
Dimeja makan, semua keluarga telah berkumpul menunggu Jovi dan Paman Ghani.
"Ayo sini, sudah lama sekali kita tidak makan bersama dengan Jovi dan Tuan Ghani," panggil kakek kedua.
Jovi hanya tersenyum dan duduk dimeja bersebelahan dengan ayahnya dan berhadapan dengan ibunya.
"Bagaimana kabarmu selama diluar sana nak? Apakah ada yang mengganggu kesayangan kami?" tanya paman kesatu pada Jovi.
"Ah. Tidak, tidak ada Paman, aku hidup cukup baik selama tinggal diluar, jangan khawatir," Jovi dengan cepat menjawabnya, sebetulnya dia sangat tidak nyaman karena terlalu dimanja oleh keluarga besar, namun dia juga tidak berani membantahnya.
Ibunya tahu betul bahwa Jovi merasa tidak nyaman, lantas dia tersenyum geli melihat senyum terpaksa dari Jovi, melihat senyum ibunya, Jovi tahu kalau ibunya sedang menertawainya.
"Nak, apa ayahmu tidak memberikanmu uang yang cukup, sampai sampai kau memakai baju yang sederhana seperti itu? kesayangan kami harusnya memakai baju yang layak, bukan seperti yang kamu pakai itu, katakan saja jika memang benar ayahmu tidak memberikanmu uang, maka paman sendiri yang akan memberikannya padamu, katakan saja jumlahnya, berapapun yang kau mau, akan paman berikan," paman ketiganya ikut menimpali.
Jovi memang memakai baju kaos biasa yang harganya tidak mahal, tentu saja pamannya sangat protes melihatnya, karena keluarganya yang sangat kaya, ayahnya hanya menggelengkan kepala saja tak mau membantah, karena itu memang kemauan Jovi sendiri.
"Tidak perlu paman, Jovi menyukainya, uang yang diberikan Papa juga sangat cukup, jadi paman tidak perlu memberikan uang pada Jovi," tolak Jovi dengan ramah.
"Baiklah kalau kau tidak mau, tidak apa apa, paman tidak akan memaksa, tapi paman bisa membelikanmu baju yang lebih layak dari yang kau pakai itu," bujuk pamannya.
"Tidak apa apa paman, tidak perlu, Jovi menyukai baju yang sederhana seperti ini," Jovi terus saja menolak.
Akhirnya pamannya mengalah juga, setelah mereka selesai menyantap makanannya, Jovi dan Paman Ghani kembali ke halaman belakang.
"Kemarilah, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu," panggil Paman Ghani pada Jovi.
"Ambil ini!" kata Paman Ghani sembari memberikan sebuah benda bulat kecil yang ada penutupnya.
"Apa ini Paman?" tanya Jovi penasaran.
"Ini alat peracik obat kuno, ini bukan benda sembarangan, ini adalah peninggalan dari leluhur terdahulu, kau hanya tinggal memasukkan tanaman obat kedalam wadah ini sesuai dengan racikan, maka wadah ini akan memprosesnya sendiri menjadi serbuk," ujar Paman Ghani, Jovi mengangguk mengerti.
"Dan ini, ini adalah buku racikan obat beserta racun, sampai resep racun yang mematikanpun tertulis didalamnya, kau cukup menghapalkannya, tapi ingat, lebih baik menghapalkan yang menurutmu penting saja, sisanya kau bisa menghapalnya dengan pelan pelan," ujar Paman Ghani.
__ADS_1
"Baiklah Paman," Jovi menerima buku usang yang diberikan paman Ghani, terlihat sekali buku itu sudah sangat lama.
"satu lagi, ambil ini!" Paman Ghani mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya, itu adalah sembilan jarum yang tersusun rapi disebuah kain kuno berwarna coklat.
"Untuk apa ini Paman?" tanya Jovi.
"Mungkin suatu saat kau membutuhkannya saat hendak berburu hewan, kau sudah kuajarkan cara melemparnya dengan benar, kau hanya tinggal mengoles obat pelumpuh pada bagian ujungnya, maka hewan buruanmu akan tumbang tak berdaya," jelas Paman Ghani.
"Kebetulan sekali, besok aku akan pergi untuk berkemah, ini akan sangat berguna nantinya, terimakasih paman," Jovi sangat senang diberikan hadiah begitu banyak oleh paman Ghani.
"Sama sama. Aku juga senang jika bisa membantumu," Paman Ghani menepuk bahu Jovi dan tersenyum.
