ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Putus asa


__ADS_3

"Apa kau benar benar serius?" tanya Jovi dengan sungguh sungguh, dan Aurel dengan cepatnya menganggukan kepala.


"Aurel, kau tahu aku hanya pemuda biasa? Aku mungkin tidak bisa membelanjakanmu barang barang mewah setiap hari, tidak bisa membawamu makan ditempat yang mewah pula, aku tidak memiliki apapun, aku hanya bekerja menjadi seorang pelayan cafe, apa kau masih mau bersamaku? Apa kau tidak ingin mempertimbangkan keputusanmu sekali lagi? Aku takutnya kau akan merasa bosan saat bersamaku." Jovi dengan serius berkata pada Aurel.


"Tidak. Aku tidak akan mempertimbangkannya lagi, aku serius pada keputusanku, aku mencintaimu dengan tulus tanpa tapi, meskipun kau hanya memiliki sehelai pakaian saja, aku akan tetap mempertahankan perasaanku, kita bisa berjuang bersama untuk masa depan, itupun juga jika kau mau menerimaku," Aurel menatap wajah Adit dengan tatapan serius.


Wajah Jovi datar tanpa ekspresi mendengar penuturan dari Aurel.


Sepertinya dia tidak main main dengan apa yang dia ucapkan, dari pandangan matanya, terlihat jelas dia berharap aku akan menerimanya, lagian aku juga bisa pelan pelan menerima perasaan tulusnya. Batin Aurel.


"Baiklah, kita bisa menjalaninya bersama, tapi aku tidak main main dalam hal seperti ini, jika kau sudah memutuskan akan menjalin hubungan denganku, kedepannya kau tidak boleh mencoba untuk mundur, walau seperti apapun halangan dan rintangan yang kita tempuh nantinya, kita akan selalu bergandengan tangan menerjang getirnya kehidupan dalam percintaan. Apa kau mengerti dengan maksud ucapanku?" Jovi menatap lekat pada wajah Aurel yang saat ini mulai menunjukkan wajah yang bahagia.


"Baiklah. Aku, Aurel. Berjanji untuk selalu setia padamu dalam keadaan apapun, aku akan selalu bersamamu baik disaat senang maupun susah, itulah janjiku, kamu bisa memegang perkataanku." Aurel dengan tegasnya mengucapkan keseriusannya. Jovi mengangguk pelan.


"Apakah sekarang kita sudah bisa disebut sebagai sepasang kekasih?" tanya Aurel yang tidak sabaran.


"Ya seperti itulah," jawab Jovi singkat.


Aurel seketika melompat memeluk Jovi dengan tertawa girang, Jovi hanya bisa mengangkat alisnya terkejut, saat Aurel tiba tiba tanpa sungkan memeluknya dihadapan banyak orang.


Mawar saat ini benar benar tidak bisa membendung air matanya, sebulir air mata jernih mengalir di pipinya, dia tidak mampu menggambarkan seberapa sedih dan putus asanya dia saat melihat lelaki yang dicintainya telah dimiliki oleh wanita lain, dan bahkan dia sendiri menyaksikan langsung saat Jovi menerima cinta Aurel.


Mawar tidak sanggup berada disana terlalu lama, dia sudah cukup mengetahui apa yang ingin dia ketahui.

__ADS_1


Mawar berlari sekencang mungkin sambil mengusap air matanya yang terus saja mengalir tanpa henti.


Mawar mengendarai mobilnya dengan sangat kencang, dia tidak perduli apakah dia akan menabrak sesuatu atau dia sendiri yang akan ditabrak akibat laju mobilnya yang diatas batas normal.


Mawar tidak berniat untuk pulang kerumah, namun dia juga enggan untuk menyetop mobilnya, hingga dia hanya mengelilingi kota agar bisa menghilangkan rasa sedih dan kecewa dihatinya.


Mawar mengendarai mobilnya hingga malam tanpa tujuan, hingga ia terpikir untuk pergi kepantai untuk mencari suasana yang bisa menyejukkan hatinya.


Setibanya dia dipantai, dia berjalan pelan dengan pandangan lurus kedepan, walau seperti apapun dia berusaha mengusik pikirannya tentang Jovi, namun tetap saja tidak mampu membuat air matanya berhenti untuk mengalir deras.


"Ada apa dengan mataku? Apa mataku sakit sampai mengeluarkan air sebanyak ini?" Mawar mencoba menghibur dirinya dengan berbicara sendiri.


