
Mendengar Aurel mengatakan bahwa dirinya tidak sakit, Adit menganggukkan kepala curiga.
"Kenapa? Kau tidak percaya?" kata Aurel dengan tatapan tajam kearah Adit, Adit tersenyum takut, jika Aurel mengeluarkan tatapan seperti itu, sudah pasti dia akan mengamuk.
"Tidak,tidak. Santai sajalah, aku bertanya karena aku perduli pada sahabatku yang cantik ini," goda Adit.
"Jangan coba coba untuk menjilatku, aku tidak akan termakan oleh godaan jelekmu itu," sesaat Aurel lupa bahwa disana masih ada Jovi, dia tidak bisa menyembunyikan sikap aslinya yang sangat galak itu.
"Kau ini, aku baik salah, aku jahat lebih salah lagi, kamu maunya aku ini harus bagaimana?" tanya Adit.
Aurel tak menjawab dan hanya memukul tangan Adit dengan kesal.
"Tanganmu itu hobi sekali menyakiti orang, apa tidak pernah diajari sedikitpun?" Adit mengaduh sakit sambil memegangi tangannya.
"Coba kau ulangi sekali lagi perkataanmu itu!" ancam Aurel.
Adit tidak berani lagi berbicara apapun, dia mengangkat kedua belah tangannya sambil tersenyum takut, pertanda dia sudah tidak berani lagi.
Beberapa saat tiba tiba Roni datang menghampiri mereka.
"Ada gosip apa ini? Kenapa aku tidak diajak?" Roni menepuk pundak Adit dan Jovi bersamaan, Jovi dan Adit hanya menoleh sebentar.
"Eh, ada Aurel juga, keliatannya seru nih," ujar Roni tersenyum senang.
"Seru kepalamu? Coba saja terus bicara jika kau ingin dikuliti oleh Aurel," ujar Adit.
"seram sekali, sampai ingin menguliti orang," Roni tersenyum lebar tanpa tahu situasi saat ini.
"Eh, tempo hari siapa ya yang berebut ingin menjemput Jovi? Apa kau ingat Dit?" Roni kembali meledek Aurel.
Aurel seketika menatap Jovi dan terlihat Jovi juga menatapnya tanpa ekspresi apapun, seketika wajah Aurel menjadi merah karena malu.
Adit yang melihat Aurel bertingkah malu, dan tidak melawan balik, dia segera ikut menikmati permainan Roni.
"Iya, aku juga ingat, kemarin ada dua orang wanita yang berebut ingin menjemput sahabat kita ini," timpal Adit sambil merangkul pundak Jovi.
Roni tertawa cekikikan, melihat tingkah Aurel yang malu malu.
"Kalau tidak salah ingat yang satu namanya Mawar bukan? yang satunya aku lupa tuh namanya, siapa ya?" Roni semakin senang meledek Aurel.
"Sebentar, aku ingat ingat dulu," kata Adit sambil memegangi dagunya seakan sedang berpikir.
"Aurel, apa kau tahu siapa orangnya?" kata Adit lagi sambil berpura pura.
Aurel ingin sekali memarahi Adit dan Roni, tetapi dia juga malu karena Jovi sedang memperhatikannya, dia mau tidak mau harus menahan kekesalannya.
__ADS_1
"Minggir kalian, aku malas mendengarkan pembicaraan kalian yang sangat tidak berbobot." Aurel segera berjalan dengan cepat meninggalkan mereka bertiga.
Roni dan Adit tak hentinya tertawa melihat tingkah Aurel.
"Aurel ... Hati hati dijalan, jangan sampai kesandung," teriak Adit lalu dia pun tertawa.
"Lucu sekali melihat tingkahnya yang seperti itu," Roni tak habisnya menertawai Aurel.
"Kalian ini, apa begitu senang menindas seorang wanita seperti itu?" ujar Jovi.
"Ini sangat menyenangkan, jarang jarang kami bisa meledeknya sampai malu seperti itu, biasanya selalu dia yang menindas kami," Jawab Adit.
"Persahabatan kalian ini sangat aneh." Jovi menggelengkan kepalanya.
"Bukankah kita juga seperti itu?" kata Adit lagi.
Jovi hanya mengangkat kedua bahunya tidak menjawab lagi.
"Eh, Jov. Apa kau tidak menyadari sikap aneh dari Aurel?" kata Roni tiba tiba.
"Aneh? maksudnya?" Jovi mengerutkan keningnya tidak mrngerti.
"Astaga, kau itu sangat pintar, kenapa hal seperti ini saja kau tidak mengerti?" kata Roni lagi sambil memukul lengan Jovi.
"Ya, aku mana tahu," ujar Jovi datar.
