
Mawar terus saja mundur hingga punggungnya bersandar pada dinding, dia menunduk memejamkan matanya.
Sedangkan Jovi kini berada begitu dekat dengan Mawar, hanya berjarak satu jengkal tangan saja, Jovi menempelkan tangan kirinya di dinding, dan menatap Mawar tanpa bersuara.
"Angkat kepalamu!" seru Jovi.
Mawar dengan ragu ragu mengangkat kepalanya, setelah melihat Jovi yang begitu dekat dengannya, dia begitu kaget.
"Kenapa? Malu? Kenapa harus malu? Bukankah kita sudah pernah lebih dekat dari sekarang ini? bahkan tidak ada jarak sekalipun, dan itu juga kau sendiri yang berinisiatif, jadi tidak perlu pura pura malu atau berpura pura polos didepanku," Jovi tersenyum sinis.
"Kenapa tidak berbicara? Apa Kau bisu?" ujar Jovi dengan nada dingin. Mawar kembali menundukkan kepalanya.
Melihat Mawar yang terus saja menunduk, Jovi seketika mengangkat dagu Mawar dengan jari telunjuknya, Mawar mengangkat kepalanya hingga mereka saling menatap satu sama lain.
Mawar meremas buku yang dia peluk dengan kuat, jari jemarinya sudah berkeringat dingin karena jarak Jovi yang begitu dekatnya. Terlihat wajah Jovi yang tersenyum penuh maksud, yang tidak diketahui oleh Mawar.
"Wajah ini sebenarnya cantik, bola mata yang besar, pipi yang sangat mulus, bibir yang merah merekah nan seksi, hidung mancung, bulu mata lentik, kulit yang begitu halus, rambut yang begitu lembut, dan juga gigi yang tersusun rapi," ujar Jovi datar dengan menatap lekat kewajah Mawar.
Astaga, apa yang dia katakan? Apa dia sedang meneliti orang? Tapi kenapa harus menyebutkan soal gigi segala, aneh sekali. Batin Mawar.
"Tapi ... Kenapa harus dibuat jelek seperti ini? Membuat jerawat palsu, hidung dibuat pesek, bibir dirubah menjadi coklat, wajah dibuat seperti warna sawo matang, mata yang tidak minus dipakaikan kacamata yang seakan akan seperti orang yang memiliki penyakit mata," Kata kata Jovi terhenti sejenak.
What? Kenapa orang ini bisa tau sampai sedetail ini? Apa dia seorang paranormal? Batin Mawar.
Beberapa detik Jovi melanjutkan kembali ucapannya.
"Kau berusaha menutupi jati dirimu, semua ini untuk apa? Semua orang mungkin akan mengira kau itu seperti angsa yang buruk rupa, tapi kau tidak tau, ada orang yang bisa langsung mengetahui penyamaranmu, yaitu aku," ujar Jovi sinis. Jangan bicarakan soal penyamaran dihadapan Jovi bahkan dia mungkin adalah Raja dalam menyamar.
"A- Apa yang kamu katakan? Aku tidak menyamar, memang wajah dan penampilanku seperti ini, tidak ada yang aku rubah," ujar Mawar tergagap. Jovi kembali tersenyum.
"Apa kau butuh bantuanku untuk menghapus semua noda yang melengket diwajahmu?" ujar Jovi dengan nada meledek.
__ADS_1
Mawar panik, ia ingin melarikan diri lewat sisi kanan Jovi, tapi tiba tiba Jovi kembali melekatkan tangan kanannya kedinding, hingga kini Mawar berada ditengah tengah kedua tangan Jovi, Jovi mendekatkan wajahnya ke Mawar, Mawar seketika menutup matanya terkejut.
"Kau kenapa? Apa kau pikir aku akan mencium mu? Hng. Tenang saja, aku tidak seliar dirimu," Ledek Jovi.
Hah? Dia mengatakan aku liar? yang benar saja? tetapi tidak salah juga sih, aku yang tiba tiba menciumnya ditoilet, bagaimana mungkin dia akan berfikir hal baik tentang aku. Batin Mawar.
"Sebenarnya kamu ini siapa? Kenapa bisa dengan jelas mengetahui wajah palsuku ini?" Tanya Mawar penasaran sekaligus heran.
"Aku bukan siapa siapa, aku hanya lelaki biasa yang kebetulan jadi pelampiasan hasratmu itu," ujar Jovi dingin.
Hasrat? Hasrat apanya yang dia maksud ini? Batin Mawar.
Mawar segera menepis semua pikiran buruknya, mencoba kembali tenang.
