
****
Sesampainya Jovi dan Adit dikampus, semua mata tertuju pada mereka berdua, karena suara motor Jovi yang sangat keras. Saat Jovi memarkir motornya, tiga pria menghampiri mereka, mereka adalah Andre dan teman temannya
"Woy anak miskin, tidak bisakah kau memarkir motormu diluar kampus saja, suara motormu itu sangat mengganggu, dan lagi kau membawa motor jelek dan kotor ini masuk kedalam kampus yang begitu elit ini, sungguh sangat merusak citra kampus," ujar Andre sambil berjalan menuju kearah Jovi.
"Dan aku heran, kenapa anak miskin seperti kamu ini bisa masuk kuliah dikampus elit ini. Oh, apa jangan jangan kamu memanfaatkan tuan muda Adit untuk membiayai kuliahmu?" Timpal teman disampingnya.
"Tuan muda. Lebih baik jangan berteman dengan anak ini, dia sungguh tidak pantas berteman dengan tuan muda yang sangat mulia ini. Anak miskin ini sungguh tidak tahu malu," ujarnya lagi dengan nada mengejek.
"Kalian hanya sekelompok sampah tak berguna, berani beraninya mengatur dengan siapa aku berteman. Yang tidak tahu malu itu kalian, sok merasa paling hebat padahal hanya mengandalkan harta orang tua," Adit balik menyindir ketiga pria itu.
"Tuan muda. Kami hanya mengingatkan anda, jangan mudah tertipu oleh anak miskin ini, kami sungguh berniat membantu, jika anda berkenan lebih baik bergabung dengan kami saja, kami yakin anda tidak akan dirugikan," ujar Andre dengan sedikit sopan, walau bagaimana pun Adit bukanlah orang yang bisa mereka singgung.
"Dasar sekelompok Anj*ng penjilat, kenapa tidak sekalian saja kalian jilat sepatu tuan muda ini, agar tuan muda sedikit merasa senang dengan perlakuan tulus kalian, mungkin saja dia akan mempertimbangkan untuk bergabung pada kalian," ujar Jovi yang tak mau kalah untuk menyindir sekelompok pria itu.
__ADS_1
Adit cekikikan mendengar ucapan Jovi yang sangat berani itu, meskipun dia tak memiliki apapun tapi keberaniannya dalam menyinggung orang patut dikagumi.
"Huh. Harusnya kau sadar, siapa yang anj*ng penjilat disini, bukannya kau sengaja mendekati tuan muda untuk kau manfaatkan hah?" gertak Andre.
"Beraninya kau berbicara lancang dihadapanku, kau secara tidak langsung mengatakan jika aku adalah orang yang mudah dimanfaatkan, dengan siapa aku berteman itu bukan urusan kalian, jika Jovi tak pantas berteman denganku, terus apa kalian pikir kalian pantas?" bentak Adit dengan melototi Andre dan kedua temannya.
"Maaf Tuan muda, kami tidak bermaksud berbicara lancang pada anda, hanya saja, rasanya anak miskin ini tidak memiliki maksud baik pada anda, kami hanya mengkhawatirkan anda, mengingat status anda yang begitu tinggi dan mulia, dia benar benar sangat tidak layak berada didekat anda," ujar Andre, dia sebenarnya sangat kesal karena Adit terus terusan membela Jovi, dia sangat tidak terima.
Apa bagusnya si miskin ini, sampai tuan muda Adit saja membelanya, aku sebagai orang yang berasal dari keluarga yang bermartabat malah tidak dipandang sedikit pun, menyebalkan sekali, jika bukan karena si Adit ini adalah penerus keluarga Prayoga, aku juga tidak akan bersikap sopan padanya, apalagi merendahkan martabatku seperti ini. Gumam Andre.
"Huh. Aku sangat jijik melihat tampang penjilat mu itu, kau sudah ditolak masih saja berani bicara, kau itu sudah seperti b**i kelaparan saja, apa perlu kuberi kotoran untuk kau makan? Ya, setidaknya kau tidak akan mati kelaparan," ujar Jovi dengan santai, membuat pemuda itu semakin geram.
"Lepaskan tanganku atau keluargaku tak akan melepaskanmu," teriaknya sambil menahan rasa sakit ditagannya. Dia tak menyangka Jovi bisa dengan cepat dan santai menangkis serangannya, apalagi menurut dia ilmu bela dirinya sudah sangat hebat, tetapi berhadapan dengan Jovi dia malah bukan tandingannya.
"Lagi lagi membawa nama keluarga, apa kau sepenakut itu sampai tak berani menyelesaikan masalahmu sendiri?" ujar Jovi dengan tatapan menghina, sedangkan Adit hanya berdiam ditempat menonton aksi Jovi yang menurutnya sangat seru hingga dia tak berniat untuk ikut campur.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kau takut jika hidupmu kedepannya tidak akan tenang? Jika kau tak melepaskan tanganku, aku jamin hidupmu akan sangat menderita kedepannya," ujarnya dengan marah
"Kau pikir aku peduli? Mau sepuluh keluarga kaya yang datang padaku pun aku tak akan merasa takut, melainkan aku pastikan mereka akan berbaring dirumah sakit hingga berbulan bulan, atau mungkin lebih bagus kalau aku membuatnya lumpuh," ujar Jovi menyeringai, tatapannya begitu mengerikan.
"Minta maaf sekarang juga atau ku patahkan tangan kotormu ini," gertak Jovi sambil memelintir tangan Andre dengan sangat kuat, hingga membuat Andre berteriak kesakitan.
"Oke, oke. Lepaskan dulu tanganku!!" ujar Andre merintih kesakitan
"Jangan bermimpi, aku tidak akan melepaskan mu sebelum kau meminta maaf, minta maaf sekarang atau ku patahkan tanganmu!" ujar Jovi memerintah.
"Oke oke. Aku minta maaf. Puas?" teriak Andre kesakitan, sedangkan temannya tak berani untuk membantu karena Adit terus melototi mereka.
"Aku mau mendengar ucapan maaf yang tulus, bukan terpaksa seperti itu. Ayolah, kau itu hanya membuang waktu saja," ujar Jovi dengan datar.
Andre benar benar merasa geram, dia tak terima jika harus meminta maaf pada orang yang statusnya lebih rendah darinya. Jika saja dia tau status Jovi, bahkan untuk bertatapan mata saja dia tidak akan pantas, dia hanyalah seekor semut bagi Jovi, namun sekarang dia tak ada pilihan lagi, tangannya lebih penting, dilain waktu dia akan kembali untuk balas dendam.
__ADS_1
"Baiklah aku minta maaf padamu dan juga pada tuan muda," ujar Andre dengan pasrah.
"Begitu baru benar, pergi sana, dan jangan buat masalah lagi, mengerti?" ujar Jovi sambil menendang Andre hingga membuat Andre tersungkur ketanah.