ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Berangkat ke London


__ADS_3

Kini tibalah waktunya Jovi, Adit, dan Lani untuk berangkat ke London.


Aurel, Roni, dan juga Mawar ikut mengantar mereka ke Airport.


"Jaga dirimu disana ya! maaf aku tidak bisa ikut bersamamu meyelesaikan studi di London, Adit aku titip Lani ya! tolong jaga dia baik baik, jika sampai aku mendengar kabar bahwa kamu tidak menjaganya, aku tidak akan sungkan untuk membawanya kembali kesini," ucap Mawar yang tidak rela jika Lani pergi.


"Kamu tenang saja, jika aku sampai tidak menjaganya, itu berarti sama saja aku tidak menjaga kehidupanku dimasa depan, karena aku juga tidak akan hidup tenang jika sampai terjadi sesutu padanya," ujar Adit sambil merangkul pundak Lani, Lani terharu mendengar perkataan Adit, ia menatap Adit begitu lama dengan penuh makna.


"Lani, aku tidak rela jika kamu meninggalkan aku," rengek Mawar.


"Cara satu satunya agar kita tidak terpisah adalah dengan kamu ikut bersamaku," ucap Lani tersenyum.


"Ck ... Jangan katakan itu, karena itu tidak akan mungkin," Mawar mendengus kecewa, Lani tertawa kecil melihat wajah imut Mawar yang sedang kesal.


"Ayolah, jangan cemberut begitu, kamu tahu? Wajahmu yang seperti itu benar benar menggemaskan, aku takut nanti aku jadi tidak rela untuk meninggalkanmu," Lani mencubit pipi Mawar gemas.


"Biar saja, agar kamu tidak jadi pergi dan tetap disini," Mawar dengan cepat menjawab perkataan Lani.


"Dasar .... " Lani mencubit lengan Mawar pelan, dan mereka pun tertawa kecil saling berpelukan.


Sedangkan Aurel, jangan tanyakan itu, Aurel sekarang benar benar bergelayut ditangan Jovi sama sekali tak ingin melepaskannya.


"Sampai kapan akan bergantung ditanganku seperti ini? Jika tanganku sampai putus bagimana?" goda Jovi.


"Jangan bercanda, tanganmu tidak akan putus hanya karena aku peluk begini," jawab Aurel manja.


"Kenapa? Tidak rela jika aku pergi?" Jovi kembali menggoda Aurel.


"Jangan terlalu tebal muka seperti itu, siapa bilang aku tidak rela?" Aurel memasang wajah cemberutnya pada Jovi.


"Kamu yakin?" Jovi tersenyum menggoda menatap Aurel.


"Kamu kenapa menyebalkan sekali sih?" Aurel tidak mampu mengontrol emosinya lantaran hatinya benar benar terasa sedih, kecewa, semua bercampur menjadi satu, terlebih dia benar benar tidak ingin berpisah dengan Jovi.


"Iya iya, jangan marah begitu, tidak enak dilihat," bujuk Jovi sembari mengelus pipi Aurel.


"Ini sudah waktunya kami untuk masuk, apa kamu tetap tidak ingin melepaskan tanganku?" tanya Jovi sambil melirik keponselnya.


"Tidak mau, aku mau tetap bersamamu," Aurel semakin mengeratkan pelukannya pada tangan Jovi.


"Ya sudah, paling aku tidak jadi berangkat melanjutkan studiku disana," ucap Jovi sambil menatap Aurel.


Aurel mendongak menatap wajah Jovi, dan Jovi membalasnya dengan senyuman hangat.


Aurel dengan terpaksa melepaskan tanga Jovi, meskipun hatinya benar benar tidak rela.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan melirik wanita lain dan melupakanmu, semua hatiku adalah milikmu, oh tidak, dari ujung kaki sampai ujung rambut, itu hanya milikmu," ucap Jovi sambil menggenggam kedua tangan Aurel.


"Ih ... menyebalkan," Aurel mencubit Jovi dengan pelan, Jovi tertawa cekikikan, dia sendiri merasa geli dengan apa yang dia katakan.


"Memangnya salah apa yang aku katakan? Begini. Aurelku yang cantik, yang manis, yang manja. Kamu tidak perlu berpikir yang bukan bukan, aku kesana hanya ingin belajar, bukan untuk sesuatu yang lain, percayalah, aku tidak mudah terpikat oleh wanita manapun, sedangkan kekasihku sendiri sudah memiliki lebih dari yang aku harapkan," ujar Jovi sambil memegangi kedua belah pipi Aurel.


