ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Menghampiri Mawar


__ADS_3

Jovi dibuat pusing saat memikirkan kejadian yang menimpanya.


Disaat kelas akan dimulai mahasiswa masuk satu persatu, Jovi yang terakhir masuk keruangan, Jovi melirik sekilas kearah Mawar dengan pandangan dingin, saat tatapan mereka bertemu, wajah Mawar merah karena malu sekaligus takut, dia rasanya tidak ingin lagi menampakkan dirinya dihadapan Jovi.


Namun entah kenapa dia bisa senekat itu, dia benar benar tidak bisa menahan dirinya, dan bahkan itu adalah ciuman pertamanya, namun dia tidak merasa menyesal sedikit pun, malah sebaliknya dia merasa sangat senang, bisa merasakan bibir seorang pria yang dia sukai.


Ya Tuhan, bibirnya kenapa begitu manis dan lembut, aku tidak menyesal memberikan ciuman pertamaku padanya, membayangkannya saja, aku merasa begitu bahagia, seakan jiwaku ini sudah tidak berada ditempatnya lagi. Tetapi, apakah setelah ini aku masih bisa mendekatinya? Ah, dia pasti marah dengan kelancanganku tadi, itu terlihat jelas dari tatapan dinginnya padaku. Batin Mawar.


Jovi sekali lagi melirik kearah Mawar, terlihat Mawar yang sedang senyum senyum sendiri, Jovi mengerutkan keningnya, pikirannya menjadi kacau tak karuan.


Apa yang ada didalam pikiran wanita itu, bisa bisanya dia melakukan hal aneh padaku, ini adalah ciuman pertamaku, aku tidak pernah memberikan pada siapapun, bahkan pada Lissa, pacarku dulu semasa SMA. Dan sekarang, malah diambil oleh wanita yang tidak aku kenal sama sekali, lebih parahnya aku tidak sempat untuk menghindar. Apa aku masih seorang lelaki sejati? Dikalahkan oleh seorang perempuan, benar benar memalukan. Benak Jovi.


Saat Jovi sadar dari lamunannya, wajah Adit terpampang jelas didepan wajahnya, seketika dia reflek memukul wajah Adit karena terkejut.


Plaakkk


Adit mengaduh sambil menutupi wajahnya, terutama hidungnya, serasa tulang hidungnya retak dipukul oleh Jovi.


"Apa kau sudah tidak waras? Kau memukul wajahku, ini sangat sakit, terlebih hidungku ini, jika aku menjadi pesek bagaimana? Tidak akan ada lagi wanita yang mau denganku jika aku pesek," ujar Adit sambil memegangi hidungnya.


"Salahmu sendiri, kenapa wajahmu itu berada begitu dekat dengan wajahku, membuat orang terkejut saja," ujar Jovi.


"Tetapi tidak perlu harus memukul juga, kau lihat hidungku, mungkin tulangnya sudah retak," ujar Adit kesal.


"Oke. Maaf, maaf. Aku tidak sengaja, orang terkejut tidak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri," ujar Jovi tersenyum.


"Kau itu kenapa sih? Sejak masuk kesini dari tadi kuperhatikan kau terus saja melamun, ada apa?" tanya Adit penasaran.


"Bukan apa apa, lupakan saja," Jovi menjawab dengan malas.


"Benarkah? Lalu kenapa wajahmu merah begitu? Jangan bilang kau sedang jatuh cinta pada seseorang,"


"Astaga ... Kau bisa jatuh cinta juga? kulihat dari kepribadianmu ini, kau sangat tidak cocok mencintai seseorang," ledek Adit.

__ADS_1


"Kau ini sedang bicara apa sih? Siapa yang sedang jatuh cinta? aku hanya mengantuk saja," ujar Jovi ketus.


"Oh, Ya? Kulihat matamu tidak mengantuk sama sekali, tadi terlihat jelas, kau sedang melamun, lihatlah wajahmu itu, sudah merah seperti tomat matang," Adit terus saja meledek Jovi.


"Kau ini berisik sekali, aku malas berbicara denganmu," ujar Jovi malas.


"Sangat tidak asik kau ini," Adit menghela nafas kasar, dan membalikkan badannya menghadap kedepan.


Tiba tiba seorang pria masuk dengan nafas terengah engah, membungkuk memegangi lututnya saat tiba didepan pintu.


"Hah. Untung belum terlambat," ujar si pria dengan mengangkat badannya kembali berdiri.


