
Mendengar perkataan Jovi, seketika hati Mawar terlonjak lonjak karena begitu senang, mendengar Jovi yang memujinya saja sudah teramat senang, bagaimana jika dia mendapatkan lebih dari itu?
Karena Jovi yang mengatakannya, Mawar tidak punya alasan untuk menolak, dia meraih mikrofon dari tangan Roni.
"Baiklah, jika ini mau kalian, aku akan bernyanyi untuk menghibur kalian yang saat ini sedang memadu kasih," ujar Mawar dengan sangat manis tetapi hatinya terasa begitu pahit.
Lani bertepuk tangan gembira saat Mawar akan bernyanyi, jujur saja dia tidak pernah mendengar Mawar bernyanyi, dan dia sangat ingin mendengarnya.
Mawar berdehem beberapa kali untuk menetralkan suaranya, kerongkongannya terasa kering, namun dia tetap mencoba untuk bernyanyi.
Mawar memilih lagu yang akan dia nyanyikan, dan dia tertarik untuk menyanyikan lagu yang berjudul cinta segitiga.
Saat Adit mengetahui judul lagu yang dipilih oleh Mawar, dia mengangkat alisnya setinggi mungkin.
"Tunggu tunggu, kenapa kamu memilih lagu yang seperti itu? Itu lagu sedih, bukan romantis," ujar Adit heran.
"Kamu diam saja, yang mau bernyanyi itu aku, terserah padaku mau memilih yang mana, jadi kamu duduk manis saja disana menikmati lagunya dan jangan banyak bicara," bantah Mawar.
Adit menyunggingkan bibirnya heran, dia pun kembali diam tak mau mempermasalahkannya lagi.
Apakah jika setiap wanita sedang kesal akan berubah menjadi galak? Mawar dulunya tidak pernah galak galak pada setiap orang, sekarang kenapa malah ikut ikutan galak begini? Apa mungkin dia ketularan pada sikap Aurel? Batin Adit sambil melirik kearah Aurel yang sedang bersandar dibahu Jovi.
Aurel menangkap basah Adit yang meliriknya seakan sedang berpikir sesuatu.
"Kenapa? Jangan mencoba untuk berpikir yang aneh aneh, atau kamu akan rasakan akibatnya," bentak Aurel.
Adit seketika mengalihkan pandangannya dengan cepat tak berani berdebat dengan ratunya wanita galak. Itulah gelar yang diberikan Adit pada Aurel, sang ratu galak.
Mawar duduk memejamkan mata lalu bernyanyi dengan menghayati setiap kata dari lagu itu sendiri.
setiap kata mengandung rasa sakit yang mendalam dan membekas dihati, dan itu mampu membuat air mata Lani dan Aurel serta Mawar sendiri bercucuran air mata, Lani dan Aurel tak dapat membayangkan jika mereka yang mengalami hal itu, sedangkan Mawar, dia menangis karena dia sendirilah yang merasakannya, tidak ada yang lebih sakit dari Mawar, namun beruntung dia memiliki hati yang begitu kuat, hingga ia mampu bertahan sampai sekarang.
Suara merdu Mawar, siapa yang tak akan tergetar bila mendengarnya? Sejenak mereka semua terpaku dalam keheningan, hanya terdengar suara Mawar melantunkan lagu yang membuat hati serasa pedih.
Saat Mawar selesai membawakan satu lagu, Lani dan Aurel bertepuk tangan sambil sesekali mengusap air mata mereka yang sukses dibuat mengalir oleh Mawar.
Adit menoleh kearah mereka bertiga dan merasa heran.
"Kalian kenapa menangis?" tanya Adit.
"Kamu tidak akan mengerti, hati kami para wanita begitu lembut selembut sutra, hal sedih yang sekecil apapun mampu membuat kami meneteskan air mata, bahkan hanya dengan sekedar lagu," ujar Lani sambil mengusap air matanya.
"Iya, tetapi jika kalian para wanita sedang marah bisa berubah menjadi singa, sangat mengerikan," timpal Adit lagi.
"Dasar .... " Lani mencubit bahu Adit kesal, Adit tertawa melihat wajah kesal Lani.
Sedangkan Aurel saat ini, kembali bergelayut dipelukan Jovi.
"Sudah jangan menangis lagi! itu hanya sebuah lagu, kenapa harus buang buang air mata?" Jovi mengelus punggung Aurel untuk menenangkannya.
