
"Kenapa kamu begitu kasar padanya?" Jovi mendekati Roni
"Bagaimana aku tidak marah? Dia membanting ponselku seperti itu, sedangkan ponsel itu adalah barang penting untukku." Roni tampak berwajah muram.
"Tapi kamu benar sudah menodai dia kan?" tanya Jovi.
Roni hanya diam tanpa kata, namun sesaat kemudian ia mengangguk pelan.
"Menurutku, dialah yang paling dirugikan, dia kehilangan keperawanannya karenamu, terlebih kalian tidak memiliki hubungan apapun, wajar jika dia marah, apalagi kamu berniat untuk mempermalukannya, wanita tidak bisa diperlakukan seperti itu, wanita jika dibentak sedikit saja akan mudah menangis," ujar Jovi menasehati sebagai sahabat. Namun Roni tetap tak menggubrisnya, ia masih terdiam tanpa kata.
"Klien masih bisa dicari, bahkan aku akan membantumu untuk mengenalkan pengusaha dan pejabat tinggi untukmu, tetapi jika keperawanan? Mungkin mereka bisa mengoperasi selaput dara mereka, tetapi mereka tetap tidak bisa memungkiri kenyataan yang ada, bahwa mereka pernah ternodai oleh seorang lelaki, kita yang laki laki mungkin tak akan mendapatkan beban apapun, tapi jika mereka? Bagaimana jika mereka sampai hamil? Tidakkah itu sangat merepotkan untuk mereka membesarkan anak sendiri tanpa bantuan dari ayah si anak itu?" Jovi terus memberikan nasehatnya, meskipun dia juga bingung, entah darimana dia bisa mengucapkan kata kata bijak itu.
"Apa aku begitu keterlaluan padanya?" Roni tampak luluh mendengar ucapan Jovi.
"Mungkin baginya seperti itu," ucap Jovi.
Adit saat ini hanya duduk santai di sofa, dia sendiri malas untuk ikut campur masalah orang lain, sementara masalahnya dengan Lani masih tak terpecahkan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Roni yang merasa bersalah.
"Minta maaf yang tulus. Apakah kamu mencintainya?" Jovi langsung bertanya pada intinya.
"Aku tidak tahu, dari dulu aku juga tidak begitu dekat padanya, tetapi setiap aku melihatnya dari dekat, jantungku seperti ingin lepas dati tempatnya. Apakah itu juga bisa dibilang cinta?" Roni bertanya dengan polosnya, padahal dia sendiri juga pernah jatuh cinta pada Aurel, tetapi kali ini dia seakan bodoh dalam mengenal cinta.
"Entahlah, setiap orang memiliki hati yang berbeda, dan mereka mencintai pasangannya dengan cara mereka sendiri, jadi aku tidak bisa menebak seperti apa perasaanmu padanya," Jovi mengangkat bahunya lalu berjalan menuju sofa dimana Adit sedang duduk.
"Kamu kenapa? Dari tadi kulihat begitu murung. Apa ada yang salah padamu?" Jovi menepuk pundak Adit sembari duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Tidak ada. Aku baik baik saja." Adit lebih memilih untuk menyembunyikan masalahnya
"Kamu tidak terlihat baik baik saja. Katakanlah!" Jovi begitu perduli pada mereka, hingga ia tidak ingin melihat sahabatnya itu berada dalam masalah.
"Jika aku bilang baik baik saja, maka aku memang baik baik saja, memangnya aku harus menceritakan masalah apa padamu? Tidak perlu sok memberikan saran pada orang lain, kamu pikir kamu sudah menjadi pria yang begitu sempurna untuk Aurel? Bukankah selama ini percintaanmu dengan Aurel juga tidak dalam keadaan yang baik baik saja?" bentak Adit dengan suara yang lantang, sembari menepis tangan Jovi dari pundaknya.
"Kenapa kau jadi menyinggung soal masalahku yang dulu?" Jovi mengerutkan keningnya merasa sedikit kesal pada ucapan Adit yang sangat tidak enak di dengar.
