menunda waktu keberangkatannya.
"Pah ... Bagaimana ini?" Bu Dina menyikut suaminya, agar suaminya juga mau membujuk, tetapi tampaknya Pak Doni hanya mengangkat bahunya tidak berani mengatakan apapun.
"Kak ... Kenapa harus pergi lagi sih? Kakak baru saja pulang, tetapi kenapa harus kembali pergi, aku masih sangat merindukan Kakak." sudut bibir Fina menurun, tanda bahwa dia sedih dan kecewa.
"Sudahlah Fin. Jangan merengek seperti itu, kau sudah besar, jangan bersikap seolah olah seperti anak anak." Aurel sedikit membentak Fina, itu satu satunya cara agar Adiknya bisa bersikap lebih dewasa, dan bisa mengerti tentang keputusannya.
Fina yang tidak biasanya dibentak oleh Aurel, seketika berlari sambil mengatakan bahwa Aurel jahat.
Aurel hanya bisa menghela nafas berat, ia terus mengemas barangnya sampai selesai.
"Mah, Pah. Aurel berangkat dulu. jaga kesehatan kalian ya! Kalian tidak perlu mencemaskan Aurel, Aurel pasti akan baik baik saja." Aurel sendiri sebenarnya tidak rela jika harus meninggalkan mereka, tetapi dia juga tak dapat melawan takdir, mungkin setelah dia berhasil melupakan Jovi, dia akan kembali pulang melihat orang tuanya, meskipun dia tidak tahu, melupakan Jovi akan menyita waktu berapa lama nantinya.
"Jaga dirimu Nak! Sering seringlah hubungi kami." Bu Dina tak henti hentinya menangis karena harus melepaskan Aurel pergi.
Aurel pun kini menaiki mobil yang saat ini dikendarai oleh Deny, Aurel melambai kemereka saat mobil perlahan bergerak menjauh dari sana.
Aurel tak dapat membendung air matanya lebih lama lagi, ia sungguh tersiksa berpura pura kuat didepan keluarganya, semua itu ia lakukan, agar orang tuanya tidak cemas saat dia pergi.
"Kamu tidak apa apa?" Deny melirik kearah Aurel yang menangis.
"Tidak apa apa. Lanjutkan saja!" Aurel menggeleng dengan cepat.
***
"Permisi Tuan muda. Saya ingin menyampaikan laporan berkaitan tentang Nyonya muda, hari ini orang yang diutus memantau Nyonya memberikan laporan kepada saya bahwa Nyonya sekarang berada di airport, ia akan pergi menuju Australi, waktu keberangkatannya setengah jam lagi." Jimmy membungkuk hormat pada Jovi.
"Apa dia tampak terpaksa atau sedang dipaksa?" tanya Jovi dengan datar.
Jimmy menggeleng dengan sangat berat, ia tidak tega mengatakan yang sebenarnya.
"Katakan saja!"
__ADS_1
"Menurut laporan, Nyonya pergi atas kemauannya sendiri, ia juga tampak mengobrol ceria pada seorang lelaki." Jimmy menjawab dengan gemetaran, takut Tuan mudanya akan mengamuk.
"Apa lelaki itu akan pergi bersamanya?" Jimmy hanya mengangguk pelan, tak berani mengeluarkan suaranya.
Jovi tersenyum kecut, tidak menyangka, Aurel benar benar akan meninggalkannya bersama lelaki lain.
"Keluarlah dulu Jim. Aku ingin sendiri dulu." ada perasaan tidak tega melihat wajah sedih Tuan mudanya itu, namun Jimmy tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya menurut saja apa yang diperintahkan oleh Jovi.
Jovi bangkit dari kursi kebesarannya, pelan pelan kakinya melangkah kearah jendela, menatap pemandangan kota dari kejauhan.
Matanya menerawang jauh, namun hati dan pikirannya terpaut pada Aurel.
Ia tidak menyangka, bahwa dia benar benar akan berpisah, pernikahan mereka benar benar berumur pendek.
Asal kamu tau. Aku sulit untuk merelakan kepergianmu, mengetahui bahwa kamu pergi bersama dengan lelaki lain, hatiku semakin hancur, jika aku datang dan menghentikanmu, mungkin kamu akan kembali menampar wajahku untuk yang ketiga kalinya. Aku tidak bisa jika kau mempermalukanku untuk yang kedua kalinya pada lelaki yang sama, ini terlalu naif untukku. Jika memang dia adalah pilihan terakhirmu, aku hanya bisa mengatakan selamat untuk kalian berdua, semoga keberuntungan selalu berpihak pada kalian. Tangan Jovi terkepal kuat. Ingin marah, namun juga tidak bisa.
Tiba tiba ponsel Jovi berdering.
"Hallo, Pah. Ada apa?"