Aurel memeluk pinggang Jovi dengan manja sambil menyandarkan kepalanya didada Jovi.
Mawar semakin terbakar cemburu melihat kemesraan mereka berdua, namun dia bisa apa? Dia tidak berhak untuk cemburu, mengingat bahwa dia bukanlah siapa siapa.
"Kita sudah cukup lama disini, waktunya juga sudah mau habis, lebih baik kita keluar saja, agar para wanita ini juga bisa lebih tenang setelah menghirup udara segar." Roni berkata sambil bangkit dari tempat duduknya, mereka semua mengangguk setuju dan keluar dari sana.
"Selanjutnya kita kemana?" tanya Adit saat mereka telah berada diluar.
"Bagaimana jika kita kepantai, waktu sore begini akan menyenangkan jika bermain dipantai, karena matahari juga sudah redup," ujar Aurel.
"Bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Adit lagi.
"Kami hanya ikut saja kemana pun kalian akan pergi, ya kan Mawar?" Roni menoleh kearah Mawar dan Mawar hanya mengangguk saja.
"Ya sudah, ayo berangkat, kita kembali menikmati suasana baru dipantai," teriak Adit yang begitu gembira.
Semuanya hanya bisa menggelengkan kepala pelan melihat tingkahnya.
Mereka berangkat ketempat tujuan, dan disaat mereka sampai disana, hati Mawar terasa bergetar melihat pantai itu. Ya, pantai itu tidak lain adalah tempat dimana dia menangis sejadi jadinya saat hatinya benar benar terpuruk melihat orang yang dicintainya memilih wanita lain.
__ADS_1
Kini dia kembali datang, seketika dia teringat kembali dengan kejadian pahit itu, hingga ia hanya bisa berdiri tegak menatap lurus kearah laut yang saling berkejar kejaran dari kejauhan.
"Mawar, ayo!" suara Lani yang memanggil, saat melihatnya masih saja berdiri disamping mobil, Mawar mengangguk dan melangkah dengan malas.
"Wah ... Disini enak sekali, pemandangan disana juga begitu indah," ujar Lani.
"Jika kau mau, aku bisa membawamu kesini setiap hari," kata Adit.
"Benarkah? Terimakasih sayang," jawab Lani lalu memeluk Adit.
Sedangkan Jovi dan Aurel, mereka berjalan dipesisir pantai sambil bergandengan tangan sesekali mengobrol ria bersama Aurel.
"Pergi bersama, tetapi mereka malah sibuk dengan pasangan mereka sendiri, aku dilupakan," Mawar berbicara sendiri sambil memainkan pasir menggunakan kayu kecil ditangannya.
Mawar tidak menyadari bahwa Roni mendengar ucapannya.
"Kau tidak perlu sedih, masih ada aku, aku juga sendiri, kita memiliki nasib yang sama," ujar Roni, dan membuat Mawar tersentak kaget lalu menoleh kebelakang, terlihat Roni yang berdiri dan tersenyum kearahnya.
"Kamu rupanya, buat aku terkejut saja," Mawar kembali melanjutkan aktifitasnya mengukir diatas pasir.
Roni menghampiri Mawar dan duduk disebelahnya.
"Kamu sedang apa?" Roni melihat kearah pasir yang sedang diukir Mawar, seketika Roni terkejut mendapati Mawar yang menuliskan nama Jovi disana.
"Kamu menyukai Jovi?" Roni berteriak dan membelalakkan matanya tidak percaya.
"Sssttt ... Tutup mulutmu!" Mawar segera menyumpal mulut Roni yang terlalu berisik, lalu dia dengan cepat menghapus apa yang dia tulis barusan diatas pasir, dia sendiri juga kaget, kenapa bisa tangannya bergerak tanpa sadar mengukir nama Jovi.
"Mawar, kamu serius?" tanya Roni masih tak dapat percaya.
"Hah? Siapa bilang? Aku tidak menyukainya, jangan menebak sembarangan," kata Mawar berbohong.
"Aku tidak menebak dengan sembarangan, aku melihatnya dengan sangat jelas, bahwa kamu menulis nama Jovi disana," bantah Adit.
"Tidak, kamu salah lihat, aku tidak menulis namanya." Mawar terus saja mengelak.
"Jika aku salah lihat, kenapa kamu buru buru menghapusnya? Sudahlah, katakan saja yang sejujurnya, tidak perlu berbohong padaku!" kata Roni datar.
