
Jovi sampai di cafe dimana tempat dia bekerja, dia mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan
Dia pun mengantarkan pesanan pelanggan yang duduk dimeja nomor 25, terlihat disana empat orang pemuda sedang berbincang bincang.
Saat Jovi mengantarkan pesanan mereka, mereka langsung mengenali Jovi. Ya, mereka tidak lain adalah Alex, Andre, dan kedua temannya
"Yoo. Bukannya ini si anak miskin itu? Ternyata dia bekerja sebagai pelayan disini, menyedihkan sekali," ujar Andre dengan tatapan sinisnya.
Alex yang melihat Jovi, dia menaikkan sudut bibirnya, tersenyum mengejek.
"Tuan muda bukannya anak ini yang mempermalukanmu waktu dilapangan?" ujar Andre pada Alex.
"Kemana tuan muda Adit? Kau tidak bersamanya? bukankah kau sangat suka dekat dengan dia agar kau bisa seenaknya mempermalukan kami?" Alex berkata dengan sombongnya
"Tidak perlu ada Adit Jika aku ingin mempermalukan kalian, kalian hanyalah sampah masyarakat yang tidak berguna, seharusnya orang seperti kalian ini, dilenyapkan saja, jika tidak, akan semakin merajalela," ujar Jovi datar.
Andre yang mendengar perkataan Jovi tidak kuasa menahan tawanya.
__ADS_1
"Seharusnya kau sadar yang sampah masyarakat disini adalah dirimu sendiri, orang yang tidak memiliki status apapun sepertimu, memiliki hak apa berani bicara sembarangan pada kami?" ujar Andre dengan nada mengejek.
"Orang rendahan memang suka bicara sembarangan, suka meninggikan dirinya padahal hanya orang yang tidak berguna. Menjijikkan sekali," ujar Alex tersenyum sinis.
"Benar sekali apa yang Anda katakan Tuan muda, kenapa didunia ini harus ada orang miskin yang tak tahu malu seperti dia ini? Dia punya hak apa sampai berani menyombongkan diri didepan Tuan muda Alex yang sangat berkuasa?" Andre berusaha untuk menjilat dan memperkeruh suasana.
Mereka tidak tahu saja tentang kehidupan Jovi, jika sampai mereka mengetahui identitas Jovi, mungkin mereka akan memuntahkan darah dan tak sanggup untuk berdiri saking terkejutnya, identitas Jovi tidaklah main main, keluarganya sangat berkuasa di Indonesia bahkan dinegara lainnya, tidak ada yang tidak mengenal keluarga Adiguna.
Alex yang mendengar ucapan Andre menjadi semakin sombong, dia memang sangat senang jika ada yang meninggikan dirinya.
"Hey pelayan, bawa kemari minumanku! Tuan muda ini sudah sangat haus!" perintah Alex pada Jovi.
"Opps. Sorry, tidak sengaja," ujar Jovi tersenyum licik.
"Bre**sek. Kau pasti sengaja kan?" ujar Alex marah sambil memegangi bajunya yang basah.
"Menurutmu?" jawab Jovi santai.
__ADS_1
"Kau ... Kau berani melawan Tuan muda Alex? Apa kau sudah bosan hidup hah?" teriak Andre menunjuk kearah Jovi.
"Kenapa? Aku sangat suka melihat wajah kalian yang seperti ini, sungguh menggemaskan." Jovi tersenyum mengejek
Amarah Alex kini semakin memuncak, wajahnya benar benar tidak enak dipandang.
"Kau berani hah? Disini tidak ada yang bisa mendukungmu, sebaiknya kau jaga sikapmu itu!" ujar Alex marah.
"Kenapa aku harus menjaga sikap dengan sekelompok anj*ng gila seperti kalian? Untuk memberi kalian semua pelajaran aku tidak perlu dukungan dari siapa pun." Jovi berkata dengan menatap tajam pada mereka berempat.
Melihat tatapan Jovi, seketika mereka merasa tidak bisa menggerakkan badan mereka, bahkan satu jaripun. Jovi menaikkan sudut bibirnya tersenyum sinis.
"Kenapa? Tidak bisa bergerak? Kalian tau jika membuatku marah, akan ada harga yang akan kalian bayar? Ini bukan apa apa, aku bisa saja membuat kalian tidak bisa bergerak untuk selamanya," ujar Jovi dengan sangar.
Mereka berempat seketika merinding melihat aura kejam yang terpancar dari mata Jovi.
Apa ini? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan badanku walau hanya satu jari saja, semuanya terasa kaku, dan tatapan anak ini benar benar menakutkan, ilmu apa yang dia pakai sampai bisa menekanku seperti ini. Batin Alex.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Jovi membebaskan mereka, mereka pun bisa bergerak seperti biasa lagi.
Mereka terdiam untuk beberapa saat mencoba mencerna, apa yang telah terjadi barusan? Kenapa mereka tidak bisa bergerak? Namun tetap saja mereka tak menemukan jawabannya, mereka hanya bisa menebak nebak saja.