
****
Keesokan paginya Jovi bangun pukul lima pagi, dia bersiap siap untuk pulang kerumah, dia tidak mengendarai motornya, dia sudah menyewa mobil untuk dia pulang, karena jika dia pulang dengan motornya, sudah pasti motornya tidak akan tahan dibawa untuk perjalanan jauh.
dia sengaja tidak membawa kunci motornya karena dia tahu Adit pasti akan memakainya untuk berangkat kekampus.
Jaraknya dari kediaman keluarga cukup jauh, memakan waktu sekitar delapan jam perjalanan.
Jovi pun berangkat, saat langit masih gelap.
Tidak terasa, kini jalanan telah dipenuhi dengan kendaraan, waktu sudah menunjukkan pukul delapan, kini perut Jovi terasa lapar, dia juga tidak sarapan saat berangkat tadi, bahkan menyediakan makanan ringan pun tidak sama sekali sekedar untuk menunda laparnya.
Jovi tidak bisa menahan lapar diperutnya, dia pun menyetop mobil dipinggiran, berencana untuk makan makanan yang di pinggir jalan.
saat dia turun, ada saja orang yang berpikiran jelek terhadapnya.
"Liat pemuda itu, mengendarai mobil tapi makannya dipinggir jalan, apakah dia sangat menyayangkan uangnya untuk makan di tempat yang sedikit layak?" bisik salah seorang pria yang melihat Jovi.
"Iya, tapi mungkin saja itu bukan mobilnya, mungkin dia hanya ingin berlagak kaya saja, jika tidak, tak mungkin dia mau makan dipinggir jalan seperti ini," jawab temannya.
"Hng, orang jaman sekarang, menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan sedikit pujian, apakah itu yang di katakan orang yang tidak tahu malu?" kata si pria.
"Iya, saat ini, popularitas sangat dijunjung tinggi, tapi mereka tidak tahu mungkin saja mereka tidak akan bisa makan diesok hari karena sangat mementingkan kedudukan mereka," jawab temannya.
Mereka berdua menggelengkan kepala sambil menatap jijik kearah Jovi, Jovi sama sekali tak menghiraukan tatapan sinis orang orang padanya, dia terus saja melanjutkan makannya, agar dia tidak terlalu membuang waktu yang sangat berharga.
Setelah selesai makan, Jovi melanjutkan kembali perjalanannya, kini tenaganya terasa pulih kembali.
****
"Hey, kenapa sedari tadi aku tidak melihat Jovi bersamamu? Kemena dia?" tanya Roni.
"Tidak tahu, dia tidak memberitahuku kemana dia pergi, tetapi motornya masih ada dirumah, aku hanya membawa motornya saja, orangnya entah kemana?" Adit mengangkat bahunya.
"Apa dia marah pada kita gara gara yang kemarin?" ujar Roni.
"Aku rasa tidak, Jovi bukanlah orang yang seperti itu," jawab Adit.
"Lalu kenapa dia menghilang tiba tiba, bahkan tidak mengabarimu sama sekali," ujar Roni, Adit hanya menggelengkan kepala tidak tahu.
__ADS_1
"Coba kau telepon dia!" kata Roni lagi.
Adit pun segera menelepon Jovi.
Jovi yang sedang mengendarai mobil,
tiba tiba mendengar ponselnya berdering, dia mengangkat telponnya, terdengar suara Adit yang menanyai keberadaannya.
"Aku sedang ada urusan, tidak sempat memberitahumu, hari ini aku bolos kuliah dulu," ujar Jovi.
"Berapa lama kau pergi? apa kau akan ikut serta dalam perkemahan?" tanya Adit.
"Tidak sampai bermalam, aku akan usahakan untuk ikut serta," jawab Jovi.
"Baiklah, aku hanya ingin menanyakan itu saja," ujar Adit.
"Oh, iya. Jangan lupa untuk menggantikan bensin motorku," ujar Jovi sembari tersenyum.
"Sialan kau." Adit langsung menutup teleponnya.
"Apa katanya?" tanya Roni penasaran.
****
Setelah lama menempuh perjalanan jauh, akhirnya Jovi sampai juga dikediaman keluarganya, waktu pun sudah menunjukkan pukul satu siang.
Digerbang pintu yang berlapiskan emas, terlihat beberapa penjaga berbaris rapi yang siap untuk menyambut kedatangan tuan mudanya.
Disaat Jovi berjalan kearah mereka, para penjaga semuanya membungkukkan badan, hormat kepada Jovi.
