
****
Keesokan harinya, seorang senior dikampus menempelkan kertas di Majalah Dinding yang berisikan tentang akan diadakan perkemahan antara mahasiswa baru yang akan dibimbing oleh para senior dan dua orang Dosen, namun setiap orang yang melihat pengumuman itu, mereka malah terfokus oleh sebuah foto yang tertempel tepat disamping pengumuman, orang yang didalam foto adalah Jovi dan Mawar, foto itu diambil saat Jovi dan Mawar berhadapan dan saling menatap, dimana tempo hari mereka hanya berdua saja didalam ruangan.
Dibawah foto itu bertuliskan,
ASMARA SI JELEK DAN SI MISKIN,
SUNGGUH PASANGAN YANG SERASI.
Semua orang yang melihatnya, tertawa geli sekaligus menganggap remeh mereka berdua.
Sedangkan Jovi, sepanjang dia berjalan tidak lepas dari tatapan hina dari semua mahasiswa, membuat dia bingung dengan sikap mereka.
"Kau membuat kesalahan apa lagi? Kenapa semua orang memandangimu dengan tatapan tidak suka dan bahkan ada juga yang menertawakanmu," tanya Adit
Jovi hanya mengangkat bahu tanpa berbicara apapun, sikapnya seolah tidak perduli dengan pandangan orang terhadapnya, dan lagian dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun, jadi kenapa harus perduli dengan hal yang menurutnya tidak penting.
"Kau ini, sikap macam apa ini? Aku bertanya padamu karena aku perduli, tapi kau malah tidak meresponku dan berpura pura tidak melakukan kesalahan apapun," Adit sedikit kesal dengan sikap Jovi.
"Memangnya kesalahan apa yang bisa kubuat? Aku seorang mahasiswa teladan, tidak pernah melakukan kesalahan," Jovi dengan santainya berkata pada Adit tanpa berhenti berjalan.
"Hng. Teladan apanya, sombongkan saja terus dirimu itu," Adit melengkungkan sudut bibirnya menatap lurus kedepan.
"Aku tidak menyombongkan diri, hanya berbicara sesuai fakta," ucap Jovi datar.
Saat mereka sedang asik berjalan santai, Adit melihat para mahasiswa berkerumun di dekat Majalah Dinding, dia segera menyetop langkahnya, sedangkan Jovi yang tidak menyadarinya, terus saja berjalan tanpa menoleh kearah manapun.
Saat Jovi hendak berbicara, dia mendapati Adit tidak berada disebelahnya, dia menoleh kebelakang, dan benar saja Adit sedang berdiri mematung sambil mengamati kerumunan para mahasiswa.
"Apa yang kau lakukan disitu? Apa kau berniat berdiri disana sampai besok pagi?" teriak Jovi.
Adit menoleh kearah Jovi, "Sini dulu!!" panggil Adit.
"Apa?" Jovi mengangkat alisnya tak mengerti.
"Sini!!" Adit hanya mengulangi panggilannya tanpa memberikan penjelasan.
__ADS_1
Jovi mau tak mau menuruti saja panggilan dari Adit, dia kembali berjalan dengan malas menghampiri Adit.
"Kenapa sih?" tanya Jovi.
"Kau lihat disana!" ujar Adit sambil menunjuk kearah kerumunan.
"Kenapa? disana hanya ada banyak orang berkerumun, apa yang membuatmu tertarik sampai berdiri mematung disini?" tanya Jovi.
"Ayo ikut aku kesana!" seru Adit sambil menepuk pundak Jovi.
"Kau sajalah, aku malas berdesak desakkan dikurumunan itu," ujar Jovi sambil berbalik badan ingin pergi, namun Adit dengan cepat menarik tas ransel Jovi, membuat Jovi menyetop langkahnya.
"Ayolah, sebentar saja," mohon Adit.
"Berhenti memasang ekspresi seperti itu, kekanakan sekali," ujar Jovi.
"Temani aku jika kau tak ingin melihat ekspresi yang seperti ini," ujar Adit memelas.
"Oke, oke." Jovi dengan malas melangkah mengikuti Adit.
"Tolong beri jalan untuk tuan muda ini!" teriak Adit.
Semua orang menoleh, saat melihat orang yang dibelakang mereka adalah Adit, mereka segera menyingkir dari sana, saat mereka melihat Jovi disamping Adit, mereka sibuk berbisik satu sama lain, sebagian orang menatap Jovi dengan tatapan sinis.
