
Setelah mereka pergi, satu persatu orang duduk ditempat mereka masing masing, suasana kembali seperti biasa, Jovi sudah tidak terlihat lagi, dia terlalu malas untuk melihat Alex yang sangat sombong, dia membiarkan Toni menyelesaikan masalah dengan Alex.
Namun dia curiga, jangan jangan Toni telah mengetahui identitasnya? Tapi darimana dia tahu? Semua pertanyaan itu selalu melayang layang dikepalanya, namun dia masih tetap ragu dengan tebakannya.
Jovi memutuskan untuk pergi bertanya langsung pada Toni, Jovi berjalan menuju ruangan Toni, dia mengetuk pintu saat tiba didepan ruangan.
"Masuk." terdengar suara Toni dari dalam ruangan. Toni tidak tahu jika yang mengetuk pintunya adalah Jovi, jika dia tahu dia pasti akan membukakan pintu secara pribadi.
Saat Jovi masuk, Toni tidak memandang kearahnya, dan masih sibuk menatap layar komputernya.
"Ekhem. Apakah saya mengganggu?" ujar Jovi yang sudah berdiri dihadapan Toni.
"Ada apa?" tanya Toni tanpa melihat kearah Jovi.
Jovi berdiam diri tanpa mengeluarkan suara apapun. Toni yang menyadari tidak ada jawaban apapun dalam waktu agak lama, dia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang ada dihadapannya.
Seketika Toni terkejut mendapati jika yang berdiri dihadapannya adalah Jovi, sontak ia bangun dari duduknya dan memberi hormat pada Jovi dengan membungkukkan badannya.
"Tu- Tuan muda, maafkan saya yang tidak menyambut kedatangan anda, saya mengaku salah," ujar Toni ketakutan.
Jovi tak bersuara sedikitpun, wajahnya datar tanpa ekspresi, itu membuat Toni semakin takut dan mengira Jovi marah kepadanya. Setelah beberapa menit melihat Toni terus membungkukkan badan tanpa berniat untuk berdiri tegak, ia pun berkata pada Toni,
"Apa tulangmu tidak akan bengkok jika kau terus membungkuk seperti itu?" Jovi mengerutkan keningnya heran.
"Saya tidak akan berani mengangkat kepala saya tanpa perintah dari Tuan muda," ujar Toni yang masih membungkuk dengan suara yang gemetar.
"Tuan muda silahkan duduk dikursi saya ini!" Toni mempersilahkan Jovi.
"Tidak perlu, saya akan duduk di sofa," ujar Jovi sembari berjalan menuju sofa yang terletak disudut ruangan.
__ADS_1
"Kau kemarilah!" Jovi memanggil Toni yang sedari tadi tak bergerak sedikitpun.
Toni akhirnya mengangkat kepalanya, dia menyeka keringat yang bercucuran diwajahnya saking takutnya membuat kesalahan. Dia berjalan kearah Jovi dengan langkah yang berhati hati.
"Duduklah! mau sampai kapan kau akan berdiri terus?" Jovi mengerutkan alis melihat sikap Toni yang sangat tegang.
Toni segera menurut mendengar perkataan Jovi, dia pun duduk dihadapan Jovi dengan kepala menunduk, tak berani menatap Jovi, baginya status Jovi terlalu tinggi, hingga untuk menatap wajahnya saja dia merasa tidak pantas.
"Apa aku semenakutkan itu sampai kau tak berani mengangkat kepalamu? Jujur saja, aku sangat malas berbicara pada orang yang tak memperdulikan aku sama sekali. Jika kau masih tak mau mengangkat kepalamu dan tak ingin memperdulikan aku, aku akan keluar dari ruanganmu ini," ujar Jovi
Saat Jovi ingin bangkit dari duduknya, Toni segera mengangkat kepalanya dan menghentikan Jovi agar tidak keluar dari ruangan.
"Tuan muda maafkan saya, saya bukannya tidak memperdulikan anda, melainkan status anda terlalu tinggi, hingga saya tidak berani untuk bertatap muka dengan anda," ujar Toni dengan gugup.
Siapa yang tidak akan gugup jika bertemu dengan anggota keluarga Adiguna, apalagi yang dihadapan Toni adalah pewaris satu satunya keluarga Adiguna, wajar saja jika Toni sangat merendah.
