
Setelah itu Adit mengantar Lani kerumah Mawar, karena memang sampai sekarang Lani masih tinggal disana, karena Mawar tidak ingin Lani pindah rumah, dia sudah merasa begitu akrab pada Lani.
"Kamu hati hati dijalan ya!" ucap Lani saat sampai dirumah Mawar.
"Sini dulu!" panggil Adit pada Lani, Lani menundukkan kepalanya karena Adit ada didalam mobil.
Saat Lani mendekat, Adit seketika mencium pipinya secara tiba tiba membuat Lani terkejut dan melototkan matanya tak percaya.
"Kamu .... " ucap Lani malu, Adit tersenyum jahil dan melambaikan tangannya berlalu pergi.
Lani masih menatap mobil Adit yang meninggalkannya, saat mengingat Adit yang menciumnya, hatinya benar benar terasa senang, Lani masuk dengan tangan meraba pipinya yang habis dicium oleh Adit sembari tersenyum senyum.
Mawar yang melihat tingkah Lani, jadi ikut tersenyum juga.
"Hayo ... Kenapa dari tadi senyum senyum terus?" goda Mawar yang masih duduk disofa dekat ruang tamu.
Lani tersentak kaget mendengar suara Mawar, dia sampai tidak menyadari kehadiran Mawar disana karena pikirannya selalu tertuju pada Adit.
"Mawar? Buat aku terkejut saja," ujar Lani yang mengelus elus dadanya karena kaget.
"Sini! Ceritakan padaku, apa yang membuatmu jadi tersenyum sendiri saat masuk kerumah?" panggil Mawar.
"Dikamar saja, nanti Om dengar," bisik Lani dan Mawar pun beranjak dari duduknya menyusul Lani kekamar.
Didalam kamar Mawar sudah tidak sabar mendengar cerita Lani.
"Ayo sini sini, ceritakan padaku secara menyeluruh dan jangan sampai ada yang terlewat satu kata pun," panggil Mawar yang sudah duduk manis diatas kasur, siap mendengarkan cerita Lani.
Lani meletakkan tasnya lalu ikut duduk bersama Mawar, Lani menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan sangat panjang, kening Mawar mengerut melihat Lani yang terlihat gugup.
"Panjang sekali tarikan nafasmu," ucap Mawar merasa lucu, dan Lani tersenyum lebar.
"Mawar - " Kata kata Lani terhenti.
"Hmmm ... " Mawar mengangkat alisnya setinggi mungkin karena sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Lani.
"Aku jadian sama Adit, kami sekarang menjadi sepasang kekasih," ujar Lani begitu girang sambil menunjukkan cincin yang diberikan oleh Adit.
Mawar membuka mulutnya tersenyum selebar lebarnya lantas berteriak memeluk Lani, dia turut senang mendengar Lani yang akhirnya mendapatkan Adit, dia sendiri tahu bahwa Lani sangat mencintai Adit karena Lani yang selalu menceritakan segala sesuatu tentang dirinya pada Mawar.
Mawar dan Lani berpelukan sambil menggoyang goyangkan badan mereka karena terlalu senang.
"Eh, ngomong ngomong kau sendiri bagaimana? Apakah masih tidak ingin mencoba membuka hati untuk orang lain, kau tidak boleh terus terkurung pada cintamu yang tak terbalas itu," Lani tiba tiba melepas pelukannya pada Mawar.
Mawar tersenyum getir mengingat cintanya pada Jovi yang setiap hari semakin mekar namun tidak mampu ia miliki.
"Kata katamu cukup membuatku tersindir hingga terasa seperti ditampar ribuan kali," Mawar tersenyum kecut menatap Lani.
"Tidak, tidak. Jangan salah paham, aku sama sekali tak bermaksud untuk membuatmu tersindir atau apapun itu, percayalah, aku hanya ingin melihat kau bahagia, bukan terpuruk terus menerus seperti ini, jadi tolong jangan salah mengartikan maksudku ya!" ujar Lani sambil menggenggam tangan Mawar sebagai sahabat.
"Tidak apa apa, aku paham dengan kepedulianmu padaku, tapi harus aku akui, aku benar benar tidak mampu membuka hati untuk orang lain, hatiku sudah dipenuhi oleh Jovi, meskipun cintaku tak terbalaskan, tetapi dapat melihat wajahnya setiap hari itu sudah sangat cukup membuatku bahagia," ucap Mawar lirih, terlihat sangat jelas bahwa hatinya begitu tersakiti, namun dia juga tak mampu untuk melawan.
