ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Bersikap dingin


__ADS_3

Keesokan harinya, Jovi terbangun, dia mengerutkan alisnya merasa pusing


Dia melihat ke sekeliling, dia heran, kenapa dia tiba tiba berada dikamarnya, terlebih kamarnya terlihat bersih dan rapi.


"Siapa yang membawaku kesini? Aku ingat terakhir kali aku ada di Bar, meninggalkan tempat ini dalam keadaan berantakan, dan sekarang kenapa semuanya bersih begini? Apa jangan jangan aku hanya bermimpi?" Jovi tiba tiba terduduk, mencoba mencerna, apakah dia benar benar bermimpi?


"Jangan banyak berpikir? Kau tidak sedang bermimpi, semua ini aku yang membereskannya, lalu apa yang akan kamu berikan padaku sebagai balasannya?" ujar Adit yang tiba tiba keluar dari kamar mandi.


Jovi sedikit kecewa, ternyata soal hubungannya dengan Aurel yang sudah retak, benar benar bukan mimpi.


Jovi menarik nafas panjang lalu bangkit dari kasur menuju kekamar mandi.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, kamu mau kemana?" teriak Adit, namun Jovi diam saja dan berlalu melewati Adit, Adit hanya bisa menggelengkan kepala saja.


Setelah lama dikamar mandi, Jovi akhirnya keluar.


"Keluar juga kamu, apa saja yang kamu lakukan disana? Lama sekali," ujar Adit yang sedari tadi duduk disofa menunggu Jovi.


"Aku lama atau sebentar apa hubungannya denganmu? Lalu kau kenapa memakai bajuku?" jawab Jovi dingin.


"Kamu sejak kapan jadi perhitungan begini denganku? Lalu aku harus pakai baju siapa lagi? Disini hanya ada bajumu," bantah Adit.


Jovi tak menghiraukan Adit, dia sibuk memilih baju untuk dia pakai.


"Apa kamu masih menganggap aku ada disini?" tanya Adit heran dengan sikap Jovi.


Jovi tetap diam, tak ingin mengatakan apapun.


"Jovi .... " panggil Adit.


Melihat Jovi yang tidak meresponnya, Adit seketika menghampiri Jovi dan merebut baju yang ditangan Jovi.


"Maksud kamu apa?" tanya Jovi ketus.


"Seharusnya aku yang bertanya, maksud kamu apa bersikap acuh tak acuh seperti itu?" ucap Adit kesal.


"Memangnya kamu mau aku bersikap seperti apa?" Jovi mengerutkan keningnya, merasa malas untuk membahas apapun.


Jovi menarik kembali bajunya dari tangan Adit, lalu memakainya, sepanjang waktu, Jovi hanya diam tak mengeluarkan suara apapun sampai dia keluar dari Apartemen untuk berangkat kuliah, bahkan sekedar mengajak Adit untuk berangkat bersama pun tidak sama sekali.


Adit benar benar heran dibuatnya, Adit sedari tadi hanya memperhatikan tingkah Jovi yang sangat aneh, tidak seperti yang biasanya.


Akhirnya mereka tidak berangkat bersama, Jovi menaiki kendaraan umum, sedangkan Adit menaiki mobilnya sendiri.


Ditaman kampus Jovi hanya duduk membaca buku tanpa menghiraukan apapun disekelilingnya.

__ADS_1


Adit dan Lani menghampiri Jovi, namun saat Jovi melihat mereka berdua, dia langsung beranjak pergi tanpa mengatakan sesuatu.


Lani yang tidak tahu apa apa, menjadi bingung melihat sikap Jovi, yang dia tahu Jovi tidak pernah mengacuhkan mereka, dia selalu bersikap baik pada semua orang, tapi kali ini, jangankan untuk menyapa mereka, melihat mereka datang saja dia langsung pergi.


"Ada apa dengan Jovi, ini seperti bukan dia, dia yang dulu tidak pernah bersikap dingin, baik pada kita maupun pada orang lain, aku seakan tidak lagi mengenali dia," ujar Lani pada Adit.


