
Sebulan setelah kepergian Aurel. Aktivitas Jovi berjalan sebagaimana biasanya, ia lebih sering menghabiskan waktu diperusahaan. Bekerja, dan terus bekerja hingga tak kenal waktu, bahkan terkadang ia sering bermalam diperusahaan.
"Apa ini? Aku tak suka melihat laporan yang seperti ini! Lebih baik angkat kakimu pergi dari perusahaan, jangan mencoba untuk kembali!" tegas Jovi sembari melempar sebuah dokumen kearah lelaki dihadapannya.
Hati Jovi saat ini sudah sangat membeku, semua karyawan yang membuat kesalahan sekecil apapun itu, langsung ia pecat detik itu juga.
Ia selalu saja memarahi setiap orang yang berani membuat kecerobohan didepan matanya, mungkin itu juga salah satu cara agar dapat melupakan Aurel secepat mungkin, dan tidak terus terusan mengingatnya.
Disisi lain, Mawar yang kini berprofesi sebagai Dokter Bedah, merasa kepalanya tiba tiba teramat pusing, ia tidak jadi melakukan operasi pada pasiennya akibat sakit kepala itu.
Mawar memutuskan pulang dengan mengambil cuti kerja untuk beberapa hari sampai ia benar benar sehat.
"Apa?" Dengan sedikit berteriak
Mawar melotot tak percaya melihat benda kecil dihadapannya, yang merupakan sebuah alat tes, dan itu menunjukkan garis dua yang bararti ia benar benar sedang hamil akibat ketidak sengajaan yang telah ia lakukan bersama Roni.
"Apa ini? Kenapa kejadian dulu malah membuahkan kecebong? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin bisa menutupi kehamilanku yang akan semakin membesar nantinya." Mawar mengerjapkan matanya beberapa kali, masih tak percaya dengan hasilnya.
"Tidak. Ini tidak boleh aku biarkan. Aku harus melabrak Roni sialan itu untuk bertanggung jawab, ini semua karena dia yang menanam kecebong diperutku." Dengan wajah yang begitu sungguh sungguh, dia keluar dari kamar mandi mengambil tasnya untuk menemui Roni.
Braakkk
Suara debaman pintu yang dibuka keras membuat Roni menoleh kaget.
"Mawar?" Alis Roni berkerut melihat Mawar telah berdiri diambang pintu.
Dengan menghentakkan kaki begitu kuat, Mawar berjalan menuju Sofa, ia menghempaskan tubuhnya begitu kesal.
"Ada apa denganmu?" Roni melangkah menghampiri Mawar.
"Ini, kamu lihat!" Sambil menyodorkan hasil test diatas meja.
Roni mendekatkan pandangannya ke alat test itu.
"Apa ini?" Sambil meraihnya.
"Jangan berpura pura tidak tahu!" ketus Mawar.
"Aku memang tidak tahu! Ini apa? Ini pertama kalinya aku melihat benda seperti ini!" Roni menggaruk kepalanya kebingungan.
"Bohong." Mawar menyipitkan matanya sebal.
__ADS_1
"Bohong apanya? Aku memang tidak kenal dengan benda ini!" Sembari meletakkan kembali alat testnya.
"Oh, iya. Aku ingin meminta maaf padamu soal yang terjadi kemarin, aku tidak sengaja membentakmu." Roni menatap lekat pada Mawar.
"Tidak masalah." Mawar memalingkan wajahnya malu.
"Apa itu artinya kamu memaafkanku?" Mata Roni seketika berbinar.
"Ya begitulah." Mawar menjawab seadanya. Roni malah tersenyum senang.
"Jadi ... Bolehkah kamu memberitahuku apa maksud dari benda ini!?" ujar Roni sambil kembali menunjuk alat test itu.
"Kamu benar benar tidak tahu itu apa?" Mawar mengangkat alisnya tak percaya. Roni hanya mengangkat bahu sambil menggeleng polos.
Mawar menggaruk kepalanya. Bagaimana dia harus memberitahukannya? Dia sendiri juga malu untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Kenapa kamu tampak linglung begitu?" Roni mendekatkan wajahnya kemawar.
"Itu alat test kehamilan." Dengan begitu cepat menjawab sambil memejamkan mata, malu.
"Hah?" Roni melongo seperti orang bodoh.
Mawar sama sekali tak menjawab, ia terlalu malu untuk mengakuinya.
Roni menggaruk kepalanya tersenyum bingung.
"Aku akan bertanggung jawab! Aku akan menikahimu!" Roni berkata tanpa ragu.