Dia bertanya hanya karena dia perduli, tetapi tidak menyangka Adit akan salah mengartikan maksudnya.
"Kenapa? Kau tidak suka kan? Maka aku juga begitu, aku tidak suka jika kau memaksaku untuk mengatakan hal yang tidak ingin aku katakan." emosi Adit kini tidak lagi terkendali, akibat dari masalah yang timbul dari hubungannya pada Lani, membuat dia menjadi semakin sensitif.
"Kata kata mana yang keluar dari mulutku hingga kau mengatakan bahwa aku memaksamu? Aku hanya bertanya dengan baik baik, tetapi kau malah memaki maki tak jelas seperti orang gila." Jovi juga mulai tersulut emosi, dia tak suka jika niat baiknya harus disalah artikan dengan cara yang tidak mengenakkan.
Tanpa sempat Jovi menghindar, Adit sudah melayangkan pukulannya kewajah Jovi, Jovi semakin geram melihat tingkah Adit yang begitu tidak bermoral, memukul tanpa alasan.
Jovi juga bangkit dari tempatnya, tidak terima dengan semua makian yang ditujukan padanya.
Dengan menggeram dan mengepalkan tangannya sekuat mungkin, Jovi berhasil memberikan pukulan pada Adit hingga darah segar keluar dari mulut.
Adit tetap tidak mau kalah, lantas mereka bertarung dalam ruangan itu, Jovi sengaja hanya mengelak dari serangan yang dikeluarkan Adit, karena jika dia ikut menyerang, maka Adit bisa saja terluka parah. Adit bukanlah lawan yang sebanding untuknya, terlalu lemah.
Roni yang tadinya baru keluar dari toilet, seketika terkejut melihat pemandangan didepan matanya.
Ia sedikit tidak percaya melihat dua orang itu yang bertarung, pada awalnya Roni mengira bahwa mereka hanya berlatih atau bercanda, tetapi setelah mengamati lebih lama lagi, itu sama sekali tak seperti sedang berlatih, melihat dari serangan buas dari Adit, lebih tepatnya mereka benar benar bertarung dengan serius.
Roni berlari menghampiri mereka berdua, dan dengan cepat memisahkannya.
__ADS_1
Adit benar benar terbakar amarah, dia sama sekali tak berniat untuk menyudahi perkelahiannya, dia seakan sedang dirasuki oleh iblis jahat untuk melenyapkan Jovi.
Dia yang selama ini selalu tampak ceria, tidak menyangka disaat mengalami masalah pada percintaannya, menjadi seganas dan sebuas itu, jati dirinya seakan hilang, dan berganti dengan sosok iblis pembunuh yang kejam.
"Cukup! Apa apaan kau ini?" teriak Roni sembari menampar wajah Adit berusaha untuk menyadarkannya dari pengaruh emosi yang mengendalikan jiwanya.
Adit seketika mematung, berdiam ditempatnya dengan menundukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, ia membalikka tubuhnya melangkah keluar dari ruangan itu.
Braakkk
Suara pintu yang begitu keras yang ditutup oleh Adit, membuat Roni menggeleng tak habis pikir.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa bertarung seperti ini?" tanya Roni pada Jovi.
Jovi hanya diam saja sembari menghempaskan tubuhnya disofa.
ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa menatap langit langit ruangan itu.
Ruangan itu sepi tanpa suara apapun, Jovi saat ini hanya memejamkan matanya merasa pusing dengan masalahnya pada Adit.
Tidak menyangka, dia yang baik baik bertanya, akan mengundang emosi Adit hingga membuat persahabatan mereka harus ternoda.
begitu lama mereka menjalin persahabatan, itu kali pertama mereka benar benar membuat keretakan pada persahabatan yang begitu mulus, tidak tahu, apakah akan kembali semula atau tidak.
Roni saat ini memberikan waktu pada Jovi untuk menenangkan pikirannya, ia sama sekali tak ingin mengganggu, karena orang yang sedang dalam keadaan tidak baik, akan mudah untuk marah.
__ADS_1