"Jovi. Pulanglah! Pamanmu dan Bibimu datang menagih janji yang sebulan lalu, mereka tidak ingin pulang walau telah diusir." suara ayahnya terdengar cemas.
"Papa juga tak mengerti, mereka hanya mengatakan bahwa ada sedikit kendala yang menghambat mereka untuk datang tepat waktu."
Jovi semakin bingung, dia yang sekarang telah tidak bersama Aurel lagi, bagaimana mungkin meyakinkan mereka bahwa dia telah menikah, apalagi semua tetua termasuk orang tuanya tidak mengetahui bahwa dia telah memiliki istri.
"Baiklah, aku akan pulang. Beritahu pada semua tetua untuk berpura pura mengetahui bahwa aku telah menikah. Jangan ada sedikit kesalahan pun," ucap Jovi, dan mereka pun menutup teleponnya.
Jovi bergegas keluar dari ruangannya, Jimmy masih berdiri didepan pintu menunggu perintah.
"Jim. Kita pulang ke kediaman keluarga!" dengan langkah yang tergesa gesa, tanpa menoleh kearah Jimmy.
"Baik Tuan." Jimmy pun menyusul Jovi dari belakang.
Sesampainya Jovi disana, ia melihat keributan yang disebabkan oleh paman dan bibinya yang pernah datang dulu.
Mereka yang tidak diperbolehkan masuk, lantas mengamuk didepan rumah.
__ADS_1
"Apa sudah puas membuat keributan? Kau menunggu kedatangan aku kan?" Jovi melangkah mendekati mereka, Aura dingin tampak menyatu dalam dirinya.
"Akhirnya kau berani juga menampakkan batang hidungmu," tegur pamannya dengan sinis.
"Kapan aku aku takut berurusan dengan pecu*dang seperti kamu?" Jovi menarik sudut bibirnya menatap hina pada kedua orang itu.
"Benar benar anak yang tidak sopan. Kau lupa bahwa aku adalah pamanmu?" tatapnya dengan marah.
"Aku tidak lupa, tetapi aku tidak menganggap dirimu sebagai pamanku, terlalu malas menganggap pecu*dang sepertimu sebagai anggota keluarga. Memalukan." Jovi masih begitu tenang dalam menghadapi lelaki yang dihadapannya.
"Kurang ajar." pamannya melayangkan pukulan kearah Jovi, namun dia sendirilah yang tersungkur ketanah.
"Baiklah. Cukup main mainnya, kau kesini ingin menagih janji kan? Itu janji yang kau inginkan." sembari melempar buku nikah dihadapan pamannya yang saat ini masih berada dilantai.
"Buku nikah ini tidak cukup untuk dijadikan bukti, mana wanita yang menjadi istirimu itu?" sembari bangkit berdiri.
"Dia begitu berharga untuk aku perlihatkan padamu, kau tidak pantas melihatnya, buku nikah itu cukup memberikan bukti, kau bisa mengecek keaslian buku itu." sambil menatap tajam pada pamannya.
"Hng. Kau pikir aku bodoh? Aku tidak butuh hanya dengan bukti sampah seperti ini, aku ingin kau membawanya dihadapanku sekarang juga." wajahnya tampak memerah menahan amarah.
"Oh ... Aku sangat takut melihat tatapanmu itu. Apa kau berniat untuk bertarung? Aku siap kapan saja. Kemarilah!" Jovi melepas jasnya dan disambut oleh Jimmy.
Pamannya itu benar benar dibuat geram oleh Jovi, amarahnya benar-benar tak dapat di kendalikan lagi, ia lantas menyerang dengan buasnya, tampak seperti ingin membunuh orang.
Jovi sama sekali tak terpengaruh oleh pamannya, ia meladeni pertarungan itu dengan sangat tenang, tetapi pamannya itu cukup tangguh juga dalam seni bela diri.
Akhirnya Jovi mulai serius dengan pertarungannya, jika dia akan tetap santai, maka itu tak akan berakhir sampai besok.
Satu kali serangan dari Jovi, masih bisa ia tangkis, itupun tubuhnya sudah sangat bergetar akibat kekuatan yang begitu dahsyatnya keluar dari pukulan Jovi.
Hingga untuk yang kedua kalinya, ia ambruk, terkulai lemas dilantai.
"Suamiku. Apa kamu baik-baik saja?" istrinya tampak khawatir.
"Jika kau tak segera membawanya pergi dari sini, mungkin dia akan berakhir ditanah pemakaman." Jovi menatap tajam pada bibinya, tetapi malah dibalas dengan tatapan tajam pula,
Bibinya itu juga tak berani melawan, ia lantas memapah suaminya pergi dari sana.
__ADS_1
"Tunggu saja kau. Ini tak berakhir sampai disini, aku akan membalas perlakuanmu ini sampai berlipat lipat," ucap pamannya dengan sinis saat melawati Jovi.
"Aku sangat menantikan hari itu." Jovi tertawa hina menatap pamannya.