"Selamat datang tuan muda," ucap semua penjaga dengan serentak.
Jovi sudah terbiasa dengan semua itu, setiap dia pulang kekediaman, pasti akan disambut seperti itu oleh para penjaga, dan para pelayan.
Jovi berjalan ditengah tengah para penjaga bagaikan sang aktor yang berjalan dikarpet merah.
Dari kejauhan terlihat para pelayan yang didepan pintu juga berbaris rapi menyambut kepulangan Jovi.
"Selamat datang tuan muda," ucap para pelayan dengan serentak sambil membungkuk hormat pada Jovi.
__ADS_1
Pelayannya begitu banyak hingga tak terhitung jumlahnya, setelah Jovi berlalu ditengah tengah barisan para pelayan, terlihat Ayahnya, Kakek kedua, kakek ketiga, paman kesatu dan paman ketiganya juga berbaris rapi menyambut Jovi.
"Selamat datang kesayangan kami," ucapan selamat juga keluar dari mulut kakek keduanya.
Jovi tersenyum bahagia melihat kedua kakeknya dan paman pamannya yang selama ini sangat lama tidak pernah dia jumpai, dia juga sedikit rindu pada semuanya. meskipun kakek aslinya telah meninggal, tetapi kasih sayang dari kedua kakeknya itu juga tidak kalah.
Kedua pamannya itu juga masing masing memiliki istri, tetapi sampai sekarang mereka tidak memiliki keturunan, itu sebabnya juga mereka sangat menyayangi Jovi seperti anak mereka sendiri.
ketiga bersaudara antara ayah dan pamannya, hanya ayahnya yang memiliki anak, yaitu Jovi seorang diri, dan juga merupakan penerus dari keluarga Adiguna.
Jovi memeluk kakek dan pamannya satu persatu untuk waktu yang dia lewati tanpa keluarganya.
"Pah. Apa kau merindukan anakmu ini?" ujar Jovi pada ayahnya sambil tersenyum.
"Tentu, jika tidak, untuk apa aku menyuruhmu pulang," jawab ayahnya sambil bercanda, semua orang pun ikut tertawa. Jovi dan Ayahnya pun berpelukan sebagai ayah dan anak.
"Sudah, sudah. Ayo kita lihat ibumu!" ajak kakeknya dan disetujui oleh Jovi.
mereka semua berjalan menuju kamar ibu Jovi dan disana kedua nenek dan kedua bibinya juga sudah menunggu Jovi, melihat Jovi datang kedua bibinya berlari menghampiri Jovi dan berebut ingin memeluk Jovi duluan.
"Kalian berdua minggir, berikan pada yang lebih tua dulu," ujar nenek keduanya yang sedang berjalan menghampiri Jovi, kedua bibinya memasang wajah cemberut, membuat yang lainnya tertawa dan menggelengkan kepala mereka.
"Selamat datang cucu kesayanganku," ujar nenek keduanya sembari memeluk Jovi, setelah itu berbalik memeluk nenek ketiganya, baru kedua bibinya.
"Nak, apa kau melupakan ibumu?" ujar Ibu Jovi yang bersandar ditepi kasur.
Jovi tersenyum melihat ibu yang sangat dia sayangi tapat didepan matanya.
"Tentu aku ingat Mah," ujar Jovi sembari berjalan menuju kearah ibunya, dan berpelukan melepas rindu.
"Kulihat Mama baik baik saja," ledek Jovi.
"Iya, setelah melihatmu, Mama jadi sehat kembali," jawab ibunya dan dibalas senyum oleh Jovi.
"Jovi, gurumu sudah menunggumu dihalaman belakang, kau pergilah temui dia, kami tidak akan mengantarmu, karena kau tau sendiri, paman Ghani tidak suka jika ada orang yang melihatnya saat mengajarimu ilmu yang dia miliki," ujar ayahnya pada Jovi, Jovi menganggukkan kepalanya dan hendak pergi.
"Kenapa cepat sekali, Nanti saja, aku masih ingin bersama anakku," bantah ibunya Jovi.
"Anakmu tidak bisa berlama lama disini, dia akan pulang hari ini juga, jadi dia tidak bisa menyia nyiakan waktu yang ada, bukankah aku sudah mengatakannya padamu kemarin malam?" ujar Bram, dan istrinya hanya diam saja tak berkata apapun lagi.
__ADS_1
Jovi pun pergi menuju halaman Belakang untuk menemui gurunya.