
Jovi nampak bersiap untuk menahan serangan dari Adit.
"Jika kamu mengajakku bertarung, aku takutnya kamu akan berakhir dirumah sakit," Jovi menyunggingkan bibirnya tersenyum sinis.
"Siapa yang bakal masuk rumah sakit belum bisa ditentukan, majulah jika ingin mengetahui siapa yang akan menjadi pemenangnya." Adit tampak benar benar marah menatap Jovi
"Kalian berdua kenapa malah berkelahi?Kalian itu adalah teman, tidak baik jika saling memukul seperti itu," teriak Lani yang terlihat sangat panik.
Roni yang sedari tadi hanya berdiam saja, akhirnya bangkit dari tempatnya, ia berjalan kearah Adit dan Jovi.
Ketiga wanita itu mengira Roni akan menghalangi mereka untuk saling memukul, tetapi saat melihat Roni berhenti melangkah, dan berkata, "Lanjutkanlah! Aku akan menjadi jurinya." ketiga wanita itu dibuat kaget dengan ucapan Roni, bisa bisanya Roni malah mendukung mereka untuk berkelahi.
"Roni. Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tidak menghentikan mereka?" teriak Mawar yang tampak kesal, tapi Roni tak menghiraukannya.
Saat Jovi hendak melayangkan pukulannya pada Adit, tiba tiba Roni berlari dan menghentikannya.
"Kenapa kamu menghentikan aku?" Jovi mengerutkan keningnya menatap Roni.
Roni menatap Jovi dengan sangat lama tanpa berbicara apapun.
Dan tiba tiba Roni mengucapkan. "Karena aku tidak bisa lagi menahan untuk tidak tertawa." usai mengucapkan itu, Roni tertawa terbahak bahak, dan juga disusul dengan tawa Adit dan Jovi, lalu mereka bertiga berpelukan layaknya sahabat sejati.
Aurel dan Mawar dibuat bingung oleh sikap mereka, terlebih saat mereka melihat Lani yang juga diam diam tersenyum, dan itu menambah rasa penasarannya.
"Ada apa ini?" tanya Aurel pada Lani, dan bukannya menjawab, Lani malah semakin tertawa, dan membuat Aurel semakin bingung.
Jovi pelan pelan berjalan mendekati Aurel, Aurel menatap Jovi dengan tatapan menyelidiki.
"Aurel ... Happy birthday!" ucap Jovi sembari mencium pipi Aurel dengan tiba tiba, membuat Aurel terkejut.
Mereka semua bertepuk tangan, dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Aurel.
Mengapa mereka bisa tahu? Ya. Karena Jovi diam diam memberi pesan via ponsel pada mereka disaat ia mulai membicarakan hal bersama Mawar.
Namun Mawar sama sekali tidak diberitahu oleh Jovi, hingga sampai akhir kejadian, dia sama sekali tidak tahu bahwa itu hanyalah akal akalannya untuk mengejutkan Aurel.
__ADS_1
Jovi sengaja melakukan itu, agar Aurel tampak percaya dengan apa yang mereka lakukan.
"Selamat ulang tahun Aurel," ucap mereka serentak, terkecuali Mawar, ia masih terbengong karena tidak mengetahui apa apa.
Tetapi berkat ia tidak mengetahuinya, sandiwaranya seolah nyata, ya meskipun apa yang mereka bicarakan memang benar adanya.
"Kamu menipuku?" rajuk Aurel yang tampak memasang wajah cemberut.
"Maafkan aku, jika tidak begini, ulang tahunmu akan terkesan tidak menyenangkan. Aku ingin, dihari ulang tahunmu ada sesuatu yang sedikit menarik perhatianmu, hingga kamu tidak akan melupakan hal ini," ujar Jovi dengan nada yang begitu lembut.
"Kamu jahat sekali," Aurel masih saja tidak terima karena ditipu.
Jovi meregangkan tangannya lebar lebar, dan Aurel segera memeluknya sembari menjatuhkan air mata terharu.
"Sudah, jangan menangis lagi!" Jovi mengelus rambut Aurel dengan sangat lembut sembari menciumnya.
"Aku tidak menyangka bahwa kamu mengingat hari ulang tahunku, disaat aku sendiri tidak mengingat akan hal ini," ucap Aurel yang masih saja menangis.
