
Dokter terdiam sejenak, lalu mengangkat kepalanya menatap Aurel.
"Begini, dari hasil laporan, menyatakan bahwa kamu mengidap penyakit kanker otak stadium akhir, ini sangat sulit untuk disembuhkan, bisa dibilang obatnya masih belum ditemukan, dan kalaupun bisa sembuh, itu adalah sebuah keajaiban." dokter berhenti sejenak.
perkataan dokter bagaikan halilintar yang menyambar hati Aurel, semua firasat buruknya terungkap detik itu juga.
"Sepertinya ini disebabkan karena trauma pada jaringan otak, karena terlambat menyadarinya, akhirnya sudah sangat parah sampai ke stadium akhir," dokter terdiam lagi memandangi Aurel, yang tampaknya sangat shock, tetapi dia masih menahannya.
"Apakah sebelumnya kepala Aurel pernah terbentur dengan keras?" dokter menoleh kearah kedua orang tua Aurel.
"Ya. Pernah, tapi itu sudah sangat lama, dan itu pun gumpalan darah dikepalanya telah diangkat, kenapa sekarang malah menjadi kanker?" ayahnya membantah perkataan dokter.
"Bisa jadi karena gumpalan darahnya tak terangkat habis, sehingga tumbuh menjadi sel kanker, dan semakin berkembang sampai sekarang, dan itu dapat memperpendek usia si penderitanya," jelas dokter.
"Stop. Tolong jangan bercanda Dok, aku tidak suka mendengar candaan yang seperti ini, ini benar benar tidak lucu." Aurel menggeleng sambil tersenyum tak percaya, antara sedih, takut, dan tak terima dengan apa yang dia dengar dari dokter.
"Meski begitu, kami juga tidak akan tinggal diam, kami akan melakukan yang- "
"Stop ... Aku bilang stop, stop." Aurel langsung memotong kata kata dokter, tak ingin mempercayai apapun yang dikatakan oleh dokter.
"Dokter, katakan bahwa ini bohong! ini tidak benar benar serius kan?" tanya Aurel tak percaya.
"Maafkan saya, tetapi inilah kenyataannya," dokter menggeleng pelan, cukup mengerti apa yang dirasakan oleh Aurel.
"Tidak, ini tidak mungkin, aku sehat, aku tidak sakit, siapa yang berani mengatakan bahwa aku sakit hah?" bentak Aurel, dia begitu frustasi dengan dengan apa yang menimpa dirinya, hingga tidak mampu untuk mengontrol emosinya.
"Saya harap kamu bisa tabah, dan tetap kuat," ujar dokter menenangkan.
"Tidak. Keluar ... Aku bilang keluar sekarang juga, aku tidak ingin mendengar apapun darimu. Keluar .... " teriak Aurel dengan marahnya.
Setelah kepergian dokter, Aurel menangis histeris, dia menutup kedua belah telinganya tak mampu menerima kenyataan.
__ADS_1
Ibunya segera menghampiri Aurel dan memeluknya dengan begitu erat.
"Mah. Dokter itu bohong kan? Katakan pada Aurel bahwa ini cuma mimpi, sekarang Aurel sedang tertidur kan? Nanti setelah Aurel bangun, semua akan balik seperti semula lagi kan?" Aurel mendongak menatap ibunya, sambil memaksakan diri untuk tersenyum, walaupun senyumnya begitu banyak mengandung luka.
Ibunya benar benar tidak tahan mendengar perkataan putrinya, dia tidak mampu untuk menjawab walau hanya sepatah kata saja, dia hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara.
"Mah ... Jawab Aurel, jangan hanya diam seperti ini, tolong jawab pertanyaan Aurel." Aurel menangis sambil menggoyang tubuh ibunya agar ibunya mau bicara, namun ibunya tetap menutup rapat mulutnya tak ingin mengatakan apapun.
"Pah ... Papa tahu kalau Dokter tadi hanya berbohong pada Aurel kan? Aurel- Aurel sehat kok, Aurel tidak merasakan sakit apapun," Aurel mencoba untuk menolak kenyataan yang ada, dia tidak mampu menerima takdir pahit yang menimpanya.
Malihat ayahnya yang menunduk dan hanya berdiam saja, Aurel lantas menangis pilu, sakit ... Sangat sakit, mendengar bahwa dia harus hidup bertemankan dengan kanker otak, yang tidak tahu apakah bisa disembuhkan atau justru malah menemani dia hingga ajal menjemputnya.
Tiba tiba Aurel merasa lelah, dia memutuskan untuk tidur saja, agar dia tidak perlu pusing memikirkan penyakitnya dan kehidupannya dimasa depan akan seperti apa, karena semakin dia memikirkannya, maka semakin sakit pula yang dia rasakan.