"Kau serius dengan ucapanmu?" Mawar melirik tajam pada Roni. Roni mengangguk serius.
Sejenak mereka sama sama membisu tanpa ada suara sedikitpun.
"Bagaimana jika menikah besok?" Tiba tiba Roni kembali bersuara.
"Kamu tidak berniat memberikan aku sebuah pesta?" Wajah Mawar seketika menciut.
"Kamu mau dibuatkan pesta?"
"Entahlah." Bagaimana mungkin Roni sebegitu tidak pekanya terhadap wanita?
"Baiklah. Kita akan mengadakan sebuah pesta yang besar besaran, dan itu gampang jika ada uang, semua bisa diurus dari sekarang. Kamu tenang saja, aku akan memberi perintah pada antek antekku untuk mengurus semua keperluan pesta kita." jelas Roni tanpa ada keraguan sedikitpun.
__ADS_1
"Baiklah. Uruslah sendiri! Aku pulang dulu." Saat Mawar mulai melangkah, Roni segera menangkap pergelangan tangan Mawar hingga Mawar menubruk tubuh Roni, dan berada dalam dekapannya.
Mawar terbelalak saat bibirnya hampir menyatu dibibir Roni, sedangkan Roni tampak menatap lekat padanya, tidak tahu apa yang dipikirkannya sekarang.
Mawar segera mendorong tubuh Roni sekuat mungkin, dan dekapan itu pun terlepas.
"A-Apa yang kau lakukan?" Mawar memalingkan wajahnya begitu malu.
Roni hanya diam saja, tetapi tangannya kembali meraih pinggang Mawar hingga Mawar kembali dalam dekapannya.
Mereka bertatapan cukup lama, hingga Roni berkata, "Apa kamu mencintaiku walau sedikit saja?" kata katanya sukses membuat wajah Mawar memerah. Mawar ingin melepaskan dirinya, namun tangan Roni begitu kokoh mendekap tubuhnya, ia terpaksa hanya bisa berpaling muka menghindari tatapan Roni.
"Tolong jawab aku," ucap Roni lirih.
"A-Aku tidak tahu." Mawar benar benar gelagapan menjawab pertanyaan Roni.
"Ayolah. Aku butuh kepastian. Kamu tidak kasihan pada anak didalam perutmu itu jika mengetahui ibunya tidak mencintai ayahnya?" kata katanya terhenti sejenak
"Apa boleh aku jujur?" Roni menatap wajah Mawar yang sedari tadi terus berpaling darinya. Mawar sama sekali tak menjawab apapun, ia tetap diam, dan mengunci rapat mulutnya itu.
"Aku mencintaimu!" Mawar seketika menggerakkan lehernya kembali menatap Roni terkejut.
"A-Apa yang kamu katakan?" Wajah Mawar semakin merah akibat ucapan Roni.
"Ya. Aku mencintaimu! Sebelum kita menikah, izinkan ruangan ini menjadi saksi bahwa detik ini juga aku melamarmu. Mawar ... maukah kamu membina rumah tangga bersamaku? Siapkah kamu menjadi jantung dari rumah tangga kita, dan biarkan aku menjadi ruhnya, sebagai kepala keluarga yang akan menjadi panutan untuk kamu dan anak anak kita." sebuah kalimat langka dalam hidup Mawar, yang membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata, entah itu air mata apa? Dia sendiri sulit untuk mengartikannya.
"Kamu serius dengan ucapanmu?" Bibir Mawar sedikit bergetar menahan air matanya.
"Kenapa menangis? Apa kata kataku membuatmu sedih?"
Mawar hanya menggeleng pelan.
"Tapi aku wanita yang memiliki begitu banyak kekurangan. Apa kamu masih bersedia menerimaku?" Tanpa berkata apapun, Roni langsung mendaratkan bibirnya tapat pada bibir Mawar.
"Itu adalah jawaban bahwa aku menerimamu sekaligus memberikan tanda bahwa sekarang kamu adalah milikku." Roni tersenyum hangat pada Mawar, dan Mawar membalasnya dengan pelukan hangat dan lembut.
Mawar merasa benar benar bahagia, meskipun Roni bukanlah lelaki pertama yang ia cintai, tetapi dia berharap bahwa Roni akan menjadi lelaki terakhir dalam hidupnya.
Setelahnya, Roni pun mengantar Mawar pulang kerumah, ia tidak ingin Mawar kelelahan karena sekarang Mawar sedang membawa anak didalam perutnya.
Semua teman temannya dibuat terkejut oleh berita yang dikabarkan oleh Roni, tak terkecuali Adit dan Jovi.
__ADS_1