
Disaat Roni dan Adit terlihat panik, Jovi lantas berkata, "Lebih baik kita turun, tidak baik jika kita terus disini, mereka bisa saja memecahkan jendela mobil jika kita tidak keluar," ujar Jovi.
"Tetapi aku tidak begitu jago dalam bela diri," ucap Roni.
"Iya, aku juga, hanya mengerti sedikit saja, rasanya aku tidak berani keluar, melihat wajah mereka yang begitu sangar, tiba tiba tubuhku jadi lunglai," timpal Adit ketakutan.
"Jadi apa kalian akan tetap tinggal disini dan tidak melakukan apa apa?" Jovi menatap mereka dengan serius.
Adit dan Roni saling memandang dan mengangguk pelan.
"Payah sekali." Jovi merasa kecewa pada mereka berdua karena begitu penakut, sebagai pria, mereka seharusnya tidak perlu takut pada apapun.
Jovi membuka pintu mobil dan keluar dari sana, dia berniat untuk menghadapi sekelompok pria itu sendirian.
"Jovi. Kau mau kemana?" teriak Roni panik.
"Diamlah, jangan banyak bicara jika kau tidak berani untuk keluar," ujar Jovi datar.
Jovi mengitari pandangannya menatap sekelompok pria kekar itu satu persatu.
"Apa mau kalian?" teriak Jovi.
"Hng. Kami mau seluruh harta kalian, termasuk mobil itu," ujar bos mereka.
"Hng. Ternyata hanya sekelompok perampok rendahan, coba saja ambil jika kau bisa melewatiku," Jovi tersenyum mengejek.
"Sombong sekali. Kau terlalu memandang tinggi dirimu, hanya kau sendiri? Apa kau pikir bisa mengalahkan kami semua?" ujarnya merendahkan Jovi.
"Jika tidak mencoba bagaimana bisa tahu dengan hasilnya," jawab Jovi tenang.
Adit dan Roni yang melihat Jovi beradu mulut dengan para perampok itu, mereka sedikit khawatir pada Jovi.
__ADS_1
"Anak ini benar benar gila, apa dia tidak menyayangkan nyawanya? Bisa bisanya dia keluar dan meladeni penjahat itu," ujar Adit yang berusaha menutupi kekhawatirannya.
Roni hanya berdiam saja tidak sanggup berkata apapun lagi.
Mereka membangunkan Aurel dan Mawar, saat Aurel bangun dan mengetahui permasalahannya, Aurel hampir saja mengamuk, dan ingin keluar menghampiri Jovi, tetapi Adit dengan segera mencegah Aurel agar tidak keluar dari mobil, atau dia akan semakin menyusahkan Jovi.
Sedangkan Mawar kini benar benar panik, sekaligus khawatir pada Jovi, tetapi dia juga tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya.
Ya Tuhan, aku tidak apa apa jika memang dia bukanlah jodohku, tetapi aku mohon, jangan biarkan apapun terjadi padanya, dia adalah alasanku untuk tetap tersenyum setiap hari dan dengan tidak sabarnya menunggu hari esok hanya sekedar ingin memandangi fotonya, tolong lindungi dia, aku tidak mampu melihat dirinya yang terluka. Batin Mawar. Mawar menggenggam jarinya yang sudah basah karena berkeringat saking takut dan khawatirnya pada Jovi.
Jovi yang kini berada diluar, masih tetap tenang tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Hey, anak muda, kau lebih baik menyerah saja, jangan menyerahkan nyawamu begitu saja, jika kau memberikan apa yang kami mau, aku bisa jamin nyawamu akan selamat," ujar pria itu.
"Lalu jika aku tidak mau, kau mau apa?" ledek Jovi.
pria itu sangat geram pada Jovi, ia segera memerintahkan semua anak buahnya untuk menyerang Jovi secara bersamaan.
"Aakkhhh .... " teriak Mawar saat melihat Jovi yang hampir terkena pukulan.
Namun saat Jovi lengah, salah satu perampok itu mengambil kesempatan menerjang Jovi dari arah belakang.
Lagi lagi Mawar berteriak, seakan dialah yang sedang dipukul oleh banyak orang. Mawar terus membekap mulutnya ketakutan melihat Jovi yang mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi mereka semua.
