ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Tak Tertolong


__ADS_3

"Jim. Apa yang kau tunggu? Cepat bawa Jovi ke rumah sakit." Aurel segera menoleh ke arah Jimmy, dan Jimmy segera menghampiri Jovi.


Jimmy memeriksa denyut nadi Jovi begitu lama, tetapi dia sama sekali tak merasakan apapun.


"Nyonya. Nadi Tuan muda tidak berdenyut lagi." Wajah Jimmy ikut pucat setelah memeriksa Jovi.


"Jimmy. Berani kau mengatakan itu maka aku akan membunuhmu! Jangan banyak bicara, cepat bawa dia ke rumah sakit." Tatapan mata Aurel tampak begitu mengerikan, Jimmy tak berani membantahnya.


"B-Baik Nyonya." Jimmy menggendong Jovi di punggungnya, dan segera melarikan Jovi ke rumah sakit.


Melihat keadaan Jovi, Jimmy tidak bisa tak memberitahu keluarga tuan mudanya itu.


Saat Jimmy menelpon, dia bahkan di bentak habis-habisan oleh Tuan Bram, sedangkan ibunya meraung histeris mendapat kabar buruk tentang anaknya, mereka segera melakukan penerbangan ke Autralia detik itu juga.


Tiba di rumah sakit, Jovi segera dilarikan ke ruang operasi, karena saat di periksa, jantungnya masih berdenyut meskipun begitu lemah.


"Kau. Lihat! Dokter bahkan mengatakan bahwa dia masih hidup, kau berani sekali mengatakan dia telah mati," bentak Aurel.


"M-Maafkan saya Nyonya." Jimmy tertunduk bersalah.


Aurel seketika masih memiliki sedikit harapan, ia berharap Jovi bisa melewati semua ini, dan kembali bersamanya.


"Kenapa Dokter lama sekali?" Jimmy dari tadi selalu mondar mandir tak karuan, pikirannya begitu kacau.


Aurel saat ini, bahkan untuk berdiri saja dia tidak mampu, lututnya terasa begitu lemah menghadapi kenyataan. Semua perlakuan buruknya terhadap Jovi benar-benar membuatnya begitu menyesal.


Sekarang dia baru sadar bahwa Jovi benar-benar mencintainya, bahkan Jovi mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menyelamatkannya, sebenarnya Jovi bisa saja mengabaikan Aurel, karena Aurel pergi atas kemauannya sendiri, tetapi Jovi tak perduli akan hal itu, Aurel adalah segalanya bagi dia, terkadang mungkin perasaannya selalu disalah artikan oleh Aurel.


"Bagaimana Dok?" Jimmy segera menghampiri, setelah dokter keluar, begitu pun dengan Aurel.


Dokter menggeleng pelan, raut kekecewaan terpahat di wajahnya.


"Apa maksud Anda menggeleng seperti itu Dokter?" Mata Aurel kembali berkaca-kaca.


"Keadaannya begitu kritis, kemungkinan hidup hanya lima persen, saya hampir angkat tangan. Lukanya begitu parah, terlebih itu terluka untuk yang kedua kalinya, saya tidak berani menjamin tentang hidupnya, hanya bisa mengharap ada keajaiban yang akan menyembuhkannya." Dokter tampak begitu putus asa, dia langsung meninggalkan Aurel dan Jimmy begitu saja.

__ADS_1


Bibir Aurel seketika bergetar, nafasnya tak beraturan, dadanya terasa penuh dengan kesesakan. Aurel terduduk, tak dapat berdiri dengan seimbang, bahkan tangisnya tak dapat mengeluarkan suara, begitu sakit dan perih.


Aurel saat ini hanya bisa memandangi Jovi dari kejauhan, keadaannya saat ini tidak memungkinkan untuk di kunjungi. Semua alat bantu terpasang di seluruh tubuhnya.


"Aku mohon, bertahanlah. Jangan tinggalkan aku sendiri, aku berjanji tidak akan melukai perasaanmu lagi, aku tidak akan pergi dari sisimu, asal kamu mau kembali." ujar Aurel sambil menatap Jovi dari arah luar.


"Jim. Dia akan sembuh kan?" Jimmy segera menoleh, dia merasa kasihan melihat Aurel.


"Tuan muda pasti akan bangun, dia bukan orang lemah, dia ingin kita menunggu. Setidaknya, mungkin dia ingin memberikan kejutan pada kita semua." Jimmy tersenyum kecil berusaha meyakinkan Aurel, meski dia sendiri tidak yakin dengan ucapannya itu.