"Janji ya, jangan pernah melupakan aku, kamu harus tetap menghubungiku setiap kali kamu memiliki waktu senggang," tatap Aurel dengan serius.


"Iya aku janji, sekarang apa aku boleh pergi?" tanya Jovi dan kembali memegangi tangan Aurel dan Aurel mengangguk pelan.


Disaat Jovi hendak melangkah pergi, namun Aurel dengan eratnya memegang tangannya dan tidak ingin melepaskannya.


"Apakah kita akan benar benar berpisah disini?" ucap Aurel lirih.


"Jika tidak disini mau dimana lagi? Kan hanya sementara, dan tidak selamanya juga, apa yang perlu dikhawatirkan?" Jovi mencoba memberikan pengertian pada Aurel.


"Baiklah." Aurel dengan beratnya melepaskan tangan Jovi.


"Jaga diri kamu disini ya, tunggu aku pulang," ujar Jovi dan diangguki oleh Aurel.


Jovi melangkah pergi, tanpa sadar Aurel menitikkan air matanya, disaat Jovi menoleh kebelakang dan melihat Aurel yang menangis, dia seketika memutar badannya dan berbalik menghampiri Aurel.


"Kenapa menangis? Tolong jangan menangis ya! atau aku tidak akan tenang untuk meninggalkanmu disini," ujar Jovi lalu mengusap air mata Aurel.

__ADS_1


Aurel menubruk Jovi lalu menangis sesenggukan didada Jovi, Jovi mengelus lembut rambut Aurel mencoba untuk menenangkannya.


"Kenapa begitu sedih sampai seperti ini? Aku bukannya meninggalkanmu untuk selamanya, hanya sebentar saja, jadi jangan menangis lagi ya!" bujuk Jovi dengan lembut.


Aurel melepas pelukannya dari Jovi, lalu mengusap air matanya.


"Pergilah, aku tidak akan menangis lagi," ucap Aurel yang terdengar pilu.


"Kamu tidak apa apakan?" tanya Jovi memastikan, Aurel mengangguk pelan.


"Baiklah, aku pergi dulu ya," ucap Jovi dan sekali lagi mengelus rambut Aurel.


Jovi melangkah pergi dan melambai pada Aurel, Aurel juga membalasnya dengan lambaian.


Entah kenapa, perasaannya benar benar tidak enak saat ditinggal oleh Jovi, seperti ada yang mengganjal hatinya, dia merasa hubungannya akan mengalami keretakan, namun dia juga berusaha untuk menyingkirkan perasaan itu, berharap hubungannya bersama Jovi akan baik baik saja.


Setelah punggung Jovi sudah tidak lagi terlihat, Aurel memutuskan untuk pulang kerumah.


Disaat berada dimobil, lagi lagi sakit kepalanya kembali menyerang, kepalanya serasa ingin pecah, Aurel memejamkan mata sambil memegangi kepalanya dengan sangat kuat.


Apa yang terjadi padaku? Kenapa sakit kepala ini datang lagi? Apa karena aku yang kemarin malam bergadang? Dan ditambah terlalu banyak pikiran. Ya, mungkin itu penyebabnya. Benak Aurel.


setelah cukup lama, sakit kepalanya berhenti juga, Aurel menginjak gas berlalu meninggalkan Airport.


***


Kini tiba waktunya pesawat yang membawa Jovi ke London akan lepas landas.


Adit dan Lani selalu berpegang tangan selama dipesawat, tidak mengenal waktu, bahkan saat tidur saja tangan mereka masih saja menempel dengan eratnya.


Sedangkan Jovi, dia hanya sendiri, sesekali dia hanya menatap layar ponselnya, bolak balik melihat fotonya bersama Aurel, dan terkadang juga sampai tertidur.


Setelah kurang lebih 16 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai ketempat tujuan.


Jovi memutuskan untuk menelpon Aurel untuk mengabarkan bahwa dia telah sampai dengan selamat, namun sebelum itu, dia mengirim pesan singkat pada Aurel, untuk memastikan apakah Aurel sudah tidur atau belum.


Waktu sudah hampir tengah malam, namun Aurel belum juga dapat tertidur, saat ponselnya bergetar, dia dengan sangat cepat meraihnya.