Adit hanya bisa mengangkat bahu, dia sendiri juga bingung dengan sikap Jovi, perubahan sikapnya begitu cepat, padahal rasanya baru kemarin mereka saling bercanda bersama, tetapi sekarang hubungan mereka seakan beku karena sikap Jovi yang sedingin es.


"Sepertinya nanti kita harus menanyakan ini padanya, mungkin dia sedang tertekan, tidak ingin melibatkan kita dan tak ingin diganggu untuk sekarang ini," ujar Lani.


"Iya, aku pasti akan menanyakan tentang sikapnya itu, aku tidak terima jika dia harus menanggung bebannya sendiri tanpa mau berbagi, selama ini kita selalu bersama, tidak ada perkelahian satu sama lain, aku sudah menganggapnya seperti saudaraku, jadi dukanya adalah duka ku juga," ucap Adit yang merasa tidak enak hati di acuhkan oleh Jovi.


Dimalam hari, Adit dan Lani mendatangi Jovi ke Apartemennya.


Begitu lama Adit dan Lani mengetuk pintu, Jovi baru mau membukanya, meskipun sebenarnya dia sangat malas menerima tamu.


Saat Jovi membuka pintu, dia menatap Adit dan Lani dengan cuek.


"Ada apa dengan ekspresimu itu? Apa kamu tidak senang dengan kehadiran kami?" ujar Adit kesal.


"Itu kau tau," jawab Jovi ketus dan hendak menutup pintu, namun Adit dengan cepat menghalangi Jovi, lalu dia masuk bersama Lani, Jovi hanya pasrah saja.


"Jovi. Duduklah disini! aku ingin bicara," panggil Adit.


Jovi duduk dihadapan Adit tanpa berbicara sepatah kata pun.


Adit menatap lekat pada Jovi yang kini juga membalas tatapannya.


"Aku serius bertanya padamu, tolong jawab dengan jujur!" ucap Adit dengan serius, namun Jovi tetap diam.


"Jovi lihat aku!" panggil Adit saat melihat Jovi yang sama sekali tak menghiraukannya.


"Ayolah Jovi, jangan diam seperti ini, apakah kamu sedang marah pada kami? Tapi kenapa? Kami melakukan kesalahan apa padamu?" Lani angkat bicara saat malihat Adit tak berhasil membuat Jovi untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Kamu masih akan tetap diam seperti ini?" ujar Adit menatap Jovi, Jovi tetap saja diam.


"Baiklah, kami akan pergi jika memang kau sudah tidak mengharapkan kami menjadi temanmu, kami tidak akan datang lagi, permisi!" ujar Adit kesal dan bangkit berdiri untuk keluar.


"Aku putus dengan Aurel." seketika Jovi berbicara, dan itu sukses membuat langkah Adit terhenti.


Adit menoleh dan segera kembali duduk. dihadapan Jovi.


"Apa kau bilang? Katakan sekali lagi! aku tidak mendengarnya." Adit merasa apa yang dia dengar itu salah.


"Aku putus dengan Aurel." Jovi mengulangi kata katanya dengan sedikit merasa kecewa dalam hatinya.

__ADS_1


"Hah?" Adit melototkan matanya selebar mungkin, Lani juga tak kalah terkejutnya, mereka diam ditempat tak bergerak sedikitpun.


Jovi menatap mereka berdua tanpa ekspresi.


"Kamu tidak sedang bercanda kan?" tanya Adit masih tak percaya.


"Apa kamu melihatku seperti sedang bercanda? Ya walaupun aku juga berharap ini cuma bercanda," ujar Jovi tersenyum pahit.


"Tapi ini sulit untuk dipercaya," Adit menggelengkan kepala.


"Awalnya aku juga tidak dapat percaya, tapi Aurel benar benar serius memutuskan hubungan bersamaku, dan bahkan sekarang dia telah meninggalkan Indonesia, pergi entah kemana," ujar Jovi tanpa melihat ke Adit.


