ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Berbohong


__ADS_3

Sesampainya Adit dirumah sakit dia segera menuju ruangan dimana Aurel dirawat. Saat itu Aurel telah sadar dari pingsannya. Saat Adit masuk, semua memandang kearah Adit.


"Nak Adit. Akhirnya kamu datang untuk melihat calon istrimu, berarti kamu telah setuju akan menikah dengan Aurel," ujar Bu Dina dengan tersenyum kepada Adit


"Rel. Kamu belum kasih tau tentang kita pada orang tua kamu?" ujar Adit heran, dan Aurel menggelengkan kepala


"Dan Om, Memangnya Papa gak nelfon Om selama dua minggu terakhir ini." Pak Doni menggeleng kebingungan


"Ada apa sih?" tanya Bu Dina penasaran


"Mah, Pah. Kita sudah membatalkan perjodohan ini, dan Om Johan juga sudah setuju," ujar Aurel dengan suara yang terdengar sangat lemah.

__ADS_1


"Ha ... Serius? Kapan? kenapa kita gak tau?" tanya Bu Dina terkejut


"Udah dari dua minggu yang lalu, kita gak saling mencintai, dan lagi kita masing masing udah punya pacar. Ya kan Dit," ujar Aurel sembari mengedipkan matanya pada Adit, pertanda agar Adit mendukung kebohongannya.


Adit segera mengerti hingga ia cepat menganggukkan kepalanya dan berkata "I-Iya. Iya Tante, Aurel benar, kita memang sudah memiliki pacar sebelumnya, jadi kita membatalkan perjodohan ini alasannya karena kita tidak mempunyai perasaan apapun," ucap Adit tergagap karena Aurel mengajaknya berbohong secara tiba tiba


"Benarkah kamu sudah memiliki pacar Aurel? Tapi siapa pacar kamu?" Bu Dina semakin penasaran dengan pacar Aurel. Karena setau dia Anaknya ini sangat sulit didekati oleh pria, bahkan dengan sahabatnya sendiri selalu saja beradu mulut.


Adit tersenyum senang melihat Aurel marah, karena itulah yang selalu mereka lakukan saat bertemu, senang membuat marah satu sama lain tetapi juga saling peduli. Aurel tiba tiba mengingat sosok Jovi, dan tersirat perasaan ingin membawa Jovi untuk berbohong bersama sama.


"Aurel," panggil Ibunya membuat Aurel tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"I-Iya Mah. Mmm ... Pacar Aurel adalah pemuda yang menolong Aurel tadi, namanya Jovi," kata Aurel sedikit tergagap. Dia ingat dengan jelas kalau yang menolongnya adalah Jovi.


dia sedikit merubah pandangannya pada Jovi, menurutnya Jovi bukanlah laki-laki yang tak berperasaan seperti yang dia pikirkan, melainkan Jovi sangat memiliki sifat peduli dalam dirinya.


"Oh. Pemuda yang menolong kamu itu. Dia sangat tampan dan juga sangat sopan, Mama setuju jika kamu bersama dengan dia, dia adalah menantu idaman Mama," ujar bu Dina kegirangan


"Iya, kakak itu sangat tampan, aku juga setuju kalau dia bersama kakak." Adiknya yang sedari tadi hanya berdiam, tiba tiba bersuara dan tersenyum lebar


Aurel merasa lega melihat Ibunya percaya dengan omongannya. Dan tiba tiba kepala Aurel terasa begitu sakit hingga dia merintih dengan memegang kepalanya, semua yang ada didalam ruangan dibuat panik tak terkecuali Adit. Adit segera memencet tombol pemanggil yang ada disamping tempat tidur Aurel, belum sempat dokter datang Aurel sudah pingsan duluan, membuat Ibunya semakin panik, takut terjadi apa-apa pada Anaknya.


Beberapa saat Dokter datang dengan diikuti dengan seorang suster. Dokter pun memeriksa keadaan Aurel, setelah beberapa saat Dokter mengatakan "Jangan membuat dia berpikir terlalu keras dulu, karena kepalanya terbentur cukup keras, itu akan berpengaruh pada otaknya," ujar Dokter memperingati.

__ADS_1


__ADS_2