****


Waktu demi waktu berlalu, tanpa sadar sudah satu tahun lamanya Jovi berada di London, dan satu tahun pula Aurel tidak bertemu dengan Jovi, kini dia benar benar sangat merindukan Jovi, meskipun mereka tetap berhubungan via telepon setiap hari.


Kini Aurel duduk termenung dijendela kaca dan menerawang jauh menatap burung burung yang terbang jauh sesuka mereka.


"Sedang apa kamu disana? Kenapa sedari pagi ponselmu tidak dapat dihubungi, apa kamu benar benar melupakan aku?" Aurel bergumam sendiri.


"Aurel ... Waktunya untuk makan siang, sedang apa kamu didalam? Kenapa tidak keluar sedari tadi? Ayah dan Adikmu sudah menunggu dibawah," teriak ibunya dari luar.


"Iya Mah, sebentar lagi Aurel nyusul, Aurel sedang bereskan tugas kuliah," jawab Aurel berbohong.


Disaat Aurel hendak bangun dari tempat duduknya, tiba tiba dia kehilangan keseimbangan, kepalanya lagi lagi terasa sakit, Aurel terpaksa berpegang didinding, agar dirinya tidak tumbang kelantai.


Aurel memaksakan diri berjalan keluar dengan langkah pelan, disaat dia menuruni anak tangga dia melihat ayah dan ibunya menoleh kearahnya.


"Ayo sini, kita makan bersama," panggil ayahnya.


"Iya Pah." Aurel memaksakan dirinya untuk tersenyum, dia berusaha agar orang tuanya tidak mengetahui bahwa dia sedang tidak sehat.


Baru beberapa anak tangga yang ia turuni, tiba tiba kakinya tergelincir, Aurel tidak dapat mempertahankan keseimbangannya.


"Aakkhhh .... " Aurel berteriak kaget, dan akhirnya tubuhnya kini berguling guling dari ketinggian anak tangga.


Kedua orang tuanya beserta adiknya, berteriak histeris melihat Aurel yang jatuh dari atas tangga.


Mereka berlari menghampiri Aurel yang kini sudah tergeletak dilantai dengan kepala yang dilumuri darah segar.


"Pah, cepat bawa Aurel kerumah sakit!" teriak ibunya dengan sangat panik.


Ayahnya segera menggendong tubuh Aurel yang sudah tidak berdaya, berlari kemobil, dan segera melajukan mobil dengan sangat cepat kearah rumah sakit.

__ADS_1


Tiba dirumah sakit, tim perawat dengan cepat menyambut tubuh Aurel dan membawanya keruang darurat.


Kedua orang tua Aurel menunggu diluar dengan sangat panik, mereka sangat gemetaran melihat anak mereka yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang melumuri kepalanya.


Ibunya sudah tidak mampu untuk berdiri, dia duduk dengan selalu meremas jari jarinya yang sudah berkeringat dingin karena panik.


Air matanya tidak berhenti mengalir deras, mengingat anaknya yang sedang bertaruh nyawa didalam ruangan sana.


"Kenapa mereka lama sekali didalam? Apa yang mereka lakukan pada anakku, tidak bisakah menolongnya dengan cepat, jika lama begini bisa bisa anakku tidak tertolong," ucap Ibunya frustasi.


"Kamu jangan berkata seperti itu! tenanglah sedikit, dokter sedang berusaha menyelematkan Aurel," ujar ayahnya tak kalah panik.


"Tenang kamu bilang? Dalam situasi seperti ini kamu menyuruhku untuk tenang? Apa kamu masih waras? Apa kamu masih perduli pada anakmu yang sekarang berada diambang kematian?" bentak Bu Dina pada Pak Doni.


"Lalu kamu mau aku bagaimana lagi? Apa kamu pikir dengan cara mengoceh tidak karuan seperti itu akan menjamin dia untuk tetap hidup?" Pak Doni juga semakin tersulut emosi.


"Kalian berdua stop, kenapa sih? Tidak bisakah kalian menunggu dengan berdoa saja? Kenapa harus berdebat seperti ini? Memangnya Papa sama Mama tidak memikirkan Kak Aurel didalam sana? Dia akan sedih jika melihat kalian yang seperti ini, doa kalian adalah satu satunya yang diperlukan Kak Aurel saat ini, jadi aku mohon sama kalian, tetaplah diam dan banyak banyak berdoa untuk Kakak, agar tuhan memberikan dia kesempatan hidup sekali lagi," ucapan Adiknya Aurel berhasil membuat orang tuanya diam seribu bahasa.