"Jika memang kamu menyukai dia, berarti kita memiliki nasib yang sama," Roni berkata dengan datar sambil menerawang jauh menatap lautan lepas yang ditiup angin kencang.
"Maksud kamu?" Mawar menoleh kearah Roni tak mengerti.
Roni ikut menoleh kearah Mawar sembari tersenyum kecut.
"Apa boleh aku berkata jujur padamu?" Roni menatap sayu kearah Mawar.
"Tentu, katakan saja!" Mawar mengangguk pelan.
"Ini terasa sulit untuk dikatakan," kata katanya terhenti dan menunduk memandangi butiran pasir, lalu Roni menoleh pelan kearah Mawar.
"Aku menyukai Aurel." Roni tersenyum pahit usai mengatakan ucapannya.
"Hah?" Mawar terbelalak dan menganga selebar mungkin.
Roni tertawa kecil melihat ekspresi Mawar, tawa yang begitu renyah, namun menyimpan sejuta luka yang mendalam.
"Apa kamu akan terus membuka mulutmu seperti itu? Tidak takut makan angin?" ledek Roni.
Mawar tersadar hingga mengedipkan matanya beberapa kali segera menutup mulutnya.
"Lebih tepatnya makan hati," timpal Mawar, dan mereka pun tertawa kecil.
"Ngomong ngomong, sejak kapan kamu menyukainya?" tanya Mawar.
"Jauh sebelum Jovi mengenal Aurel, tapi aku bisa apa? Hatinya memilih Jovi, dan aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya, jika bersama dengan Jovi adalah suatu kebahagiaan untuknya, aku tidak punya alasan untuk tidak merelakan dia," jelas Roni, terlihat jelas bahwa hatinya terasa rapuh menerima kenyataan yang tak diinginkannya.
"Mencintai itu mudah, yang membuatnya sulit adalah jika orang yang kita cintai tidak bisa kita miliki, cinta memang cukup sederhana, kita tetap bisa bahagia meski hanya bisa melihatnya dari kejauhan, walau terkadang juga begitu rumit disaat ingin digapai, tapi tak mampu tergapai, dan semua itu kembali pada diri kita sendiri, tergantung pada kekuatan hati, apakah mampu bertahan atau justru harus menyerah," Mawar berkata sambil menatap lurus kedepan, sesekali tersenyum kecil, senyum yang mengandung ribuan duri dalam hatinya.
"Sulit untuk menerima kenyataan yang tidak kita inginkan, tapi hanya dengan begitulah hati kita bisa belajar untuk bersabar, Tuhan tahu apa yang kita inginkan, tapi bukan berarti itu yang terbaik, aku yakin, suatu saat aku mampu melewati ini, dan menggapai kebahagiaan itu, meskipun itu terlihat sangat jauh dari pandangan." mereka saling merangkai kata yang tersirat dari hati mereka sendiri, dan sesekali melirik kearah orang yang mereka cintai, yang sekarang sedang tertawa bahagia bersama pasangan mereka.
__ADS_1
"Karena kamu mau jujur, aku juga tidak akan menutupinya lagi, kamu benar, aku memang menyukai Jovi, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk merebutnya dari Aurel, aku mendukung kebahagiaan mereka, meski harus menyimpan luka yang teramat dalam, dan semoga aku mampu melewatinya," ujar Aurel yang berterus terang.
"Akhirnya kamu mau berterus terang juga," ucap Roni puas.
"Kenapa? Eh. Jangan bilang kamu hanya memperdayai aku, kamu sengaja mengarang ceritamu agar aku mau mengatakan semuanya?" Mawar melototi Roni curiga, Roni tertawa geli setelah mendengar pernyataan Mawar.
"Kenapa kamu tertawa? Kamu benar benar menipuku?" Mawar semakin kesal melihat Roni yang hanya diam saja.
"Tidak, tidak. Aku tidak menipumu, yang aku katakan adalah fakta, jadi tidak perlu khawatir," Roni mencoba menenangkan Mawar yang sudah bersiap untuk memukul.
"Kamu serius? Tidak berbohong kan?" Mawar masih ragu dengan perkataan Roni.
"Iya aku serius," ujar Roni mengangguk pelan.
Mawar merasa lega, dan kembali membetulkan posisinya ketempat semula, karena tadi dia benar benar bersiap untuk menyerang Roni jika memang Roni berani menipunya.
"Meraka kenapa lama sekali, apa belum puas juga? Aku sudah mulai lelah sedari tadi hanya duduk disini, Lani juga, dia benar benar melupakanku," Mawar berkata dengan cemberut.
