
Melihat Jovi yang sangat tenang, membuat Alex semakin geram.
Hng. Kau bisa berpura pura tenang sekarang, tapi lihat saja jika sampai nanti kau dipecat, aku tidak yakin kau bisa mempertahankan ketenanganmu itu. Batin Alex.
"Hey, kau. Kemari!" Alex memanggil seorang pelayan wanita, segera pelayan itu datang menghampiri Alex.
"Ya Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" kata pelayan dengan membungkuk hormat pada Alex.
"Panggil managermu datang kemari sekarang juga, katakan padanya Tuan muda Alex ingin bicara!" ujarnya dengan sombong.
Manager cafe itu bernama Toni, dia orang yang cukup berpengaruh di Jakarta, Alex bahkan sebenarnya tidak berani untuk menyinggungnya, tetapi karena mereka saling kenal dan pernah berjumpa sesekali saat Alex mengunjungi cafenya, jadi Alex merasa dia sudah berteman dengan Pak Toni, terlebih Pak Toni juga terlihat ramah terhadapnya, itulah sebabnya dia berani memanggilnya untuk datang.
***
Beberapa saat kemudian Pak Toni datang menghampiri mereka, semua orang dibuat deg degan dibuatnya, karena mereka merasa Jovi pasti akan segera dipecat dari pekerjaannya.
"Habislah anak ini, dia berani menyinggung tuan muda Alex, pekerjaannya pasti akan berakhir sampai disini," ujar salah satu pria paruh baya yang juga sedang menonton pertunjukan.
"Salahnya sendiri, sudah tau Alex adalah anak dari orang yang cukup berpengaruh di Jakarta ini, bukanlah orang yang bisa sembarangan disinggung, tapi dia malah berani mangganggunya, bukankah dia sedang cari mati?" ujar temannya yang satu meja dengan pria paruh baya itu.
"Tapi aku cukup terkesan dengan keberanian pemuda itu, dia tidak mudah goyah saat berhadapan dengan orang yang statusnya diatas dia, dia tetap mempertahankan harga dirinya agar tidak terus terusan dihina. Sepanjang yang aku tau, jika seseorang yang tidak memiliki status yang tinggi, maka dia akan rela untuk menjilat orang yang berada diatas mereka, agar bisa dijadikan perlindungan bagi mereka." wanita paruh baya ikut menimpali.
"Harga diri? Apakah masih ada yang namanya harga diri didunia ini? Aku tidak percaya jika harga diri mampu mengalahkan uang, bagi semua orang, uang adalah segalanya, bahkan harga diri pun mampu mereka beli, jadi untuk apa mempertahankan harga diri jika akhirnya akan tetap jatuh juga," balas pria paruh baya itu.
kedua temannya hanya mengangkat bahu tak bisa berkata apa apa lagi, yang dikatakannya tidak sepenuhnya salah, didunia ini banyak sekali orang yang mengejar uang, sangat jarang ada orang yang mau mempertahankan harga dirinya, jikapun ada, itu hanya segelintir orang saja.
__ADS_1
"Ada apa Tuan Alex? Apa yang membuat anda menyuruh saya datang kemari? Anda ingin membicarakan apa? Dan kenapa begitu banyak orang yang melihat kearah sini? Apa ada yang membuat anda tidak nyaman?" Toni bertanya dengan seribu pertanyaannya saat tiba didekat Alex.
"Ya, benar sekali. Bagaimana cara anda mendidik pelayan yang satu ini, bagaimana bisa dia berani mempermainkan saya yang sudah lama menjadi pelanggan tetap disini,"
"Pak Toni lihat sendiri, bajuku saja masih belum kering setelah disiram oleh pelayan anda." Alex menjelaskan sembari menunjuk kearah Jovi.
Jovi yang sedari tadi hanya duduk tenang sambil memainkan game yang ada di handphonenya, sehingga Toni tidak melihat wajahnya dengan jelas.
Jovi bukanlah orang yang takut pada siapapun, bahkan pada managernya, jika memang hari itu dia akan dipecat, itu tak akan menjadi masalah baginya, dia bisa mencari pekerjaan lain, dan sisa uangnya masih ada, masih bisa menutupi biaya makannya selama dua atau tiga bulan.
