ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Tantangan Alex


__ADS_3

Keesokan harinya adalah hari, dimana Jovi pertama kali masuk kuliah, dia pun bangun sepagi mungkin agar tidak telat untuk berangkat kekampus


Saat Jovi keluar rumah, dia melihat Adit tengah duduk santai diteras sambil ngopi, Jovi pun menghampirinya


"Woy, kamu santai mulu kerjaannya, gak ada aktifitas lain apa?" tanya Jovi sembari menepuk pundak Adit.


"Gila ... Bikin kaget saja." adit berteriak sambil mengelus dadanya, berusaha mengatur nafas.


"Ada sih, hari ini pertama kalinya masuk kuliah, tapi mau ngopi dulu sebelum berangkat." Adit kembali menjawab.


"Serius? Bisa kebetulan gini ya, aku juga baru pertama kali masuk kuliah hari ini," ujar Jovi sambil menyeruput kopi milik Adit.


"Kopi gua woy, main seruput aja lu, berkurangkan jadinya." Adit merampas kembali kopinya dari tangan Jovi.


"Yah, jadi orang kok pelit, nanti rezekinya seret lho," ujar Jovi meledek.


"Rezeki lu yang seret, minum kopi orang tanpa izin, dan lagi semalem aku sudah kasih makan, tapi kamu masih bilang aku pelit, emang dasar nih orang," ucap Adit sambil menggelengkan kepalanya.


Jovi tertawa melihat kekesalan Adit, dia pun berbalik badan menuju motornya.


"Gue jalan dulu ya, males berdebat sama lo," teriak Jovi melambaikan tangannya.


"Pergi sana, bikin gue badmood aja lu," balas Adit berteriak kearah Jovi.


Setelah sampai di Universitas, dia memarkirkan motornya, dia berencana mengelilingi area kampus


Saat Jovi sedang melihat lihat disekitar lapangan basket, tiba tiba dia ditabrak oleh seorang wanita yang sedang terburu buru, Mereka saling menoleh dan menatap satu sama lain, sejenak mereka terpaku dalam diam, dan tenggelam dengan pikiran masing masing.


Jovi mengerutkan keningnya, berusaha untuk mengingat sosok wanita yang dihadapannya, beberapa saat akhirnya dia menangkap memori yang ada di ingatannya.

__ADS_1


Ya. Wanita itu tidak lain adalah Aurel, wanita yang dia selamatkan dari penculikan tempo hari, Jovi pun semakin menyipitkan matanya.


"Kamu ... " teriak mereka serentak, hingga membuat orang orang disekitar menoleh ke arah mereka.


"Huh. Kenapa aku harus bertemu dengan lelaki yang tak berperasaan ini lagi sih. Sungguh sangat sial" gerutu Aurel.


Jovi mengangkat alisnya, "Apa begini sikap pertamamu saat bertemu orang yang sudah menolongmu?" ujar Jovi datar.


"Lalu aku harus menunjukkan sikap yang semacam apa? Apa aku harus melompat kegirangan? Huh. Kau menolongku saja tidak tulus, mengapa aku harus bersikap baik" Aurel berkata sambil berkacak pinggang.


Jovi menggelengkan kepala tak perduli, dia berbalik badan lalu pergi. Aurel merasa kesal dengan sikap dingin Jovi.


"Sikap macam apa dia itu. Berani beraninya mengabaikanku," gerutu Aurel kesal.


Saat Jovi belum jauh meninggalkan Aurel, tiba tiba sebuah bola basket melayang kearah Jovi, dan mengenai kepalanya, membuat dia sedikit memiringkan kepalanya.


Aurel yang masih berada ditempat, seketika tak bisa menahan untuk tidak tertawa. Dia tertawa terbahak bahak sambil memegang perutnya, dia tertawa sampai mengeluarkan air mata.


Aurel terdiam sejenak dan berkata, "Belum" dia pun melanjutkan tawanya, hatinya seakan ada yang menggelitik hingga tak bisa menahan untuk tidak tertawa, orang orang kebingungan melihat Aurel. Saat Aurel menyadari semua mata tertuju padanya, tawanya perlahan lahan mengecil hingga tak terdengar lagi


"Hey. Pecundang. Tolong ya, ambilin bolanya!" teriak pemuda yang berada dilapangan.


Apa didunia ini selalu banyak hal yang terjadi kebetulan, mengapa aku selalu saja bertemu orang orang yang sangat menyebalkan. Benak Jovi.


Pemuda yang dilapangan adalah Alex, tentu saja Alex sengaja melempar bola kearah Jovi. Dia benar benar ingin sekali membalas dendam kepada Jovi yang sudah berani melawannya saat di Indomart.


Jovi meraih bola ya tergeletak dilantai, dan melemparkannya kearah Alex dengan keras. Alex tak dapat menahan lemparan dari Jovi, sehingga bola membentur keperutnya, Alex terbatuk, seakan menerima serangan dahsyat dari master bela diri, wajahnya dipenuhi dengan amarah yang memuncak.


"Heh. Pecundang, kalau kau memang punya nyali, sini lawan aku bermain basket!!" Seru Alex menantang.

__ADS_1


Jovipun mendekat kelapangan, berjalan dengan santainya menghampiri Alex.


"Apa taruhannya?" Jovi buka suara saat berada dihadapan Alex.


"Mudah saja. Jika kau kalah, kau harus bersujud dihadapanku, begitupun sebaliknya. Bagaimana?" tutur Alex.


Dia sangat yakin akan menang dari Jovi karena selama di SMA, Jovi tak pernah mau bermain basket, jadi dia pikir Jovi memang tak punya kemampuan dalam bidang olahraga


"Oke," jawab Jovi menyetujui.


"Perhatian, perhatian. Disini akan ada pertandingan basket antara Alex dan anak miskin ini. Ayo, ayo. Cepat berkumpul jika ingin menonton." teman Alex berteriak dengan semangat.


Orang orang yang mendengar, semua segera berkumpul, dalam sekejap, lapangan sudah dikelilingi oleh para mahasiswa yang ingin menonton pertandingan, tak terkecuali Aurel, dia masih saja penasaran tentang Jovi.


"Berapa waktu yang diperlukan? Jangan terlalu lama, aku tidak mau membuang buang waktu berhargaku." Jovi kembali bertanya.


Alex tersenyum sinis. "Tidak lama, hanya 30 menit saja," jawabnya.


"Terlalu lama, 10 menit saja, aku pasti mengalahkanmu," protes Jovi.


"Gila. Apa dia pikir dia hebat, bisa mengalahkan Alex dalam waktu 10 menit, Jovi ini, apa dia tidak tau kemampuan Alex dalam bermain basket" ujar salah satu penonton yang juga mengenal Alex dan Jovi.


"Kau kenal mereka?" teman yang disampingnya bertanya


"Mereka teman SMA ku, Jovi ini dulu tidak pernah berani berurusan dengan Alex, tapi sekarang sepertinya nyalinya cukup besar. Entah apa yang mendorongnya sampai dia berani melawan Alex," jawab wanita itu sembari menyipitkan matanya menatap kearah Jovi


Temannya hanya menganggukkan kepala pelan, dan kembali memandang Jovi dan Alex.


Alex memandang kesamping tersenyum sinis, lalu menatap Jovi kembali, "Kau yakin dalam waktu 10 menit bisa mengalahkanku?" Alex menatap lekat ke Jovi.

__ADS_1


"Kau bisa melihatnya nanti, setelah pertandingan dimulai," Jawab Jovi dengan senyum datarnya.


__ADS_2