"Kenapa sampah ini bisa berteman baik dengan tuan muda Adit? Merendahkan martabat orang lain saja," bisik salah satu mahasiswa.
"Sssttt. Jangan banyak bicara, disini ada tuan muda Adit, dia bisa mendengarnya," temannya segera memperingati.
Saat Adit mengamati majalah dinding, tiba tiba dia paham kenapa semua orang menertawakan Jovi, itu karena foto Jovi dipajang dan dilihat semua orang.
"Ternyata ini yang membuat semua orang menertawaimu, sejak kapan kau pacaran dengan si Mawar itu?" tanya Adit pada Jovi.
Jovi sama sekali tidak terlihat peduli dengan fotonya yang dipajang disana, melainkan dia hanya fokus membaca pengumuman untuk semua mahasiswa baru.
Adit yang melihat Jovi tak merespon pertanyaannya, dia segera menyenggol Jovi dengan sikunya, membuat Jovi menoleh kesamping dan mengerutkan keningnya.
"Aku sedang bertanya, kenapa kau diam saja?" gerutu Adit.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Kau juga perduli dan percaya dengan apa yang kau lihat difoto itu?" tanya Jovi datar.
"Memangnya ini tidak benar?" tanya Adit.
"Kau pikirlah sendiri, jika aku memang pacaran, kenapa bisa kau tidak tau, sedangkan kau orang yang sangat ingin tahu tentang kehidupan pribadi orang lain," ledek Jovi.
"Sialan kau," Adit menonjok bahu Jovi pelan, Jovi hanya tertawa.
Adit berbalik badan dan mengitari pandangannya keseluruh orang disekitar.
"Siapa diantara kalian yang berani mengusik sahabatku Jovi, itu berarti kalian juga mengusikku, kuperingatkan pada kalian untuk bersikap baik mulai sekarang, jika tidak, kalian akan tahu akibatnya," kata kata Adit terhenti sejenak.
"Jika sampai aku mengetahui jika kalian berani mencari masalah dengan Jovi, tunggu saja balasan dariku," ujar Adit dengan tegas, semua orang menunduk terdiam tak berani berbicara sedikitpun, bahkan untuk mengangkat kepala menatap Adit pun tidak berani.
Setelah mengucapkan apa yang ingin dia katakan, Adit dan Jovi pun berlalu pergi.
"Kau seharusnya tidak perlu melakukan itu, aku bisa melindungi diriku sendiri, aku sama sekali tidak takut dengan orang orang yang ingin mencari masalah denganku." Jovi berbicara dengan serius.
"Aku percaya kau bisa melindungi dirimu sendiri, secara kau itu lelaki, tetapi sebagai sahabat, apa salah aku memberikan sedikit pembelaan untukmu selagi aku masih bisa melakukan itu?" ujar Adit dengan serius pula.
Jovi sedikit terharu dengan ucapan Adit, dia tersenyum kecil didalam hati, tidak menyangka ada orang yang tulus ingin berteman dengannya padahal Adit hanya mengetahui kalau Jovi hanya anak miskin yang tidak memiliki apa apa.
Sebelumnya aku hanya mengira jika sampai kapanpun tidak akan ada orang diluar sana yang akan perduli denganku selama aku tidak membongkar identitasku, tetapi aku salah, masih ada Adit dan Roni yang bersedia menjadi temanku. Batin Jovi.
"Kau kenapa melamun," Adit melambaikan tangannya kewajah Jovi dan membuat Jovi tersadar kembali
Jovi menggelengkan kepalanya, dan berkata, "Tidak, tidak apa apa," ujar Jovi.
"Ya sudah jika tidak apa apa, ayo ke kelas!" ajak Adit, dan disetujui oleh Jovi.
Disaat mereka berjalan menuju kelas, tidak sengaja mereka berpapasan dengan Aurel, kali ini Aurel tidak lagi mengamuk ngamuk jika bertemu mereka berdua, itu membuat Adit sedikit heran.
"Hai Rel. Ada apa? tumben hari ini diam saja? Apa kau sakit?" tanya Adit.
"Tidak, aku baik baik saja," Aurel dengan cepat menggelengkan kepalanya.
Aurel benar benar tidak tahu kenapa akhir akhir ini dia menjadi salah tingkah saat bertemu Jovi, terlebih jantungnya tidak mau berhenti berdegup kencang saat dia memikirkan Jovi, dia berusaha untuk tidak memikirkannya, tapi semakin dia berusaha semakin sering pula Jovi melayang dipikirannya.
__ADS_1