"Tapi kenapa?" tanya Adit yang masih sulit untuk percaya, Jovi hanya menggeleng tidak menjawab apapun.


"Mungkin dia memiliki alasan kenapa dia memutus hubungan denganmu," timpal Lani.


"Alasan yang seperti apa yang sanggup membuat dia memutuskan hubungan denganku? Karena aku miskin?" Jovi tersenyum sinis menatap Lani, membuat Lani sedikit tidak enak ditatap seperti itu. Jovi saat ini benar benar merasa kesal pada wanita, bahkan dengan Lani pun dia masih belum bisa memulihkan rasa kesalnya.


"Jadi ini yang membuatmu tidak ingin berbicara pada kami dalam seharian ini?" ujar Adit.


"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, setidaknya aku masih bisa menganggap ini hanya ilusi pahit ku semata, tetapi kau terus memaksaku untuk mengatakannya, lalu aku punya pilihan apa selain mengatakannya?" ucap Jovi datar.


"Maafkan aku, tapi kamu itu sahabatku, tidak seharusnya kamu menutupinya dariku, setidaknya jika kamu menceritakannya, hatimu akan sedikit longgar," ucap Adit prihatin, Jovi kembali tersenyum sinis.


"Wanita itu benar benar tidak dapat dipercaya, mereka semua hanya bisa mempermainkan perasaan lelaki, apa mereka pikir mereka akan terus dilindungi oleh para lelaki setelah mereka melakukan hal yang kejam, sungguh munafik," ujar Jovi yang terlihat seperti ingin membunuh.


Hatinya kini benar benar tertutup, tidak ada lagi hal baik dipikirannya, hanya ada pikiran yang selalu memojokkan wanita.


"Apa kamu tidak berusaha bicara baik baik pada Aurel? tanyakan alasan dia yang tiba tiba memutus hubungan padamu," ujar Adit mencoba untuk meredakan amarah Jovi.


"Hng. Bagaimana bisa aku membicarakannya dengan baik baik, sedangkan dia tidak membiarkan aku untuk menanyakan alasannya," jawab Jovi yang semakin kesal.


Adit sudah tidak tahu lagi harus berkata apa, dia hanya bisa terdiam tidak tahu harus membantu atau memberikan solusi apa pada Jovi.


"Maafkan aku, dalam keadaanmu seperti ini, aku hanya bisa prihatin padamu dan tidak bisa berbuat apa apa untuk membantumu," ucap Adit merasa bersalah. Jovi hanya tersenyum dingin.


"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi, aku lelah, aku ingin istirahat, biarkan waktu yang menghapus perasaanku padanya, aku berharap aku bisa dengan cepat melupakan dia, aku tidak butuh wanita yang tidak mau berjuang bersama sama," ucap Jovi dingin tanpa ekspresi.


"Baiklah, kalau begitu aku dan Lani pamit pulang dulu, jangan terlalu dipikirkan, kuatkan hatimu, buat mereka yang meninggalkanmu jadi menyesal," ujar Adit sambil menepuk pundak Jovi pertanda masih ada dia yang bersedia mendukungnya setiap saat, Jovi hanya tersenyum kecut menatap Adit.


Adit sedikit merasa kecewa pada Aurel, tidak menyangka Aurel benar benar meninggalkan Jovi, Jovi sudah bersedia membuka hatinya untuk dia, tetapi saat Jovi telah menerima dia sepenuhnya, Aurel malah menusuk hatinya, hingga membuat Jovi benar benar merasa sakit.


Adit bangkit dari sofa dan melangkah pergi bersama Lani meninggalkan Apartemen Jovi.


Setelah kepergian Adit, Jovi memutuskan untuk tidur saja, dia lelah harus memikirkan nasib cintanya yang tidak ada habisnya, selalu terjatuh kelubang terdalam dan sulit untuk keluar.

__ADS_1


__ADS_2