"Lani, bolehkah aku menangis? Hatiku benar benar lelah menanggung cinta pada orang yang tak mampu aku miliki." mata Mawar berkaca kaca saat mengatakan ucapannya.
Lani ikut terbawa arus kesedihan hati Mawar, disaat harus menanggung cinta yang tak berpihak padanya, itu adalah suatu hal yang menyakitkan.
Lani merangkul pundak Mawar untuk meminjamkan bahunya agar Mawar dapat mengeluarkan segala kesedihannya yang selalu bersarang dipikirannya.
Mawar menangis sejadi jadinya saat dia menyandarkan kepalanya dibahu Lani, Lani mengelus elus pundak Mawar berusaha untuk menenangkannya.
Sungguh perasaan yang sulit untuk dirangkai dengan kata kata.
Mawar merasa lelah karena selalu menangis, akhirnya dia tertidur pulas, dan bangun pada keesokan harinya.
Seperti biasa mereka selalu berangkat bersama untuk kuliah, Lani telah pindah kekampus Mawar, dan segala biaya kuliah ditanggung oleh ayahnya.
Begitulah seterusnya mereka menjalani persahabatan yang begitu ceria, tidak ada benci meski ada yang tersakiti.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tidak terasa mereka sudah akan lulus kuliah secara bersamaan.
Dihari wisuda mereka, semuanya berbahagia dan tertawa gembira.
__ADS_1
Aurel yang kini tengah menyetir mobil untuk pulang kerumah, tiba tiba merasa kepalanya begitu sakit, dia sendiri tidak tahu penyebabnya, kenapa akhir akhir ini dia sering mengalami sakit kepala, mungkin saja karena dirinya yang kurang tidur hingga membuat kepalanya terasa sakit.
Aurel menyetop mobil dipinggir jalan sambil memegangi kepalanya yang dirasa teramat sakit, bagaikan ada yang menusuk nusuk dibagian kepalanya.
Tetapi setelah sakitnya hilang, dia kembali melanjutkan perjalanannya untuk kembali kerumah, dia sendiri tidak ingin memeriksakan dirinya kedokter karena dia menganggap sakitnya hanya sakit biasa.
***
Keesokan hari, mereka berenam mengadakan acara bertemu direstaurant untuk merayakan kelulusan mereka menjadi sarjana.
"Aurel, Jovi, sini!" teriak Adit melambai lambai saat melihat mereka tiba disana.
Jovi menoleh dan menghampiri mereka berempat.
"Hari ini aku yang traktir, kalian bisa makan sepuasnya dan kita bersenang senang merayakan hari bahagia ini," teriak Adit gembira.
"Tumben sekali hari ini kau tidak perhitungan dengan uangmu, biasanya uang sekecil apapun akan kau letakkan dicelana dalammu saking pelitnya," ledek Aurel.
"Siapa yang bilang? Jangan bicara sembarangan," Adit berkata dengan sedikit malu.
"Bukan masalah siapa yang mengatakan, tetapi kita semua sudah melihatnya sendiri terkecuali Lani, hanya dia yang belum pernah melihatmu melakukan hal jorok seperti itu," bantah Aurel.
Adit dibuat malu dengan perkataan Aurel, dia tidak berani menatap wajah Lani.
"Benarkah kamu melakukan itu Dit?" tanya Lani penasaran.
"Hah? Sayang, lebih baik kamu jangan termakan sama omongannya Aurel, semua yang dikatakannya adalah bohong, aku tidak seperti itu kok," kata Adit berdalih.
"Apapun yang kamu katakan, aku akan mempercayainya," kata Lani manja.
"Memang kau yang terbaik sayang," ucap Adit sambil mencubit pelan pipi Lani, dan Lani tersenyum manja.
Jovi yang melihatnya benar benar merasa geli dan lucu melihat tingkah genit Adit pada Lani, jujur saja dia sendiri tidak pernah melakukan hal genit seperti itu pada Aurel, dia memanjakan Aurel dengan caranya sendiri, dan Aurel tidak pernah mempermasalahkan itu, dia senang dengan apa adanya Jovi dalam mencintai dia.
"Kalau sudah cinta, susah ya," guman Aurel. Adit dan Lani tertawa cekikikan.