Setelah mengatur nafas, ia masuk dengan langkah santai mencari tempat kosong, tiba tiba pandangannya tertuju pada Adit yang sedang menunduk memainkan ponselnya, meski Adit menunduk dia tetap bisa mengenalinya.


"Yoo. Adit? Kau kuliah disini juga?" teriaknya pada Adit.


Adit seketika mengangkat kepalanya saat mendengar ada orang yang menyebut namanya, saat melihat si pria itu, Adit seketika berdiri.


"Roni? How are you? Kau juga kuliah disini?" teriak Adit merasa gembira.


"Sekalipun tidak bertemu dalam waktu yang lama, tidak seharusnya berjingkrak jingkrak seperti itu, kekanakan sekali," ujar seseorang yang melihat tingkah kocak mereka berdua.


Roni adalah sahabat dekatnya saat masih SMP hingga kelas satu SMA, begitupula dengan Aurel, mereka bertiga adalah sahabat sejak dulu, namun karena ayahnya Roni pindah kerja diluar kota akhirnya dia ikut pindah, selama dua tahun lebih, mereka tidak saling bertemu, bahkan sekedar menghubungi lewat ponsel saja tidak sama sekali.


"Ya. Aku baik, kau sendiri bagaimana?" ujar Roni dengan tersenyum lebar, sembari melepaskan pelukan mereka yang begitu erat.


"Bagaimana bisa kau kuliah disini? Apa ayahmu pindah ke jakarta lagi?" tanya Adit penasaran.


"Tidak, mereka masih diluar kota, aku sengaja kuliah dijakarta, walau bagaimanapun aku rindu dengan kota Jakarta yang juga merupakan kota kelahiranku," ujar Roni.


Roni melihat ada tempat kosong yang bersebelahan dengan Adit, dia segera duduk disana.


"Eh, ngomong ngomong, Aurel bagaimana kabarnya? Dan dia kuliah dimana?" Tanya Roni.

__ADS_1


"Dia kuliah disini juga, tetapi sikapnya menjadi semakin ganas, siap siap saja kau kena batunya saat dia sedang marah, orang yang dibelakangku ini saja sampai babak belur dibuatnya" ujar Adit tertawa sambil menunjuk kebelakang, dimana Jovi berada.


"Oh, iya. Kenalin dia Jovi, sahabatku juga, kontrakan kami bersebelahan," ujar Adit.


"Hallo. Aku Roni," ujar Roni memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Bisa terlihat dari sikapnya, kalau dia orang yang ramah dan juga suka melawak.


"Aku Jovi." Jovi pun membalas uluran tangan Roni.


"Oh, iya. Kau tinggal dikontrakan Dit?" tanya Roni dan dibalas anggukkan oleh Adit.


"Tapi kenapa? Bukannya kau dulu suka pamer kekayaan, sekarang kenapa malah tinggal dikontrakan?" ujar Roni yang meledek.


"Ceritanya panjang, waktu yang tersisa sekarang tidak akan cukup untuk menceritakannya," kata Adit, lalu dia pun tertawa.


Kelas dimulai seperti biasanya, setelah Dosen selesai memberikan materi pada mahasiswa, semuanya ikut bubar satu persatu.


"Kalian pergilah duluan, nanti aku akan menyusul," ujar Jovi pada kedua temannya dan diangguki oleh mereka.


Kebetulan Mawar juga tampaknya belum keluar, karena dia sibuk membereskan buku bukunya yang berserakan dilantai karena tidak sengaja dia senggol.


Jovi berjalan kearah Mawar yang sedang berjongkok dilantai, saat itu Mawar mengira sudah tidak ada lagi orang didalam ruangan, setelah melihat sepasang kaki yang memakai sepatu berada dihadapannya dia sedikit penasaran, siapa yang ada di hadapannya.


Dia mengangkat kepalanya melihat keatas, dan ternyata itu Jovi, hatinya kembali berdegup kencang melihat Jovi, membuat dia sulit untuk bernafas ditambah wajahnya yang sudah memerah.


Mawar segera berdiri, dan mengangkat buku bukunya yang barusan dia bereskan, tangannya berkeringat dingin memeluk buku bukunya.


Jovi memasang wajah dingin dan melangkah, selangkah demi selangkah membuat Mawar pun ikut mundur karena tidak berani melihat wajah Jovi yang dipenuhi aura dingin.


Kira kira apa yang akan terjadi pada mereka berdua?


tunggu kelanjutannya ya!!


Selalu dukung author!!

__ADS_1


Terimakasih 😘


__ADS_2