ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Mencari Aurel


__ADS_3

Keesokan pagi


Suara deringan ponsel Jimmy membangunkan Jovi dari tidur panjangnya.


Jimmy yang tengah tidur di sofa tersentak kaget saat ponsel yang dipegangnya bergetar.


Ia melirik Arga yang sudah membuka mata, seketika ponsel yang berdering pun ia abaikan begitu saja.


"Tuan muda. Anda sudah bangun? Apakah ada yang tidak enak? Atau ada yang terasa sakit?" Jimmy menghampiri Arga dengan wajah cemas.


Jovi bangun untuk duduk, "Ambilkan aku air!"


Jimmy pun dengan cekatan mengambil gelas yang berisi air putih di atas meja.


Dengan begitu hati-hati dia membantu Jovi untuk minum.


"Angkat teleponmu, Jim! Itu sangat mengganggu ketenanganku!" Jovi memijit alisnya merasa pusing.


"Baik Tuan." Jimmy dengan segera meraih ponselnya.


"Hallo Tuan. Gawat!" Terdengar suara seorang pria dari seberang telepon yang tampak begitu panik.


"Ada apa?" Jimmy mengerutkan alisnya menerka nerka.


"Saya kehilangan jejak wanita yang anda suruh untuk saya pantau, saya ketahuan oleh lelaki itu, dia menghajar saya tanpa ampun, dan sekarang saya tidak tahu lelaki itu membawanya kemana." Usai mengucapkan kata-katanya pria itu terbatuk akibat dirinya yang baru saja bertarung hebat dengan Deny.


"Sial. Apa kau sempat melihat keadaannya saat itu?" Jimmy mulai menggeram mendengar laporan dari orang yang dia suruh untuk memantau Aurel.


"Aku melihat nona itu diikat, dan juga terdapat luka memar di wajahnya. Mereka memasukkan nona itu ke mobil usai saya kalah tarung, dan membawanya pergi begitu saja."


"Bre**sek. Aku tidak mau tahu, kau harus menemukannya bagaimanapun caranya, jika kau tidak bisa berhasil, jangan harap kau bisa hidup tenang." Jimmy seketika jadi naik pitam, tapi dia masih berusaha untuk menahan suaranya agar tidak ketahuan oleh Jovi.


"B-Baik Tuan." Lelaki itu tampak begitu takut mendengar ancaman Jimmy, Jimmy pun langsung menutup teleponnya.

__ADS_1


Wajahnya kini mulai memerah, ponsel itu digenggamnya dengan sangat kuat hingga hampir pecah.


Jovi yang melihat Jimmy terus mematung di tempatnya, lantas merasa curiga, " Ada apa Jim?" Sontak Jimmy terkejut mendengar suara Arga, perlahan ia membalikkan badannya masih dengan wajah yang tampak pucat, takut kalau Jovi akan mengetahuinya.


Jovi semakin curiga melihat raut wajah Jimmy yang begitu kaku setelah menerima telepon.


"Katakan yang sebenarnya!" Jovi menatap tajam pada Jimmy, ia tahu, Jimmy pasti mencoba untuk merahasiakan sesuatu darinya.


"T-Tidak ada apa-apa Tuan, itu hanya seorang klien yang membatalkan kerjasama dengan kita begitu saja tanpa berdiskusi terlebih dahulu." Bibir Jimmy mulai gemetaran mengucapkan kata demi kata.


"Aku tahu kau sedang berbohong! Kau tidak akan tampak begitu pucat hanya karena pembatalan kerjasama. Jangan membuatku mengulangi kata-kataku Jim!" Tatapan Arga benar-benar menakutkan, Jimmy yang tadinya tidak berniat memberitahukan yang sebenarnya, terpaksa harus mengatakannya meski terasa begitu berat.


"S-Sebenarnya, tadi itu adalah orang suruhan yang aku utus untuk mamantau nyonya muda." Jimmy tertunduk tidak berani menatap wajah Jovi.


"Teruskan!" Suara Jovi semakin terdengar berat dan juga sangat dingin.


"D-Dia mengatakan bahwa dia kehilangan jejak nyonya muda Tuan. Dia ketahuan sedang memantau pergerakan nyonya, dan akhirnya orang suruhan saya dihajar habis-habisan."


Jimmy sama sekali tak berniat untuk mengatakan keadaan Aurel, namun Jovi memaksanya untuk mengatakan secara keseluruhan.