"Ayo, kita rayakan bersama keberhasilan ini," ujar Roni yang sedari tadi hanya berdiam, dan mengangkat gelasnya yang berisi jus, diikuti oleh semua sahabatnya.
setelah itu mereka makan dengan lahapnya, berhubung Adit mentraktir mereka.
"Eh, ngomong ngomong kalian mau melanjutkan S2 dimana?" tanya Mawar membuka pembicaraan.
"Aku, Lani, dan Jovi akan melanjutkannya di London, kalian bertiga dimana?" jawab Adit sekaligus juga bertanya.
"Jovi kamu akan melanjutkannya di London?" tiba tiba Mawar bertanya pada Jovi.
"Iya, kebetulan aku mendapatkan beasiswa disana, jadi aku tidak menyia nyiakan kesempatan ini," ujar Jovi berbohong, sudah pasti dia tidak akan. mengatakan bahwa kuliahnya ditanggung langsung oleh ayahnya, penyamarannya sudah pasti akan terbongkar.
"Oh begitu?" Mawar mengangguk mengerti.
"Kamu sendiri akan melanjutkannya dimana?" Jovi balik bertanya.
"Tidak tahu, aku belum memastikannya akan pergi kemana," Mawar menggelengkan kepala pelan.
"Aurel, kamu sendiri apakah akan ke London juga?" tanya Mawar pada Aurel.
"Mungkin tidak, keuangan keluargaku akhir akhir ini sepertinya menurun, mobilku saja sudah kujual, aku tidak tahu apakah harus melanjutkannya atau tidak, sedangkan aku tidak sepintar Jovi, mana mungkin akan mendapatkan beasiswa juga," jawab Aurel kecewa.
Jovi turut merasakan kekecewaan Aurel, namun dia tidak mampu berbuat apapun, bukan karena dia egois, tapi karena suatu hal yang tak bisa dia bantah.
"Sayang sekali jika tak dilanjutkan, kenapa tidak kuliah didalam negeri saja," ujar Mawar.
"Ya mungkin hanya bisa seperti itu," jawabnya masih dengan nada kecewa.
"Tidak apa apa, kuliah didalam negeri bukan berarti tidak bagus, harus tetap semangat," kata Jovi sambil membelai rambut Aurel dengan lembut.
"Iya." Aurel melempar senyum hangatnya pada Jovi, sementara Mawar tidak berani menatap kemesraan mereka, takut akan tidak bisa menahan air matanya.
Lani yang diam diam melirik kearah Mawar ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Mawar, tetapi dia tidak bisa berbuat apapun untuk membantu sahabatnya itu.
"Kalian tidak ada yang menanyakan aku?" Roni tiba tiba memecah keheningan.
__ADS_1
"Tidak perlu, tanpa diberitahu juga aku sudah tahu, kamu pasti hanya akan melanjutkan kuliah S2 disinikan, tidak apa apa, setidaknya kau bisa menjaga Aurel saat Jovi tidak berada disampingnya, iya kan Jov?" Adit melirik Jovi yang tersenyum kecut, bagaimana tidak? Jovi tahu jelas bahwa Roni menyukai Aurel, terlihat dari perlakuan Roni yang berbeda pada Aurel, namun dia tetap berpikir positif, Roni tidak akan mencoba untuk merebut cinta Aurel darinya, mengingat persahabatan mereka yang begitu rukun.
"Kau tau sendiri, aku hanya berasal dari keluarga yang sederhana, tidak sepertimu, keturunan orang kaya generasi kelima, bisa melanjutkan kuliah S2 saja sudah sangat bersyukur, tidak pernah berpikir untuk lanjut keluar negeri," ujar Roni tersenyum malu.
"Jangan berkecil hati, kau tidak sendirian, Aurel juga kuliah disini," ujar Adit menyemangati sambil menepuk nepuk pundak Roni, dan Roni hanya tersenyum kecil.
"Habis ini kita mau kemana?" tanya Aurel.
"Kita pergi ketempat karaoke saja, aku ingin bernyanyi nyanyi gembira sambil melepas segala beban yang ada," jawab Adit bersemangat.
"Iya aku setuju, aku juga ingin sekali ikut benyanyi," timpal Lani kegirangan.
Aurel hanya mengangguk pasrah saja, walau dia tahu telinganya akan terganggu dengan suara jelek Adit, tetapi melihat Lani yang terlihat menyetujuinya, akhirnya dia mengalah saja.
Mereka pun berangkat ketempat selanjutnya setelah Adit selesai membayar semua yang mereka makan.