Di malam hari.


Orang tua Jovi, beserta keluarga yang lain tiba di rumah sakit, semua tampak berwajah panik dan cemas.


"Tuan besar." Jimmy menunduk menyapa Tuan Bram.


"Bagaimana keadaan Jovi?" tanya Tuan Bram.


"Masih kritis Tuan, kita belum di perbolehkan untuk masuk ke dalam." Jimmy sedikit gemetar menjawab pertanyaan Tuan Bram, takut amarahnya akan di lampiaskan pada dirinya.


"Emm ... itu salah saya Bu. Saya yang menyebabkan Jovi jadi seperti ini. Maafkan saya." Aurel berjalan mendekat sambil menundukkan kepala.


"Kamu siapa?" Bu Riana menatap Aurel menyelidiki.


Aurel menoleh pada Jimmy, ragu ingin memberitahukan kalau dia istri Jovi.


"Emm. Dia istrinya Tuan muda Nyonya." jawab Jimmy.


"Jadi Jovi benar-benar sudah memiliki istri? Kenapa dia tidak bilang? Dan lagi, kamu malah membuatnya jadi seperti itu, apa pantas kamu disebut sebagai seorang istri?" Bu Riana menatap tajam pada Aurel.


"Sudahlah Ma. Jangan salahkan dia, dia mungkin tidak sengaja." Tuan Bram berusaha mencegah istrinya agar tidak membuat keributan.


"Apanya yang sudah? Lepaskan aku." Bu Riana menepis tangan suaminya.


"Sekarang aku tanya padamu, kenapa Jovi bisa terluka di negara ini? Bukankah kemarin dia masih berada di tanah air, kenapa tiba-tiba dia di sini dan terluka?" wajah Bu Riana tampak datar menatap Aurel, Aurel sendiri tidak berani menatap balik, satu kata pun dia tidak berani menjawab.

__ADS_1


"Jawab. Jangan diam saja!" Bu Riana mulai meninggikan suaranya membentak Aurel.


Tiba-tiba dokter datang untuk mengecek keadaan Jovi.


"Dokter. Apa bisa saya ikut ke dalam untuk melihatnya?" Paman Ghani menghentikan Dokter untuk masuk.


"Tuan Ghani. Benarkah ini Anda? Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan Anda di sini." Dokter membungkukkan badan hormat, dia termasuk pengagum Tuan Ghani dengan keahlian obat-obatan dan seni bela dirinya.


"Silahkan Tuan. Mungkin dengan adanya Anda, bisa membantu pasien untuk lebih baik." Dokter mempersilahkan Tuan Ghani.


Saat mereka baru saja masuk, tiba tiba monitoring yang mendeteksi detak jantung Jovi seketika membentuk garis lurus, menyatakan bahwa jantungnya mulai berhenti berdetak. Semuanya di buat panik.


Dokter segera meminta perawat menyiapkan defibrilator.


Saat defibrilator tersedia, segera dokter menempelkannya pada dada Jovi untuk merangsang otot-otot jantung agar bisa kembali normal.


Mereka yang berada di luar, menunggu dengan harap cemas, mereka tidak bisa melihat keadaan Jovi karena semua tertutup rapat, bahkan celah yang dipakai untuk Aurel melihat Jovi, kini juga tertutup.


Tidak lama kemudian, dokter keluar dengan di susul oleh Tuan Ghani.


"Bagaimana keadaan anak saya Dokter?" Bu Riana dengan sigap menghampiri Dokter dengan perasaan yang tak menentu.


"Maaf Bu. Saya sudah berusaha dengan semaksimal mungkin, tapi ... " Dokter menghentikan kata-katanya, membuat semua orang menunggu dengan perasaan yang berdebar.


"Nyawanya tak tertolong." Sorot mata Dokter terlihat menyesal.


"Apa yang kau katakan Dokter? Dasar pembohong, aku tidak akan percaya dengan ucapanmu." Bu Riana menunjuk nunjuk kearah dokter bahkan sampai menendangnya dengan kuat.


Tuan Bram segera memeluk istrinya agar berhenti menyakiti dokter itu.


"Tidak. Lepaskan aku! Aku akan membunuh siapapun yang berani mengatakan bahwa anakku sudah mati." Bu Riana mengamuk dengan ganasnya, tak perduli dia sedang berada di mana, dalam pikirannya hanya ingin menyakiti orang.


Ikuti aja alurnya Guys. jangan ngegas.


Salam damai dari Author 😁

__ADS_1


__ADS_2