"Hari ini juga termasuk hari yang paling bahagia untukku, karena Tuhan memberikan kesempatan pada ibumu untuk melahirkan satu nyawa yang melengkapi hidupku, dan ini termasuk merayakan hari lahirnya sang ratu dihatiku, wanita cantik nan anggun, dan juga yang begitu spesial. Yaitu kamu. Sekali lagi aku ucapkan selamat ulang tahun Ratuku. Selama sisa hidupku, aku hanya ingin bersamamu," ucap Jovi tersenyum, sembari mengusap air mata yang terus jatuh di pipi Aurel.
"Besok kita akan pulang kerumah orang tuamu," ujar Jovi.
Aurel seketika melepas pelukannya dan menatap Jovi dengan mata yang berbinar.
"Benarkah? Apa kamu tidak bercanda?" tanya Aurel yang tampak begitu senang.
"Iya. Aku ingin berterima kasih pada Ibumu karena sudah berjuang dalam melahirkan kamu, dan merubah hidupku menjadi lebih berwarna," jawab Jovi tersenyum hangat.
"Terimakasih! lagi lagi Aurel memeluk Jovi begitu senang.
"Oh, iya. Aku hampir melupakan sesuatu." Jovi tiba tiba melepas lingkaran tangan Aurel dipinggangnya.
Jovi merogoh kantong celananya, dan mengeluarkan sebuah kotak biru.
"Ini untukmu!" Jovi memberikannya pada Aurel.
__ADS_1
"Apa ini?" Aurel menatap Jovi.
"Buka saja!" jawab Jovi, dan Aurel pun pelan pelan membukanya.
"Hah? Kalung?" Aurel mengangkat alisnya menatap Jovi.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Jovi memastikan, dan Aurel pun mengangguk antusias.
Adit yang melihat kalung itu merasa tidak asing dimatanya, ia segera menghampiri.
"Wuuaahh ... Inikan kalung yang di desain oleh Ishara Fatyr sang Desainer legendaris itu? Kamu membelinya?" tanya Adit yang tidak percaya.
"Lalu jika aku tidak membelinya, apa menurutmu aku mencurinya?" Jovi mengerutkan alisnya kesal dengan pertanyaan Adit.
"Ya. Mungkin saja kamu mencurinya. Barang ini dijual sangat mahal, dan ini juga desain terbaik dari Ishara Fatyr, tidak ada yang mampu membelinya sejak diluncurkan sebulan yang lalu, hingga semua orang juga sudah mengenali kalung ini. Jadi apa benar kamu yang membelinya?" Adit masih saja tidak oercaya jika kalung itu benar benar ada dihadapannya.
"Aku dengar, kalung ini ingin dilelang, tetapi kenapa bisa ada bersamamu?" tanya Adit heran.
"Menurutmu?" Jovi mengangkat alisnya menatap tajam pada Adit.
"Jangan bilang bahwa kamu membelinya di lelang itu!?" Adit melotot kearah Jovi.
"Lalu kenapa jika aku memang membelinya? Apa kamu tidak percaya akan hal itu?" ucap Jovi datar.
"Tidak, tidak. Aku sangat percaya," ucap Adit yang mengangkat tangannya menyerah.
Adit sangat tahu bagaimana kekuasaan dan kekayaan Jovi, mendapatkan kalung itu bukanlah hal sulit baginya, namun ia hanya sulit untuk betul betul percaya, karena kalung itu memang sangat mahal, tidak ada yang berani untuk melirik kalung itu, dia sendiri saja tak berani walau sekedar meliriknya dari jauh.
"Jadi, alasan kamu terlambat menjemputku itu karena kamu pergi menghadiri lelang itu?" tanya Aurel.
"Iya. Maaf ya!" jawab Jovi.
"Kenapa harus meminta maaf? Justru aku sangat berterimakasih karena kamu rela menghabiskan waktu hanya untuk mendapatkan kalung ini sebagai hadiah ulang tahunku. Terimakasih!" ucap Aurel sembari memeluk Jovi dengan sangat erat.
"Baiklah. Izinkan aku memasangkannya untukmu!" ujar Jovi sembari melepas pelukan Aurel, dan Aurel pun mengangguk setuju.
__ADS_1
Aurel berbalik membelakangi Jovi dengan mengangkat rambutnya yang tergerai, sebelum Jovi memasangkan kalung itu, ia menyempatkan untuk mencium leher Aurel dari belakang, dan itu membuat semua temannya memalingkan wajah berpura pura tidak melihat apapun.