"Hng. Menyukaiku? Apa wanita galak itu bisa jatuh cinta juga?" Jovi tersenyum kaku.
"Aku serius, jika memang benar dia menyukaimu, lebih baik kau terima saja cintanya," kata Roni lagi.
"Memangnya semudah itu, menerima cinta dari orang lain?" ujar Jovi cuek.
"Heh. Aurel itu bukan orang lain, dia sahabat kami, iya kan Dit?" Roni menyenggol Adit dengan sikunya, Adit segera mengangguk dengan antusias.
"Jika kau sampai tidak menerima dia, kau akan berhadapan dengan kami berdua." Adit ikut membela Aurel.
"Hey. Apa kau masih menganggapku sebagai temanmu? bisa bisanya kau mengancamku," ujar Jovi.
"Karena kau itu sahabat kami juga, makanya kami ingin melihat kalian bahagia, apa salahnya membuka hatimu untuk Aurel, tidak akan rugi juga," timpal Roni.
"Masalahnya aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya," ucap Jovi dengan datar.
"Cinta akan tumbuh sendiri nantinya, yang terpenting jalani saja dulu," Adit tak berhenti membujuk Jovi.
"Dia suka atau tidak dengan aku masih belum bisa dipastikan, jadi kalian jangan banyak berfikir dulu, oke?" jelas Jovi.
__ADS_1
"Aku yakin seratus persen kalau Aurel itu mulai menyukaimu," kata Roni.
"Yah. Selama dia tidak bergerak duluan, aku juga tidak akan maju terlebih dahulu, biarkan mengalir dengan sendirinya saja, apalagi aku tidak memiliki perasaa apapun padanya," kata Jovi lagi.
"Jangan mengatakan tidak memiliki perasaan apapun seperti itu, jalani saja dulu, aku yakin kau akan menyukainya juga," bujuk Adit.
"Pokoknya jika sampai Aurel datang padamu dan menyatakan cintanya, kau harus menerimanya, tidak ada kata tidak, kau mengerti?" tegas Adit.
"Kenapa kau malah mengancamku?" Jovi mengerutkan keningnya kesal.
"Sudah sudah, aku tidak mengancammu, tapi percayalah, aku hanya ingin yang terbaik untukmu," Adit segera menenangkan Jovi.
"Sebagai sahabat, tidak ada salahnya kau menghargai usulan dari kami, jika memang nanti setelah kau menjalaninya dengan Aurel tetapi kau masih juga tidak bisa mencintai dia, mungkin kau bisa mengatakannya pelan pelan pada Aurel, kami juga akan membantumu," ujar Roni sambil merangkul pundak Jovi, Jovi hanya mengangguk tanpa berbicara apapun, lalu mereka pun pergi.
***
malam telah tiba, disaat Jovi selesai mandi, tiba tiba ponselnya berdering, Jovi menggapai ponselnya, dan yang menelponnya ternyata adalah ayahnya.
"Hallo," ucap Jovi saat mengangkat teleponnya.
"Jov, apa kau bisa pulang besok? Ibumu sakit, dia ingin bertemu dengannmu," ujar Ayahnya diseberang telepon.
"Mama sakit? Sakit apa? bukannya selama ini daya tahan tubuhnya cukup fit?" Jovi sedikit khawatir.
"Kata Dokter Albert, Mama kamu terlalu banyak pikiran, makanya kondisi kesehatannya menurun, semenjak kamu pergi, Mama kamu sering tidak nafsu makan, bahkan kadang kadang tidak makan sama sekali," jawab ayahnya.
"Sebaiknya kamu pulang saja dulu melihat Ibumu," ujar ayahnya lagi.
"Memangnya Kalian sekarang dimana?" tanya Jovi.
"Dikediaman keluarga," jawab ayahnya.
Yang dimaksud kediaman keluarga, ialah rumah asli keluarga Adiguna.
"jarakku dari kediaman keluarga cukup jauh, mungkin aku tidak akan lama lama disana," ujar Jovi.
"Tidak apa apa, sekalian kau menyapa gurumu, paman Ghani ada disini juga, dia juga berkata ingin bertemu denganmu, dia ingin mengajarimu ilmu baru yang dia miliki," kata ayahnya.
"Baiklah, besok aku akan berangkat kesana," ujar Jovi setuju.
"Apa perlu dijemput?" tanya Ayahnya.
"Tidak, tidak perlu, aku akan pergi sendiri," Jovi dengan segera menolaknya.
"Baiklah kalau begitu, Papa tutup dulu teleponnya, sampai ketemu besok," ujar ayahnya.
__ADS_1
"Iya," jawab Jovi singkat, lalu telepon pun ditutup.
Jovi pun bergegas untuk tidur sedikit pagi, karena dia berencana untuk pergi sepagi mungkin.