***
Kini Jovi sudah berada di apartemen, dia meraih ponselnya, dan terlihat nama Aurel yang sudah menghubunginya entah berapa kali.
Jovi benar benar lupa membawa ponsel bersamanya saat berangkat ke universitas, ditambah kegiatannya di universitas begitu padat, hingga ia tidak sempat untuk kembali pulang mengambil ponselnya.
Entah sudah berapa kali Jovi menghubungi Aurel, namun tidak juga mendapat jawaban dari sana.
Pikirnya, mungkin Aurel sudah tertidur, berhubung hari juga sudah malam, Jovi menghentikan untuk menghubungi Aurel, dan bersiap untuk mandi, karena badannya sudah terasa lengket karena aktifitas padatnya seharian.
***
Aurel terjaga ditengah malam, seketika ia teringat akan Jovi.
"Ya Tuhan ... Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin menjadi beban untuknya, tetapi aku juga sangat mencintai dia, umurku mungkin tidak lama lagi, aku tidak begitu yakin, apakah aku bisa sembuh atau tidak, aku pasti hanya akan membuat dia susah," Aurel bergumam sendiri disaat kedua orang tua dan adiknya tengah tertidur.
"Tidak, aku tidak boleh memberitahukannya, dia juga harus hidup bahagia, aku tidak bisa membiarkan dia untuk tetap bersamaku, sedangkan aku yang sekarang ini bukanlah Aurel yang sehat dulu, aku sekarang sudah sakit sakitan, aku tidak bisa membiarkan sisa hidupnya hanya merawatku sepanjang waktu," Aurel menggeleng pelan, mengingat Jovi yang jauh di London sana.
__ADS_1
"Mungkin aku harus pergi dari kehidupannya, aku tidak boleh egois, dia berhak mendapatkan kebahagiaannya bersama wanita yang sehat pula, agar kelak ada yang mengurusnya, jika dia bersamaku, aku takut sepanjang waktunya hanya bisa mengurus aku, dan tidak ada yang mengurus dirinya," mata Aurel berkaca kaca, mengingat hubungannya dengan Jovi harus berakhir sampai disini.
"Jovi ... Aku mencintaimu, tapi keadaan memaksaku untuk memilih, antara tetap bertahan bersamamu dan kamu akan tidak bahagia, atau melepaskanmu dan membiarkan dirimu bahagia bersama wanita lain," ujar Aurel sambil menatap lurus kedepan.
Tidak dia sadari sebulir air mata meluncur bebas dikedua pipi mulusnya, hatinya begitu berat jika harus berpisah dengan orang yang sangat dia cintai.
***
Keesokan hari, Aurel terbangun, tubuhnya sangat lemah, wajahnya begitu pucat, bibirnya terlihat pecah karena begitu kering.
"Sayang, kamu sudah bangun? Sarapan dulu yuk," ujar Bu Dina yang segera menghampiri Aurel.
Aurel menatap ibunya dengan mata yang sangat redup, terlihat jelas bahwa dirinya benar benar tak berdaya.
Ibunya menyuapkan sedikit bubur kemulut Aurel, namun yang dirasakan Aurel begitu hambar saat menyentuh lidahnya, setiap makanan yang masuk kemulutnya, hanya rasa tawar yang dia rasakan, itu benar benar sulit baginya.
"Mah .... " ucap Aurel lirih.
"Iya sayang." Ibunya segera meletekkan mangkuk bubur dari tangannya.
"Aku mau melakukan perawatan di luar negeri saja, aku mau pindah dari sini, aku tidak ingin tinggal disini lagi." keputusan Aurel sudah sangat mantap untuk pergi meninggalkan Jovi.
"Mama juga setuju, kamu akan mendapatkan perawatan yang bagus disana, kamu pasti bisa sembuh." Bu Dina mencoba menghibur Aurel, Aurel hanya tersenyum kecut, meskipun dia tidak yakin dengan hal itu, setidaknya itu bisa menenangkan pikirannya.
"Tolong jangan beritahukan tentang kondisi Aurel pada Jovi ya!" ujar Aurel.
"Kenapa?" tanya Ibunya.
"Tidak, aku tidak ingin menjadi beban untuknya, biarlah hubungan kami berakhir sampai disini saja." Aurel menggeleng pelan, matanya kembali berkaca kaca.
"Apapun keputusan kamu, Mama akan selalu mendukungmu," ujar Bu Dina sambil mengelus bahu Aurel.
__ADS_1
Aurel hanya bisa tersenyum pahit mengingat kenangan indah bersama Jovi, dan kini dia harus melepaskan Jovi karena takdir tak memilih dirinya untuk memiliki Jovi seutuhnya.
Aurel melanjutkan sarapannya lalu kembali beristirahat.