"Kau seorang pelayan, kenapa berani beraninya menyinggung pelanggan lamaku? Dan apa kau tidak tahu siapa Tuan Alex ini?" ujar Toni dengan memandangi Jovi.
"Kenapa aku tidak berani? Aku tahu jelas siapa anak itu, dia hanya anj*ng gila yang terus menggonggong saat melihatku," jawab Jovi santai, tanpa memandang kearah Toni.
"Kau ... " teriak Alex dengan memukul meja yang dihadapannya, dia benar benar geram melihat Jovi yang masih berani melawannya, walau dia sudah memanggil managernya.
"Kau ini sangat berani. Minta maaf sekarang juga, atau kau akan aku pecat!" bentak Toni pada Jovi.
Jovi menghentikan permainannya, "Oh. Silahkan jika mau memecatku, aku tidak sudi meminta maaf pada anj*ng gila ini," Jovi mengangkat kepalanya, memandangi Toni, seketika Toni terkejut, seluruh badannya gemetaran, wajahnya berubah menjadi pucat pasi, dia terdiam di tempat dan tanpa mengeluarkan suara apapun. Semua orang dibuat heran olehnya.
"Tu- Tuan muda." ujar Toni terbata bata karena terkejut sekaligus takut.
Jovi mengerutkan keningnya dan memicingkan matanya kearah Toni.
Semua orang lagi lagi dibuat tercengang karena Toni yang memanggil Jovi sebagai Tuan Muda.
__ADS_1
"Apa telingaku sudah rusak? Seorang Toni memanggilnya Tuan Muda, memangnya siapa anak itu?" ujar salah satu pelanggan cafe.
"Entahlah, lebih baik kita diam saja, jangan menebak nebak, ikuti saja alurnya," jawab temannya
Toni seketika teringat oleh peringatan kepala keluarga Adiguna yaitu Ayah Jovi, agar tidak membocorkan identitas anaknya. Toni semakin linglung, saat ini dia tidak bisa berpikir jernih, dia mencoba mengatur nafasnya agar bisa kembali tenang, dia takut ketegangannya akan membawa kecurigaan pada orang orang disekitar.
"Maafkan saya Tuan Alex, saya akan berusaha untuk mengganti kerugian yang Tuan terima, tapi tolong maafkan karyawan saya ini," ujar Toni dengan nada ketakutan, dia bukan takut pada Alex melainkan pada Jovi.
Tapi Alex salah mengartikan sikap Toni, dia mengira Toni takut padanya, hingga ia mendongak dengan sombongnya.
"Memangnya kau bisa bayar berapa?" ujar Alex sombong.
"Berapapun. Berapapun saya akan membayarnya untuk anda, asal pertikaian ini disudahi, dan jangan diperpanjang lagi," jawab Toni dengan gugup.
"Dua Ratus Juta, apa kau sanggup?" Alex mengeluarkan harga tanpa sungkan, toh juga Toni telah mengatakan kalau dia sanggup membayar berapapun.
Hah? Dua ratus juta untuk baju yang basah? Apakah itu pantas dihargai semahal itu? Dan bukankah disini aku yang paling dirugikan, gelas gelasku pada berjatuhan dan pecah, akibat dia yang terus saja memukul meja, dan sekarang dia meminta uang ganti rugi sebesar dua ratus juta, ini bukankah seperti pemerasan? Batin Toni
"Kenapa Anda diam saja? Anda tidak sanggup?" ujar Alex yang tidak sabaran.
Sebenarnya Alex cukup penasaran, kenapa Toni tiba tiba tidak berani membentak Jovi setelah melihat wajahnya, tapi dibandingkan dengan uang, rasa penasarannya tetap ia singkirkan.
"Sanggup. Saya sanggup membayarnya, kirim saja nomor rekening anda, saya akan segera mentransfer uangnya ke akun anda," Jawab Toni dengan tidak rela.
Sudahlah, lebih baik aku membayarnya saja, daripada aku kehilangan dukungan dari orang hebat, uang segitu bukan apa apa, selama keluarga Adiguna masih mendukung cafe ini, tidak perlu waktu lama untuk mengembalikan uang segitu. Benak Toni.
__ADS_1
Setelah selesai melakukan transfer, Alex tersenyum sumringah, dia sangat senang mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda.
"Ayo kita pergi, aku sudah tidak ada mood untuk minum disini," Ajak Alex pada teman temannya.