ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Kelulusan S2


__ADS_3

Setahun kemudian, kini tibalah saat mereka menyelesaikan studi S2 di London, dan tibalah waktunya Jovi kembali ketempat asalnya dikediaman Adiguna untuk menggantikan ayahnya memimpin ADN GROUP.


Jovi pulang bersama Adit dan Lani.


"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Adit pada Jovi.


"Kamu akan tahu sendiri nanti," jawab Jovi singkat.


"Aku mungkin akan menggantikan Ayahku mengurus perusahaan," ucap Adit.


"Aku tidak bertanya," jawab Jovi ketus.


"Sialan." Adit mencebikkan bibirnya kesal.


Semenjak hubungannya dengan Aurel retak, Adit sudah tidak pernah melihat Jovi tersenyum, kini sikap Jovi benar benar berubah drastis, dia menjadi begitu dingin pada siapapun termasuk pada Adit.


Jika Adit mengajaknya berbicara, dia hanya menjawab seadanya saja, kemanapun dia pergi, wajah dinginnya selalu terpampang diwajah tampannya.


Kini mereka tiba ditanah air mereka, setelah keluar dari Airport, Jovi dan Adit berpisah, karena mereka tidak satu tujuan.


Jovi kembali ke kediaman Adiguna, seperti biasa, setiap dia pulang, pasti disambut oleh keluarga besar, Jovi telah menebak itu.


"Selamat datang Tuan muda," ujar para penjaga, Jovi tetap berjalan dengan dinginnya memasuki gerbang rumah.


"Selamat datang Tuan muda," ujar para pelayan, lagi lagi Jovi hanya diam berjalan dengan perkasa ditengah para pelayan.


"Selamat datang Jovi, apa kabarmu?" tanya kakek keduanya yang juga menyambut kepulangan dia.


"Kabarku baik," Jawab Jovi singkat tanpa tersenyum.


Semuanya heran melihat perubahan sikap Jovi yang tidak seperti dulu.


"Ada apa Nak? Kamu tampak dingin pada kami," ujar kakek kedua heran.


"Tidak apa apa, aku hanya lelah, bolehkah aku beristirahat dulu, sebelum membahas tentang perusahaan," jawab Jovi dingin.

__ADS_1


"Oh, baiklah." kakek kedua mengangguk, semuanya benar benar heran melihat sikap Jovi, biasanya setiap dia pulang pasti akan memeluk mereka satu persatu, tetapi sekarang, sekedar menjawab pertanyaan kakek kedua saja sepertinya dia enggan, membuat yang lainnya tidak berani untuk bertanya.


Dimalam hari setelah selasai makan malam, mereka sekeluarga berkumpul diruang keluarga untuk membahas tentang perpindahan perusahaan atas nama Jovi Adiguna.


"Baiklah, saya selaku kepala keluarga, akan menetapkan Jovi Adiguna untuk menggantikanku memimpin ADN GROUP, ini sudah disepakati oleh kita bersama, Jovi, apakah ada yang ingin kamu ucapkan pada kami?" ujar ayahnya yang menatapnya dengan serius.


"Baiklah, karena aku sudah ditetapkan menjadi pewaris dari ADN GROUP, maka aku tidak ada alasan untuk menolaknya, aku pastikan selama perusahaan berada dibawah kendaliku, aku akan membuatnya berkembang pesat lima kali lipat atau bahkan sepuluh kali lipat dari sekarang," ucap Jovi dengan mantapnya, semua orang yang mendengar ucapan Jovi benar benar kagum tak terkecuali ayahnya.


Dia benar benar memiliki ambisi yang sangat kuat, dari dulu, setiap kata kata serius yang diucapkannya pasti akan terjadi, dia orang yang begitu cerdas, bakatnya dalam dunia bisnis telah terlihat sejak kecil, itu sebabnya mereka juga sangat mempercayai Jovi untuk mengemban tugas memimpin ADN GROUP.


"Jovi ... Karena kamu menyelesaikan sekolahmu diusia yang terbilang masih sangat muda, ditahun ini, umurmu masih dua puluh empat tahun, jadi Papa belum memberi kamu kesempatan untuk menjadi kepala keluarga, bukan hanya mengingat dari usiamu, tapi juga kamu yang sekarang masih belum berkeluarga, jadi Papa tidak bisa memberikan posisi kepala keluarga untuk saat ini, bagaimana menurutmu?" tanya ayahnya.


"Aku tidak masalah, aku juga tidak menginginkan untuk menjadi kepala keluarga, aku hanya ingin fokus dalam mengembangkan ADN GROUP," ujar Jovi.


Jawaban Jovi sedikit membuat ayahnya heran, yang dia tahu, Jovi dulu sangat ingin menggantikan ayahnya untuk menjadi kepala keluarga, agar ayahnya bisa pensiun menikmati hari tua tanpa ada beban, tetapi sekarang, dia dengan tegasnya mengatakan bahwa dia tidak menginginkan untuk menjadi kepala keluarga, itu sulit dicerna oleh ayahnya.


Namun ayahnya tak mau ambil pusing, dia tak lagi menghiraukan pikirannya itu.


"Papa sudah menyiapkan asisten untukmu, masuklah," ayahnya menoleh kearah pintu, dan seseorang yang menggunakan jas hitam masuk kedalam ruangan.