"Kamu tidak mengerti, jika sedang jatuh cinta, waktu seberapa banyak pun tidak akan terasa cukup untuk mereka, jangan tanyakan kenapa Lani melupakanmu, sebenarnya dia tidak benar benar melupakanmu, hanya saja hatinya begitu gembira hingga lupa segalanya untuk sesaat," ujar Roni datar.
"Kenapa orang yang sedang pacaran begitu menyebalkan seperti ini?" gerutu Mawar.
"Mereka tidak menyebalkan, kamu saja yang mempersulit hatimu, karena kamu tidak merasakan bagaimana rasanya jika sedang pacaran, lebih tepatnya kamu sedang kesal pada dirimu sendiri," ledek Roni.
"Kamu meledekku? Menyebalkan sekali." Mawar terus saja memasang wajah masamnya, dan Roni hanya bisa tertawa.
"Kamu meledekku, apa kamu tidak merasa jika kamu juga sedang tidak memiliki pasangan? Kasian sekali," Mawar berbalik meledek Roni.
"Ya setidaknya aku tidak kesal pada mereka, tidak sepertimu, yang terlihat iri pada setiap pasangan yang sedang bahagia," jawab Roni santai.
"Kamu .... " Mawar melototi Roni karena kesal.
"Tidak. Ampun, ampun, aku menyerah," Roni mengangkat kedua tangannya setinggi mungkin, takut jika Mawar akan benar benar mengajaknya untuk bertarung.
"Hey, kalian. Apa masih belum cukup bermainnya? Kembali sekarang juga!" Mawar berteriak pada kedua pasangan itu, seperti seorang ibu yang sedang memerintahkan anaknya.
"Kamu benar benar berani meneriaki mereka?" Roni tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Kenapa tidak? Hatiku sedang kesal, dan kamu malah menambahkan kekesalanku, jadi lebih baik aku melampiaskan pada mereka, sudah cukup mereka merasa senang, sekarang waktunya aku yang bereaksi," Mawar berkata sambil berkacak pinggang.
"Terserah kamu sajalah," Roni tak ingin berdebat lagi, karena jika dia melanjutkannya, dia tau bahwa dia jugalah yang akan kalah.
"Katakan pada mereka, waktunya untuk minum kelapa muda yang ada disana, aku haus sedari tadi hanya duduk disini, hanya angin yang masuk kemulutku," ujar Roni yang menunjuk kepenjual kelapa muda.
"Dasar .... " Mawar menyunggingkan bibirnya tersenyum kecil.
Mereka mendengar suara Mawar yang berteriak, akhirnya malah menurut dan berhenti pada aktifitas mereka, pergi. menghampiri Mawar dan Roni.
"Ada apa?" tanya Adit.
"Masih bertanya ada apa? Kalian ini egois sekali, kalian tahu kan kalau ini adalah acara kelulusan kita bersama, tapi kenapa malah asyik sendiri?" Mawar mendadak jadi ibu ibu sewot saat memarahi mereka.
"Galak sekali, sudah jangan marah begitu, kami kelupaan, maaf ya!" Lani mencoba membujuk Mawar agar tidak marah.
"Apa kalian sudah tahu salah?" gerutu Mawar, dan mereka mengangguk dengan nurutnya.
"Ya sudah, kalian harus ganti rugi pada waktuku yang terbuang sia sia, hanya duduk menunggu kalian yang bersenang senang sedari tadi." Mawar terus saja mengoceh pada mereka.
"Lalu Nona Mawar mau kami menggantinya dengan apa?" Aurel ikut menimpali.
"Aku mendadak haus setelah mengomeli kalian, kita kesana dan minum kelapa muda, tapi Adit yang bayar semuanya," Mawar menunjuk kearah penjual kelapa muda lalu menoleh kearah Adit.
"Aku lagi?" Adit menunjuk dirinya sendiri.
"Lalu jika bukan kamu siapa lagi? Kamu berani untuk membantah?" bentak Mawar.
"Baiklah, akan aku tanggung semuanya." Adit akhirnya menyerah pada Mawar.
"Begitu dong. Ayo!" Mawar berlalu pergi dan mengedipkan mata pada Roni merasa menang, ya memang itu sudah direncanakan oleh mereka berdua.
__ADS_1
Roni menggelengkan kepala dan tersenyum geli, lalu ia pun bangkit menyusul Mawar.