ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Semut dan gajah


__ADS_3

Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya mereka tersadar kembali dan terus memojokkan Jovi.


"Kau anak bodoh, apa yang kau lakukan pada kami barusan hah?" ujar Andre saat sadar dari lamunannya.


"Memangnya apa yang aku lakukan? Kau tidak lihat aku hanya berdiri tegak disini tanpa melakukan apa pun?"


"Oh, apa jangan jangan kau mau aku melakukan hal sama seperti yang kulakukan pada bos mu tadi?"


"Kau mau merasakannya juga? Atau aku ganti saja dengan air panas, bagaimana? Agar pertunjukkannya lebih seru," ujar Jovi, tersenyum mengejek.


"Heh, kenapa anak miskin ini terlalu percaya diri? Menyinggung tuan muda Alex tanpa merasa takut sedikitpun, apa jangan jangan dia tidak semiskin yang kita kira?" bisik temannya kesalah satu teman yang sedari tadi hanya berdiam saja.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin dia berani karena dia memiliki sedikit kemampuan saja, seperti tadi, aku rasa kenapa kita tidak bisa bergerak itu karena dia. Dan kalaupun dia tidak semiskin yang kita kira, lalu kenapa dia harus bekerja disini sebagai pelayan?" balas temannya dengan berbisik.


"Iya juga ya, jika dia kaya, tidak mungkin dia mau menjadi pelayan, menjalani hidup susah setiap hari," ujarnya lagi, temannya hanya mengangguk.


"Heh. Anak sialan, kuperingatkan kau untuk segera meminta maaf pada tuan muda Alex, atau kau akan didepak dari pekerjaanmu!" ujar Andre menggeram


"Dia masih belum cukup kuat untuk mendepak aku, aku pastikan kalianlah yang akan diusir dari sini tanpa hormat," Jovi menyeringai menatap mereka seperti lelucon. Alex tidak terima melihat Jovi yang merendahkannya.


"Hng. Lucu sekali kau ini, lalu kau pikir kau itu hebat? Apa dunia sudah terbalik? Bisa bisanya seorang babu merendahkan seorang bangsawan. Ku akui keberanianmu yang begitu tangguh, tapi kau harus ingat ini, keberanianmu itu tetap tak ada gunanya dihadapan seseorang yang memiliki kekuasaan,"


"Anggap saja aku menggantikan orang tuamu untuk mengajarimu tentang realita kehidupan," ujar Alex panjang kali lebar, sedangkan Jovi malah duduk tidak memperdulikan Alex yang sedari tadi mengoceh tanpa henti.

__ADS_1


Setelah Alex berhenti bicara Jovi memandangi Alex dengan tatapan mengejek.


"Apakah sudah cukup dialog nya? Seharusnya sudah ya, telingaku ini rasanya tidak bisa mendengar suaramu terlalu lama, dan lagi apa kau tidak menyadari sepanjang kau berbicara bau mulutmu itu sangat mengganggu, bahkan mungkin sudah tersebar dalam satu cafe ini," ujar Jovi yang tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang tersenyum mengejek.


Alex semakin marah dibuat oleh Jovi, wajahnya seketika menjadi merah padam, saat Alex ingin mengatakan sesuatu tiba tiba Jovi mengangkat tangannya pertanda agar Alex jangan mengeluarkan suara.


"Tunggu dulu, kau sedari tadi sudah mengoceh tanpa henti, sekarang giliran aku, kau diam saja dulu," Jovi memerintahkan Alex seperti sedang memerintahkan seorang anak kecil.


Anehnya, entah kenapa Alex malah menurut saja, lidahnya terasa kelu tak bisa mengeluarkan suara.


"Barusan rasanya aku mendengar kau mengucapkan kalau aku selamanya akan menjadi seekor semut yang siap diinjak oleh seekor gajah. Kau tau jika semut itu pintar meskipun dia kecil? Melainkan seekor gajah hanya mengandalkan kekuatan tapi tidak memakai otak dalam menyelesaikan masalah,"

__ADS_1


"Dan aku anggap itu adalah kau, besar tapi tak memiliki otak, terus apa gunanya? Kau cepat atau lambat akan kehilangan segalanya dengan sifat bodohmu itu,"


"Dan anggap saja aku menggantikan nenek moyangmu untuk mengajari kau apa artinya itu kekuatan dalam diri, tanpa mengandalkan bantuan dari luar," ujar Jovi dengan tatapan menghina.


__ADS_2