"Sungguh konyol, aku mengharapkan sebuah cinta dari orang yang pertama kalinya aku sukai seumur hidupku, namun apa yang ku dapatkan? semesta tak memihak padaku, apa bumi ini menolak kehadiranku? sampai aku selalu mendapatkan ketidak beruntungan di dalam kehidupanku ini." Mawar tersenyum pilu meratapi nasibnya yang selalu tak berpihak padanya.


Mawar memeluk lututnya sambil memejamkan matanya, berusaha untuk memberikan sedikit ketenangan pada hatinya, namun tanpa sadar, lagi lagi air matanya terjatuh dikedua pipinya, hingga ia kembali membuka matanya dan mengusap air matanya.


Saat dia terdiam beberapa saat, tiba tiba tangisnya kembali pecah.


"Tuhan. Apa kau tidak mau berpihak padaku walau hanya sekali saja? Aku lelah. Aku benar benar lelah menghadapinya sendirian, setidaknya berikan aku sedikit kekuatan untuk menerima kenyataan pahit ini." Aurel mengangkat kepalanya meratapi langit.


"Mana bulan dan bintang? Bahkan mereka tidak ingin menemaniku saat hatiku sedang sedih seperti ini. Apa benar benar tidak ada yang perduli padaku?" Mawar terus saja mengoceh sendirian, menurutnya hanya dengan cara seperti itu, agar kesedihannya tidak berkelanjutan.


Mawar menoleh kekiri dan kekanan, namun sejauh mana matanya memandang, hanya terlihat sepasang kekasih yang saling bercumbu, dan bermesraan, bahkan ada yang bercumbu dengan ganasnya tanpa menghiraukan orang orang disekelilingnya.

__ADS_1


Suasana pantai saat dimalam hari memang tidak ramai, yang datang kesana hanyalah muda mudi yang sedang dimabuk cinta.


Bagi mereka, itu adalah malam yang sangat romantis dan menyenangkan, tapi bagi Mawar adalah kebalikannya, melihat semua orang yang ada disana berpasang pasangan, dia baru sadar bahwa hanya dia seorang yang tidak memiliki pasangan.


Mawar lantas berdiri dari tempatnya, dia memutuskan untuk pulang saja, daripada dia harus merasa canggung di saat tidak sengaja melihat pasangan yang sedang bercumbu dengan mesranya.


Mawar kembali mengendarai mobilnya, untuk pulang kerumah.


Sesampainya dirumah, ayahnya telah menunggunya diruang tamu.


"Darimana saja?" tanya ayahnya dengan galak.


Mawar sedikit takut jika ayahnya sudah mengeluarkan sikap galaknya, karena jika sudah begitu, apapun yang akan Mawar katakan, pasti akan selalu salah dimatanya.


"Hmm- Maaf Ayah, tadi Mawar ada urusan, jadi terlambat pulang kerumah," jawab Mawar dengan gugup.


"Urusan apa sampai harus pulang selarut ini?" tanya ayahnya curiga.


"Urusan hati, Ayah tidak akan mengerti tentang kehidupan anak muda, jadi please, jangan galak galak, Mawar sedang dalam keadaan suasana hati yang tidak menyenangkan, jadi Mawar minta tolong pada Ayah, jangan membuat Mawar semakin sedih lagi, apakah bisa?" Mawar benar benar malas jika harus diomeli oleh ayahnya, dia berusaha agar ayahnya mau mengerti tentang perasaannya, sudah cukup dia mengalami kesedihan, dia tidak ingin di tambah lagi dengan ocehan ayahnya.


Ayahnya yang mendengar perkataan Mawar seketika terdiam seribu bahasa, dia memang orang yang galak, tetapi dia juga tidak bisa melihat putri semata wayangnya menangis, dia lantas tidak mau memperpanjang masalah lagi.


"Ya sudah, Mawar kembali kekamar dulu, Ayah jangan lupa tidur, mengingat usia Ayah yang tidak muda lagi, tidak baik jika banyak bergadang," ucap Mawar sambil melangkah menaiki anak tangga.

__ADS_1


"Memangnya dia pikir aku bergadang karena apa? Kalau saja dia pulang cepat, aku juga sudah tertidur dari tadi," ayahnya mengoceh sendiri, dan melangkah pergi bersiap untuk tidur.


__ADS_2