Prannkk


Seketika gelas yang baru saja berada di tangan Jovi, kini menjadi hancur lebur menjadi pasiran beling diatas lantai.


Jimmy tak dapat mengatur nafasnya dengan benar, tidak melihat wajah Jovi pun dia sudah tahu, bahwa saat ini Jovi benar-benar marah mendengar laporan itu.


"Terjadi sesuatu yang berbahaya pada Aurel, kau masih tidak ingin mengatakannya padaku? Bagaimana jika aku tidak memaksamu tadi. Apa kau akan tetap menyembunyikannya sampai Aurel mati di tangan mereka?" Begitu geramnya Jovi menatap Jimmy.


"Maafkan saya Tuan." Jimmy semakin menenggelamkan wajahnya begitu takut melihat kemarahan Jovi.


"Pers*tan dengan kata maafmu itu, itu tidak akan pernah menjamin keselamatan Aurel." Tangan Jovi terkepal kuat menatap sangar pada Jimmy.


Jovi sekuat tenaga menahan rasa sakit di dadanya agar bisa turun dari ranjang pasien.

__ADS_1


"Tuan muda, Anda mau kemana?" Jimmy segera menghampiri Jovi untuk mencegahnya turun.


"Aku akan pergi sendiri mencarinya!" Jovi mengabaikan Jimmy yang sedari tadi terus mencegahnya.


"Tuan. Anda masih belum pulih dari luka tembak itu, sebaiknya serahkan pada orang lain saja untuk pergi mencari nyonya!"


"Iya. Memberikan tugas pada orang lain, lalu mengalami kegagalan lagi. Begitu maksudmu?" bentak Jovi.


"T-Tidak Tuan. Anda masih belum pulih, Anda ingin mencarinya kemana? Sedangkan nyonya tidak sedang berada di negara ini." Jimmy begitu khawatir kalau Jovi benar-benar akan pergi dalam keadaan sakit.


"Aku memiliki caraku sendiri. Minggir! Siapkan bajuku segera!" Jovi mendorong Jimmy hingga jatuh ke lantai.


Jimmy segera bangkit dan tidak mampu untuk mencegah tekad Jovi untuk pergi, akhirnya dia pasrah mengambilkan baju Jovi dan membantunya untuk memakai baju.


Akhirnya Jimmy ikut bersama Jovi untuk mencari Aurel.


"Suruh anak buahmu menyediakan aku sebuah mobil, aku tak mau tahu, setelah aku tiba, mobil harus sudah ada di depan mataku!" ujar Jovi saat mereka telah berada di airport.


Saat mereka sedang dalam penerbangan, Jovi tersadar bahwa dia sedang memakai gelang, padahal sebelumnya dia tidak pernah memakai gelang sama sekali.


Dia membuka gelang itu dari tangannya, namun gelangnya tampak berbeda dari gelang yang biasanya, terdapat sebuah bola kecil di gelang itu.


Jovi membolak balikkan bola kecil itu, akhirnya dia menemukan cara membukanya, saat bola kecil itu terbuka, terdapat satu buah pil obat, dan secarik kertas kecil, dan ternyata itu pemberian Paman Ghani.


Suratnya mengatakan, bahwa Paman Ghani menyuruhnya untuk memakan pil pemberiannya itu jika dia dalam bahaya, dan jangan mencoba untuk melepaskan gelangnya di manapun dan dalam keadaan apapun. Jovi pun segera memakainya kembali.


Sejak kapan Paman Ghani datang menemuiku? Dia memang luar biasa, datang tanpa ketahuan oleh orang lain. Terimakasih paman. Tampak senyum kecil tersungging di bibir Jovi.


Paman Ghani memang tidak pernah keluar menampakkan dirinya, saat ini begitu banyak orang berkuasa yang memburunya untuk meminta resep obat-obatan darinya, entah berapa lama sudah Paman Ghani berdiam diri di perguruan.


"Ada apa Tuan muda?" Jimmy memberanikan diri untuk menegur Jovi saat ia melihatnya sedang melamun.


"Tidak ada. Lebih baik kau tidur saja!" jawab Jovi dengan dingin.

__ADS_1


Apa aku begitu berisik hingga Tuan muda menyuruhku untuk tidur? Jimmy menggaruk kepalanya bingung, tapi akhirnya dia benar-benar tertidur.


__ADS_2