"Dialah yang akan membantumu dalam mengurus perusahaan, dia akan selalu berada didekatmu dimana pun kamu berada, namanya Jimmy," ujar ayahnya.


"Salam kenal Tuan muda, saya Jimmy, anda bisa memanggil saya asisten Jimmy," ucap asisten Jimmy sembari membungkuk hormat pada Jovi.


"Tidak perlu hormat begitu, selamat bekerja bersamaku, satu hal yang harus kamu ingat, aku tidak suka pada orang yang tidak profesional, selama kamu bekerja padaku, kamu harus selalu disiplin, selalu ada setiap aku membutuhkanmu, kamu mengerti?" ujar Jovi dingin.


"Mengerti Tuan muda," jawab asisten Jimmy dengan menunduk.


"Bagus, selamat bekerja," ujar Jovi singkat.


"Baiklah, semua yang ingin aku katakan sudah aku sampaikan, yang lainnya, apakah ada yang mau ditanyakan? Baik padaku ataupun pada Jovi," Tuan Bram Adiguna mengitari pandangannya keseluruh orang yang ada diruangan.


Tiba tiba kakek kedua mengangkat tangannya.


"Silahkan paman kedua!" ucap Tuan Bram mempersilahkan.

__ADS_1


"Aku ingin bertanya pada Jovi," ujarnya, dan Jovi pun menoleh kearahnya.


"Jovi, aku ingin menanyakan tentang sikapmu, kenapa kamu tiba tiba begitu dingin pada kita semua? sebelumnya kamu tidak pernah bersikap seperti ini pada kami, tetapi sedari kamu datang tadi, kamu sudah seperti orang lain, kami seakan tidak mengenalmu lagi," tanya kakek kedua yng berharap Jovi akan memberikan penjelasan pada mereka semua.


Semua orang benar benar menanti jawaban dari Jovi, mereka juga bingung dan tak habis pikir dengan perubahan Jovi selama dia kuliah di London.


"Kakek kedua, disini kita sedang membahas tentang perusahaan, tolong tanyakan tentang yang bersangkutan dengan perusahaan saja, tidak perlu menanyakan hal yang tidak penting." Jovi benar benar malas jika harus ditanyakan tentang sikapnya, karena dia sendiri juga tidak tahu, seakan dia yang sekarang benar benar berganti kulit setelah putus dari Aurel, dan itu tidak akan dia katakan pada keluarga jika dia berubah karena cinta, sangat lucu bukan?


"Mungkin ini tidak penting bagimu, tapi ini sangat penting bagi kami, jika kamu punya masalah, kamu bisa menceritakannya pada kami, jangan menyimpannya sendiri, dengan menunjukkan sikap dingin seperti sekarang ini," ujar kakek kedua, dan semua orang yang ada disana mengangguk setuju.


Ini lagi, menanyakan tentang masalah Jovi, sudah pasti dia tidak akan menjawabnya dengan terus terang, bagi Jovi masalahnya dengan Aurel hanyalah sebuah aib yang tidak boleh diketahui oleh banyak orang.


"Kakek kedua, tolong jangan tanyakan ini, aku benar benar malas untuk membahas hal seperti ini." Jovi mengerutkan keningnya mulai tidak nyaman dengan desakan mereka yang ingin mengetahui alasan dari berubahnya sikap dia.


"Baiklah, baiklah. Kakek tidak akan menanyakannya lagi." kakek kedua akhirnya menyerah, setelah melihat Jovi yang mulai tidak nyaman dengan pertanyaannya.


"Baiklah, jika tidak ada lagi, aku akan pergi untuk istirahat," ujar Jovi sembari bangkit dari duduknya.


"Tunggu dulu, satu hal lagi yang aku lupa mengatakannya padamu, besok pagi pukul 09:00 kita akan mengadakan konferensi pers diperusahaan, Papa harap kamu tidak datang terlambat besok pagi," ujar Tuan Bram, membuat Jovi menghentikan langkahnya.


"Baiklah, Papa tenang saja, aku tidak akan datang terlambat, aku pastikan aku akan datang sepagi mungkin," ujar Jovi sembari melangkah pergi.


"Kau ... Istirahatlah juga, kita akan bertempur diperusahaan besok," ujar Jovi sambil menepuk pundak asisten Jimmy saat melewatinya.


"Baik Tuan muda," asisten Jimmy pun ikut keluar dari ruangan.


Setelah kepargian Jovi, akhirnya kakek kedua angkat bicara lagi.


"Anakmu semakin kesini semakin sulit untuk ditebak, sikapnya berubah jadi dingin begitu, bahkan sepanjang hari ini aku tidak pernah melihatnya tersenyum, apa kau tahu alasannya?" tanya kakek kedua pada Tuan Bram.


"Aku sendiri tidak tahu, jangankan paman, aku sendiri saja juga tidak bisa menebak sikap anakku sendiri, tetapi biarlah, selama dia berkata baik baik saja, maka itu akan baik baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, justru dengan sikap dinginnya seperti itu, dia akan sulit untuk ditumbangkan oleh lawannya," jawab Tuan Bram, membuat mereka semua sedikit lega.


"Baiklah, semoga saja dia benar benar tidak apa apa," ujar kakek kedua menganggukkan kepala.


Mereka semua pun bubar dari ruangan itu, kembali pada aktifitas mereka masing masing.

__ADS_1


__ADS_2