"Hmm. Tuan tampan, bisakah kau melepaskan aku saja kali ini," ujar Mawar dengan memasang wajah kasihan.
"Kau mau menjilatku dengan cara memanggilku seperti itu? Hng. Kau pikir aku akan luluh? Melepaskanmu setelah kau melecehkan aku, kau pikir aku adalah seseorang yang baik hati?" ujar Jovi sinis.
"Tidak, tidak. Aku tidak sedang menjilat, aku mengatakan yang sebenarnya," Mawar dengan cepat menggelengkan kepala, membantah perkataan Jovi.
Ha? Bisa bisanya dia berpikiran seperti itu terhadapku, aku mengakui bahwa aku memang sangat lancang menciumnya, tetapi ini benar benar adalah ciuman pertamaku, hanya dia yang pertama aku cium, tidak ada yang lain, tapi kenapa dia sampai menganggapku seperti wanita yang rendahan? Batin Mawar yang merasa kecewa.
"Aku tebak kau pasti sengaja kan menungguku di toilet pria, lalu melakukan aksi bejatmu itu?" ujar Jovi sinis.
"Toilet pria?" Mawar kebingungan.
"Jangan pura pura tidak tahu, kau pasti sengaja melakukan itu, tetapi, aku salut padamu, kau bisa tau aku akan pergi ke toilet, dan kau menunggu aku disana, rencana yang sangat mulus hingga aku pun ikut terjerat," Jovi tak berhenti memojokkan Mawar.
"Tidak, tolong jangan salah paham padaku, aku sama sekali tidak merencanakan apapun, aku juga tidak tahu jika kamu akan pergi ketoilet, aku sendiri tidak sadar kalau ternyata aku memasuki toilet pria, semua ini hanya kebetulan saja." Mawar dengan cepat menjelaskan yang sebenarnya.
"Oh, Ya? Lalu apakah kau juga akan mengatakan jika kau menciumku juga karena kebetulan? Apa kau pikir aku lelaki polos yang tidak mengetahui apa apa? Hng. Benar benar tidak masuk akal." Jovi menyeringai menatap Mawar, membuat Mawar sedikit takut.
__ADS_1
Sebenarnya Jovi tidak benar benar serius memarahi Mawar, karena dia tipe lelaki yang tidak suka menggertak wanita, apalagi jika hanya masalah yang sepele, biasanya dia selalu mengalah jika itu demi kebaikan, kali ini dia hanya ingin bermain main dan mengerjai Mawar, ingin sekali melihat wajah takut wanita yang begitu berani menciumnya secara tiba tiba.
"Tidak, kecuali yang satu itu, aku akui aku memang sengaja melakukannya, maafkan aku atas ketidak nyamanan mu, aku berjanji tidak akan mengulangi perlakuan lancangku ini," ujar Mawar yang meminta maaf.
Melihat wajah Mawar yang terlihat ketakutan, Jovi tersenyum merasa menang.
Ternyata bisa takut juga anak ini, lalu kenapa dia sangat berani mencium orang? Rasakan balasannya. Batin Jovi sembari tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum dan tidak menjawab permintaan maafku? Oh, aku mengerti, kamu sudah memaafkan aku kan, dan tidak mempermasalahkannya lagi, sudah aku tebak kamu orang yang sangat baik hati. Terima kasih ya!" ujar Mawar sembari tersenyum lebar merasa senang.
"Siapa yang bilang aku memaafkan mu? Kau sudah sangat lancang, dan hanya bisa meminta maaf begitu saja? Kau sudah sangat merugikan aku, kau tahu itu?" Jovi kembali menampakkan wajah dinginnya.
"Lalu aku harus bagaimana? Agar kamu mau memaafkanku," tanya Mawar.
"Tidak ada kata maaf untuk wanita sepertimu," ujar Jovi dingin.
Wanita sepertiku? Maksud dia apa? Batin Mawar.
Mawar merasa sedih karena Jovi berpikir hal yang tidak baik tentang dirinya, tanpa sadar air matanya keluar, seketika dia menunduk, buku bukunya terlepas dari pelukannya dan kembali jatuh kelantai.
Jovi tidak menyangka akan membuat seorang wanita menangis, dia benar benar tidak bermaksud seperti itu.
Tiba tiba Aurel masuk keruangan, ia melihat Jovi dan seorang wanita, dia menghentikan langkahnya. menatap kearah mereka berdua.
Apa yang akan Aurel lakukan pada Jovi?
Ada yang penasaran?
Tunggu kelanjutannya ya!!
salam sayang dari Author. 😘
__ADS_1
jangan lupa like komen dan vote nya ya!!
Terimakasih 😊