Mereka menyewa ruangan yang sedikit luas karena jumlah mereka juga banyak.
Sesampainya disana Adit dan Lani tidak tinggal diam, mereka mengeluarkan suara emas mereka, setidaknya seperti itulah mereka menganggap suara jelek mereka sendiri.
"Benar benar pasangan yang cocok, benyanyi tanpa ada rasa sungkan dengan suara jeleknya," ujar Aurel yang menyandarkan kepalanya dibahu Jovi.
"Memangnya suaramu bagus?" tanya Jovi.
"Suaraku tidak bagus, tetapi aku tidak seperti mereka yang suka memamerkan suara jeleknya," jawab Aurel santai, Jovi tertawa mendengar ucapan Aurel.
"Dasar," ucap Jovi sembari mencubit hidung Aurel.
"Sakit ... " rengek Aurel manja, sambil memegangi hidungnya yang merah akibat cubitan dari Jovi.
"Siapa suruh terlalu menggemaskan, hingga membuat aku tidak tahan jika tidak mencubitmu," goda Jovi, dan itu sukses membuat wajah Aurel merona merah dengan ucapannya.
Sedangkan Roni dan Mawar, mereka hanya duduk sendiri, sambil sesekali melirik Jovi dan Aurel yang sedang tertawa penuh cinta.
Lalu apa kabar Adit dan Lani? Jangan tanyakan mereka, saat ini mereka sudah seperti orang gila, berjoget sana sini, bernyanyi dengan suara yang sangat keras, tetapi itu lebih baik bagi mereka yang terlihat begitu gembira, daripada melihat ke Mawar dan Roni yang saat ini hatinya penuh dengan kehancuran.
Dua jam lamanya Adit dan Lani bernyanyi dan berjoget dengan riangnya, akhirnya mereka tahu lelah juga, mereka menghempaskan tubuh mereka ke sofa yang ada diruangan itu.
Sedangkan Lani bergelayut manja berbaring dipangkuan Adit dan dibelai lembut oleh Adit, senyum senyum tak karuan, benar benar diperbudak oleh cinta.
Mereka ini apa masih menganggap aku ada disini? Bisa bisanya dua pasangan ini bermesraan didepan kami yang masih sendiri tanpa pasangan, rasanya ingin sekali aku sembunyi kelubang yang paling dalam, tak ingin melihat kemesraan mereka, apalagi Adit dan Lani, mereka seakan sengaja membuat kami berdua iri, awas saja kau Lani, aku akan membuat perhitungan denganmu nanti. Batin Mawar sambil memajukan bibirnya, cemberut menatap kearah Adit dan Lani.
"Ssstttt .... " suara Roni yang memanggil Mawar.
Mawar mengerutkan alisnya, "Ada apa?" tanya Mawar.
"Ini," Roni memberikan mikrofon ke Mawar.
"Untuk apa?" Mawar terus saja mengerut tak mengerti.
"Ya untuk bernyanyi, untuk apa lagi?" jawab Roni.
"Tidak mau." Mawar dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Ayolah!" Roni terus saja membujuk Mawar agar mau bernyanyi dengan terus menyodorkan mikrofon kearah Mawar.
Mawar terus saja menolak Roni yang menyuruhnya untuk bernyanyi.
"Sudahlah Mawar, bernyanyi saja, tetapi kau harus menyanyikan lagu yang romantis agar menambah suasana romantis buat kami yang sedang jatuh cinta ini," ujar Adit yang ikut memaksa Mawar untuk bernyanyi.
"Enak dikamu tetapi tidak denganku," jawab Mawar cemberut.
"Apanya yang tidak enak, justru dengan bernyanyi kau bisa lebih tenang, tanpa ada beban yang menyelimuti pikiranmu," bujuk Adit, Mawar diam saja.
"Tidak apa apa, kita kesini kan memang untuk bernyanyi dan bersenang senang merayakan kelulusan kita, tidak ada salahnya jika kamu bernyanyi, dan lagi kamu kan memiliki suara yang begitu indah, aku kagum dengan suaramu itu saat bernyanyi," Jovi ikut ikutan. membujuk Mawar.
Aurel lantas mencubit perut Jovi merasa cemburu, Jovi lantas mengaduh kesakitan dan kembali memeluk Aurel agar Aurel tidak salah paham padanya.
Author
Berhubung ada yang minta up dua kali sehari, ini author kasih panjaaang ceritanya satu eps, kan sama aja tuh, hehe 😁
__ADS_1