"Baiklah Paman, hari sudah sore, aku juga akan pulang, sekali lagi terimakasih atas pemberian Paman, ini akan sangat berguna untukku," Jovi memberi hormat pada Paman Ghani, Paman Ghani menganggukkan kepalanya.
"Pergilah, hati hati dijalan, usahakan sampai rumah kau membuat sedikit obat dan racun untuk berjaga jaga saat kau berkemah besok," ujar Paman Ghani memperingati.
"Baik Paman, Jovi pasti akan membuatnya setelah tiba dirumah nanti," Jovi pun berpamitan pada gurunya lalu meninggalkan Paman Ghani sendiri dihalaman belakang.
Jovi kembali masuk keruangan keluarga, dan benar saja disana semuanya berkumpul sedang membicarakan sesuatu.
Semuanya menoleh kearah Jovi.
"Tentu tidak Nak, kemarilah!" panggil kakek keduanya.
"Semuanya, Jovi ingin pamit untuk pulang," ujar Jovi.
"Kenapa cepat sekali?" kakek ketiganya tampak kecewa mendengar Jovi akan pulang.
"Dikampus masih ada kegiatan, jadi Jovi tidak bisa berlama lama, belum lagi jaraknya dari sini sangat jauh, mungkin Jovi akan tiba tengah malam," jawab Jovi.
"Kau ini, apa kau tidak kasihan padanya, memaksanya untuk berlama lama?" protes kakek kedua pada kakek ketiga.
"Aku lama sekali baru berjumpa dengannya, wajar saja aku bersikap seperti ini," bantah kakek ketiga.
__ADS_1
"Memangnya hanya kau saja, aku juga lama tidak berjumpa dengannya," Kakek kedua kembali protes, dan kakek ketiga hanya berdiam saja.
"Maafkan aku kakek, nanti Jovi akan menyempatkan waktu untuk datang kesini dalam waktu yang agak lama," ujar Jovi yang berusaha menghibur.
"Baiklah, tidak apa apa," ujar kakek ketiganya.
Jovi pun berpamitan pada semua orang, dia meninggalkan kediaman dengan diantar sampai pintu gerbang.
***
Hari pun sudah gelap, tepat pada pukul sembilan, Jovi memutuskan untuk mengisi perutnya, dia memarkirkan mobil disebuah rumah makan tradisional yang terkenal dengan makanannya yang sangat enak.
Jovi memesan makanan, lalu duduk dimeja yang terbuat dari rotan, didepannya ada sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.
"Sayang, kenapa orang miskin ini makan disini? merusak pandanganku saja," rengek si wanita.
"Sudahlah, jangan hiraukan orang kecil seperti dia, buang buang waktu saja," ujar si pria sambil mengelus rambut pasangannya.
"Tapi aku tidak suka, lihat pakaiannya, sangat kotor, membuatku kehilangan selera untuk makan," pacarnya terus saja merengek.
Sebenarnya pakaian Jovi tidaklah kotor, itu hanyalah trik wanita itu saja, agar bisa mengejek orang, entah apa yang membuatnya sangat suka mengusik kehidupan orang, orang yang seperti itu sangatlah dibenci oleh Jovi.
"Menjijikkan sekali," Jovi menyeringai menatap kearah wanita itu.
"Apa kau bilang? Seharusnya kau itu berkaca, yang menjijikkan itu adalah dirimu sendiri, lihat pakaianmu, benar benar tidak ada harganya," si wanita berkata dengan sinis.
"Daripada dirimu, dari ujung rambut sampai ujung kaki sama sekali tidak ada harganya," ledek Jovi, membuat si wanita semakin kesal.
"Sayang, apa kau hanya diam saja mendengar dia menghinaku?" rengek wanita itu, Jovi sungguh dibuat geli melihatnya.
"Bro, lebih baik jaga ucapanmu jika tak ingin mencari masalah dengan orang lain," ujar kekasihnya.
"Seharusnya kau mengatakan itu pada wanitamu, dari tadi siapa yang selalu mengoceh menghina orang, kau tidak pantas mengajariku mengenai hal ini," ujar Jovi sinis.
__ADS_1
Lelaki itu sedikit tersinggung dengan ucapan Jovi, tetapi dia menyadari memang kekasihnya lah yang sedari tadi mencari masalah duluan, hingga dia tidak ingin berdebat lagi, dia memutuskan mengajak kekasihnya untuk pulang saja, jika tidak, wanita itu akan semakin bertingkah.