Jovi yang yang menerima terjangan dari salah satu perampok itu, seketika menjadi sangat marah, wajahnya kini benar benar mengerikan, seperti seekor harimau yang siap memangsa, siapapun yang melihat keganasan wajah Jovi, pasti sedikit gemetar.
Jovi meraih besi yang tergeletak dijalan, dia menggenggamnya dengan sangat kuat, Jovi berteriak dengan garangnya dan memukuli setiap orang yang menyerangnya dengan ganas, tidak ada ampun lagi bagi mereka, kini Jovi benar benar sangat marah.
Para perampok yang dipukuli oleh Jovi semuanya mengeluarkan darah dan tergeletak pingsan dijalan.
Sedangkan bos dari sekelompok perampok itu, menjadi ketakutan saat Jovi menoleh kearahnya, tatapan Jovi seakan ingin membunuh orang, Pria itu mundur selangkah demi selangkah dengan lutut yang gemetar, Jovi berjalan pelan kearah pria itu, dia masih menenteng besi ditangannya.
__ADS_1
Pria itu seketika berlari sekuat yang dia bisa menggunakan tenaga yang masih ada, tidak bisa dipungkiri dia benar benar takut melihat keganasan Jovi dalam bertarung dan memukul orang.
Melihat pria itu melarikan diri, Jovi lantas menaikkan sudut bibirnya tersenyum hina, dia melempar besi yang ada ditangannya, lalu berbalik kearah mobil.
Saat Jovi masuk, Adit dan Roni merasa ketakutan melihat Jovi, mereka seakan tidak mengenal Jovi, Jovi yang biasanya selalu menjadi pemuda baik hati, kini dengan matanya sendiri menyaksikan keganasan Jovi saat bertarung, benar benar tidak boleh membuat emosinya memuncak, jika kau ingin tetap hidup dengan tenang.
Hanya Aurel dan Mawar yang langsung menyapa Jovi saat Jovi masuk kemobil.
"Apa kamu baik baik saja? Apa ada yang terluka?" Mawar dengan segera menanyakan keadaan Jovi, Jovi memandang kearah Mawar tanpa berbicara apapun, sedangkan Mawar masih menunggu jawaban dari Jovi.
"Kenapa kamu diam saja? Apa ada yang sakit?" Aurel ikut bertanya sembari mengecek keseluruh tubuh Jovi, kalau kalau dia juga terluka.
Jovi diam karena dia berusaha menstabilkan emosinya yang sedang terbakar saat bertarung.
Saat Jovi merasa sedikit tenang, dia lantas menghela nafas panjang sembari tersenyum.
"Aku tidak apa apa, jangan khawatir," jawab Jovi sembari mengelus lembut rambut Aurel.
Mawar sedikit canggung melihat Jovi yang mengelus rambut Aurel dengan lembutnya, tetapi mendengar Jovi yang berkata bahwa dia baik baik saja, Mawar sudah sangat lega, barulah dia mampu bernafas dengan tenang.
Jovi melirik kearah Adit, Adit seketika mengalihkan pandangannya kesamping masih tidak berani berbicara pada Jovi.
"Ada apa? Sebegitu takutnya kah kau sampai tidak ingin melihatku?" ledek Jovi.
"Iya, aku sangat takut, tolong jangan berbicara padaku dulu, jantungku masih belum normal, pikiranku masih sangat jelas mengingat dirimu yang membantai orang tanpa ampun," ujar Adit tanpa menoleh kearah Jovi, Jovi lantas tersenyum geli melihat tingkahnya.
Sedangkan Roni, jangankan menanyakan keadaan Jovi, bahkan sekedar menoleh kebelakang pun tidak sama sekali.
"Kau sendiri kenapa Roni? Kenapa kau tidak mau melihatku?" tanya Jovi pada Roni.
"Haa ... I-Itu, jawabanku sama saja dengan Adit, jadi lebih baik kau jangan bertanya dulu pada kami," jawab Roni tergagap.
__ADS_1
"Lembek sekali kalian ini, bahkan nyali kalian terkalahkan oleh wanita, membuat malu para lelaki saja," Jovi menggelengkan kepala merasa lucu.
Mereka berdua juga merasa malu dengan nyali mereka yang begitu lemah, tetapi itu bukanlah kemauan mereka, perasaan seperti itu seakan keluar sendiri menghantui mereka, hingga mereka tidak mampu berbuat apa apa.