"Kau sudah tau identitasku?" tanya Jovi langsung pada intinya.
"Darimana kau tau jika aku dari keluarga Adiguna?" tanya Jovi lagi.
"Dari asisten ayah anda, Pak Fandi. Cafe ini berada dibawah kendali ADN GROUP, dia mengatakan jika pewaris keluarga akan bekerja disini, tapi Pak Fandi tidak mengatakan jika anda akan bekerja sebagai pelayan, itu sebabnya saya tidak tahu jika yang berselisih dengan Alex tadi itu adalah anda, sekali lagi saya minta maaf atas kelancangan saya tadi terhadap anda tuan muda." Toni menjelaskan dengan sedikit berhati hati, takut jika ada kesalahan dalam perkataannya.
"Lalu, kenapa kau langsung bisa mengenali wajahku? Apa pak Fandi mengirimkan fotoku?" jovi bertanya lagi.
"Benar tuan muda, Pak Fandi mengatakan jika ayah anda lah yang menyuruhnya, untuk memberitahukan kepada saya tentang identitas anda," jawab Toni.
Kenapa Papa memberitahukan identitasku pada orang lain? bukannya sudah kubilang jangan membocorkan tentang identitasku. Batin Jovi.
"Kau ingat kata kataku ini. Jangan pernah memberitahukan tentang identitasku pada siapapun termasuk dengan orang terdekatmu sekalipun, jika sampai kau melanggar perkataanku, kau sendiri tau akibatnya akan seperti apa," ujar Jovi dengan tatapannya yang tajam, membuat Toni semakin takut.
__ADS_1
"Baik, baik. Saya akan ingat dengan perkataan anda, saya tidak akan berani melanggarnya." Toni dengan cepat mengangguk setuju.
"Bagus. Semoga kau bisa dipercaya," ujar Jovi sembari bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Toni dengan pelan, tetapi bagi Toni seakan sedang terkena pukulan yang sangat dahsyat hingga merasa sakit hingga ketulangnya. Itulah kehebatan Jovi yang selama ini dia latih bersama Paman Ghani.
Rasanya aku melihat dia menepuk pundakku dengan pelan, tetapi kenapa ini sangat terasa sakit hingga menusuk kedalam tulang. Batin Toni yang merasa heran.
Setelah kepergian Jovi dari ruangan, Toni akhirnya bisa bernafas dengan lega, saat sedang berhadapan dengan Jovi dia merasa seperti mengidap penyakit asma, sangat sulit untuk bernafas.
***
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dimana Jovi sudah akan bersiap pulang dari bekerja, tetapi sebelum dia pulang, dia memutuskan untuk menelpon ayahnya terlebih dahulu.
Telepon tersambung, terdengar suara berat dari seberang telepon.
"Ada apa Jovi? Apa kau akan pulang kerumah?" tanya ayahnya.
"Tidak, bukan itu maksudku menelpon Papa," ujar Jovi sopan.
"Lalu?" tanya ayahnya datar.
"Pah. Kenapa Papa memberitahukan tentang identitasku pada pemilik cafe tempat aku bekerja? Apa Papa tidak percaya kepadaku?" Jovi berkata dengan malas.
"Tidak. Bukan itu maksud Papa," ujar ayahnya.
"Lalu? Dan juga kenapa Papa tiba tiba bekerjasama dengannya? Sepertinya ini bukanlah sifat Papa yang sebenarnya, yang Jovi tau, Papa tidak akan bekerjasama dengan bisnis kecil seperti itu," tanya Jovi lagi.
"Haih. Sebenarnya Papa sangat malas juga bekerjasama dengan mereka, lebih baik kau tanya saja pada Mama, dialah yang meminta Papa untuk melakukan ini semua," Jawab Bram Adiguna dengan memelas.
"Kenapa Papa menurut? Tidak seperti Papa yang biasanya." lagi lagi Jovi terus bertanya.
__ADS_1
"Mama itu mengancam Papa, bahwa dia akan memberitahukan identitasmu pada semua orang jika Papa tidak menuruti kemauannya. Mama sangat memanjakanmu, kadang kadang Papa juga kesal dibuatnya," ujar ayahnya diseberang telepon.
Jovi tertawa kecil mendengar ucapan ayahnya, Ibunya itu memang sangat memanjakannya, dan itu berbanding terbalik dengan ayahnya.