Setelah setengah jam menunggu, akhirnya dokter keluar juga, mereka bangkit dengan cepat menghampiri.


"Dokter. Bagaimana?" ayahnya orang pertama memberikan pertanyaan pada dokter.


"Lukanya cukup serius, ditambah dia memiliki riwayat operasi, untuk saat ini saya belum bisa mengatakan dengan detail, tunggu laporan hasil pemeriksaannya keluar, kita akan mengetahui, apakah ada yang tidak beres akibat benturan dikepalanya," ucap dokter dengan serius.


"Apakah kami boleh masuk untuk melihatnya?" tanya Bu Dina.


"Silahkan, tapi saya harap jangan sampai mengganggu pasien," jelas dokter lalu melangkah pergi.


Saat mereka masuk, yang terlihat hanyalah Aurel yang terbaring lemah diatas ranjang pasien, semua alat bantu terpasang ditubuhnya, wajahnya begitu pucat, tidak ada Aurel yang biasanya sangat galak, sekarang hanya ada Aurel yang begitu lemah, bahkan untuk membuka matanya saja tidak mampu.


Ibunya menangis tanpa suara melihat anaknya lagi lagi harus terbaring tak berdaya dirumah sakit yang sama seperti empat tahun silam.


Namun sekarang dia tidak tahu apakah anaknya mampu melewatinya seperti kejadian empat tahun yang lalu.


"Pah ... Apa Kakak akan baik baik saja? Dia pasti akan bangun lagikan? Dia tidak mungkin akan meninggalkan kita disinikan?" Fina, Adiknya Aurel menangis dipelukan ayahnya.


"Iya, Kakakmu pasti akan baik baik saja, dia kan wanita yang kuat, apa kamu tidak ingat dulu kakakmu juga pernah mengalami kecelakaan, dan dia bisa sembuh seperti sedia kala, jadi ini tidak menutup kemungkinan bahwa kakakmu akan baik baik saja," ujar ayahnya menenangkan Fina.


"Nak, kamu harus kuat ya, jangan tinggalkan kita, kita semua disini mengharapkanmu untuk bangun, apa kamu tidak ingin bertemu Jovi? Bukankah setiap waktu kamu selalu menceritakan tentang Jovi ke kita semua, dia pasti sedih jika melihatmu terbaring lemah seperti ini, jadi kamu harus segera bangun ya!" Bu Dina menangis sesenggukan disamping Aurel sambil menggenggam tanggannya.


***


"Pah, kenapa anak kita belum sadar juga, ini sudah sore, dia baik baik saja kan?" Bu Dina menoleh kearah suaminya, dia sudah duduk disamping Aurel selama berjam jam, namun Aurel juga tak kunjung bangun, dia semakin khawatir dengan keadaan anaknya.


"Tunggu saja, dia pasti baik baik saja, sebentar lagi mungkin dia akan sadarkan diri," Pak Doni sudah tidak tahu harus berkata apa, karena dia sendiri juga merasa sedikit panik.


Dimalam hari, Aurel pelan pelan membuka matanya.


Ibunya yang melihat itu dengan cepat bangkit dari duduknya, melihat keadaan Aurel.


"Aurel, kamu sudah bangun? Apa yang tidak enak sayang? Katakan pada Mama!" ucap Ibunya dengan sedikit merasa senang melihat Aurel membuka matanya, Pak Doni dan Fina segera menghampiri Aurel.


"Aakkhh ... Kepala Aurel sakit Mah, Pah." Aurel memegangi kepalanya yang teramat sakit, lebih sakit dari yang sebelumnya.


"Pah, panggil dokter!" ucap Ibunya dengan panik.


Dokter datang dan memeriksa Aurel.


"Kenapa dengan kepala saya Dok? Kenapa akhir akhir ini kepala saya sering sakit?" tanya Aurel.


"Begini. Saya harap kamu tidak panik saat mengetahui kebenarannya," ucap dokter serius.


"Katakan saja Dokter," ujar Aurel dengan mata yang terlihat sayu.


Dokter memandang kearah Ayah dan ibunya Aurel, pertanda apakah mereka setuju jika itu diberitahukan pada Aurel.


"Memangnya kenapa Dok? Anak saya baik baik saja kan?" tanya Bu Dina.


Dokter menghela nafas panjang, rupanya orang tua Aurel tidak mengerti apa yang dia maksud.

__ADS_1


Ada yang tahu apa yang akan Dokter katakan selanjutnya?


__ADS_2