ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Sebagai pelayan


__ADS_3

Saat Mawar menjalankan hukumannya, tidak terlepas dari tertawaan mahasiswa lain, dia benar benar merasa malu, disaat dia mencuri pandang kearah Jovi, terlihat Jovi juga sedang menatapnya, dia segera mengalihkan pandangannya, kembali menunduk dengan memejamkan matanya karena malu.


Mampuslah aku, dia pasti tak menyukaiku, bagaimana caraku mendekatinya nanti, ya Tuhan, disaat aku menemukan pangeranku, kenapa harus ada kejadian seperti ini sih? jika dia memandang buruk padaku, apa yang harus aku lakukan? Batin Mawar.


"Baiklah semuanya, cukup sampai disini, dan kamu Mawar, kembalilah ketempatmu, jangan ulangi kesalahanmu itu, jika sampai kamu melanggar lagi, Bapak pastikan kamu akan mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi," ujar dosen sambil melangkah keluar dari ruangan.


"Baik pak," kata Mawar sembari membungkukkan badannya dan kembali duduk ditempatnya.


tiba ditempat duduk, Mawar meregangkan tangan dan kakinya, dia benar benar kelelahan berdiri dengan satu kaki selama hampir satu jam.


Semua mahasiswa bubar satu persatu tak terkecuali Jovi dan Adit.


"Jov. Perempuan itu sepertinya suka sama kamu, buktinya dia dihukum gara gara ngeliatin kamu terus," ujar Adit saat keluar dari ruangan.


"Ya sudahlah itu urusan dia, ngapain aku peduli?" ujar Jovi acuh.


"Kau ini, jadi laki laki benar benar tidak punya sedikit simpati." Adit memukul bahu Jovi.


"Lalu kenapa? Memangnya aku itu kamu? Terkenal playboy, suka main main dengan wanita tanpa memberikan mereka kepastian, wanita kau anggap pakaian, sudah bosan ditinggal. Dasar kau ini," ujar Jovi datar.

__ADS_1


"Biarin, toh mereka juga tidak masalah jika aku tinggalkan, bagi mereka asal ada uang kompensasinya, ya sah sah saja," ujar Adit santai tak perduli


"Kau ini, bisanya hanya menghamburkan uang, kenapa tidak kau kasih aku saja, jika tidak tau mau dihabiskan dimana, dompetku ini akan muat berapa pun banyaknya," ujar Jovi tersenyum, Adit menaikkan sudut bibirnya dan berkata,


"Hng, dan kau cuma mau terima beres saja. Ya, aku akui memang uangku terlalu banyak sampai tidak tahu bagaimana cara menghabiskannya," ujar Adit menyombongkan diri.


"Sombong sekali kau ini." Jovi berkata sambil menonjok bahu Adit


"Sombong untuk hal yang kita miliki bagiku tidak masalah. Dan kau seharusnya kerja, jangan bisanya hanya bergantung padaku," ujar Adit tersenyum mengejek


"Kau hanya mentraktirku makan sekali, jadi sejak kapan aku bergantung padamu, selama ini juga aku menghidupi diriku sendiri tanpa bantuan darimu," kata Jovi ketus


"Kau naik taksi saja! aku masih harus kerja, jadi tidak langsung pulang ke kontrakan," ujar Jovi saat berada diparkiran.


"Kau ini tega sekali menyuruhku pulang sendiri," ujar Adit yang sengaja memperlihatkan wajah kasihan.


"Jangan memelas seperti itu, aku geli melihatnya. Kau anak orang kaya kenapa tidak pakai mobil sendiri saja sih? Kenapa harus ikut denganku terus?" ujar Jovi sambil menaiki motornya.


Adit cekikikan, "Kau kerja dimana?" tanya Adit

__ADS_1


"Di cafe." Jovi menjawab dengan ketus


"Sebagai apa?" Adit bertanya lagi.


"Pelayan," Jawab Jovi seadanya


Adit tertawa terbahak bahak mendengar Jovi yang bekerja sebagai pelayan.


"Kau serius bekerja sebagai pelayan? Kau tidak malu dengan muka tampanmu berprofesi sebagai pelayan?


"Kenapa aku harus malu? Kau sendiri temanku, kenapa malah menertawai pekerjaanku bukannya mendukungku? Kau membuatku kecewa," ujar Jovi menaikkan sudut bibirnya.


Adit mengulum senyumnya dan berkata "Baiklah. Temanku, semangat ya kerjanya, semoga betah dengan pekerjaanmu sebagai pelayan," ujar Adit dengan menahan tawanya.


"Ucapanmu itu sungguh membuatku geli, ya sudah aku mau pergi, jika kau naik taksi jangan lupa untuk bayar ya! kau kan sukanya gratisan," ujar Jovi sambil melarikan diri dengan motornya.


"Sialan anak ini, sudah mau pergi masih menyempatkan diri untuk menyindirku, tunggu saja kau," Adit menggerutu dan meninggalkan kampus.


Diperjalanan pulang dia teringat akan kedua orang tuanya, dia merasa sedikit merindukan mereka, Adit pun memutuskan untuk pulang kerumahnya, menemui ayah dan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2